Bergaya di Tempat Ngadem

Nggak ngerti saya kesambit apa, tapi hari Minggu kemaren pas lagi luntang-lantung di festival jalanan di Braga, saya mutusin buat jalan-jalan ke museum. Ya know, saya bukan penggemar sejarah, terutama kalau itu tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang saya suka; saya seneng dateng ke museum karena alasan yang simple aja: cari AC yang gratis. Makanya saya sebel banget kalau saya dateng ke museum yang nggak ada AC-nya, hehehe. Anda sama sekali tidak bisa bayangin, Bandung sepanas apa sekarang.

Betul-betul ironis banget orang-orang macem saya ini, yang cuman memperlakukan museum sebagai tempat buat ngadem. Tapi ya itu nggak lepas dari sikap para pengelola museum, yang umumnya masih setengah hati dalam mengurus museum. Coba Anda pikir-pikir, sebutkan dua kata yang pertama kali terlintas di kepala Anda kalau denger kata museum. Satu, barang kuno. Dua, sarang laba-laba. Tiga, nggak gaul ah. Eh, itu tiga kata.

Nah, untungnya berhubung tahun 2010 ini adalah tahun kunjungan museum, maka para pengurus museum di Indonesia lagi seneng-senengnya promosi sana-sini supaya orang mau dateng ke museum. Ada banyak banget kegiatan yang sekarang lagi diumbar, supaya orang nggak semata-mata dateng ke museum cuman buat ngadem atau buat karyawisata. Beberapa museum sekarang rela ngorbanin beberapa ruangannya buat dijadiin tempat pameran, yang umumnya pamerannya nggak ada hubungannya sama tema museumnya sama sekali. Ada juga yang nyewain ruangan buat dijadiin tempat presentasi software open source. Beberapa bahkan mengkaryakan lapangan parkir buat dijadiin kafe yang jual makanan elite-elite. Kenapa dijualnya dengan harga mahal? Justru kesannya supaya museumnya nampak bonafid.

Museum yang saya sambangin ini namanya Museum Konferensi Asia Afrika. Sebenarnya museum ini nggak melulu nyimpen barang-barang kuno. Malah, kalau saya itung-itung, jumlah barang kuno yang dipamerin di sini nggak sampek 25%-nya. Museum ini sebenarnya malah lebih mirip galeri buat masangin foto-foto peristiwa Konferensi Asia Afrika di Bandung pada wangsa 1955. Batin saya, ini cara murah-meriah buat bikin museum. Suatu hari saya juga mau bikin Museum Vicky Laurentina. Isinya adalah foto-foto saya dari kecil sampek dewasa, lengkap dengan cerita-ceritanya di masing-masing tahun. Tinggal tata foto-foto itu dalam galeri dengan penatacahayaan yang ciamik dan interior yang artistic, maka jadilah museum. Narsis! *wink*

Saya mutusin bahwa kali ini saya nggak akan motret barang-barang di dalam museum, coz kalau mau promosi museum kayaknya udah basi. Tapi sebagai orang yang seneng ngeliatin orang lain, maka saya motret kelakuannya orang-orang yang pergi ke museum. Seperti pada foto-foto yang saya pajang ini. Ada pengunjungnya yang seneng motret display, sampek semua-semua yang ada di dalam museum itu dia potret. Ya bola dunianya, ya mesin ketik kunonya, ya patung-patungnya. Mungkin Anda termasuk jenis orang kayak gini. Sebenarnya motret ginian buat apa sih? Kalau udah sampek rumah, tuh foto hasil jepretan diliatin lagi, nggak?

Saya juga seneng lihat orang ke museum gayanya mulai modis-modis. Nggak melulu anak-anak sekolah dengan seragam sambil nyatet barang-barang yang menurut saya lebih mirip tukang inventaris, tapi saya lihat cewek-cewek sexy dengan hot pants dan sepatu sandal suede dengan tekun melototin setiap foto yang dipasang di galeri. Tahukah Anda bahwa banyak orang seneng pacaran di museum? Perpaduan antara AC yang dingin, interior museum yang elegan, dan bertebarnya barang-barang pamer yang merangsang intelegensia, bikin suasana pacaran makin gimanaa..gitu. Nasehat kecil saya, kalau Anda kepingin nampak intelek di hadapan orang yang lagi Anda pe-de-ka-te-in, ajaklah kencan ke museum. Kalau Anda kepingin kencan di siang hari yang nggak bikin make-up Anda cepet luntur, pergilah ke museum.

Saya juga seneng museum sekarang mulai melengkapi tempat-tempat pamerannya dengan alat-alat canggih. Komputer-komputeran yang dipasangin multimedia di sini bisa kasih pengunjung informasi tentang hal-hal yang menarik yang mungkin sulit diungkapkan dengan barang pajangan. Meskipun menurut pengalaman saya pribadi, kayaknya nggak semua pengunjung tertarik buat ngulik semua informasi yang ada dalam multimedia itu. Tapi cukuplah buat bikin pengunjungnya terkesan. Jaman sekarang, apa yang bisa tampil cuman dengan bermodal mouse atau touch screen, selalu aja bikin pengunjung takjub.

Yang lucu, pas saya lagi motret-motret begini, tahu-tahu terdengar suara dari loudspeaker, β€œPengunjung dilarang memotret di area selain area patung!”
Ya oloh..maksudnya supaya nggak ada yang mereproduksi gambar-gambar display-nya museum buat dipasang di media massa ya? Saya kan bukan mau motret display-nya museum, saya cuman mau motret orang-orang yang dateng ke museum aja.. :-p

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Arman says:

    rata2 museum disini setau gua emang suka ada activities nya. terutama buat anak2. biar gak bosen kali ya. dan biar mereka mulai suka ama museum.

    beberapa kali gua ngecek website museum2 terkenal disini, ceritanya mau kesono gitu. tapi entah kenapa sampe udah 2 th disini tetep gak jadi jadi pergi. hahahaha. πŸ˜›

  2. wah saya baru kali ini denger kalo pacaran di museum aja… ternyata ada efek khususnya ya, padahal selama ini saya berpikir kalau museun tu identik dengan tempay yang rada "serius" bukan untuk senang2. Tapi saya tertarik untuk ngeliat museum di luar negeri tapi kalo di sini kok berasa males ya^^

  3. rawins says:

    sayangnya orang kita tuh cuma seneng ketika masih baru saja. tar setelah tahun kunjungan selesai, semuanya kembali ke awal lagi dan ga pernah dipertahankan. museum kayaknya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah kita.
    kalopun ada yang maju, setelah investor swasta ikut andil, misalnya bikin playground di lingkungan museum. jadi rame sih, playgroundnya. kalo museumnya sih tetep seperti biasa…

  4. IbuDini says:

    hahaha yang terakhir bikin ketawa, lagi motret orang mesum eh salah museum..
    pergi ketempat pameran atau museum salah satu hobby mb tuch tapi setelah menikah malas untuk melakukannya lagi

  5. Hehehe..saat aku melangkahkan kaki keluar dari museum, yang aku ingat cuma satu, "Apa gw kurang jeli, atau memang museum ini nggak nambah sedikitpun dari semenjak gw ke sini enam bulan lalu?"

  6. Fanda says:

    Ha..aku juga suka ke museum. Soalnya biasanya tempatnya tertata dengan rapi, dan senang aja mengetahui hal2 baru dan menarik yg bisa dilihat. Meski mungkin begitu keluar dari situ dah langsung lupa sih, hehehe…

  7. Arman, gw juga sama, gw kalo jalan-jalan ke manaa gitu..mesti yang dipikirin, tuh tempat oke apa enggak buat foto-foto, hihihi.. Perkara tuh tempat isinya menarik apa enggak, ya itu prioritas nomer dua. Mungkin nggak kayak Mbak Sylvia, yang dipikirin tuh museum ada pengetahuannya apa enggak. Tapi gw mufakat lho, bahwa suatu museum akan jauh lebih menarik kalau pengunjung nggak cuman nonton pameran doang, tapi juga bisa ikutan berinteraksi di dalam museum. Misalnya ada workshop kerajinan apa gitu kek. Atau ada kuis-kuis kecil berhadiah souvenir museum. Bisa kok sebenarnya dibikin kreatif museum itu, asalkan pengelolanya mau mikir sedikit aja.

    Wijna, museum yang dikunjungin sepupunya pasti menarik ya, sampek bisa dipake buat pacaran segala.. πŸ™‚ Adit, cobain aja deh tips itu nanti. Oh ya, museum di kotaku gratis tiket masuk lho, jadi buat ngadem pun nggak mbayar. Anehnya, biarpun udah gratis pun tetep aja sepi kunjungan..

  8. Ditter says:

    Baiklah. Sepertinya tips untuk pacaran di museum itu patut dicoba, hahaha….

    Eh tapi kan tetep nggak ngadem gratis, soale bayar tiket masuk, hehe…

  9. BabyBeluga says:

    Kita seneng banget bawa anak2 ke museum. Selain rekreasi, anak2 nambah pengetahuan. Mrk paling senang ama museum yg punya banyak hands on activities. We are so lucky deket rumah neh ada museum, bangunannya gga spt museum secara dulunya mansion salahsatu pemilik perush minyak terbesar di dunia. Meski mansionnya cantik, org bilang ada 'penjaga'nya. Kita suka bawa anak2 kesana, lately sebulan sekali deh kita kesana sb tiap bln mereka ada special display. Bln ini ttg budaya Mesir, ada mummi manusia bahkan anjing.

  10. Arman says:

    emang… paling ke museum cuma buat poto2. kayak dulu gua pertama kali ke SF, kita ke museum palace of fine arts. tapi ya gak masuk. poto2 di luarnya… soalnya asli keren banget bangunannya… ada danaunya pula, plus ada bebek2nya… keren. hahaha.

    niat ke museum demi poto2 doang… kaco ya… πŸ˜›

  11. Beuh! Kalo gw ada di Frisco, gw mau deh bawa cowok gw ke museum. Nggak cuman karena museumnya bagus-bagus, tapi lantaran di situ gw bisa foto-foto dengan background yang keren-keren. Tips gw soal nge-date di museum itu udah terbukti lho, museum itu tempat flirt yang kondusif banget.. πŸ˜›

  12. fahmi! says:

    "Nasehat kecil saya, kalau Anda kepingin nampak intelek di hadapan orang yang lagi Anda pe-de-ka-te-in, ajaklah kencan ke museum. Kalau Anda kepingin kencan di siang hari yang nggak bikin make-up Anda cepet luntur, pergilah ke museum."

    mwahahahahahahaaa… LOL! tips ini sudah terbukti ya? sudah dipraktekkan ya? LOL! πŸ˜€

  13. Arman says:

    gua juga gak suka ke museum.
    kayak kemaren pas mau ke SF, esther tanya mau ke museum gak, soalnya kan disana terkenal museumnay bagus2 (well, disini juga sih), dan langsung gua tolak mentah2 dah. ngapain juga ya ke museum… hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *