Standar-standaran Dodol

"Karena saya sekolah tinggi-tinggi, untuk berpikir. Bukan buat jadi robot."Kemaren adek saya nelfon dan cerita-cerita. Jadi, dia baru dapet kerjaan, disuruh gantiin praktek seorang dokter di deket rumahnya. Pasiennya banyak sih, jadi lumayan adek saya dapet penghasilan. Cuman adek saya nggak seneng praktek gantiin dokter itu.Si dokter itu bikin peraturan, misalnya kalau penyakitnya A, lantas pasiennya diobatin dengan paket obat X. Sedangkan kalau penyakitnya B, lantas pasiennya diobatin dengan paket obat Y. Dan seterusnya. Pokoknya tiap penyakit tuh sudah ada daftar obatnya sendiri-sendiri. Dan adek saya mesti nurutin "standar" itu. Persis robot.Adek saya nggak suka. Pasalnya, standar itu juga nggak bener-bener amat. Di dalam tiap paket tuh ada obat yang sebenarnya nggak perlu buat diminum pasiennya. Alhasil, kalau dipaksakan buat dikasih ke pasiennya, maka pulang-pulang pun pasiennya jadi bawa terlalu banyak obat. Otomatis, pasiennya jadi bayar lebih kan?Memang sih, kalau di dusun-dusun gitu, jarang banget ada toko obat. Biasanya dokter praktek sembari jualan obat, jadi supaya pasiennya nggak mondar-mandir cari-cari toko obat lagi. Lebih praktis sih.Tapi ya itu. Dokter jadi tergoda buat obral obat-obatan. Mana kalau di dusun-dusun gitu pasien kan suka nggak mikir panjang. Disuruh dokternya minum obat lima biji sekaligus, ya manut aja. Mana tahu pasiennya kalau sebenarnya obat itu nggak perlu diminum semuanya?Akibatnya dokternya praktek bukan buat ngobatin orang sakit lagi. Tapi tujuannya lebih untuk jualan obat.Adek saya, dokter yang baru lulus, merasa idealismenya diganggu. Dia mulai seperti saya, yang nggak suka profesi penyembuh disamaratakan dengan tukang jualan obat. Dari dulu saya selalu bilang, kalau pasien nggak butuh obat banyak-banyak, ya nggak usah dikasih obat yang memang nggak diperlukan. Janganlah cuman gara-gara nyari duit lantas kita membodohi pasien-pasien kita yang memang nggak tahu apa-apa soal obat.Jadi inget, dulu pertama kali saya dapet kerjaan, di sebuah klinik. Ada standar prosedur di klinik itu, kalau orang luka dan harus dijait, diobatinnya pake amoksisilin dan asam mefenamat. Amoksisilin buat basmi kuman, asam mefenamat buat pereda nyeri.
Ya Tuhan, saya mbatin. Amoksisilin nggak akan cukup manjur untuk membasmi seluruh kuman di luka itu. Kenapa nggak pakai obat yang lain aja?
Tapi boss saya di klinik itu melarang saya ngobatin pakai obat lain yang lebih manjur. Alasannya, obat itu nggak dijual dalam klinik itu.
Saya bilang, ya udah, kasih resep ke pasiennya, suruh pasiennya nebus obat di apotek seberang jalan. Saya dilarang juga, coz itu kan namanya bukan bikin kliniknya laku, tapi malah bikin tempat usaha orang lain laku.Saya nggak tahan. Coz saya tahu kalau pasien luka jait itu cuman diminumin amoks, dia akan menghadapi resiko kena tetanus di kemudian hari karena amoks tidak cukup membunuh kuman anaerob di tempat lukanya.Saya langsung keluar dari klinik itu begitu nemu kerjaan yang lebih enak di klinik lain.
Buat saya, kerjaan yang enak itu bukanlah kerjaan yang gajinya lebih banyak. Tapi kerjaan yang enak adalah kerjaan yang nggak bertentangan dengan hati nurani saya.Pasien itu sendiri memang tabiatnya macam-macam. Ada jenis pasien yang seneng bawa pulang obat banyak-banyak. Buat dia, makin banyak obat yang mesti dia minum, dan bahkan makin mahal obatnya, makin senenglah dia. Maka saya bisa ngerti kenapa dokter yang disubstitusi adek saya di dusun itu demen kasih obat banyak-banyak. Mungkin supaya pasiennya puas dan besok-besok balik lagi ke dokternya.
Oh well, tentu saja pasiennya balik lagi. Karena minum obat yang nggak perlu-perlu justru bikin penyakitnya nggak sembuh-sembuh.Saya nolak keras ide itu. Coz saya inget dalam sebuah simposium yang saya hadirin, seorang profesor pernah berkata, "Kalau pasien datang ke kita, pikirkan supaya dia sembuh. Jangan pikirkan supaya besok dia datang lagi!"Jadi, saya bersyukur dalam hati, coz adek saya yang masih fresh-graduated nggak tergoda akan duit banyak yang diperoleh dari menjadi robot yang melakukan standar penjualan obat. Semoga dia nemu kerjaan yang dia senangi, tanpa harus gangguin nuraninya yang nggak mau membodohin pasien.
Dan saya bersyukur idealisme saya belum diusik oleh tuntutan perut. Buat apa capek-capek sekolah dokter, kalau ujung-ujungnya cuman buat jadi robot tukang jualan?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

30 comments

  1. Seringkali asuransi itu disalahgunakan. Mentang-mentang nanti dibayarin, pasiennya minta perawatan yang nggak perlu-perlu. Mulai dari yang minta obat yang banyak (katanya buat stok di rumah) sampek yang minta diinapkan di rumah sakit (mungkin dikiranya rumah sakit = hotel).

    Yaah bukannya saya pelit ya. Tapi kita kan nggak bisa menjamin pasien tidak akan minum obat berlebihan. Karena obat yang berlebihan tentu berbahaya juga badan.

    Saya praktek di Eyckman 🙂

  2. Joko Sutarto says:

    Saya bukan orang medis tapi praktek-praktek yang Mbak Vicky ceritakan di atas sebagai orang awam saya juga sudah pernah mendengarnya. Seorang Dokter kerjasama dengan detailer, apotek dan klinik tertentu demi alasan komisi agar dapat fee atau uang. Namun saya percaya tidak semua dokter seperti itu. Salah satunya Mbak Vicky.

    Saya ikut asuransi medicare, tepatnya diasuransikan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Dulu, setiap berobat ke RS saya selalu mengeluh karena begitu banyak dokumen yang diminta pihak asuransi saya untuk proses klaimnya. Ribet sekali pokoknya. Belum lagi antar RS satu dengan yang lainnya beda-beda standar pelayanannya menghadapi pasien yang pakai asuransi seperti saya.

    Kini, saya jadi mengerti dan baru kepikiran sekarang mengapa perusahaan asuransi seperti terkesan tidak percaya dengan klaim saya dengan meminta banyak sekali dokumen medisnya. Mungkin salah satunya bisa jadi karena alasan ini. Apakah betul obat yang saya minum sudah sesuai dengan diagnosa sakit saya.

    Saya juga punya pengalaman mengobatkan anak saya ke sebuah RS swasta di Jogja. Dokternya seorang Profesor dokter dan banyak sekali gelar di belakang namanya. Dokternya menolak (sedikit keberatan) waktu saya mintai diagnosa sakit anak saya. Alasannya dia tak mau dituntut kalau sampai terjadi salah mendiagnosa. Saya pernah menulisnya di sini. Monggo kalau, Mbak Vicky berkenan untuk membacanya.

    (Maaf, Mbak Vicky kalau berbau sedikit nyepam. He…He…)

  3. Jika keterbatasan itu terjadi karena daya ekonomi pasien, itu normal.
    Tapi jika upaya kita terbatas hanya semata-mata karena kita matre, itu sama sekali tidak baik.

  4. bavure says:

    really nice mbak, saya juga dokter baru, dan selama jaga di klinik milik orang lain memang rasanya sangat terbatas sekali yang bisa kita lakukan….

    but, selalu akan ada jalan buat kita untuk berbuat baik, namun kita juga harus ingat akan pasien yang kita hadapi (apalagi ekonominya) dilema ohh dilema

  5. galihsatria says:

    Ini di manajemen termasuk kasus yg dinamakan principle agent problem, sebuah dilema ethics yang dihadapi oleh suatu pihak. Tapi di dunia kedokteran jadi miris banget, karena urusannya sudah menyangkut hidup dan mati manusia, dan ilmu kedokteran tidak bisa dipelajari semua orang dengan mudah — tidak seperti ilmu komputer yang setiap orang bisa mempelajarinya secara otodidak.

  6. IbuDini says:

    Mungkin begini ya caranya orang berusaha untuk memajukan usahanya agar lebih cepat berkemang.
    Meskipun sedikit salah…, karna sedikit banyak telah membohongi pasien..
    semakin hari dan semakin lama semakin sulit aja mencari orang yang benar2 pintra dan iklas

  7. Oh, ada lho pasien kayak gitu. Mereka marah kalo cuman dikasih obat satu macem, dan cuman lima biji pula, dan diminumnya cukup sekali sehari. Sangkaan mereka tuh, orang sakit itu, harus minum obat yang banyak.. 😀

  8. di says:

    "Ada jenis pasien yang seneng bawa pulang obat banyak-banyak."

    Ya ampun mbak vic,,,,,,,ada pasien macam begituan ya :))
    hahahahhaa,,,,,,idak kepikiran sebelumnya,,,sungguh.

  9. Dengan sangat menyesal, bener banget yang dibilang Mbak Elsa. Dikejar target penjualan itu seperti dikejar setan. Ujung-ujungnya pasien yang jadi korban.

    Siyalnya pasien mau aja nurutin kata dokter tanpa berpikir kritis. Kesiyan lho pasien model begini.

  10. Elsa says:

    yah, begitulah dokter jaman sekarang.
    lebih suka ngejar duit dibanding benar benar tulus ngobatin pasiennya…

    yang bikin sebel lagi,
    kalo si dokter udah terikat kontrak sama salah satu pabrikan obat gitu
    dan di target, bulan ini harus jual obat tertentu sekian banyak
    kalo sesuai target, si dokter dapet fee apaaaa gitu.
    kan modelnya sekarang gitu tuh

    semoga masih banyak dokter dokter idealis yang benar benar tulus membantu pasien yaa

    salut buat dokter semacam itu

  11. Di kalangan PNS, idealisme adalah prioritas belakangan. Prioritas utamanya adalah nurutin atasan alias "asal bapak senang". Maka dari itu, teman-teman yang idealis baiknya pikir dua kali deh kalo mau masuk PNS. Karena bisa stress nanti kalo idealisme dipaksakan buat menyesuaikan diri dengan iming-iming "kebahagiaan semu" a la PNS.

  12. aaSlamDunk says:

    wahh idealis banget ya..
    seandainya bisa kaya gitu… tapi banyak temen saya yang dulunya idealis, tapi setelah kumpul sama orang-orang PNS, sekarang idealis itu hilang dan membaur dengan para PNS itu.. tau ndiri kan gimana PNS? apalagi yg ada dikecamatan

  13. Anjang, itu pemikiran yang bagus sekali. Seharusnya karyawan (yah, saya sebut aja adek saya menjadi karyawannya si dokter itu, meskipun adek saya adalah dokter penggantinya) punya kesempatan untuk menguraikan pendapatnya. Bagaimanapun, boss sebagai penentu kebijakan tidak selalu benar, jadi boss perlu banget mendengarkan suara diskusi dari karyawan.
    Tapi dalam kasus ini saya rasa nggak ada forum buat diskusi-diskusian. Bukankah takhayul di lingkungan kerja kita yang super feodal itu selalu bilang, "Dokter senior selalu benar."?

    Mas Fahmi n Raja, hahaha..obat sakit hati apa ya? Hatinya dipijitin aja deh, hihihi..
    Bah, gw nggak suka warna ijo, kok bisa-bisanya ada orang kepingin mendesain website-nya dengan warna ijo?
    Oh ya, idealisme sebenarnya bisa berjalan, tapi kebutuhan ekonomilah yang mestinya menyesuaikan. Hendaknya jangan sampek kita kepingin memenuhi kebutuhan ekonomi, lantas kita terpaksa merugikan badan orang lain.

    Mbak Sylvia, obat generik belum disukai di negara kita coz konon bahan bakunya belum bagus. Padahal sekarang obat-obatan bermerk KW 2 atau 3 juga sudah banyak yang menggaji medical representative. Banyak dokter lebih milih obat-obatan KW 2 atau 3 ketimbang obat generik ini karena mereka memang dapet cipratan komisi dari medrep.

    Mas Fayyas, terima kasih. Jasa dan pelayanan memang yang utama. Adapun nama, pekerjaan, dan bahkan materi itu pasti akan mengikuti di belakangnya.

    Paijo, memang harus saya akuin tawaran dari medrep itu seringkali terdengar mirip godaan setan. Perlu iman yang kuat sih supaya jangan sampek menuruti tawaran medrep itu malah bikin pasien merugi.

    Pak Eko, saya justru heran kenapa orang nggak berani nawar. Kalo saya jadi pasien dan menganggap mahalnya obat yang dijual oleh si dokter itu tidak sebanding dengan kemanjuran yang diperoleh, saya pasti lebih suka cari dokter lain.

  14. Subejo Paijo says:

    kagum sama idealismenya, padahal tawaran dari medrep tuh suka heboh-heboh. Ada yang janji sampe mo beliin mobil segala.
    Semoga makin banyak dokter yang lebih memilih nurani ketimbang duit hasil ngebodohin pasien.

  15. gajah_pesing says:

    menanggapi pertanyaan daripada komentar pertama (efahmi), obat sakit hati ya… makan hati.. *eh*

    #kabur

    saia suka idealisme seperti ini, bukan atas nama pekerjaan, nama dan uang namun jasa dan pelayanan yang lebih utama..
    selamat bertugas dok..

  16. ReBorn says:

    kadang idealisme agak sulit untuk dipraktekan di dunia nyata. apalagi kalo memang kebutuhan ekonomi adalah tujuannya. iya, ni dok, sakit ati obatnya apa ya? ghehehe.

  17. BabyBeluga says:

    Parah deh kalau dokter udah kena komisi para penjual obat. Disini banyak Medical Representative. Tp untungnya disini banyak tersedia obat generic juga

  18. efahmi says:

    mirip ceritanya dg web designer yg harus bikin website dg warna ijo, karena yang terhormat bapak klien sukanya warna ijo. padahal segmen pasar visitor website demikian wajarnya lebih suka warna coklat. hehe.

    btw, kalo sakit hati obatnya apa ya dok?

  19. mLengse says:

    Yah namanya juga orang usaha, mungkin kita akan berpikiran beda kalo berada di posisi mereka.
    Terlepas dari itu semua, yang jadi masalah sebenernya bukan standar itu, tapi seberapa besar ruang untuk diskusi dan inovasi kita. Lha wong standar, guideline, protokol yang tingkat internasional aja selalu terbuka untuk diperdebatkan, masak yang model gini gak bisa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *