Besar Kecil Nggak Ngefek

Setiap kali pertandingan Piala Dunia, pasti Twitter mabok. Apalagi kalau yang main itu kesebelasan dari tim-tim favorit. Paling dongkol saya waktu beberapa hari lalu nonton Belanda vs Brazil. Begitu perpanjangan waktu tiga menit ekstra berakhir, sontak orang-orang kumpeni oranye itu berpelukan, sementara Carlos Dunga marah-marah, Twitter langsung kebanjiran tweet dari seluruh dunia yang tidak bisa menahan emosinya antara sedih campur kegirangan atas tim favoritnya masing-masing. Alhasil saya nggak bisa masuk ke timeline, dan saya baru bisa masuk ke Twitter..sejam kemudian. Membuat saya marah-marah, bukan karena Brazil kalah (saya dukung Brazil karena Brazil lebih miskin ketimbang Belanda), tapi karena menurut saya Twitter mestinya naikin kapasitas server-nya supaya semua orang yang nge-twit bisa masuk. Saya rasa inilah resikonya bergabung dengan jaringan social yang kualitas statusnya lebih tinggi ketimbang Facebook.

Ngomong-ngomong, beberapa hari lalu saya baca komentar seseorang di blogger bernama X. (Kenapa ya, kok saya ini senang banget nyebut seseorang dengan nama X, padahal namanya sama sekali nggak ada huruf X-nya? :-p) Jadi gini, ceritanya blogger ini dulu blogger laris. Tiap kali posting, nggak sampek dua jam, itu jumlah komentarnya sudah belasan. Namun, akhir-akhir ini, tuahnya berkurang. Hari ini saya itung sudah empat hari sejak dia posting terakhir, tapi posting-nya itu belum sampek 10 komentatornya. Seorang komentator nanya kenapa blog itu sekarang nggak serame dulu komentarnya. Lalu sang blogger menjawab, nampaknya karena sekarang sudah menjamur Twitter dan Facebook, orang lebih tertarik baca dan ngomentarin status-status yang pendek-pendek ketimbang baca blog. Apalagi Twitter, yang sekali nulis status nggak boleh lewat dari 140 karakter, malah lebih menarik orang buat me-reply atau me-retweet-nya.

Lalu saya ngitung-ngitung tulisan saya sendiri. Saya piara dua blog, yang satu di sini dan di sana. Saya piara Facebook juga di sini, tapi saya lebih aktif di account Twitter saya. Saya nggak pernah ngitung-ngitung berapa yang komen di status Facebook maupun Twitter saya, tapi yang jelas saya tidak pernah merasa bahwa kehadiran microblog dua biji itu menyunat jumlah komentator yang masuk ke macro-macroblog saya.

Tadi pagi, saya buka Google Analytics buat lihat sebanyak apa yang berkunjung ke blog saya di Blogspot. Ternyata, 53,6% pengunjung berasal dari orang-orang yang mengklik link atas diri saya yang menyebar di banyak tempat. Bisa karena saya pernah ninggalin komentar di blog orang-orang, bisa juga karena orang-orang itu masang link atas blog saya di blogroll mereka. Berikutnya 26,6% pengunjung ternyata mendatangi blog saya dari search engine, dengan kata kunci paling banyak berupa “georgetterox”, “vicky laurentina”, dan “hipster”. (Saya cengar-cengir di sini, berarti nama yang saya karang-karang itu ternyata sudah jadi brand). Dan hanya 19,8% pengunjung sisanya yang mendatangi blog saya karena mereka memang hafal URL http://www.georgetterox.blogspot.com yang alamatnya susah diingat itu.

Dari sini, saya analisa bahwa ternyata kalau kita kepingin banyak orang ngunjungin tulisan kita, ya kita mesti rajin-rajin sebar link di blog orang lain dan bikin supaya orang tuh mau masang link kita di blog dia. Termasuk juga rajin pasang link atas blog kita di situs-situs microblog, coz ternyata orang juga banyak mengklik link atas blog kita di Facebook dan Twitter. Jadi, apakah microblog bikin orang jadi males mengunjungi macroblog? Itu salah besar. Justru microblog sangat mendukung buat kelangsungan hidup macroblog kita.

Jadi, buat para blogger yang lagi kecil hati lantaran merasa lebih diperhatiin orang kalau update status ketimbang ngeblog, nggak usah stres merasa blognya jamuran. Kalau mau kreatif sedikit, kita bisa bikin microblog dan macroblog jalan bergandengan tanpa menyaingi satu sama lain. Coz mau gimana-gimana juga, macroblog dan microblog itu tujuan dari awalnya juga udah beda. Macroblog buat nulis apa yang ada di pikiran secara mendalam, sedangkan microblog itu buat status update. Bahkan microblog dari Twitter dan Facebook itu sendiri juga udah beda tujuan; Twitter buat bagi-bagi informasi dalam waktu sekejap, sedangkan Facebook lebih dikonsentrasikan buat cari-cari teman. Status update dari Facebook bahkan tidak se-real time Twitter. Info yang diperoleh dari Twitter bahkan sekarang jauh lebih cepat ketimbang info di Facebook, mungkin karena media pers juga lebih seneng upload beritanya duluan di Twitter ketimbang di Facebook.

Thanx buat Violina, Fenty, Inge, Yanti, Mas Fahmi, Pak Joko, Ronney, Mbak Inten, Mbak Reni, plus Ria dan Kristina. Menurut Analytics, link dari blog Sodara-sodara-lah yang ternyata paling banyak kirim pengunjung ke blog saya, hehehehe..

Gambarnya diambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Bridget, relay tulisan gw di Kompasiana ternyata membantu naikin traffic di blog gw juga lho. Kompasianer yang aslinya sudah matang dengan blog pribadinya biasanya malah cuman mau komentar di sini, bukan komentar di Kompasiana-nya. Coba aja, hihihi..

    Mbak Reni, aku pasti mampir ke tulisan Mbak Reni lah. Tulisan Mbak kan oke punya. Sederhana, tapi gampang diambil hikmahnya, heheheheh..

  2. the others.. says:

    Bener mbak… mircoblog itu emang gak ngaruh thd macroblog… karena masing2 punya penikmat sendiri2.
    Aku gak share blogku di blog dan twitter.. tapi ternyata masih ada yg mampir juga..
    Intinya… tetap jaga silaturahmi.. jangan maunya dikunjungi aja tapi gak pernah balik berkunjung.

  3. Ternyata…, banyak yg mampir kesini setelah kenal mbak Vicky dari blogku ya..? Kalau gitu sering2 aja mampir ke blogku…, biar makin banyak yang mampir kesini…. hahaha

  4. bridge says:

    huhuhuuhuh, gue juga puyeng nih gimana cara ningkatin traffic di blog… Yah, antara lain begitu update, langsung buru2 di post di twitter and fb juga 🙂
    Tempted sih pengen post di Kompasiana… hihihiih

  5. ronneycerita says:

    memang setiap tulisan membutuhkan tanggapan dari orang lain danmenjadi bukti bahwa sang penulis mendaptkan tanggapan atau tulisannya berkenan di pikiran dan hati pembacanya. Saya sebagai seoarang penulis juga mengharapkan hal demikian. terkadang bahkan banyak tulisanku yg kurang mendapat respons dari pembaca atau penyebaran tulisanku blom begitu luas. namun hal ini tidak mematahkan semangataku dalam menulis sebab aktifitas menulis telah menjiwai aku.

  6. IbuDini says:

    Ibu Dini salah satu pengunjung baru yang setia lho..meskipun kadang2 ol nya..maklum kalau udah main sama anak gak sempat jalan2 ke blog sahabat

  7. Deb, sebenarnya blog bahasa Inggris saya juga nerima komen bahasa Indonesia. Toh author-nya juga ngerti bahasa Indonesia, hehehe..

    Agak terlalu lebay sih ngeharepin orang lain jadi ketularan nulis hanya dengan baca blog kita. Kalo saya sih lebih nargetin mancing orang lain buat bikin komentar yang bermutu aja dulu. Target ini aja udah cukup susah lho..

  8. debhoy says:

    beberapa kali bca blog Kk Vicky yg English isinya bagus tp blm berani komen apa2 krn english sya parah ^^

    btw, saya menulis bkn krn ingin tenar dgn banyakny pembaca sih … tp bagaimana orang yg membaca kemudian bisa mencintai menulis itu sendiri ^^
    *terlalulebayyah?*

  9. Trims, Mbak Inten. Ngomong-ngomong, kapan Mbak mau update lagi? *wink*

    Pitshu, udah seminggu ini saban kali gw ke rumah Pitshu isinya Man Tou plus udon melulu, hahaha. Ketauan deh lagi kecanduannya.

    Mas Fahmi, aku kalo ke rumah Mas biasanya lebih sering via Twitter (coz ngecek halaman Twitter-mu itu adalah menu sahur :p).

    Tapi kayaknya nggak bisa langsung dibilang kalo segmen paling pas buat blog Mas adalah segmen fotografi. Aku pernah iseng ngitung komentator yang paling banyak komen di blog-blogku, dan ternyata nggak ada segmen jemaah yang jelas. Fotografer penggemar kuliner, ibu-ibu muda, neng-neng/cici-cici gaul kecanduan fashion, bapak-bapak penggila gadget, lajang bin jomblo nan fabulous, sampek para imigran Indonesia yang kesasar di luar negeri.. 😀

    Galih, seneng deh denger ada blogger yang justru semangatnya naik pas kondisi komentar lagi seret. Semangat, semangat, semangat! 🙂

  10. Ina says:

    aku duluan tau microblogging baru macro blogging soalnya lebih cepet bisa (gaptek BO!)Pas tau macroblooging aku jadi addicted banget suka sakaw kalo ngga nulis atau komen di blog, pokoknya hiperaktif banget di blog 🙂

  11. galihsatria says:

    Saya justru menemukan kembali semangat dan passion ngeblog dengan teratur ketika jumlah komentar tiap postingan turun hingga di bawah 3 (bahkan seringkali no comments) he he he…

  12. fahmi! says:

    hehe jadi iseng pingin ngecek juga penyumbang traffic ke blogku siapa saja. ternyata yg paling banyak nyasar ke blogku adalah pembaca dari situs belajarfotografi.com, di bawahnya ada arus dari facebook, google, plurk, dan twitter.

    ternyata, segmentasi yg kira2 cocok buat blogku adalah dunia fotografi. tapi aku kalo nanti aku bosen nulis hal2 fotografi gimana? dan ternyata, buzz di jejaring microblogging banyak membantu mbawa traffic ke macroblog. dan ternyata, arus traffic dari georgetterox.blogspot.com cuman dapet ranking 15 aja di laporannya google analytics. kalo traffic dari laurentina.wordpress.com malah ranking 19 😛

  13. Pitshu says:

    blog g juga isi na cuma curhatan doank! klo ga ada komen juga gpp ^^. cuma sometime butuh masukan atau info2 sangat diharapan komen2 na kekekekek~

  14. Gaphe says:

    iya sih, dua micro blog itu emang super-popular. lebih enak langsung komen, palagi kalo pake mobile phone. Gampang balesnya.. tapi ya balik ke tujuan masing-masing nge-blog buat apa sih.. *sok tahu banget -padahal baru sebulan ngeblog 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *