Boss yang Baik

Jika Anda jadi boss, lalu suatu ketika pegawai Anda bikin kesalahan yang cukup besar sampek bikin konsumennya ngamuk, apa yang akan Anda lakukan? Pasti rasanya stress berat, coz sebagai atasan kan Anda sudah banyak nyap-nyap kasih pengarahan ini-itu ke pegawai supaya jangan sampek bikin konsumen marah, tapi kok ya pegawai masih berbuat salah juga? Rasa-rasanya nggak ada yang lebih Anda kepinginin selain ngamukin pegawai lantaran kesalahannya sudah bikin perusahaan Anda merugi, entah itu rugi duit atau malah rugi kredibilitas. Gampang, turunin aja gaji pegawainya, kalau perlu pecat sekalian. Beres?

Itu kan masalah pengelolaan sumber daya manusianya. Bagaimana dengan pengelolaan konsumen, apakah itu akan menyelesaikan persoalan ngamuknya konsumen? Kita kan cemas karena kemarahan konsumen bisa bikin perusahaan merugi, lantas apakah menghukum pegawai yang bersalah bisa menjamin bahwa konsumen akan balik lagi buat memakai jasa perusahaan kita?

Gw sendiri nggak yakin. Anggap aja gw ngamuk sama sebuah salon gara-gara gw udah minta supaya gw di-creambath pakai krim stroberi tapi oleh si kapsternya malah di-creambath pakai krim lidah buaya, gw sama sekali nggak akan mau tahu apakah tuh kapster mau dipecat atau enggak. Jadi gimana sebaiknya usaha si salon supaya gw sudi buat creambath di tempat itu lagi?


Itu yang gw pikirin waktu gw baca koran kemaren, mengenai Sri Mulyani. Banyak orang yang merasa sayang Bu Ani harus pergi ke Washington dan nggak jadi menteri lagi. Lepas dari gonjang-ganjing Bank Century yang mojokin Bu Ani, banyak orang mengakui bahwa di bawah kepemimpinan Bu Ani, Kementerian Keuangan jauh lebih baik dari dulu-dulu. Bu Ani memang nggak segan-segan menindak bawahannya yang main kotor, tetapi Bu Ani juga nggak malu-malu buat minta maaf kepada publik atas ulah Gayus yang bikin malu se-Dirjen Pajak. Padahal kalau dipikir-pikir yah, yang salah kan bawahannya Den Gayus itu, tapi kenapa Bu Ani sebagai sang boss yang notabenenya nggak ikutan nilep pajak juga minta maaf?

Di sinilah kita mengerti bahwa tanggung jawab seorang atasan bukan cuman membimbing anak buahnya buat mencapai tujuan yang diharapkan dari organisasi itu, tetapi dia juga bertanggung jawab buat berupaya membalik reputasi organisasi yang sudah dijungkir habis oleh bawahan. Suatu perusahaan nggak bisa jatuh cuman gara-gara pegawainya bikin ulah jelek, tetapi perusahaan itu bisa jatuh kalau gagal meraih kembali kepercayaan konsumen. Dan minta maaf kepada konsumen yang merasa dirugikan, adalah usaha yang bisa dilakukan atasan untuk meminta kepercayaan konsumen kembali, lepas dari fakta bahwa atasan sama sekali tidak bersalah atas ulah pegawai tersebut.

Bahkan wakil pimpinan dari rumah sakit tempat gw bekerja dulu pernah bilang kepada kami para dokter bawahannya, “Saya selalu minta maaf kepada para pasien jika mereka tidak puas atas pelayanan kita. Minta maaf itu murah.” Membuat gw merasa malu atassifat low-profile-nya, coz gw tahu bahwa sebenarnya dos-q cuman duduk doang di kantornya, sementara kami yang berjibaku berhadapan dengan pasien-pasien ngamuk itu setiap hari dan kami suka lupa minta maaf sama pasien. Padahal, minta maaf itu bukan selalu berarti kita yang salah. Tetapi minta maaf adalah melihat ketidakpuasan orang lain dari sudut pandang yang berbeda. Dan dengan minta maaf, kita sudah jadi pemenang yang berada di atas angin atas kericuhan yang ada.

Gw nggak bisa komentar banyak mengenai peran Bu Ani dalam mengelola dana bail-out-nya Bank Century. Tapi gw memandang Bu Ani sebagai atasan dari Kementerian Keuangan, yang berani minta maaf kepada publik atas kesalahan bodoh yang dilakukan anak buah kecilnya. Itu yang bikin gw respek terhadap Bu Ani. Ma’am, you’re a good boss that they’ve ever had.

Gambarnya Ibu diambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Secara logis, bener banget, Mbak Lili.

    Tapi itu nggak bisa dipakai buat para pegawai negeri sipil. Mau bosnya punya integritas atau nggak, anak buah tetep harus hormat. Hormatnya bukan sama boss, tapi hormatnya sama slip gaji..

  2. Minta maaf itu murah, tapi pastinya berat. Jd kalo seseorang dah berani minta maaf, atas apa yg bukan diperbuatnya, apalagi ke publik, semua jempol kudu terangkat.

    Kdg org kalo dah jadi bos suka salah kaprah. Menganggap prestasi team adalah prestasi boss, kesalahan anak buah adalah tanggung jawab si anak buah sendiri.

    Kalo dapat bapak / ibu buah yg kayak gini, mending ultimatum, tuh bos ato kita yg minggat. Buat apa 'menghamba' kepada seorg yg kita gak bisa hormati

  3. hedi says:

    Urusan kesalahan anak buah bisa diselesaikan internal, bosnya yg harus menyelesaikan eksternal. Apa boleh buat, itu aturan mainnya 🙂

  4. Jauh lebih gampang bagi Bu Ani untuk minta maaf atas kelakuan anak buahnya. Dia nggak usah nunggu anak buahnya minta maaf lagi, coz itu bukan urusannya lagi.

    Tinggal anak-anak buahnya yang tukang tilep itu, mau nggak mereka minta maaf sama rakyat?

    Kesiyan banget negeri ini, nggak ada tempat yang nyaman buat orang-orang pinter dan jujur seperti Bu Ani.

  5. Masalahnya SMI terlau pintar dan terlalu jujur jadi ga matching ama pejabat teras negeri ini. Karena gak mau dianggap gak modis makanya SMI didepak^^
    Salut untuk Bu Ani yang bisa jadi teladan bagi wanita Indonesia^^ (teladan bahwa setelah didepak bukan berarti akhir dunia!)

  6. Menurut saya, Sri Mulyani mesti diliat objektif. Jangan cuman dilihat cacat-celanya doang, tapi juga mesti dilihat prestasinya.

    Saya memang merasakan kehidupan perekonomian kita lebih sehat semenjak Bu Ani yang memimpin. Bukan dilihat dari harga barang kebutuhan pokok, tetapi persaingan antara para pengusaha jadi lebih sehat.

    Kalau kita cuman mau lihat cacat-cacatnya doang dari seorang pemimpin, sampai lebaran kuda pun mental kita nggak akan pernah maju.

  7. nitya says:

    aku setuju kalo Bu Ani teladan bos yang baik. Walaupun belum pernah ketemu langsung, tapi perekonomian INdonesia ikut membaik semenjak kepemimpinannya dia.

    Salam kenal,
    Nitya

  8. Sekarang tergantung bagaimana sikap kita sebagai boss. Apakah kita memandang diri kita sebagai pihak yang ikut bertanggungjawab atas pekerjaan anak buah, atau hanya jadi boss yang tukang nyuruh-nyuruh saja.

  9. Jokostt says:

    Menjadi Bos ya begitulah. Berat! Harus bisa mempertanggungjawabkan kesalahan2 yang dibuat anak buah atau organisasinya dan kesalahan yang dia perbuat sendiri.

    Sayangnya, dimata anak buah tak semua punya pandangan begitu. Kalau menjadi Bos itu tanggung jawabnya besar. Anak buah hanya melihat sisi kalau Bos itu hanya tukang nyuruh2 saja.

  10. Freya says:

    wes, Ibu satu itu emang hebat banget kok. Semua negara kan emang udah mengakui dia dari dulu-dulu sejak pertama dia jadi Menkeu. Yang pas minyak bumi naik dan resesi ekonomi menjangkiti negara-negara maju macam AS, dan negara Eropa lainnya, cuma negara kita aja yang nggak begitu kena imbas depresi ekonomi global itu. Bahkan pas kenaikan minyak bumi, kita sempat ngga menaikkan harga BBM dan pas kenaikan harganya juga nggak tinggi-tinggi banget kayak negara-negara maju lainnya. Itu semua berkat Ibu Sri Mulyani loh.

  11. Masih jarang boss yang mau pasang badan di depan umum atas kesalahan anak buahnya. Padahal publik belum tentu memandang kesalahan itu adalah kesalahan anak buah, publik cuman tahu bahwa organisasi itu mengecewakan dia. Tindakan berani pasang badan oleh boss sebenarnya bisa mengangkat reputasi organisasi yang jatuh lho.

  12. Arman says:

    yah bos yang baik harusnya gitu. harus bertanggung jawab dan pasang badan atas kesalahan anak buahnya. bukan cuma maunya dapet kredit kalo anak buahnya kerjanya bagus doang.

    congrats buat bu ani. beliau pantes untuk jadi pejabat world bank. dan buat orang2 yang menghujat.. itu sih pada sirik aja dah…. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *