Gratis Poligami?

Ada kabar baik buat ibu-ibu miskin se-Indonesia. Seperti yang dilansir Antara minggu lalu, bahwa tahun depan, ibu-ibu boleh melahirkan gratis, asalkan ketentuannya begini: Persalinan yang gratis adalah persalinan untuk anak pertama dan anak kedua. Lalu persalinan harus dilakukan di bawah tenaga kesehatan yang sudah punya izin, misalnya bidan atau dokter.

Kalau pun persalinan dilakukan di rumah sakit, yang digratiskan hanya persalinan yang dilakukan di kamar inap kelas tiga. Konsekuensinya, melahirkan anak ke-3, ke-4, ke-7, atau ke-10, harus mbayar. Melahirkan di dukun harus mbayar. Melahirkan di rumah sakit kelas VIP yang ada AC-nya juga mbayar. Adil toh?

Pas saya buka Twitter, Ainur “Angki” RifqiΒ sempat nowel saya, apa bukan tidak mungkin persalinan gratis ini malah jadi merangsang pertumbuhan penduduk? Menurut saya jelas enggak sih, soalnya kalau melahirkan anak ke-3 itu nggak gratis, maka otomatis orang jadi males punya anak.

Tapi Angki nanya lagi, ada orang beranak dua, terus cerai. Dengan pernikahan yang kedua, dia bikin anak lagi dua orang, terus cerai lagi. Itu gratis nggak..?

Saya ngakak sekaligus waswas. Iya sih, seperti yang saya bilang minggu lalu, rakyat negeri kita yang maha ajaib ini kadang-kadang suka salahgunakan fasilitas kesehatan yang gratis. Masih inget nggak saya bilang bahwa orang yang nggak sakit apa-apa suka minta diopname gara-gara dibayarin Askes? Sekarang gimana kalau ada persalinan dari dua orang ibu yang miskin tetapi dua ibu itu punya suami yang sama? Konsekuensinya, akan ada satu orang laki-laki miskin yang punya empat bayi dan keempat persalinannya gratis semua..

Faktanya, banyak banget ibu yang mati waktu melahirkan di Indonesia karena asalnya mereka memang nggak kuat mbayar Puskesmas. Ibu nggak kuat mbayar karena suaminya miskin. Orang miskin karena mereka nggak bisa mengelola keuangan dengan baik. Dan mereka nggak bisa ngurusin duit itu, salah satu penyebabnya adalah karena mereka nggak sanggup ngelola banyak istri.

Mungkin bener amanat pertanyaannya Angki. Mbok saya pikir, syaratnya persalinan gratis dari Kementerian Kesehatan itu ditambah satu lagi aja. Persalinan tidak boleh gratis jika ayah dari persalinan itu sudah pernah dapet persalinan gratis dari istri yang lain yang lain. Dengan begitu, suami-suami yang poligami jangan diijinkan punya anak dengan gratis. Nanti mereka ceraikan istri yang satu buat kawin sama istri yang satunya dan dengan istri kedua itu boleh punya anak gratis pula. Kok enak bener??

Setelah itu saya jadi mikir lagi: Hey, memangnya itu wilayahnya dunia kesehatan ya nyela-nyela poligami?
Gambarnya ngambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

23 comments

  1. Na, saat ini KB sedang digalakkan lagi. Iklan KB mulai banyak di tivi, dan bidan-bidan mulai rajin bikin penyuluhan KB buat ibu-ibu miskin.

    Tapi jumlah kejadian poligami yang kecil tidak bisa disepelekan dan harus jadi perhatian utama, Na. Coz poligami mungkin cuman salah satu celah yang nunjukin bahwa program persalinan gratis ini ada lemahnya, minimal dari aspek administrasi. Bagaimana dengan Bu X yang sebenarnya bersuamikan Pak Y yang kaya tapi dia mengaku jadi istrinya Pak Z yang miskin supaya dapet jatah bersalin gratis? Apakah ide ini cuman khayalan saya, atau jangan-jangan sudah banyak yang memalsukan identitas demi gratisan?

  2. mawi wijna says:

    Menurut saya poligami kurang relevan apabila dikaitkan dengan kelemahan dari fasilitas kelahiran gratis. Sebab, jumlah pria yang melakukan poligami dan jumlah istri poligami yang berusia muda menurut saya masih tergolong minim.

    Alangkah baiknya apabila program ini juga disertai dengan program KB progresif. Yaitu itu tadi, bagi keluarga yang berpoligami hendaknya (hanya boleh) memiliki sekian jumlah anak.

    Menurut saya yang mestinya lebih diperhatikan oleh pemerintah adalah proses pra dan pasca kelahiran bagi kaum ibu dari golongan ekonomi tak mampu.

  3. bridge says:

    yah, gitu deh…. Org yg gak dpt fsilitas kesehatan setengah mati pengen dpt… Yg udah dpt malah menyalahgunakan… Sehingga yg jujur memakai fasilitas itu jadi ikut dicurigai…

    masalahnya org lbh malu gak menikah daripada menikah dan punya anak tapi gak mampu membiayai… Yg ngasih peraturan kan maksudnya baik… Ya, susah juga kalau mesti ngawasin semua aspek …

  4. Persalinan yang digratiskan adalah yang normal dan Cesar. Pokoknya upaya ujungnya bertujuan supaya ibu tidak meninggal waktu melahirkan.

    Sebenarnya pemerintah sudah bermaksud baik, tapi ya aku kuatir ini juga disalahgunakan. Aku nggak bisa bayangin pajak yang udah dibayarkan jadi mubazir gara-gara buat ngebayarin kelahiran anak-anak hasil poligami atau anak-anak yang nggak jelas siapa bapaknya. Menurutku, angka kematian ibu cukup tinggi di Indonesia bukan cuman gara-gara faktor belitan kemiskinan, tapi juga gara-gara faktor pencatatan kependudukan kita yang morat-marit.

  5. BabyBeluga says:

    Kalau pemerintah memberi gratisan pasti deh rakyat banyak akal. Sama juga disini, orang2 pada gga nikah spy dapet tunjangan anak lebih besar. Yg ada, creation of low class people yg makin besar. Bukannya menghina, tp mereka itu bener2 deh, py anak banyak dari cowo2 berbeda dan anaknya itu seringnya gga diurus. Hy sbg alat untuk dapat tunjangan ini itu. Yg jadi korban adalah rakyat2 normal yg dipajaki pemerintah untuk membiaya tunjangan2 untuk orang2 spt itu. Bayangkan saja bbrp decade kemudian, gol parasit ini akan outnumbered gol normal yg kerja keras. Mengerikan.

  6. Ya, itu logikanya memang bener. Kalo sanggup menikah dua kali, pasti nggak bisa disebut miskin lagi, jadi nggak layak dapet jatah bersalin gratis. Saya malah mau ngusulin orang kalo mau kawin untuk kedua kalinya mesti disuruh bayar pajak yang tinggi, supaya rakyat sadar bahwa kawin itu butuh banyak biaya.

    Lhoo..kok jadi pada kabur seeh..?

  7. ReBorn says:

    profesi dokter kan memang nyangkut ke banyak bidang termasuk poligami ini, jadi gapapa lah di share. πŸ™‚
    tapi jadi mikir juga, klo memang sanggup membayar pernikahan berkali-kali apa jadinya orang itu tetap masuk kategori miskin? mungkin masuknya bukan kategori miskin, tapi kategori orang yang otaknya syahwat doang dan ga peduli ma keluarganya sendiri. *jadi emosi*
    iya nih mending polipacar ajah kali ya *ikutan kabur*

  8. efahmi says:

    nggak kepikiran poligami ah. lha wong kawin sekali aja belum, kok mau dobel dobel? hehe… etapi kalo polipacar gimana ya? hihihi πŸ˜›

    *kabur sebelum dimutilasi*

  9. Yah, memang mestinya dalam hal ini pemerintah juga ikut campur. Jangan sampek ada orang miskin yang bolak-balik kawin lagi dan anak-anak yang lama jadi pada kurang gizi semua.

  10. Ahahaa..gimana yah, Mbak Ina? Kalau kupikir sih orang suka nggak mikir dulu sebelum berbuat. Orang kan berpoligami demi memuaskan syahwatnya, nggak dipikir nanti gimana mau menggedein anak hasil perbuatan poligami tersebut. Kadang-kadang kalo aku lihat anak sakit-sakitan cuman dianter emaknya, aku sering bertanya-tanya, bapakmu ke mana sih, kok nggak ikutan prihatin sama anak gini?

  11. udah tahu miskin kok masih poligami juga dan beranak terus? Ntar kalo ada masalah tinggal bunuh aja anaknya…duh, kok ngenes banget yaa…apa ngga mikir dulu ya sebelum berbuat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *