Kekasih Itu..

Suatu ketika gw pernah baca curhat seorang blogger asal Malang.

Laki-laki ini lagi kerja di kantornya waktu mendadak istrinya nelfon dos-q sembari nangis keras. Perempuan itu nggak bisa bicara kenapa dia nangis, akibatnya si laki-laki kebingungan istrinya kenapa. Mendadak, tanpa dinyana-nyana, tahu-tahu si laki-laki nutup telfon dan mengambil kunci motornya, lalu dos-q..kabur dari kantor dan pulang ke rumah, untuk menenangkan istrinya.

Gw tahu dos-q ini pegawai negeri, jadi sekiranya atasannya tahu dos-q kabur dari kantor pada jam kerja tanpa alasan jelas, maka dos-q bisa dapet masalah besar. Tapi dos-q tetap melakukannya, hanya karena dos-q merasa wajib menenangkan tangisan istrinya.

Perempuan yang nangis hebat sampek nelfon suaminya padahal suaminya lagi dinas, pasti punya masalah yang sangat serius. Dan si blogger itu menggunakan naluri kesuamiannya dengan tepat. Meskipun dos-q harus berhadapan dengan resiko besar untuk itu.

“Through the fire, and through the hell,” kata Saigon Kick. Demi mencintaimu, menembus api neraka pun tidak masalah.

Gw bilang waktu baca itu, “Alangkah hebatnya si perempuan itu bisa dapet suami yang mencintainya sebesar itu.”

I want mine that way.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. Lagi ngomongin saya ya? Sepertinya tokohnya mirip saya…tapi saya belum nikah…atau ceritanya perumpamaan saja? Ini pasti saya…saya banget ini 😛

    Nice, jarang ada cowo kaya gitu *biarpun banyak yang ngaku2 seperti itu, tapi pada kenyataan pasti tidak bisa berbuat seperti itu*

  2. 1. Tuhan
    2. Keluarga
    3. Pekerjaan

    Uhh..I love this quote. Bener banget sih. Tapi mungkin gw akan pikir-pikir lagi kalau gw jadi PNS-nya. Pasalnya Tuhan sendiri menyuruh kita bertanggungjawab atas amanat dari orang lain yang udah dipercayakan kepada kita. Dan amanat itu, termasuk juga untuk tidak mangkir dari tempat kerja tanpa izin atasan. Kan atasan udah memercayai kita untuk berada di kantor pada waktunya?

    Eh, apakah suami-istri dengan anak berumur dua tahun termasuk penganten baru?

    😀

  3. Ari says:

    saya setuju dengan sikap PNS itu. Kerjaan bisa dicari lagi gantinya, istri (keluarga) mana bisa ??

    prioritas yg seharusnya :
    1. Tuhan
    2. Keluarga
    3. Pekerjaan

    tapi kadang2 tanpa sadar suka terbalik-balik, lebih mementingkan kerjaan. Tapi kalu sudah "sadar", merenung jadi nyesel juga… 🙂

  4. Maka dari itu cobalah para istri PNS untuk menguatkan hati supaya tidak gampang menangis. Karena jika ibu-ibu Dharma Wanita gampang menangis sampek bikin suaminya yang lagi dinas itu kebingungan, dikalikan saja dengan jumlah pajak yang dibayar buat gaji PNS, maka berapa milyar kerugian yang harus ditanggung negara?

    *sok prihatin*

  5. Nah, itu yang gw lupa, Rat. Si blogger nggak jelasin istrinya kenapa. Tapi mereka oke-oke aja kok sekarang. Anaknya sekarang udah dua. Yang paling kecil belum setahun, yang gede mungkin 3-4 tahun.

  6. O maaf, di sini aku bukan membandingkan konteksnya antara pegawai negeri dan pegawai swasta. Tapi membandingkan pegawai negeri dengan pengusaha..

    *Kok kita jadi ngomongin pekerjaan yah, kan sebenarnya aku mau ngomongin cinta*

  7. latree says:

    pegawai negeri boleh kok cabut seketika kalo memang ada hal penting. bayanganku justru malah pegawai swasta yang sulit begitu.

    semoga suamimu seperti yang kau dambakan ya vic 🙂

  8. Alice, nggak ada korelasinya itu kawin sama pegawai negeri dengan jarang nangisan, hihihi.. ^^

    Anang, justru itu enaknya jadi pengusaha kaya. Boleh masuk-bolos sesukanya kalau tau-tau ditelfon istri sambil nangis, hahaha..

    Bang Attayaya, tau dari mana kok tai gigi rasanya kayak cokelat? Udah pernah ngincipin ya..?

    Fenty, yah kurasa juga begitu. Nggak ada yang lebih enak selain punya kekasih yang rela aku grupuhi bahkan saat dia sendiri lagi kerepotan.. 🙂

    Jensen, itu sebabnya aku nulis di alinea pertama "blogger di Malang". Soalnya kondisi ini tidak memiliki tingkat kesulitan yang sama di daerah lain.. 😀

    Tomy, kelakuan kayak gini patut dilestarikan. Tapi nggak bagus buat jadi kebiasaan para cewek. Cukup 1-2 kali ajalah, jangan diulang-ulang..

    Anita, coba tambahin daftarnya. Jangan kawin sama dokter UGD, dokter bedah, dokter kandungan, dokter perinatologi, dokter anestesi, atau dokter apapun yang melakukan pertolongan darurat.. Hehehe..

  9. Tomy says:

    Waktu saya sedang sibuk melakukan percobaan di laboratorium, cewek ngirim SMS katanya lagi down pengen curhat. Saya langsung ninggalin ruangan lab mencari tempat yang sepi untuk menelpon balik ke cewek saya. Ternyata dia nangis2 hanya karena gak lulus ujian satu mata kuliah. Saya kabur dari lab selama dua jam hanya untuk menelepon dan menghiburnya yang berada di kota lain. Kalau dia tinggal di kota yang sama, pasti saya juga akan kabur langsung menemuinya.Saya berharap ketika saatnya nanti dia sudah menjadi istri saya (dalam waktu dekat ini), perhatian seperti ini akan bisa tetap saya pertahankan atau tingkatkan. Ameen.

  10. jensen99 says:

    Disini kalo Persipura maen sore (jadi harus dateng ke stadion minimal jam 2 PM) pada hari kerja, seperlima isi stadion adalah PNS berseragam, dari eselon tertinggi sampai pegawai honor. Semua kantor2 pemerintah jadi kosong! (Wong kapten Persipura saja PNS, dan manajer tim pak walikota!) LOL

    Kalo cuma kabur pulang ke rumah karena istri nelfon ya bukan masalah besar. 😉

  11. The Michi says:

    sungguh mengharukaan..!'' sayangnya gw bkan pgawai negri,,jd ngga bsa kya gtu..dan apesnya lagi gw ditakdirkan untk menjdi seorg pengusaha kayaa.!*ahh sombong nian diriku

  12. Arman says:

    jadi inget (gak pernah lupa sih emang) pas esther pernah nelpon gua juga sambil nangis2. gara2 pendarahan pas hamil. gua waktu itu lagi meeting juga langsung kabur. tapi ya karena gua bukan pegawai negeri jadi ya gpp… hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *