Vokalis Bukan Penyanyi Solo

Pas saya nonton Indonesian Idol minggu ini, saya applaus berat buat Gilang Saputra, kontestan yang akhirnya disuruh pulang gara-gara kalah SMS dari dua peserta lainnya yang tersisa. Kepulangan Gilang sebenarnya sudah saya ramalkan dari kemaren-kemaren. Bukan berarti gilang ini jelek lho, dia salah satu dari lima favorit saya, tapi saya sendiri tidak berharap dia yang menang, coz seperti yang saya live-tweet-in tiap minggunya, dari minggu pertama saya udah jagoin Citra Sckolastika. Saya senang sama Gilang soalnya dia nggak cuman nyanyi, tapi dia bisa juga main music. Jarang banget penyanyi di Indonesia yang bisa sekaligus main piano bak Maksim, main gitar seperti Sandy Sundhoro, dan main drum seperti Wong Aksan. Keren kan? Ada catatan menarik dari komentarnya Anang Hermansyahrini pasca Gilang tampil, “Daripada jadi penyanyi, kamu mendingan jadi seniman aja.” Maksudnya, lantaran kemampuan musikal Gilang yang multiinstrumental itu, maka dia cenderung jadi bunglon buat setiap lagu yang dia bawain. Dalam istilah gw, dia cenderung jadi “mitu” untuk tiap penyanyi, dan susah bernyanyi sebagai dirinya sendiri. Saat dia nyanyi lagunya Gigi, dia jadi mirip Armand Maulana. Saat dia nyanyi lagunya Nidji, dai malah jadi mirip Giring. Saya bertanya-tanya, kalau sekiranya dia disodorin lagunya Geisha, jangan-jangan nanti dia malah jadi mirip Momo. Menurut saya, nggak salah kalau tiap kali kita nyanyiin lagu seseorang lantas kita jadi cenderung mirip penyanyi asli yang bawain lagu tersebut. Resikonya, kalau penyanyi bunglon gini dipaksain jadi penyanyi solo, maka dia akan cenderung mirip si A, mirip si B, atau mirip entah siapa lagi. Dia tidak akan pernah jadi dirinya sendiri. Solusinya, lebih baik dia tetap jadi penyanyi, tapi jangan jadi penyanyi solo, melainkan jadi vokalis band. Asalkan band itu punya karakter yang kuat, punya lagu sendiri, dan nggak niru-niru band lain, maka penyanyi bunglon gini bisa kasih warna yang khas buat band-nya dan nggak akan dibanding-bandingin sebagai band “mitu”. Adalah sangat susah buat seorang vokalis band untuk menjadi seorang penyanyi solo. Sama seperti penyanyi solo akan susah kalau harus dikontrak lama untuk main bersama suatu band. (Ini menjelaskan kenapa Ruth Sahanaya rada sedih ketika putus kontrak dengan orkesnya Erwin Gutawa demi mandiri dengan karakternya sendiri.) Jarang-jarang ada yang sukses di Indonesia seperti itu. Dalam generasi saya, saya cuman mencatat Elfonda Meckel, yang nampak prima baik saat dia jadi vokalisnya Dewa (“Roman Picisan”) maupun saat nyanyi solo (“Aku Mau”). Ari Lasso juga oke, dan kita lihat bahwa cara dia nyanyi sebagai penyanyi solo (“Rahasia Perempuan”, “Perbedaan”) jauh banget ketimbang saat dia nyanyi untuk Dewa 19 (“Elang”, “Cinta Kan Membawamu Kembali”). Lain-lainnya, saya ragu-ragu. Saya nggak bisa bayangin seandainya Fadly nyanyi sendirian tanpa Padi, atau Ariel tanpa Peterpan, melihatnya orang mungkin akan terheran-heran dan menyangka mereka malah jadi mirip penyanyi kehilangan teman. Saya juga mencatat, cukup jarang musisi di Indonesia yang bisa nyanyi dan juga mampu main multi-instrumen. Kita sudah sering nonton gimana Indra Lesmana atau Glenn Fredly bisa nyanyi sambil main piano dan gitar. Gilang sebenarnya bisa nambah daftar yang masih sedikit ini, tapi dengan catatan dia menjadi vokalis band yang tepat. Sejauh yang saya lihat, vokalis band di Indonesia rata-rata baru gape main gitar sambil nyanyi. Ketika vokalis-vokalis ini nyanyi sambil main piano atau main drum, mereka jadi keteteran. Seolah-olah bisa main gitar saja udah cukup jadi syarat wajib kalau kepingin bisa jadi vokalis band. Kalau di luar negeri saya udah kenyang lihat Phil Collins main drum sambil nyanyi untuk Genesis, atau nonton Axl Rose main piano sambil nyanyi untuk Guns n Roses. Atau mungkin referensi saya kurang banyak, barangkali Anda bisa bantu saya kasih contoh yang lain. Pada akhirnya, ketika saya lihat Gilang pulang dari Indonesian Idol minggu ini, saya ngerti bahwa memang tidak semua kontes cocok buat tiap orang yang kepingin jadi penyanyi. Ambil pelajarannya, apa yang nampak bagus di mata banyak orang, belum tentu cocok buat orang-orang tertentu. Ada karier yang lebih bagus buat para anak berbakat seni seperti Gilang, dan mungkin karier itu bukanlah sebagai seorang penyanyi solo.Gambar-gambar diambil dari sini, sini, sini, sini.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Gaphe says:

    errr… kayaknya kalo Gilang mau kreatif, dia bisa ciptain lagunya sendiri… main gitar, nge drum, ama piano, direkam terpisah trus disatuin ndiri.. bisa jadi nilai jual tuh sebenernya!

  2. mawi wijna says:

    Saya sih melihat Gilang sebagai musisi multi-talenta. Bisa ditempatkan di posisi mana saja. Tapi yang namanya kontes, tetap saja harus ada yang tersisih dan mau-tidak-mau harus mencari-cari kekurangan sekecil apapun.

    Yah, menurut saya Gilang belum menemukan wadah yang pas untuk mengeluarkan seluruh bakatnya. Itu aja.

  3. Memang nggak bisa dapet dua-duanya sih. Kalau mau jadi penyanyi solo ya harus punya karakter sendiri, supaya orang bisa membedakannya dari penyanyi-penyanyi solo lain. Tapi kalau karakternya lebih cocok ngeband, ya mendingan jangan nyanyi solo, tapi bikinlah band di mana kita bisa jadi vokalisnya.

    Eh, saya nggak tahu lho kalau Bagus itu juga ngebetot bas. 🙂

  4. Pas Daniel bilang Gilang kontestan yg luar biasa, gw sempet ngga setuju. Bukan karena menyepelekan musikalitasnya tapi krn yg kita nilai adalah yg dipertontonkan di panggung. Cara dia menyanyi biasa, sementara unjuk kebolehan bermusik cuma sepintas2. Mungkin karena sudah ada musik Oni n' Friends.
    Gue setuju kalau dia jadi the next Glenn Fredly. Kalau bikin band, aransemennya jangan standar. Bukan asal asik buat loncat2 di Dahsyat/Inbox, tapi berselera bagus. Kita buktikan saja! 🙂

  5. Darin says:

    memang susah sepertinya tuk memunculkan orisinalitas saat menyanyikan lagu orang lain, dan mungkin untuk Gilang itu cara yg terbaik.

    Sebuah catatan yg menarik. ya, ada perbedaan feel saat seorang artis menyanyi solo atau sebagai personil band. menurut saya pribadi sih, kalau menyanyi solo akan lebih resourceful hasilnya, karena si artis jadi ikon utama. sedang kalau sbagai vokalis band, imejnya akan melebur..hehe sotoy banget ya 😀

    Saya demen banget ma Bagus Netral, nyanyi sambil betot bass! 🙂

  6. Ah, ya, betul juga. Kadang-kadang para vokalis fals itu bisa juga berlindung di balik aransemen teman-temannya. 🙂

    Tapi aku nggak yakin trik itu berhasil. Sejauh ini keberadaan vokalis masih jadi icon buat band. Kalau suara vokalisnya ngaco, ya band-nya bubar aja.

    Terima kasih ya udah di-follow. 🙂

  7. Dwi says:

    kalau menurut aku sih penyanyi solo itu lebih susah karena harus menonjolkan kekuatan vokal, sedangkan untuk vokalis dengan suara yg pas2an pun kalau di dukung aransemen musik yg bagus dari bandnya pasti enak di dengar.

    sekalian ijin Follow blognya ya..

  8. Kembali lagi ke hakekat awal. Ini kan acara tivi, di mana pemenang kontes harus sesuai selera penonton. Dan selera penonton ditandai oleh SMS.

    Saya memang sengaja nggak kasih contoh vokalis luar, coz saya memang mau menyorot minimnya vokalis multiinstrumen di Indonesia.

  9. om rame says:

    wah sayang banget kaLau beLiau harus turun panggung panggung, padahaL taLentanya bagus.
    terkadang bagus tidaknya seorang kontestan harus jatus karena SMS, padahaL peniLaian komentator yang paLing reaL.
    terima kasih atas sharenya.

  10. ireng_ajah says:

    Bisa niru Muse tuh mbak dimana vokalisnya multi talent.. Gitaris, pianis, bassis, drummis..

    (kok drummis?? gak pantes banget ya..)

    asal jangan mpe sipilis aja..
    Disamping itu juga bisa buat lirik lagu yang keren2 n gak cuma rangkaian kata tp juga penuh makna, seperti nama band-nya itu sendiri, MUSE

    Yang punya blog ini suka Muse gak ya?? tuing..tuing.. emot berpikir penuh tanda tanya

  11. Ina says:

    seperti rick Price yg bikin aku panas dingin liat dia nyanyi sambil main piano atau main gitar. Sayang ya Gilang harus tersingkir padahal tampangnya mirip-mirip artis korea gitu (ngga ada hubungannya yah!) yg pasti setiap kali aku nyanyi Unbreak my heart suaraku berubah jadi mirip Tony Braxton (suer berani distrum listrik mati!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *