Kecanduan Film Biru, Dampak Negatif Internet Baru

Dulu ceritanya saya masih kerja di sebuah kantor milik pemerintah di Cali. Kebiasaan di sana tuh standar aja, dari pagi sampek rada siangan gitu pegawainya ngurusin surat-surat dan bikin laporan ini-itu. Nanti kalau sudah siang pegawainya pulang satu per satu ke rumah masing-masing buat sembahyang dan makan, kalau udah siang baru balik lagi ke kantor (coz nih kantor kan bagian dari jaringan nasional, yang mana pusatnya mewajibkan kantor bikin jam kerja dari jam 8 pagi sampek jam 4 sore).Suatu hari setelah saya ngurusin klinik, saya main internet di kantor sampek siang. Sekantor udah sepi, dan saya kirain para pegawai udah pada pulang. Setelah saya beresin e-mail-e-mail itu, puas main internet, saya matiin kompie, lalu saya nggedor ruangan ajudan saya buat minta dia nganterin saya pulang. Tapi ternyata dia nggak ada di ruangannya.

Saya celingukan nyari-nyari ajudan itu, dan akhirnya saya lihat pintu salah satu ruang kerja ada yang tertutup. Pasti di dalamnya ada orang nih, coz saya tahu biasanya ruangan itu selalu dalam keadaan pintu terbuka. Saya bukalah tuh pintu, dan ternyata eh ternyata, para pegawai termasuk ajudan lagi tumpek blek di ruangan itu semua, nontonin kompie.

“Wew..lagi liat apa?” tanya saya menyapa pegawai-pegawai itu.

Seorang pegawai nampak sekelebat kilat berusaha menjangkau mouse, tapi ternyata saya jauh lebih gesit. Saya lihat ke monitor kompie dan wew..! Pemandangan syur terbentang di depan mata saya.

Bapak-bapak pegawai itu (tak ada perempuan, coz pegawai yang perempuan sudah pulang semua) mengerang. “Aduuh, Bu Dokter!” mereka ketawa malu.
Saya masih melihat ke layar monitor, terpaku dan mengernyitkan hidung. Batin saya, “That woman really can’t make a f*ck. She shoulda learnt better.” Dan saya nggak pernah lihat laki-laki dengan bodi yang lebih jelek dari itu.

Saya noleh ke para pegawai yang mesem-mesem malu ketangkap basah itu. Rata-rata mereka adalah bapak-bapak, dengan anak-anak 1-2 orang yang sudah mau masuk SD semua. Ngapain sih mereka nonton beginian? Ta’ kira mereka buka YouTube untuk menonton sesuatu yang sedikit lebih bermutu, misalnya cara search and rescue dari Palang Merah Internasional. *naif MODE : ON*

“Pak,” saya melirik ke ajudan. “Saya mau pulang. Saya belum sembahyang.”

‘Siap, Bu!” sang ajudan langsung berdiri, tapi saya lihat matanya nampak nggak rela. Saya baru saja menyuruhnya melepaskan acara nonton bareng yang hampir sama serunya dengan nonton Piala Dunia. Bahkan layar tancep di lapangan kantor bupati tidak akan seseru ini.

Saya tidak pernah membahas itu dengan para pegawai. Saya juga nggak bilang-bilang ke siapapun tentang kenapa para pegawai negeri memakai Speedy kantor yang dibayar pakai pajak rakyat buat nontonin film biru. Sepertinya penetrasi internet ke kantor-kantor pemerintahan sudah bikin dampak negatif baru berapa PNS kecanduan nonton bokep. Tapi dalam perjalanan pulang, saya merenung.

Kenapa orang seneng nonton film biru? Di sebelah mana sih asyiknya? Ngeliat orang telanjang? Atau ngeliat orang bercinta? Jujur aja, saya nggak ngerti. Sebagai dokter, saya sudah biasa lihat orang telanjang di depan saya dengan sukarela sampek-sampek saya nggak punya selera lagi buat menilai bokong orang dalam skala 1 sampek 10. Kalau buat lihat orang saling menggesek satu sama lain, itu sudah banyak di DVD-DVD sah. Coba dipikir, hampir semua film drama luar negeri yang kita tonton pasti ada adegan esek-eseknya, kan? Legend of the Falls. Pretty Woman. Basic Instinct. Twilight. Kok nggak ada satu pun dari film-film itu yang dijual di pasar dan kena sapu Mabes Polri? Lagian ngomong-ngomong, orang-orang di dalam film itu lebih mirip menjagal satu sama lain ketimbang bercinta. Batin saya, “We can do so much better than that on our own bed.”

Maka, dengan maraknya razia warnet buat nyari-nyariin video mirip Ariel-Luna-Tary akhir-akhir ini, saya merasa tindakan itu cuman buang-buang waktu belaka. Suka atau tidak suka, terimalah: everybody needs p*rn. Semakin dilarang, maka orang akan makin gesit untuk mencari. Beberapa hari lalu saya baca tweet-an seseorang, “Akhirnya! Setelah dua hari dua malam ngulik, dapet juga!” Saya iseng nanyain, “Sampeyan ngefans sama Luna ya kok segitu niatnya browsing dua hari dua malem?” Dianya njawab, “Lha soalnya orang-orang pada susah nyari, saya kan jadi merasa tertantang buat ikutan nyari juga.”
Saya jadi ambil kesimpulan bahwa orang pada ribut nyari video (mirip) tiga artis itu bukan lantaran nyari produk kepornoannya, tapi lebih karena kecanduan tantangan.

Dan yang lebih lucu adalah guru-guru merazia HP anak-anak sekolah. Ngomong-ngomong, apakah sudah ada anak sekolah yang ketangkep basah HP-nya ada video itunya? Saya yakin, murid sekolah nggak bego. Video itu bisa mereka hapus dari HP mereka dengan satu kali klik. Nggak usah kuatir kehilangan data, mereka pasti sudah nyimpen data itu di CD yang tersimpan di lemari baju masing-masing. Justru saya lebih tertarik kalau HP guru-gurunya juga ikutan dirazia.

Stop deh ngubek-ngubek warnet dan HP anak-anak sekolah. Daripada nyari-nyari video porno tapi sendirinya masih punya otak mesum, mendingan dipikir lebih jauh: “Kenapa masih aja sampeyan merasa perlu nonton video porno?”

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Hah? Iya sih, kemaren memang ada komen anonim, truz gw tendang soalnya nggak ada namanya. Ya ampun, itu lu ya, Depp? Hwaa..maaf, maaf! Makanya lain kali jangan anonim-anoniman, Depp. Di blog gw, yang berani komen tanpa kasih nama, nggak akan lulus sensor, mau komennya sebagus apapun juga.. 🙂

  2. "publisitas berlebih adalah media promosi paling murah, bahkan gratis. Semakin banyak kontroversi melingkupi suatu hal. Makin banyak orang membicarakannya, dan makin mudah terjual sesuatu itu."

    makin banyak pembicaraan tentang Mereka, makin banyak yg nyari.

  3. Iya, baru sejam lalu saya ganti template. Tau nggak, sudah setahun lebih saya nggak ganti template, hehehe..

    Well, saya perempuan ya, makanya saya nggak bisa merasakan besarnya pengaruh bokep terhadap cowok. Saya sendiri kalau lihat pasien laki-laki telanjang, ya perasaan saya biasa aja. Kolega-kolega saya yang laki-laki pada jadi dokter kandungan, kerjaannya liat istri orang yang bugil, ya tampang mereka juga biasa-biasa aja.. Biarpun pasiennya lebih ayu ketimbang Luna Maya lho.

  4. Coba kalau dlihat dari sisi psikologis laki-laki dan perempuan. Siapa misalnya yg lbh tertarik scr visual, terlepas urusan moral.

    Klo sy dokter, pasti ga ngeh lihat pasien telanjang. ntah klo pasiennya luna maya. hehe *kidding.

  5. Hoeda Manis says:

    Mayoritas (atau mungkin hampir semua?) penonton or penikmat bokep memang cowok. Kenapa? Jawabannya mudah saja, karena cowok makhluk visual, dan bokep memberikan rangsangan yang luar biasa untuk indra visual mereka. Biasanya ini yang bikin mereka jadi ingin lagi dan lagi.

    Kedua, karena penasaran. Seks selalu menjadi sesuatu yang merangsang insting rasa penasaran orang. Kalau orang menonton bokep karena dorongan ini, biasanya akan segera terpuaskan setelah rasa penasarannya terpuaskan. Udah itu nggak pengin2 nonton lagi, kecuali kalau ada yang bikin penasaran lagi.

    Ketiga, heiii, template-nya baru ya? Cantik!

  6. Oalah, baru UAS tho? Pantesan lama nggak ke sini..

    Jazz tenang aja. Dirimu bukan satu-satunya yang kebosenan nonton film biru, hahaa..

    Well, saya kalo liat kaum migrant netter meriksa HP-nya native netter, bawaannya jadi kepingin ketawa. Batin saya, "Memangnya sampeyan bisa nyalain Opera Mini tah?"

  7. soal video itu teh,
    hehe aku udah liat,

    jujur aja, memang menarik (hehe kan manusia) tapi sehabis liat, haduh yang muncul malah perasaan kebosanan yang sedikit menyedihkan..

    (yah akhirnya sedikit jijik)

    oya aku setuju ama komen pertama
    sebaiknya razia udah ngga perlu

    anak2 itu digital native yang cangginya minta ampun. terus guru2 yang the migrant one, kok mau macem2

    yang penting itu penekanan pad spiritualitas anak dan sedari dini diberi pendidikan seks

    biar melihat seks itu benar-benar sebautu yang ya sedikit niscaya-lah bagi human being

    (hehe sok tahu mode: ON)
    mampi2 lagi teh, abis UAS

  8. Nah! Kenapa orang kepingin liat videonya? Jangan-jangan karena mereka memang nggak pernah melakukan, jadi kepingin liat contoh.
    Kenapa orang yang udah menikah tetep kepingin liat videonya? Mungkin coz mereka udah ngalamin sendiri dan kebetulan pengalaman mereka kurang memuaskan.. 😛

  9. Ahaha… Bikin keinget sama konsumen di kerjaan, nih, dok!

    "Uni, punya video Luna ngga, Ni?" sambil ngelirik hp gw.

    "Ahaha… Mau ngapain? Pengen nonton ya?"

    "Ya penasaran aja. Abis pada bilang heboh, si. Seheboh apa si, emangnya?"

    "Ngga punya, bu. Tuh, si itu punya, tuh."

    "Mana orangnya?" (Rada antusias)

    "Lagi keluar, nganter barang."

    …Saya waktu ditunjukin temen malah ngga suka, jadi males nerima ajakan nonton. Emang ngga suka aja. Bukan pengen sok alim, tapi geli sama gaya orang2 yg pengen liat, kayak pengen ngeliat topeng monyet. Duh, segitu murahnya..

  10. ronneycerita says:

    begitulah manusia selalu berusaha tuk menyembunyikan realitas yg sesungguhnya karena takut akan publik. manusia2 yang selalu berusaha tuk menyentuh kaki langit tetapi tidak sanggup tuk menggapai awan dan hanya sanggup tuk berada dlam dunianya karena kenyamanan dan jauh dari gangguan sesama. manusia yang selalu berusaha menampilkan senyuman terkadang melupakan bahwa latar dan kelaluannya telah diketahui oleh waktu dan ruang

  11. debhoy says:

    pertama liat bokep waktu SMP karena ga sengaja … sampe skrg, tetep jijik
    ga munafik, saya punya video LM daan AP tp udah dihapus, cm utk nunjukin sekilas sama ibu kos yang maksa2 pengen liat apa bener pelakunya mereka…
    jd inget komen salah satu aktivis wanita yg 2 hr lalu dialog d TVOne, manusia2 Indonesia 'munafik'

    Komen pedas itu saya rasa sangat tepat ^^

  12. Hahaa..sejujurnya, Mbak Adhini, kalau aku sekarang masih anak-anak, aku akan buru video itu ke manapun sampek dapet. Bukan karena kepingin liat orang mesum, tapi karena alasan cemen: "Semua orang kayaknya sudah lihat dan saya belum pernah lihat." Sesederhana itu.

  13. Adhini says:

    Betul..betul..betul..anak2 jaman sekarang ku rasa lebih pintar malah dari orang dulu, secara skg lebih canggih, meskipun udah ektra ketat..mungkin di diamkan justru malah lebih aman, gak banyak orang tahu malah termasuk anak2.

  14. Na, menurut dosen psikiatri saya, hanya 1/3 dari remaja yang sekalinya nonton film biru jadi kecanduan nonton lagi. 2/3-nya nonton sekali, selanjutnya mereka nggak berminat nonton lagi.

    Maka saya jadi penasaran, faktor apa yang bikin orang kecanduan dan faktor apa yang bikin orang jadi nggak minat nonton lagi.

  15. mawi wijna says:

    Itu nafsu dan sama seperti cinta, susah untuk merangkai alasan logis dibalik itu semua. Mungkin ya mencari kepuasan batin, tapi itupun masih bisa diperdebatkan.

  16. Uh, Ria, bokep yang pernah kutonton waktu ABG adalah Romeo+Juliet. Leonardo DiCaprio buka t-shirt-nya Claire Danes, apakah itu masuk hitungan bokep?

    *pasti aku diketawain nih*

    Tapi dalam Pancasila tidak ada amanat buat menghindari film bokep! Iya kan? Perasaan nggak ada deh. Coba Ria inget-inget, mumpung baru lulus CPNS pasti masih hafal materi P4.. 😛

    Aku cuman berharap razia itu dihentikan aja coz menyunat jam belajar. Apakah karena sekarang mau musim liburan, jadi kegiatan belajar-mengajar menjadi longgar dan diisi dengan razia?

    Mbak Reni, acara nobar itu ada. Cuman kalo buat triple X, penontonnya diem aja. Apalagi kalo lokasi nobarnya di kantor. Coba kalo lokasinya di rumah, pasti ada suara penontonnya. "Oooh..!" "Uuuh..!" "Aaah..!"

    Hai Ricky, lama nih nggak mampir sini. Saya seneng film apapun kalo sinematografinya bagus. Kebanyakan film biru nggak pernah menang penghargaan coz mereka nggak kasih pelajaran dan pengetahuan apapun, cuman adegan yang nggak ada nilai seninya sama sekali.

    Mas Fahmi, pancen Mas itu ndak direstui Tuhan buat nge-download. Mbok Mas tuh pake koneksi Flash buat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukannya ngeblog, malah ndownload Luna Maya..

    *geleng-geleng kepala*

  17. fahmi! says:

    pagi itu pas rame2nya luna maya, aku dapet beberapa link downloadtan dari sejumlah situs mirror. pingin tau sih, aku coba download, gagal. koneksi flash sedang lemot jaya. siangnya mau coba lagi ternyata sudah dihapus videonya… bah 😛

  18. Rizky2009 says:

    kalau aq sih nonton film biru, sekedar buat nambah pelajaran dan pengetahuan saya, intinya dari film tersebut saya ambil sisi positifnya gt, mampir bali yah jika berkenan

  19. Menurutku, bukannya tambah dilarang, tambah penasaran? Setuju banget, razia2an itu nggak perlu. Setidaknya sekali pada masa ABG, kita pasti pernah nonton bokep karena didorong rasa ingin tahu. Seharusnya (mungkin) pendidikan sex lebih penting. Dan spiritualitas untuk kaum muda. Dan moral pancasila (heh?).

    Aku rasa razia itu cuma karena karena kita suka mendramatisir. Kan bosen ya kegiatan blajar mengajar cuman metoda CBSA doang. Biar seru? Mari kita nyari video bokep. Barangkali, karna siswa2 lebih canggih dan mungkin dari sekian orang ada hacker, ada yang punya artis2 yang lain. Kebetulan guru OR sukanya sama BCL…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *