Textbook Indonesia, Masih Ditunggu-tunggu

Salah satu sebab kenapa kampus Indonesia kurang bersinar di kalangan perkampusan dunia internasional adalah karena belum banyak kampus Indonesia yang bikin buku teks sendiri. Kalau ditilik-tilik, dosen-dosen di Indonesia selalu mewajibkan mahasiswanya baca buku-buku teks buat pegangan kuliah, dan rata-rata buku-buku yang diwajibkannya itu pasti karangan luar negeri. Dan sayangnya, bukunya itu pasti berbahasa linggis. Memang sih sekarang sudah banyak banget buku teks impor yang diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia, tapi itu ada kelemahannya, yaitu masalah keterkinian. Sebagai contoh saat ini buku Obstetri Williams bahasa Indonesia yang beredar di kalangan mahasiswa kedokteran Indonesia berasal dari edisi 21 terbitan tahun 2006, yang merupakan terjemahan dari edisi 21 bahasa linggis terbitan tahun 2001. Padahal sekarang di luar negeri sana sudah beredar Obstetri Williams edisi 23 terbitan tahun 2010 dan itu belum diterjemahin ke bahasa Indonesia. Bisa nggak dibayangin bahwa ternyata ilmu kita ketinggalan sembilan tahun dibandingkan ilmuwan di luar negeri karena nungguin bukunya ilmuwan luar negeri itu diterjemahin dulu? Setelah itu kita pasti akan bertanya-tanya, kenapa kita mesti nungguin terjemahan? Kenapa kita nggak bikin buku teks a la kita sendiri aja. Toh ilmu a la luar negeri belum tentu cocok kalau dipakai di Indonesia. Saya kasih contoh ilmu saya aja, karena saya nggak tahu ilmu lain selain kedokteran. Pengobatan malaria di Inggris jelas nggak akan sama dengan pengobatan di Indonesia. Apa sebabnya? Ya soalnya kan nyamuk penyebar malaria kan cuman beredar di negara tropis, jadi sepantas-pantasnya yang bikin buku teks tentang malaria ya negara tropis, bukan negara empat musim macam Inggris. Dan siapa yang bertanggung jawab buat bikin teks a la Indonesia itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah dosen-dosen Indonesia. Maka sekarang pertanyaan pun ganti: Sudahkah dosen Indonesia bikin buku teks sendiri? Kampus Salemba-Jakarta adalah contoh kampus yang sudah dari dulu merintis bikin buku teks sendiri meskipun ngerjainnya dengan susah-payah. Bikin buku teks adalah kerjaan yang sangat berat, dari segi manapun. Pertama, ngumpulin materi bahannya yang susah. Kedua, dosen nggak pernah punya waktu buat menuliskan ilmu-ilmu yang dia punya, lantaran sibuk ngatur waktu antara mengajar dan cari proyek tambahan. Ketiga, dosen seperti pengarang lainnya, paling takut karyanya dibajak. Coba Sodara-sodara Jemaah ngaku aja, siapa dari Anda yang waktu kuliahnya suka motokopi buku teks? Padahal, kalau sampek banyak tersedia buku teks bikinan Indonesia, sebenarnya yang diuntungkan adalah dosen dan mahasiswa Indonesia sendiri. Dosen yang berhasil bikin buku teks, selain dapet royalti, jelas akan dapet nama karena berhasil bikin prestasi. Bayangkan kalau dosen dari kota X bikin buku teks, lalu buku itu dipakai sebagai pegangan oleh mahasiswa-mahasiswa di kota-kota seluruh Indonesia, tentu nama dosen pengarangnya akan beken di seluruh mahasiswa bidang itu di Indonesia. Mahasiswa juga dapet untung yang berlipat ganda. Pertama, mereka nggak usah beli buku teks impor yang jatuhnya pasti mahal. Kedua, mereka nggak usah nerjemahin buku teks ke dalam bahasa lokal mereka cuman gara-gara kepingin ngerti apa yang mereka pelajarin di kuliah mereka. Dan ujung-ujungnya, ngomongin kesulitan buku teks pasti akan mandeg di pembahasan tentang pencegahan pembajakan. Sebenarnya, selama di dunia ini masih ada mesin fotokopi, maka pembajakan pasti akan tetap eksis. Maka yang bisa kita lakukan adalah mendesain buku teks itu sedemikian rupa supaya nggak gampang dibajak. Triknya bisa macem-macem, mulai dari bikin buku yang banyak gambar berwarnanya, dan kalau bisa warna gambar itu dipilih yang susah banget buat difotokopi. Bisa juga dari segi penjilidan, misalnya kalau bukunya dijilid dengan cara dijahit, sewaktu difotokopi maka akan menimbulkan bayangan hitam di area jilid yang bikin hasil fotokopian jadi nggak sedap dipandang. Buku juga enaknya jangan segede-gede gaban seukuran halaman folio, tapi lebih enak kalau dikemas dalam kemasan setengah folio, supaya kalau difotokopi jatuhnya malah bikin rugi bandar. Buku yang pakai kemasan ukuran handy jelas lebih nyaman dibaca, bisa dibawa-bawa masuk ke tas, nggak malu-maluin kalau dibaca pas lagi ngopi di kedai donat, bahkan cukup nyaman kalau lagi dibaca pas lagi pup di kamar mandi. Trik yang nggak kalah asyik adalah menyediakan versi buku teks itu dalam bentuk e-book, dan e-book itu bisa didesain sedemikian rupa supaya nggak bisa di-copy paste. Nah, sudahkah dosen-dosen di Indonesia punya kesadaran buat menuliskan ilmunya sendiri di dalam buku teks yang berbahasa negerinya sendiri?Gambarnya ngambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

33 comments

  1. Hoeda Manis says:

    Jadi kepikiran, ada baiknya juga buku-buku dilengkapi suatu teknologi (apa kek), yang bisa membuat mesin fotokopi meledak kalau tuh buku nekat difotokopi. Dijamin gak bakal lagi orang nekat ngebajak buku pake fotokopi. Kalau nekat pake scanner, ya buat juga piranti yang bisa bikin scanner meledak. 😛

    Kata mahasiswa, "Beuh, mo ngebajak dikit aja kok suseh amat?!"

  2. 1. Aku pingin bikin buku "Cara SC yang Baik dan Benar". Aku rasa kerjaan berbulan-bulan itu akan menghasilkan efek yang tahan lama, ketimbang ngerjain SC yang cuman sejam doang tapi hasilnya cuman terasa beberapa minggu.

    2. Kalo masalahnya dana, kampus dari dosen mesti nyediain dana buat bikin riset itu. Makanya yang nerbitin bukunya ya kampusnya itu, bukan orang perorangan. Itu sebenarnya tanggung jawab perguruan tinggi kan untuk menyebarkan ilmu?

    3. Ya, aku merasakan sendiri jadi anak buah ilmuwan yang suka maju di forum-forum nasional. Mereka sibuk banget dengan posisi mereka sebagai Guru Besar. Maka kurasa, sebaiknya bikin buku teks menjadi bagian dari prioritas gugus tugas mereka, dan akan lebih efisien kalo yang nyuruh adalah rektor. Mendingan, bikin buku teks itu menjadi program perguruan tinggi, bukan karena swadaya idealis pengarangnya.

    4. Kalo urusan nulis sesuai kaidah buku teks, serahkan pada sarjana bahasa Indonesia. Bukan pada dokter. Karena yang ngerti kaidah buku manapun itu pasti ahli bahasa, bukan ahli teknik medis.

    5. Sudah kubilang pada trik-trik di atas, aksi fotokopi oleh mahasiswa itu bisa diminimalisir kok.

    Harus kuakuin, menulis buku teks itu susah. Ada keterampilannya sendiri. Memang harus mulai dari yang kecil-kecil. Kalo belum bisa bikin buku teks, nulis aja di jurnal-jurnal nasional dulu. Kalo belum bisa nulis di jurnal, nulis di blog dulu. Tapi asalkan ada kemauan dosen buat menuliskan ilmunya, aku optimis buku teks bikinan Indonesia bukan sekedar mimpiku di siang bolong.

  3. Sri Riyati says:

    Menurutku alasan knp dosen2 Indonesia gak bikin textbook adalah: (ngeles dot kom)
    1. Nggak ada duitnya. Buat apa susah2 bikin buku pelajaran wong tinggal SC aja langsung dapet jutaan, sejam kelar. Bikin buku ilmiah itu, kata orang, kaya nelen gajah.
    2.Untuk mengupdate buku teks, butuh research yang luas. Nah, pionir research itu kan bukan kita. Karena balik lagi, gak ada dana. Sebagian dokter juga lebih sibuk praktek daripada mengembangkan keilmuan.
    3. Bikin buku teks butuh tim yang betul2 berkompetensi dibidangnya, dalam hal ini kadang berarti ilmuwan yang sudah menerbitkan artikel ilmiah baik secara nasional atau internasional. Orang2 yang kaya gini jarang banget, apalagi yang nganggur. Soalnya naskah teks harus original kan? Kalo cuma mengumpulkan data orang lain itu mah namanya kapita selekta.
    4. Gak ada editornya yang kompeten juga. Kalo seorang Profesor nulis, siapa yang akan nyeting dan ngedit sesuai kaidah buku teks yang berlaku? Seharusnya tim editor yang juga ahli di bidangnya, tapi biasalah, yang lain pada sibuk praktek (inipun kalo profesornya udah mau nulis ya)
    5. Untuk naik cetak, diperlukan modal yang lumayan besar. Duit ini belum tentu kembali karena biasanya mahasiswa fotocopy.

    Tapi di luar itu semua, memang harusnya kita bikin buku teks sendiri. Minimal bahan kuliah. Kalo ibaratnya penulis, belum bisa bikin novel ya bikin aja blog. Barangkali kumpulannya nanti bisa dibukukan…

  4. sez says:

    yah, vick..
    buku-buku penerbit ITB aja ga selaku buku kalkulus-nya siapa tuch…
    (eh, ga belajar kalkulus ya?) hehe

  5. Cara itu akan berhasil jika tiap dosen beriman pada kitab yang sama, Mbak. Lha kalo di jurusanku, dosennya beda-beda keyakinan. Jadi beda dosen, beda lagi textbook-nya, padahal mata kuliahnya sama. Kebayang kan kalo tiap kelompok disuruh manut sama chapter masing-masing buku, bisa repot nanti. Sebenarnya kita jangan mau diperbudak textbook. Tidak semua chapter itu berguna. Sebagian besar alinea dalam chapter pada textbook malah lebih berguna bagi dokter spesialis, bukan buat dokter umum. Sifat dokter umum hanya mengetahui, tapi bukan menghafalnya secara spesifik.

  6. Jaman aku kuliah, aku sering banget foto copy textbook yg kebanyakan msh berbahasa linggis. Saat itu, jurusan yg aku ambil memang 90% buku2nya masih berbahasa linggis semua (tapi ternyata tak membuatku pinter berbahasa linggis.. hikss).
    Terus, tugas dari dosen yg paling banyak adalah : mahasiswa disuruh buat ringkasan tuh buku. Caranya, mahasiswa dibagi dalam kelompok, jumlah kelompok = jumlah chapter yg ada dalam textbook itu. Satu kelompok buat ringkasan utk 1 chapter, setelah semua jadi.. dijadiin satu.
    Untung di mahasiswa dan dosennya juga.. hahaha (dpt ringkasan gratis)

  7. Agus Tse says:

    ternyata rata2 sama semua dosen pelit tidak pinjamin buku dan perpus juga,atau mungkin cuma satu, saking maksanya saya pernah dimintain KTP bukan KTM, aya nu siga kitu padahal saya kuliah disana haha smpe skrg g ngerti. disumpahin alhamdulillah bukunya tidak up date, itu mulu,,,

    indonesia mau jadi apa?nu jelas fenomena nya aneh bin ada di indonesia!!

    1.para profesornya kemana ya? datang dr luar eh malah BODOHIN rakyat bukan pinterin rakyat mungkin ini spt saya bilang sitem belanda

    2. kampus orientasinya yang penting uang masuk mahasiwa wisuda(cuek)

    3. tak spenuhnya menyalahkan dosen mungkin dosen juga takut yang d atasnya misal : ibu ini contohnya mungkin bisanya nulis wacana diblog saja tanpa implementasinya buawat indonesia atau lingkup keci;nya ibu ngajarnya dikmapus tok

    4. motivasi yang kurang dari mhsnya bhw kuliah itu prestise bwt ngatakan ini nih saya kuliah…

    5. PR warga indonesia

  8. bridge says:

    Mungkin seperti yg kamu bilang, org yg berkompeten nulis tuh gak punya waktu….(tapi kok orang luar negeri itu punya waktu aja ya? heheheh) karena kesibukannya sendiri aja udah padat. lagipula , isi buku text itu kan kudu bisa dipertanggungjawabkan… Mungkin yg tugas mengedit juga blm ada yg kompeten?

    Pssst, gue juga termasuk yg suka pegel baca postingan panjang2… Tp tergantung isinya sih. Kalau menarik yg gak berasa…. kalau gak menarik ya tinggal aja kan 😀

  9. Astri says:

    ah nangis lagi deh jadi bangsa indonesia kalo soal textbook.
    Hampir gak pernah beli buku cetakan Indonesia krn ketinggalan zaman itu.

  10. Ahahahaa..itu yang tipnya Wijna lumayan juga. Mudah-mudahan prediksi temen-temennya Wijna bahwa buku itu cuman dipakai sekali seumur hidup, tidak meleset. Saya aja sekarang rada nyesel lantaran nggak beli buku statistik dan cuman ngopi rumusnya doang buat UTS..

    Reborn kuliah di mana sih, kok ketertinggalan ilmunya cuman lima tahun?

  11. ReBorn says:

    tambahan 1 lagi. biar ga gampang di salin-cetak yaitu pake kertas berlapis plastik. jadi kalo di salin akan memantulkan cahaya mesin itu sendiri. jadinya ga bisa di cetak deh.

    klo jaman saya kuliah masih mending, ilmu nya ketinggalan 5 tahun. wekekeke…

  12. mawi wijna says:

    Saya pernah punya pengalaman.
    Salah satu dosen menerbitkan buku yang jadi buku pegangan matakuliah tertentu. Harganya mahal, kalau ndak salah 60 rb. ALhasil, temen-temen patungan beli satu buku saja dan lantas difotokopi. Alasannya ngapain keluar duit mahal kalau buku itu hanya dipakai sekali seumur hidup, pas di matakuliah yang hanya satu semester itu?

  13. Wah, sekiranya aku masih kuliah sekarang, aku nggak tahu apakah dosenku ngijinin pinjem bukunya cuman buat jawab 1-2 pertanyaan aja. Dosenku pernah bilang, dia kuatir minjemin buku coz pernah minjemin ke mahasiswanya dan sesudah itu mahasiswanya nggak kembaliin bukunya. 😀

  14. christin says:

    Oh iya betul juga.. kadang ada buku2 yang ga bole dipinjem ke luar. Itu resenya perpus 😀 Di kampusku kita biasa lho minjem textbook dari dosen kalo kehabisan di perpus, karena dosen2 itu pada umumnya punya buku lengkap juga. Biar mahasiswa gak alesan telat ngerjain tugas/skripsi karena gak ada buku gitu katanya 😀 😀

  15. Itulah manfaatnya kalo dosen nulis bukunya sendiri, sangat membantu menghindari salah penafsiran jika dibandingkan membaca buku teks terjemahan.

    Salah satu aspek yang mesti dicermati adalah perpustakaan kampus. Hendaknya buku-buku di perpustakaannya kampus juga yang up-to-date, bukan yang jebot-jebot. Sayang banget buku yang bagus kebanyakan cuman dikunci dalam lemari dan nggak boleh dipinjem buat dibawa pulang, hiks hiks..

  16. christin says:

    beberapa dosenku udah mau nulis bukunya sendiri, sebagian mata kuliah karena memang rumit kita masi pake buku asing, cuma bapak ibu dosen menyarankan kita gak pake yg terjemahan karena sangat mungkin bisa beda penafsiran.

    kalo fotokopi sih kita jarang, mau fotokopi juga muahal karena bukunya setebel2 dosa.. paling ngendon di perpus atau nebeng temen yang pinjem buku perpus hehehe

  17. Yah, memang mestinya baik dosen maupun mahasiswa harus kritis, jangan mau terima buku terjemahan mentah-mentah. Hendaknya tiap orang mesti rajin ngecek textbook-nya, apakah textbook itu keluaran mutakhir atau edisi tahun jebot.

  18. Agus Tse says:

    yang aku gris bawahi "edisi 21 tahun 2006= edisi 21 bahasa inngriss 2001" wcana ini ak dulu pernah k dosen saya utarakan tapi malah dipandang sebelah mata haha +aj… pandangan aku dari historisny, khsusnya dosen mungkin sudah berada zona nyaman artinya kita dibodohi sama sistm warisan belanda yg mana kita dijadikan "enak"misal demang padahal kita dijadikan budaknya shngga smpai sekarang melekat tidak bisa berbuata byak slain copas2 an.

  19. Menurutku, banyaknya istilah teknis dalam bahasa linggis bukan kendala untuk bikin buku teks dalam bahasa lokal. Adalah tugas para guru besar untuk mencarikan padanan kata yang tepat, bahkan kalo perlu ya menyerap istilah asing itu ke dalam bahasa Indonesia.

  20. hedi says:

    aku kuliah di non eksakta, buku teks bahasa lokal melimpah. tapi kata teme yg kuliah eksakta, buku lokal hampir sulit dibuat karena banyak istilah teknis. tapi harusnya sih bisa ya, sekarang thesaurus & kosa kata makin banyak

  21. Saya sih masih liat-liat pengarangnya. Kalo bukunya lokal, saya usahakan cari yang asli. Tapi kalo pengarangnya luar, paling-paling saya copy 1-2 bab yang saya perlukan aja. Saya lebih senang baca e-book ketimbang hard copy. Lha keperluan baca buku teks paling-paling cuman buat bikin makalah doang.

  22. Cahya says:

    Biasanya saya ndak lihat siapa pengarangnya, yang penting bisa dibaca dan memberi ilmu, kalau saya biasanya selalu mencari buku asli, hanya ada dua alasan buku teks difoto-kopi, pertama karena sudah habis di pasaran (tidak diterbitkan lagi), kedua karena koleksi langka di perpustakaan.

  23. Sebenarnya perkara copas itu bisa disiasatin. Suruh mahasiswanya maju presentasi nerangin tugasnya. Mau nggak mau dia harus ngomongin ilmu dia dengan kata-kata sendiri dan kalau dia copas pasti langsung gagap.

    Tesis profesor, atau mungkin disertasi, sebenarnya bisa diantisipasi juga dari penjiplakan kalau yang nguji profesornya mau mikir sedikit canggih. Sekarang kan ada kampus di Bandung yang mewajibkan semua kalangan akademisinya masukin karya tulis dalam bentuk soft copy. Sistem informasi kampusnya sudah pasang alat detektor, yang bisa mendeteksi karya-karya tulis yang merupakan jiplakan dari karya tulis yang beredar di internet. Tapi sistem ini nggak akan efektif jika profesor penjiplaknya tidak dihukum. Contoh hukumannya misalnya, gelar profesornya dicopot.

    Oh ya, aku pernah dikomentarin tulisanku di blog panjang amat, hehehe. Dan aku nggak ambil pusing dengan pembaca kayak gitu. (Ini blog aku, suka-suka aku dong aku mau nulis sampek sepanjang sekilo. Kalo sampeyan sakit mata, itu derita sampeyan). Dan komentar-komentar yang tidak bermanfaat buat pembaca lainnya, jelas tidak akan dimuat.

  24. rawins says:

    budaya menulis memang belum menjadi budaya kita kok. lebih suka copas tulisan orang atau nerjemahin dari orang luar yang kadang suka berubah maksudnya. jangankan kelas blogger, tesis profesor aja ada yang njiplak tulisan orang. engga tau kapan kita bisa maju, bila nulis agak panjang dan berbobot saja dah dikomentarin, panjang amat postingannya. hahaha payah…

  25. Gaphe says:

    mungkin yang mau bikin juga mikir kali yaa.. ngapain susah2 bikin, kalo ntar tugas2 mahasiswanya aja cuman kopas dari internet, karya orang, bahkan skripsi aja tinggal ganti judul.. hehe, di kampus saya aja textbook yang paling laku aja buku petunjuk praktikum. itupun sejak taun 80an masih samaa materinya. aah, susah kali ya nemuin yang benar2 hargain ilmu disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *