“Pindah”? Pindah Kepalamu!

Seorang pejabat parlemen beberapa hari lalu bikin geger dunia maya gara-gara pernyataannya yang bilang, “Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah.” Katanya kemudian, “Siapa pun yang takut kena ombak jangan tinggal di pinggir pantai. Sekarang kalau tinggal di Mentawai ada peringatan dini dua jam sebelumnya, sempat nggak meninggalkan pulau?” “Kalau tahu berisiko pindah sajalah.. Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan.”

Sewaktu saya baca berita itu, saya nggak bisa nggak tertegun. Sedikit banyak dari sudut pandang logika, mungkin dos-q benar. Tapi dari sudut pandang orang Mentawai sendiri, apakah itu logis untuk dilakukan? Gimana dengan segi psikologis orang Mentawai yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana? Apakah psikologis tidak bisa disebut logis? Waduh, kalau sampek beneran, bisa-bisa temen-temen saya yang psikolog bakalan ngamuk berat.

Kemaren saya nonton berita di tivi, tentang gimana ngungsiin orang-orang Umbulharjo itu setengah mati susahnya lantaran mereka nggak mau turun biarpun Merapi sudah kepul-kepul. Ternyata semenjak tahun 2004, artinya sudah enam tahun ini, sudah ada wacana supaya penduduk tuh jangan diijinkan tinggal di sekitar gunung Merapi dan mendingan para penduduk itu direlokasikan aja. Penduduk ternyata rada sensi kalau dengar kata “relokasi”, coz itu berarti memaksa mereka untuk meninggalkan desa yang sudah mereka huni semenjak mereka semua masih kecil. Di desa yang mereka dipaksa untuk tinggalkan itulah, mereka menjalani seluruh kehidupan mereka; ya sekolah, ya berladang, ya beternak sapi, ya gangguin anak gadis Pak Kades, ya beranak, ya semuanya.

Di sini kita melihat bahwa kadang-kadang niat pemerintah untuk memindahkan penduduk dari daerah rawan bencana itu tidak selalu berhasil, meskipun kita tahu pasti bahwa niat pemerintah itu kan baek. Siapa sih yang tega lihat anak-anaknya setiap saat bisa terancam disamber tsunami atau gunung meletus?

Saya mendadak inget diri saya sendiri. Saya tinggal di Bandung sebelah utara. Gunung Tangkuban Perahu sebenarnya letaknya cuman beberapa kilometer dari rumah saya. Memang sudah berabad-abad lamanya gunung itu nggak meletus, tapi tidak ada satu pun saya pernah dengar jaminan bahwa gunung itu sudah mati.

Saya merenung. Kira-kira kalau saya disuruh pergi dari tempat ini, misalnya karena takut Gunung Tangkuban Perahu aktif lagi, saya mau, nggak? Toh keluarga saya tidak seperti penduduk Mentawai atau Merapi, kami kan nggak lahir di Bandung, bahkan kami baru tinggal di Bandung selama 23 tahun. Kami ini berdarah Jawa Timur, jadi kami bisa pergi dari tempat ini kapan saja.

Jadi saya tanya sama nyokap saya yang lagi njahit sambil nonton tivi, “Mom, kalau Mom direlokasi dari rumah ini, mau nggak, Mom?”

Nyokap saya terdiam. Lalu melanjutkan jahitannya. Katanya, nyokap dan bokap saya udah pasang investasi di Bandung selama bertahun-tahun, sayang kalau ditinggal. Itu alas an kedua. Alasan pertamanya? Mom punya ikatan emosional dengan tempat ini selama 23 tahun.

Ganti saya terdiam. Kedengarannya nggak logis memang, tapi mungkin kami akan sedih banget kalau disuruh pergi, meskipun dengan alas an kota kami nggak aman dari ancaman gunung meletus. Bayangkan, di kota ini, saya tumbuh. Saya belajar, terseok-seok menghadapi menstruasi pertama, mabuk dan jatuh cinta, stress tiap ulangan sekolah, nangis menjelang skripsi, mendapatkan pekerjaan pertama, dan entah apa lagi. Bokap saya memulai prakteknya di kota ini, mulai dengan pasien yang cuman do-re-mi sampek akhirnya pulang telat setiap malam lantaran pasiennya membludak. Nyokap saya gonta-ganti teman-temannya sesama ibu-ibu, dari kelompok satu ke kelompok yang lain, yang mengajarinya tentang segala hal, termasuk mana sekolah terbaik buat anak-anak dan mana tempat paling murah buat nyari kain sutra yang bagus.

Saya rasa apa yang dirasakan oleh keluarga kami terhadap Bandung, juga dirasakan oleh keluarga-keluarga di Mentawai dan Merapi. Betapapun tempat-tempat mereka rawan gempa vulkanik dan tsunami, tetap aja susah banget bagi mereka untuk pergi dari lahan yang sudah membesarkan mereka selama bertahun-tahun. Kalau Anda disuruh merelokasi mereka, dan Anda mengerti posisi psikologis mereka terhadap tempat itu, tegakah Anda?

Mungkin perlu pendekatan psikologis yang baik buat menghindarkan tiap orang dari marabahaya. Tapi yang jelas, bukan dengan nyuruh orang pindah tempat tinggal seenaknya, seperti orang mindahin sapi ke daratan yang masih kosong.

Fotonya diambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

21 comments

  1. IbuDini says:

    Pagi Ibu Dokter…bener Vik, sulit rasanya utk meninggalkan kota kelahiran..meskipun kota kelahiranku tidak seindah ibu kota kata temen2..tetapi aku tetep aja selalu rindu ingin tinggal di kota kelahiran..

  2. -Indah- says:

    Hmm.. bener juga sihh.. gua juga udah lumayan ngerasa 'menyatu' ama tempat gua tinggal selama 20an tahun terakhir ini..

    Kalo hanya ngungsi sementara pas lagi ada bencana sih ya mau.. cuman kalo pindah for good? Hmm.. rasanya yaa bakal berat..

  3. mawi wijna says:

    Tau ndak mbak, para korban bencana itu ndak ngeluh ttg prilaku alam. Mereka ndak ngeluh kenapa Merapi meletus atau kenapa Tsunami menerjang mereka. Soalnya mereka dah tau resikonya dan mereka dengan resiko itu hidup berdampingan dengan alam.

    Nah, lain dengan pejabat, yang jarang bersentuhan dengan alam. Yang hampir tak bisa menerima resiko alam. Jadinya ya mengeluh.

  4. Makanya kubilang juga, Fen, mending tuh ibukota berikut gedung parlemennya dipindah aja ke Mentawai. Biar mereka merasakan susahnya digulung tsunami. Enak aja mereka ngomong-ngomong "Salahnya tinggal di pulau", pake acara studi banding keluar negeri segala pas rakyat lagi susah.. Sin-ngisini ae bapak-bapak dewan iki..

  5. Jadi inget contoh kecil beberapa waktu lalu, bukan tentang relokasi sih, tapi tentang seorang pejabat yang lagi diwawancara sama radio saat beliau melakukan perjalanan pulang dari suatu daerah di jawa timur, radio bertanya "bagaimana keadaan lalu lintas di daerah sana pak?"
    "oh lancar, lancar sekali"
    padahal saya yang ada di daerah yang sama, merasa kalau daerah tersebut sedang padat … saya mikir, ya iyalah bapak itu bilang kalau lancar, wong dia dikawal sama foraider … pantesan aja nggak kerasa padetnya, blah …

    jadi intinya, mereka enteng ngomong karena mereka tidak merasakan hal yang sama dengan masyarakat, hmmm

  6. NURA says:

    sore mba,
    wah templatenya sama dengan blog saya yang cah putri bintaran.
    soal pindah, dimanapun pindah tempat di Indonesia semua katanya memang rawan bencana.

  7. Christ n Wijanarko, bener tuh Pak Juki mestinya bisa jaga kata-katanya di depan wartawan. Kalo tau situasi ndak memungkinkan bagi pers untuk mengutip kata-katanya dengan benar, ya ndak usah kasih komentar sekalian. Bener deh kayaknya sekalian aja gedung parlemen dipindah ke Mentawai biar nyaho rasanya kebanjiran kena ombak tsunami..

    Wita, iya yah memang kalo dipikir-pikir bumi ini ndak aman. Lha aku ngerasa aman-aman aja di Bandung biarpun di kaki Gunung Tangkuban Perahu, tapi aku ndak sudi rumahku dipindahin, hehe.. Owalah, Pak Juki pikir Mentawai itu ndak layak dihunikah?

    Mbak Fanny yang udah bertahun-tahun di Jakarta, jika Jakarta diguncang tsunami, mau nggak Mbak disuruh pindah?

    Mbak Ria, Pak Juki banyak duit, jangan kuatirlah, pasti dos-q ngomong gitu ya mau ngongkosin. Apa dijual aja ya tuh pulau rentan tsunami? Lho, kalo gitu hampir seluruh Indonesia dijual dong??

    Dooh..kok aku jadi ikut-ikutan manggil "Pak Juki"??

  8. bridge says:

    mending dikasih pengarahan ke penduduk dalam mengantisipasi bahaya di masa mendatang… Teorinya kan tsunami ada beberapa indikasi…
    lagian enak aja ngomong mau pindahin ke daratan… Emang dia mau ongkosin? Nyari'in tempat tinggal? Atau tinggal sama dia ajah? Terus pulau2 yg kosong karena rentan tsunami itu diapa'in? mau dijual ya?

  9. Desfirawita says:

    klo gw dgr ucapan si bapak mah cuma ingin bilang gini,
    "Kenapa nggak suruh cari planet lain aja sih pak? Bukan Indonesia aja, bumi pun sekarang udah nggak aman, kan?" haha….

  10. si juki emang stress.. kayaknya nggak mikir dulu sebelum ngomong. tidak ada tempat yang bener-bener aman di dunia ini. di pinggir pantai kena sunami, di daratan kena gunung meletus seperti merapi dan masih banyak gunung aktif lainnya baik di jawa ataupun di sumatera.. mau di jakarta pun udah langganan banjir.. yang aman dimana pak juki? hehe

  11. christin says:

    Transmigran aja gak diurusin gitu sok mau relokasi segala. Tolong dijaga lah itu pak kata-katanya bukannya nenangin malah bikin sedih.
    Situ sih gak ngerasain susah. Pake mobil menteri bisa pake voorijder kan pak, gak kena macet. Rumah bapak juga bagus kan pak, gak kebanjiran. Mikir gak pak banyak orang yang gak seberuntung bapak?

    *maaf vic jadi curhat* :))

  12. Kalau kita ingin menetap di kampung halaman kita, apakah itu tidak logis? Kenapa kita tidak dididik untuk mengantisipasi bencana, misalnya dengan memasang alarm tsunami di pantai atau bergaul dekat dengan petugas pengawas gunung berapi? Sebab negara kita memang berada di kawasan Ring of Fire, sehingga seharusnya tsunami dan gempa vulkanik bukan sesuatu yang harus ditakuti. Orang-orang Jepang juga tinggal di kepulauan yang rawan bencana, kok nggak ada tuh pejabat parlemen yang suruh mereka pindah ke Asia Daratan??

    Coba dipikir sedikit. Suruh nelayan-nelayan Mentawai pindah ke Sumatera, ajari mereka jadi petani misalnya. Apa ada jaminan mereka bisa bertani dengan becus dalam waktu singkat? Penduduk yang tinggal turun-temurun di Sumatera aja banyak yang masih menganggur, kok ini penduduk Mentawai disuruh pindah ke daratan yang katanya "masih banyak tempat"?

    Ada ide mau merelokasi penduduk Mentawai dan Merapi ke mana? Itu lahan transmigrasi di Kalimantan dan Sulawesi yang udah ditempatin transmigran aja penataannya masih nggak keruan lho.. Dokternya kurang, sekolahnya nggak ada..

  13. emang dilema banget ya Mbak dokter!
    kalo ngomongin perasan logika kadang-kdang nggk masuk akal.

    Kayak aku, malaupun sudah melanglang buana ke manaun tetep aja pingin balik lagi Banyuwangi.

  14. Jokostt says:

    Marzuki gemblung! Benar-benar tak punya rasa empati. Dia belum pernah merasakan sedihnya terkena bencana, sedih harus meninggalkan tanah kelahiran yang dihuni sejak kecil sehingga bisa-bisanya dia ngomong begitu. Pindah, sih gampang tapi penduduk Mentawai yang rata-rata nelayan mau diberi makan apa kalau sudah dipindah ke darat.

    Memang kalau sudah di darat aman? Bagaimana dengan Sidoarjo yang jauh dari laut, jauh dari gunung berapi, toh juga sama mengungsi juga akhirnya karena Lumpur Lapindo?

    *Maaf, Mbak Vicky, kok jadi saya emosi. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *