Indikasi Pembohong

Well, saya nggak suka banget ngomongin relationship, coz saya bukan pakar untuk urusan itu. Tetapi saya juga nggak tahu ke mana pertanyaan ini harus diucapkan supaya bisa dapet jawaban yang tepat, dan selain itu juga yang lebih penting lagi, haruskah pertanyaan ini diucapkan?

Seorang kolega saya lagi mabuk kepayang kepada kolega saya yang lain. Laki-laki ini punya penampilan menarik, badan sehat, kerja keras. (kedengarannya mulai mirip iklan lowongan pekerjaan) Mereka baru kenal sebulan, dan selama itu baru kencan dua kali. Saya pikir mungkin mereka bisa kencan lebih sering lagi, tapi karena mereka tinggal pisah kota, jadilah mereka terpaksa cuman ngobrol via telepon. Dari cara kolega saya cerita kepada saya, kedengerannya mereka sudah flirting satu sama lain. Dan, pembicaraan sudah menyerempet ke arah urusan pre-wed segala.

Sampek kemudian beberapa hari yang lalu, yang laki-laki bilang ke yang perempuan, bahwa sebenarnya dia duda.

Yang perempuan terkejut. Saya yang cuman nyumbang telinga buat dengerin cerita, kaget.

Ya know, saya kenal yang perempuan ini. Menurut saya, kalau dia tahu dari awal bahwa yang laki-laki itu sudah pernah punya bini, dia pasti nggak akan mau kencan dengannya. Tapi karena sekarang dia sudah kadung flirting setiap hari, maka standarnya pun turun dan dia pun bersedia jika “long distance flirting” ini dilanjutkan. (Mereka nggak sebut ini “long distance relationship”, soalnya katanya mereka belum “jadian”. Ya ampun, apa bedanya sih?)

Saya kadang-kadang bertanya bagaimana caranya standar seseorang dalam urusan cari pacar itu bisa turun. Saya pernah denger lelucon bahwa ketika seseorang masih berumur belasan tahun, dia akan tanya, “Siapa gw?” Ketika dia mulai berumur 20-an awal, dia mulai nanya, “Siapa elu?” Baru setelah masa itu dia mulai merendahkan intonasi, “Siapa aja deh..” Saya nggak percaya standar itu. Buat saya, calon suami/istri harus bisa bikin bahagia. Titik. Dan untuk kolega saya, saya mulai bertanya-tanya apakah dengan duda itu dia bisa bahagia?

Lalu saya bingung lagi. Memang apa salahnya jadi duda? Memangnya jadi duda itu borok? Kan nggak setiap orang akan selalu beruntung dalam pernikahan. Sepupu-sepupu saya janda, ada paman saya yang duda, dan mereka bilang bahwa proses menuju perceraian itu sangat menyakitkan. Nggak adil juga kalau saya bilang bahwa mereka nggak pantas punya suami atau istri lagi.

Kemudian saya nemu apa yang jadi akar masalah ini. Kan sudah dua kali kencan. Kencan pertama sudah menjurus ngajak pacaran. Kenapa nggak bilang jujur dari awal kencan itu, kalau dia duda?

Pikir saya, mana ada orang mau ngaku di kencan pertama bahwa dia duda? Itu nampaknya sama aja seperti membongkar boroknya sendiri. Karena dia takut, kalau dia bilang dari awal bahwa dia duda, maka selanjutnya tidak akan kencan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Tapi, kemudian saya berpikir, kalau dari awal sudah nggak bilang bahwa dia duda, bukankah itu berarti dari awal dia sudah nggak jujur? Kalau urusan status perceraian saja sudah nggak jujur, gimana mau jujur untuk urusan yang lain-lain? Bukankah dalam urusan relationship, apalagi kalau mau ngajakin bikin pre-wed segala, komitmen untuk kejujuran dan saling percaya itu nomer satu? Atau jangan-jangan waktu itu cuman mau flirting doang buat coba-coba?

Lalu saya mikir lagi, jangan-jangan buat si laki-laki ini, menjadi duda bukanlah borok. Status perceraian itu hanyalah fakta kecil yang bisa diceritakan “lain kali” atau “kapan-kapan”. Kebetulan aja buat yang perempuan, standar orang buat dikencaninnya adalah yang masih perjaka alias belum pernah punya istri. Tapi karena sekarang sudah kadung dimabuk cinta, maka begitu dikasih tahu bahwa si laki-laki ini duda, standarnya berubah jadi “duda nggak pa-pa deh, yang penting istri yang dulu sudah diceraikan”.

Jadi, Sodara-sodara, kalau Anda seorang duda atau janda, apakah Anda akan bilang pada kencan pertama bahwa Anda dulu pernah menikah? Kalau Anda di posisi kolega saya yang di-flirt-in, apakah Anda sudi digoda oleh janda atau duda? Apakah Anda sudi nurunin standar Anda, kalau Anda sudah kadung mabuk kepayang?

Gambar kaki-kakinya ngambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

43 comments

  1. Dian Puspita says:

    Saat ini saya bersiap menjadi janda. Saya menyesal telah menikah dgn duda. Dari awal kenal dia tidak jujur dgn saya. Namun kemudian dia jujur bhw dia duda dan saya percaya bahwa mungkin dia malu menjelaskannya di awal

    Setelah saya menikah, dia jstru kembali berbohong dgn mengencani wanita lain. Bahkan dia bilang waktu itu mau dgn saya hanya krn saya yg mau dgn dia waktu dia duda, bukan karena cinta. Saya menyesal seharusnya saya sadar dr awal bahwa pria yg tidak jujur dr awal memang tidak seharusnya dijadikan pendamping hidup

  2. Baguslah, berarti Alwi udah nangkep tujuan saya nulis blog ini. Menjadi duda itu normal, Alwi. Tapi jadi pembohong itu tidak normal. Dan soal jujur itu, memang perlu dipilih waktunya yang tepat. Mudah-mudahan Alwi bisa nemu waktu yang tepat itu ya.

  3. aaz_west says:

    makaci buaxak y mbk sedikit baxak share bisa membuat aq lega … setelah ini apa yg trjadi aq jg ndk tw … aq akan jujur ma dia ktk tepat saat x …. ntah dia mw trima sy pa adax atw tdk , sy sadar diri akan keadaan saya … makci sx lg y mbk …. sy udah habiskan bxk smuax sm dia … klu dia ndk terima aq apa adax apa mw dikata cinta syg jg ndk bs dipaksakan … cinta syg jg tdk hrs memiliki …. tp sy tdk mw disebut pembhong

  4. Hai Alwi, semenjak kapan saya buka ruang konsul curhat? Hehehe..nggak pa-pa deh.

    Alwi, menurut saya, orang kalau mau bikin relationship dalam bentuk apapun harus terima dia apa adanya. Kita harus terima bahwa si dia sifatnya anu, fisiknya anu, pendidikannya anu. Termasuk juga masa lalunya anu. Jadi kalau kita nggak terima dia apa adanya, ya bubar aja hubungan itu, entah dengan perlahan atau cepat.

    Soal kita udah serius sama dia? Ya syukurlah. Tapi kita juga mesti pastikan, dia serius sama kita, nggak? Kalau salah satu nggak serius sedangkan yang satunya serius, saya rasa pihak yang serius sebaiknya mempertimbangkan keputusannya masak-masak kembali.

    Selamat berpikir ya Alwi. Dan selamat bersikap jujur, baik kepada Tuhan, kepada orang lain, dan terutama kepada diri sendiri.

  5. aaz_west says:

    mbak perkenal kan diri q . aq alwi 26 th. aq pgn curhat.aq duda.aq menjalin hub long distance ma cew 21th aq dah prnh krmhx qt dah co2k atu ma laen tp aq px 1 rahasia yg ndk bs ceritain ke dia.aq dah duda px anak 1 aq dah pisah rumah 3 th dan cerai dah 2th jadi aq sudah 5 tahun menduda.aq belum bilang ma dia krn dia udah cerita bahwa dia ndk akan mau merried ma duda.aq harus gimana aq udah sayang ma dia aq takut ditinggal dia … aq serius ma dia …. help me … please

  6. Iya yah, kayaknya si cowok memang nggak merasa aman dengan dirinya sendiri..

    Aku juga mikir si cewek memang mesti mawas diri juga sih. Kita ini kenapa sih mau sama orang itu? Apakah kita menginginkan dia hanya cuman karena kepingin pasangan, atau kita menginginkan dia apa adanya meskipun dia jelek banget? Jawaban dari pertanyaan itu sangat menentukan langkah kita selanjutnya.

  7. christin says:

    mungkin si cowok ngerasa insecure ya buat ngaku di awal… kalo aku jadi ceweknya mungkin bakal mundur bentar buat evaluasi diri, apa beneran ini yang aku mau, apa dia bisa jamin nantinya gak nyembunyiin apa2 lagi… gitu 😀

  8. Masalahnya bukanlah karena kenalnya baru sebulan, kencan baru dua kali, atau kenalnya via internet. Masalahnya adalah dalam proses kenalan itu nggak ngomong terus-terang. Ini kan ada indikasi sesuatu yang disembunyikan.
    Kalau urusan penting ini aja tidak dijelaskan dari awal, dan cenderung nampilin yang baik-baik aja, gimana nanti kalau ada hal-hal jelek lagi, apakah masih tetap disembunyikan dan nggak akan disebutkan kalau nggak ditanya?

    Yang susah tuh, kalau dari awal seolah-olah ditampilkan yang bagus-bagus doang. Baru yang jelek-jelek belakangan. Padahal yang jelek-jelek itu justru sangat mempengaruhi hubungan itu sendiri. Apa itu namanya bukan main sandiwara?

  9. Waduh, kalau di pertengahan baru bilang, kalau saya jadi si cewek itu malah jadi ngeri deh. Bukan gara2 dudanya, tapi indikasi itu.. dia keliatannya ingin menyetir/mencuci otak si cewek yg sdh terlanjur "rabun" oleh nilai plus2nya, dengan lebih gampang.

    Trik klasik, sih. Tapi kalau si cewek nekat percaya gitu aja, kayak yg Vicky bilang: gimana mau jujur untuk yg lain2?

  10. Mia says:

    Gw punya banyak teman yang awalnya saling kenal dari jejaring sosial spt FS dan FB, dan akhirnya setalah kopdar, lanjut ke hubungan serius, lalu menikah. Ternyata mereka cocok2 saja tuh hehehe

  11. Ditter says:

    MMmmmmm… Kalau aku….
    Pas kencan pertama, kalau ga ditanya, ga akan bilang kalo aku duda, krn rasanya aneh dan kurang pas aja, kalo lsg polos2an gitu tanpa diminta. Kecuali kalau memang ditanya, lebih nyaman kalau jujur…. Hehe… 🙂

  12. Yepz, saya juga heran kenapa orang harus malu berterus terang. Kenapa harus takut ditolak atas keadaan dirinya sendiri yang tidak bisa diubah.

    Kalau orang nggak mau beli kucing dalam karung, ya sendirinya jangan ngumpet dalam karung. Lho, kok jadi mirip kucing?

  13. BIG SUGENG says:

    saya kok banyak istilah yang nggak tahu sih…mungkin sudah kedaluwarsa ya

    tapi apapun keterbukaan memang diperlukan, cuma saatnya saja yaa dipilih yang tepat.

    mestinya memang kita nyari info sebanyak2nya, jangan sampai kita dapat istilah nya kucing dlam karung. atau dapat "tebu boleren" (dari luarnya sepertinya tebu normal, ternyata dlamnya sudah nggak bisa dimanfaatkan/kena hama)

    Kenapa takut ditolak jika terus terang sih?

    Yang kelihatan baik-baik saja juga belum tentu jujur lhoo

  14. Yupz, Astri, gw juga heran mungkin yang salah di sini bukan timing pengakuannya. Gw kirain sebelum pacaran baiknya dicobain kencan dulu. Sebelum kencan ya pe-de-ka-te dulu. Persoalannya apakah cek background mesti dilakukan sebelum pe-de-ka-te, atau cek itu dilakukan ketika pe-de-ka-te itu sendiri? Kadang-kadang waktu untuk melakukan prosedur interogasi komplit itu sendiri nggak sempat. Gw juga bertanya-tanya, apakah kita sebenarnya sudah dapat orang yang tepat, tapi orang itu kita abaikan hanya karena nggak sempat cek background?

    Ratu, gw juga menyesalkan kenapa kolega gw mau flirting padahal dia baru kenal. Ada konsekuensi yang harus ditanggung dari suatu flirting, resikonya besar seandainya flirting itu berakhir tidak bahagia.

    Mungkin pada akhirnya jawabannya, kalo flirting tuh jangan dimasukin ke hati..

    Mas Stein, repot juga yah kalo kita berdalih "ditanya apa ndak". Kalo saya pertanyaannya mungkin lebih ruwet lagi, dan bisa-bisa pertanyaannya menyangkut higiene alat kelamin. Dan itu beresiko bikin pe-de-ka-te jadi berantakan. 😀

    Mbak Dini, kabar saya baik, terima kasih.
    Problemnya sekarang, kapan seseorang dibilang nggak jujur? Dan kapan sikap nggak jujur itu beresiko membahayakan hubungan?

  15. IbuDini says:

    Mb Vicky pa kabar..sebenarnya siapa yang mau jadi janda atau duda, kayaknya gak ada ya..
    Kejujuran adalah modal utama, karna itu untuk melajutkan hubungan yang sehat alangkah baiknya berbicara jujur

  16. mas stein says:

    ditanya atau ndak mbak? kalo ndak ditanya mosok ya langsung mbikin pengumuman, eh saya ini duda lho, tapi blom punya anak, kalo malem tidurnya ngorok, kalo pagi susah bangun, biasa mandi berjam-jam, paling males naik angkot, paling benci sama gajah karena suka dikira sodara, dan seterusnya dan sebagainya. ndak bilang dan berbohong adalah dua hal yang berbeda.

    ndak ada manusia sempurna, yang jadi pertanyaan adalah: apakah bener sampeyan mau mengorek setiap borok yang mungkin dimiliki pasangan supaya yakin sampeyan ndak tertipu? konon ada yang bilang jangan bertanya kalo ndak siap denger jawabannya.

  17. Quinie says:

    kalo gua baca cerita lu, yang pertama gua pertanyakan adalah, apakah mereka siap dengan konsekuensi saling flirting dengan seseorang yang baru dia kenal?

    namanya juga baru kenal, kenapa udah berani flirting2? ya kalo berani, seharusnya berani menanggung 'resiko' kalo dia ga seperti yang kita bayangkan. Kecuali kalo tujuan flirting jst for fun, yang artinya ga berniat diteruskan ke pernikahan, ya hal status ga perlu dipermasalahkan.

    tentang pengungkapan status, gua rasa itu juga kultur. kita terbiasa, pertama2 itu kita harus basa basi, ga langsung bilang panjang lebar kalo kita gini, gitu dsb. Istilahnya harus ada opening, baru kemudian inti. yang berarti 'inti' baru akan dibicarakan kemudian. Jadi bukan masalah dia ga jujur. Mungkin dia pikir blom waktunya ajah..

    Lagipula kalo status ataupun hal inti lainnya, menurut gua ga harus dibicarakan pas kencan pertama (face to face), bisa juga pas komunikasi long distance flirting itu 😀

  18. Astri says:

    Kebetulan saya skrg menikah dengan mantan duda 😀
    Kalo saya sih yg penting dia single, trus sblm saya memutuskan keluar bareng/pedekate ama orang ya saya background check dulu doooong orang yg saya ajak keluar ini siapa. Gak nunggu pengakuan dr orangnya.
    Interogasi dulu sampai mantap baru jalan bareng.
    Itu kenapa dulu saya cr pasangan dr lingkungan yg sekolah, supaya proses background check ini lebih mudah.

  19. -3- says:

    saya belum pernah merasakan jadi duda Vick…

    cuman mungkin pas pacaran gak pake interview kayak masuk kerja . so , barangkali lom ditanya status nikahnya kali makanya gak bilang …

    hehehehe

  20. Ah. Saya pernah flirting jarak jauh. Dan akhirnya berantakan. Kadang-kadang kalau mengenangnya lagi, saya bingung siapa yang bersalah duluan.

    Tapi saya setuju juga bahwa tidak terus terang dan bohong itu bedanya tipis. Dan saya nggak tahu apakah tidak terus terang tanpa disengaja itu baik atau tidak.

    Pak Joko, kalo saya boleh sok tua menasehati, sudahlah nggak usah sakit hati. Toh Pak Joko sekarang sudah punya wanita yang lebih baik dan kasih Bapak dua anak yang lucu-lucu..

  21. Cahya says:

    Flirting jarak jauh itu biasanya berakhir berantakan, apalagi kalau tiba-tiba salah sasaran kalau ada tokoh ke tiga muncul di antaranya.

    Tapi walau ada indikasi, kadang azas praduga tak bersalah tidak begitu digubris :).

  22. Jokostt says:

    Bagi saya antara ketidak terusterangan dengan sebuah kebohongan itu tipis bedanya. Dan cerita Mbak Vicky ini jadi mengingatkan tentang kisah hidup saya sendiri. Saya jadi kembali terkenang rasa kecewa dan sakit hati saya karena telah dibohongi.

    Bedanya kalau di cerita ini si Dudanya yang tak terus terang, kalau kisah saya sebaliknya, seorang wanita (pacar saya) yang membohongi saya. Tapi syukurlah, dia akhirnya tak jadi istri saya.

    *Kok, jadi saya yang malah curhat, ya?

  23. Anita, bener banget. Makin transparan memang makin baik. Cuman bingung aja sesegera apakah kejujuran itu harus dilakukan. Coz kadang-kadang, jujur itu malah bikin orang jadi tidak mendapatkan siapa yang dia inginkan.

    Mbak Heni, seneng banget punya komentator jujur kayak Mbak. Orang akan menghargai Mbak, coz Mbak nggak malu dengan status Mbak sebagai janda.

    Mbak Tukang Cerita, bahkan saya nggak yakin juga apakah ini disebut bohong. Yang terjadi adalah dia tidak bilang bahwa dia duda, bukan bilang bahwa dia bukan duda.

    Ranny, mungkin buat orang yang jadi duda, menjadi duda itu berat. Bagaimana dengan orang lain, yang sudah dirayu, diberi harapan, dilambungkan tinggi hatinya, tiba-tiba diberi tahu bahwa orang yang merayunya itu sudah pernah punya istri? Padahal mungkin, sebenarnya kalau dibilang duda itu dari awal, hubungan itu tidak akan sampek sejauh ini.

    Mas Fahmi, Mas memang kasih tahu kekurangan Mas. Tapi Mas nggak bilang semua kelebihan Mas, terutama kelebihan Mas di bidang-bidang tertentu.. :p

    Mbak Ina, persoalannya kolegaku nggak seneng lagu dangdut, dia senengnya lagu Korea, hahaha..
    Yah, aku juga setuju banyak janda atau duda yang bahkan lebih keren ketimbang perawan atau perjaka, tapi kalau dari awal nggak jujur, kok rasanya kekerenan itu berkurang drastis..

    Fenty, masih mabukkah? Atau fase mabuknya sudah selesai?

  24. Ina says:

    Tuh, cewek-cewek musti belajar nyanyi dangdut dulu kan ada lagunya "Kau masih gadis atau sudah janda?" kalau gadis/perjaka bilang aja terus terang single kalau pernah double bilang aja terus terang duda/janda diawal-awalnya, kalo udah cinta biar janda atau duda ngga jadi masalah asal jujur, duda juga banyak yg keren, janda juga banyak yg ehmmm(ngga usah pake ngajarin lagi…he…he…)! Yg jadi masalah masih suami orang bilang duda kalo ini musti ditimpuk pake selop,nih!

  25. fahmi! says:

    Untungnya sejak awal aku sudah kasih tau semua kelebihan dan kekuranganku. Nggak main tutup2an lah. Jadi nggak ada yg perlu aku kuatirkan lagi.

  26. rannyrainy says:

    bagi sayah,mungkin ada alasannya kenapa sang pria tidak jujur dari awal,jgn langsung menjudge dia bohong ato gimana,karena berad bagi seseorang mempunyai status "duda dan janda" 🙂
    gag ada salahnya pcaran or nikah ama duda or janda asal jangan pacaran or nikah dengan suami orang!itu prinsipku aja..
    sayah orangnya menjunjung tinggi sebuah kejujuran,emang pasti sedih kalo tau hal sepenting itu setelah sebulan hubunga berjalan..tapi di satu sisi kita harus bisa menghargai sikap jujur na itu walau telad..dan kedepannya hubungan itu kembali lagi ke mereka bedua 😉

    doohhh kepanjangannn hihihi o iya,gag harus setiap pacaran ditampilin bagusnya aja,tiap pacaran sayah berusaha menunjukkan the way i am..*cieee* heheheh
    dah ah tar ditimpuk yang punya blog 😀

  27. sebaiknya dibilangin sejak pertama bertemu. karena kejujuran itu adalah yang terbaik walaupun hasilnya akan menyakitkan…karena konon katanya, kalo seseorang sudah berbohong sekali, ia akan melakukan kebohongan² yang lain untuk menutupi kebohongan pertamanya..

  28. Heni says:

    Saya seorang janda..(pengumuman.com)…krn suami saya "menghadap" Yesus…dan pastilah saya akan bilang bahkan sebelum kencan pertama pun saya akan bilang…

  29. Seiri Hanako says:

    transparansi bisa meningkatkan kepercayaan
    apalagi yang namanya hubungan antar pasangan hidup
    makin transparan makin baik
    makin bisa melihat siapa pasangan kita sebenarnya n makin bisa menerima n mengasihi
    kalo dah diawali dengan kejujuran yang tertunda, masalahnya akan bertambah..

  30. mawi wijna says:

    jujur semuanya, bukan masalah status aja, tapi yang lain-lain juga seperti penyakit bawaan, masalah keluarga, rutinitas harian, dan lain sebagainya

    Saya cinta dia karena dia apa adanya 😀

  31. Saya pernah diajarin, kalau awal-awal kencan tuh mesti jaim dulu. Nanti kalau udah nikah, baru keluarin borok-boroknya. Tujuannya biar diri tetap laku.
    Saya nggak setuju. Menurut saya tiap orang berhak mengetahui apakah calon pasangannya punya nilai-nilai yang kontradiksi dengan nilai yang dianutnya atau tidak. Jadi tidak seorang pun merasa ditipu.
    Termasuk nilai tentang pengalaman menikah.

    Kalau saya sih, sebelum pacaran, tanya dulu, sebelum ini pacaran sama siapa, kenapa yang dulu itu putus, kapan putusnya, gimana pengaruh putus itu pada dirinya. Itu menolong sebenarnya, buat bahan pelajaran menjajaki hubungan yang baru yang lebih baik.

    Kalau dari awalnya udah nggak bilang mengenai kontradiksi nilai itu, saya juga mungkin sulit percaya coz ada indikasi dia cenderung menutup-nutupin hal yang dianggapnya nggak beres. Dan saya nggak suka itu.

  32. bridge says:

    Bisa jadi si cowok ini pernah langsung announcing dia itu duda dan cewek2 langsung kabur semua… Jadi, dia memutuskan untuk tidak memberi tahu dulu deh untuk yang selanjutnya….

    Serba salah sih…. Mungkin tergantung ngebet apa enggak ya buat nyari pasangan? Kalau gak ngebet, langsung aja jujur bilang saya duda/janda….dan liat reaksinya…. kalau ngebet, ntar dulu deh… Liat hubungan ini bagaimana…
    Kalau ditanya gue mau apa gak sama duda…susyah ye buat ngejawab… Ntar gue bilang enggak mau…malah dpt duda cerai dgn anak 3 lagi…. Heheheheheh

  33. rawins says:

    wah udah umum banget tuh. kadang orang selalu ingin sesuatu yang original, walau hal semacam ini sangat ga jelas juga.
    padahal kalo secara logika, kenapa mau ngelamar kerja aja, selalu ditanya pengalaman kerja. kenapa mau menikah ga cari yang punya banyak pengalaman juga…? hehehe..

  34. Iya, Deb, saya juga pikir Debby nggak mirip janda, hihihi..

    Saya pikir bukan status dudanya yang bikin masa depan hubungan itu jadi nggak lancar. Saya pikir, sikap menunda kejujuran sejak awal itulah yang bikin hubungan itu bermasalah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *