Telat Keracunan

Coba bayangkan, malam ini mendadak Anda kepingin makan bakso. Tapi bosen makan di restoran bakso yang itu-itu aja, dan sekali-kali Anda kepingin nyoba restoran bakso yang lain, tapi Anda nggak tahu restoran mana yang masak baksonya lebih enak daripada langganan Anda selama ini. Apa yang akan Anda lakukan? Tanya sama sodara atau teman, kayaknya nggak mungkin coz bisa jadi jawaban mereka ya sama-sama aja kayak pilihan Anda. Bongkar internet? Ketiklah kata “bakso” search engine, dan akan muncul jutaan link yang rata-rata berasal dari para blogger nggak jelas dari seluruh dunia yang mengoceh tentang tempat bakso favorit mereka. Apa tidak ada yang lebih ringkas?

Saat itulah Anda perlu Foursquare.

Gw sebenarnya rada-rada lelet kalau mau ngikutin trend di dunia maya, termasuk yang satu ini. Gw ikutan Foursquare gara-gara alasan yang maha cemen: diajakin my hunk, biarpun waktu gw tanya sama dos-q, ini situs gunanya buat apa sih? Dos-q malah jawab nggak tahu. Lha alasan dos-q sendiri daftar masuk Foursquare juga nggak kalah anehnya: buru-buru daftar sebelum username favoritnya diambil orang. Dia sudah cukup jengkel gara-gara ada orang yang punya nama hampir sama dengannya di Facebook dan akibatnya ngambil username favoritnya duluan. Padahal dia sudah daftar ke situs jejaring mana-mana dengan username itu, wkwkwkwk.. 😀

Semula gw mengira Foursquare itu hanya “satu lagi Facebook yang lain” yang akan cepat tenggelam secepat Tagged dan Hi5, sampek kemudian gw baca-baca di Twitter bagaimana Foursquare mulai jadi demam di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan di luar negeri sudah mulai jadi wabah.

Sewaktu seorang kolega gw ngirim permintaan buat jadi “friend” gw di Foursquare, gw buka dululah profilnya. Maka gw pun tercengang. Dia nulis di “daftar tip”-nya bahwa dia sudah ke Pasar Baru Bandung dan dia suka ayam bakakak baker yang dijual Gudang Rasa di food court lantai enam. Malah ada link ke Pasar Baru Bandung segala dan di situ nampak sudah ada 30-an orang mendatangi tempat itu dan membagikan tips-nya masing-masing supaya enak kalau main-main ke Pasar Baru. Baru gw ngeh Foursquare itu apa.

Foursquare bukan jejaring sosial biasa yang tujuan utamanya adalah cari “friend” sebanyak-banyaknya. Foursquare lebih fokus menjadi city guide buat para anggotanya. Misalnya ya kayak contoh gw tadi. Gw kepingin bakso, dan gw mau tahu restoran mana aja di kota tempat tinggal gw yang jualan unggulannya adalah bakso. Jadi gw tinggal masuk Foursquare, set lokasi gw saat ini ada di Bandung, Indonesia. Di search engine, ketik “bakso”. Maka akan muncullah daftar restoran yang jualan bakso, lengkap sama alamatnya.

Apa bedanya sama buku telepon? Nah, kita tinggal buka link-nya restoran itu satu per satu. Ambil contoh misalnya gw buka link Bakso Goyang Lidah di Jalan Gajah Mada, maka akan muncul profil Bakso Goyang Lidah itu, yang menampilkan Google Map dari lokasinya, plus berapa orang anggota Foursquare yang sudah pernah ke sana, dan ini yang paling seru: Tips yang ditulis oleh orang-orang yang makan di situ. Tips itu misalnya berbunyi gini, “Coba menu Bakso Urat Keju Asin, uenaak banget! Jangan lupa minta saos ekstra, diminum bareng es kelapa muda, hmmm..yummy!”
Lha bayangin kalau kita dateng ke Bakso Goyang Lidah tanpa petunjuk testimoni dari siapa-siapa, mana kita tahu kalau bakso kejunya di tempat itu enak?

Serunya, kita nggak cuman bisa manut sama tempat-tempat yang udah ada di daftar Foursquare itu. Kalau ada tempat favorit kita yang belum tercantum di sana, kita bisa ikut merekomendasikan nama tempat kesukaan kita itu. Asal yang penting kita tahu nama tempatnya restoran apa, dan lokasinya di jalan apa, beres!

Dan, ternyata Foursquare nggak cuman ngomongin wisata kuliner melulu. Ada banyak kategori lain, misalnya toko buku, toko musik, bahkan salon, supermarket, bank, atau ATM. Gw iseng ngetik kata “creambath” di search engine Foursquare, langsung keluar empat salon di Bandung yang udah didaftarin di Foursquare dengan tips “creambath”. Salah satunya berada di Jalan Ranggamalela, seseorang telah menulisnya begini, “Creambath Eci okeeeeyyyy..!”
Batin gw, si salon itu mesti kasih reward ke si pengunjung ini karena telah mempromosikan creambath pegawai bernama Eci itu dengan gratis.

Anda pengusaha? Coba ketik nama usaha Anda di Foursquare dan lihat apakah nama usaha Anda itu sudah masuk di sana. Kalau nama usaha Anda belum ada, berarti usaha Anda belum eksis.
Kalau nama usaha Anda sudah ada, lihat berapa pengunjung yang sudah kasih tips atas usaha Anda. Inilah caranya mengetahui kesan-kesan pengunjung terhadap usaha Anda yang mungkin nggak pernah mereka ucapkan di depan batang idung Anda.

Dan, kenapa tulisan ini gw sebut Telat Keracunan? Yah, soalnya demam Foursquare di Indonesia ini sudah agak lama, sedangkan gw nulisnya baru sekarang jadi rada telat. Plus, rasanya Foursquare ini bikin gw keracunan coz sudah beberapa hari terakhir ini kepala gw isinya Foursquare melulu..

*blame it on my hunk*

(Timpuk..!)

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

20 comments

  1. Aku pikir Wijna bisa manfaatin site ini dengan bagus banget. Apalagi jarang banget orangnya Foursquare Indonesia nulis tentang candi.

    Soal ini adalah Google Maps plus plus, kurasa nggak problem deh, Na. Justru Google Maps ini yang bikin Foursquare jadi
    menarik.

  2. mawi wijna says:

    idenya bagus, aq punya ide untuk memetakan candi dan fasilitas umum disekitarnya pakai Foursquare. Tapi tunggu, apa ini tak lain adalah Googlemap versi 2 yang ditambahi input dari pengguna?

  3. Yupz, bisa gw sebut itu salah satu bentuk penyimpangan. Beberapa hari gw meneliti Foursquare, gw lihat orang-orang punya penyakit baru: jadi banci badge. Itu yang bikin mereka seneng check in di kamar sendiri, lha di mana lagi gampang jadi mayor kalo nggak pas check in di kamar sendiri?

    Sejauh ini gw berusaha menikmati Foursquare gw. Ngejar-ngejar check in di tempat-tempat cemen malah mengurangi kenikmatan Foursquare itu sendiri.

  4. Arman says:

    mungkin sebenernya ide nya bagus. tapi lama2 jadi bikin eneg ngeliat orang2 ngupdate foursquare nya. lha masa masuk kamar sendiri aja check in? lewat perempatan mana check in. dikit2 check in, dikit2 check in. ampun dah.

    gua jadi rada sebel ama orang2 yang kayak begini di foursquare dan itu membuat gua urung untuk ikutan main dah.

  5. Kalo nggak hobi wisata kuliner juga nggak pa-pa. Saya malah berniat cari tempat lain yang mungkin bisa di-browse, misalnya tempat mancing, tempat berkemah, atau toko baju.

    P.S. Bratwurst Jerman itu bisa dikunyah-kunyah, bukan cuman digigit atau dikulum-kulum doang.. *wink*

  6. Jokostt says:

    Saya termasuk yang ndeso, telat juga belum tahu apa itu Foursquare. Hem, saya tak hobi kuliner, sih tapi hanya hobi traveling saja sambil kalau ada makanan enak di daerah tak lupa mampir untuk makan-makan apalagi kalau ada kolega yang bayarin. He….He….Sama aja, ya Mbak Vicky?

  7. Mbak Fanny, baiknya Mbak Fanny segera daftarin kantor notariatnya Mbak Fanny di Foursquare. Dan lihat siapa aja para klien pelanggan yang berani bilang pernah check-in di situ.

    Nietha, Alice, Mbak Yayan, buruan deh ke sana. Daftar aja..

    Aron, HP apa aja sebenarnya mendukung buat Foursquare. Saya check in di sana tuh cuman pake Opera Mini versi 4 lho!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *