Karyaku Diakui Bukan Milikku

Ini curhat. Curhat yang sama sekali tidak menyenangkan.

Agustus tahun ini saya diajak kolega untuk membantu sebuah lembaga pendidikan di Bandung buat bikin textbook. Lembaga itu, yang terdiri atas beberapa dosen kaliber berat, kepingin nerbitin sebuah buku tentang hamil kembar. Cuman karena mereka dokter spesialis, tahu sendiri mereka sibuknya kayak apa, jadi mereka cari dokter-dokter umum untuk menulis buat mereka. Dan pilihan penulis rekrutan itu jatuh ke tangan saya.

Tugas saya gampang-gampang susah. Sebagai penulis, saya harus merangkum beberapa textbook bahasa linggis, ambil inti sari, lalu menulisnya kembali dalam bahasa Indonesia. Karena saya dokter umum yang pengetahuannya nggak spesialistik, maka tugas saya adalah memeriksakan tulisan saya tadi ke staf lembaga itu sebagai dokter spesialisnya, untuk mendapatkan koreksi. Sebagai penghargaan atas jerih payah saya, saya dibayar dengan tarif yang sudah disepakati.

Saya ngerjain buku itu mati-matian. Sampek-sampek kurang tidur segala. Termasuk blog saya terbengkalai (ingat semenjak bulan Agustus, Georgetterox jarang posting setiap hari?). Sebenarnya motivasi saya kerja bukan sekedar karena saya dibayar, tetapi karena yang saya kerjakan ini adalah textbook yang akan dipakai mahasiswa-mahasiswa kedokteran, sehingga reputasi saya sebagai penulis sangat dipertaruhkan. Saya mbayangkan kalau buku ini jelek tulisannya, pasti nama saya ikutan borok.

Buku itu ditargetkan selesai diedit bulan September, coz lembaga itu berniat me-launching buku itu bulan Oktober, dalam sebuah simposium nasional. Adalah susah ngerjain textbook setebal sekitar 100-an halaman hanya dalam enam minggu aja, tapi saya nggak pernah putus asa. Akhirnya buku itu selesai juga ditulis dan diedit, lalu saya dan teman-teman sesama penulis menyerahkan draft bukunya ke lembaga pendidikan yang menyewa kami, untuk diterbitkan. Buku itu, diberi judul Kehamilan Multifetus.

Saya sempat diberi tahu bahwa launching buku itu akan berlangsung dalam sebuah simposium di sebuah hotel di Bandung pada awal Oktober. Sayangnya saya nggak bisa dateng, coz selama Oktober saya tinggal di Surabaya untuk ujian masuk seleksi dokter spesialis.

Sebulan saya tinggal di Surabaya, saya nggak dengar kabar apapun tentang buku itu. Apakah buku itu dicari segmen pembaca yang diincar? Apakah hasil cetakannya sesuai dengan desain lay-out yang kami buat? Apakah pembaca senang dengan isinya? Saya ingin tahu, tapi tidak ada yang kasih tahu saya. Lembaga yang menyewa jasa saya tidak kasih komentar. Teman-teman saya yang sesama penulis buku itu juga nggak kasih kabar apa-apa.

Desember ini diawali minggu yang cerah. Ternyata saya lulus seleksi untuk masuk sekolah dokter kandungan di Surabaya. Dengan senang, saya memberi tahu staf lembaga yang menjadi supervisor kami ketika menulis buku itu. Sekalian saya mau ambil buku Kehamilan Multifetus yang telah digarap oleh saya dan teman-teman selama berminggu-minggu itu. Lha saya kan penulis buku itu, mosok saya nggak dapet eksemplar sih?

Saya pun menghubungi teman saya yang juga menulisi buku itu. Dia bilang dia belum mendapatkan bukunya juga coz buku itu ternyata baru di-launching weekend lalu. Rencana semula me-launching buku itu pada Oktober bergeser ke bulan Desember, coz simposiumnya sendiri juga ikut ditunda sampek awal Desember lalu.

Tadi siang, saya dateng ke lembaga itu buat ambil bukunya. Supervisor saya yang menyambut saya, langsung kasih saya eksemplarnya. Buku itu nampak menarik, praktis, ringan, padahal itu textbook lho. Dengan semangat saya membuka daftar nama penyusunnya. Dan mendadak saya merasa ada es meluncur dalam perut saya.

Nama saya, tidak ada di dalam daftar penyusun itu.

Daftar penyusun itu hanya terdiri atas nama-nama dosen yang tugasnya mengoreksi tulisan saya. Tapi nama saya, dan teman-teman sesama penulis, yang justru bekerja menyusun kalimat demi kalimat, alinea demi alinea, tidak disebut sama sekali dalam buku itu.

Saya pun bertanya ke supervisor saya, kenapa kok nama kami nggak ada. Supervisor itu nampak sangat kaget, coz menurut sepengetahuannya, sewaktu draft buku itu ditetapkan, nama saya dan teman-teman penulis masih ada.

Supervisor saya mencoba menyelidiki. Ternyata, setelah penetapan draft buku itu, ada lagi “penetapan” yang lain di mana supervisor saya nggak hadir. Dalam “penetapan” itu, seorang staf lembaga protes coz nama penulis non-lembaga itu dimasukkan ke daftar penyusun, padahal penulis tersebut (dalam hal ini saya dan teman-teman penulis) sudah dibayar dari awal untuk menulis naskahnya. Jika nama saya dan teman-teman penulis dimasukkan ke daftar penyusun, dikuatirkan kami akan kecipratan royalti, coz memang hukum mewajibkan royalti harus diberikan ke semua orang dalam daftar penyusun. Nama saya dan teman-teman dihapus, coz kami kan bukan staf lembaga, melainkan hanya penulis yang disewa untuk menulis “atas nama” lembaga itu. Adapun uang jasa nulis yang dulu diberikan ke saya dan teman-teman, dianggap sebagai uang untuk “membeli” hak cipta kami…

Saya nyaris ketawa dalam hati membayangkan ada orang berupaya menghalang-halangi saya dapet royalti. Padahal saya nggak ngurusin royaltinya, saya lebih peduli bahwa saya telah menulis naskah untuk separuh buku itu dan mereka serta-merta membuang nama saya begitu saja dari daftar penyusun. Tahu nggak, padahal kalau nama saya tetap ada di situ, saya bisa pakai buku itu sebagai portofolio karya ilmiah jika suatu hari nanti saya ingin dipromosikan jadi doktor atau profesor. Pengakuan nama saya lebih penting ketimbang segepok duit, kok tega-tega banget mereka ngaku buku itu karya mereka padahal saya yang nulisinnya?

Ya nggak salah sih, staf-staf lembaga itu juga memang ikutan ngedit. Tapi kan saya juga ikutan berkontribusi mengarang banyak sekali, kok enak banget nama saya dihapus pada saat-saat terakhir menjelang bukunya naik cetak?

Nggak cuman nama saya dan teman-teman penulis yang dihapus. Tapi juga nama beberapa orang lain seperti lay-outer, desainer cover, dan ilustrator. Tak ada pengakuan atas nama orang-orang itu, padahal karya mereka bertebaran di buku itu.

Sudah telanjur, buku Kehamilan Multifetus itu kadung di-launching. Sudah disebarkan ke banyak orang, dan takkan ada yang tahu bahwa ada orang-orang selain staf lembaga itu yang justru berperan banyak agar buku itu bisa tersusun cantik seperti itu. Di halaman dua buku itu hanya tertulis bahwa buku itu ditulis oleh staf-staf lembaga saja, sedangkan desain lay-out oleh penerbitnya. Bah, jelas-jelas saya tahu persis yang bikin lay-out-nya bukan mereka. Dan ini cuman gara-gara ketakutan akan risiko royalti yang mesti dibagi-bagi.

Saya bisa bilang ke orang-orang bahwa saya ikutan nulis buku itu, dan saya bisa bayangkan bahwa saya akan dikira membual. Tapi saya nggak berniat lupa bahwa saya pernah menulis textbook dan saya ingin merekam memori prestasi kecil itu baik-baik. Maka saya menulis curhat ini, untuk pelajaran buat saya dan buat orang-orang penulis seperti saya. Menulislah. Publikasikanlah. Dan jangan pernah biarkan lagi orang lain mengaku-ngaku karyamu sebagai hak miliknya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

60 comments

  1. Ria, kok aku mbaca komentarmu ini jadi berkaca-kaca mataku.. 🙁

    Terima kasih, Ria, udah menerangkan bahwa praktek penghapusan nama ini udah biasa di kalangan profesi kita. Aku merasa miris membacanya, tapi sekarang aku mulai terima bahwa kenyataannya memang demikian. Kasihan banget dokter umum, mereka menulis capek-capek, tapi yang menikmati pengakuannya hanyalah dokter spesialis yang sebetulnya kemampuan menulisnya belum tentu sebagus dokter umum.

    Sekaligus getir juga, ngeri menerima bahwa ternyata "Tidak semua profesor bisa menulis", apalagi "menulis sambil ngupil", dan ini bikin aku ketawa sekaligus mulai bangga sama diri sendiri. Sumpah, nanti kalo beberapa tahun lagi aku jadi profesor, aku nggak akan pernah menulis sambil ngupil!

    Terima kasih juga, Ria, bilang bahwa "kemampuan dan pengalaman nggak bisa dibeli". Mereka boleh beli tulisanku, tapi nggak akan pernah bisa beli kemampuanku merangkum-rangkum empat textbook menjadi draft setipis 100-an lembar saja. Tuhan tahu, aku yang menang.

    Aku akan bisa bikin buku lagi, Ria. Dan aku mau mengarangnya sendiri dengan namaku di cover-nya. Dan aku mau tersenyum sendiri lihat buku itu dipajang di toko buku, tanpa harus hati nuraniku berteriak bahwa sebenarnya buku itu dikarang oleh dokter lain yang pangkatnya lebih rendah daripada aku..

  2. Di lingkungan akademis, sudah jamak 'dokter umum kebanyakan' dipakai untuk mendongkrak para tetua yang punya nama tapi tidak punya waktu (dan sebenarnya saya ragukan juga punya kemampuan bikin buku sungguhan). Mereka punya gelar seabrek, tapi bukan berarti mereka pintar menulis. Atau punya banyak ide. Atau sanggup melakukan riset di lapangan. Akhirnya, dipilih jalur 'outsourcing' alias ndandake (bhs jawa, artinya mbikinin, jadi orang lain yang bikin. ) Lalu siapa yang bikin? Ya kita, dokter umum jelata, karena kita masih muda, masih butuh rekomendasi mereka.

    Saya sering banget diminta bantuin penelitian guru saya. Nama saya tidak bakal dicantumkan, karena ini demi penghitungan "cum". Kalo yang nulis 1 orang "cum"nya 25. Kalo banyak orang ya akan dibagi2. Demikian juga dengan nerjemahin buku. Bahkan, kalau berkorespondensi, saya juga yang nulis suratnya. Saya tulis, "Dear Prof…" dan ditutup dengan "Yours sincerely, Prof. …MD, PhD." Jadi, kalau saya dimintai 'bukti korespondensi' pas daftar PhD nanti, saya sebenernya sudah punya banyak (tersenyum getir).

    Memang menyedihkan karena saya cuman berada di belakang layar dan tidak ada nama saya di credit title. Tapi saya tahu kalau itu saya yang buat dan mau tidak mau saya tersenyum. Kalau karya saya diakui seorang guru besar, artinya karya itu baik. Saya nggak kehilangan apa-apa. Kemampuan dan pengalaman itu masih milik saya sendiri. Orang yang mendapat barang jadi tidak pernah punya kemampuan yang dimiliki pembuatnya.

    Masalahnya kalo memang Vicky berharap ini bakal jadi masukan CV dan tidak diakui, tentu saja itu menyakitkan. Tapi sejujurnya ini yang biasa terjadi di lingkungan penerbit buku kedokteran. Selalu harus ada nama tetua dicovernya supaya dipercaya. Padahal penulis sebenarnya ya kita-kita. Tapi siapa sih kita? Kita nggak punya doktor pehade propesor spesialis anu konsultan. Seharusnya sih, nama kita tetap masuk di tim penulis (dan ukuran hurupnya 10 font lebih kecil pun nggak masalah). Karena tidak mungkin Bapak2 yang mbahurekso itu mengerjakan sendiri semuanya.

    Tapi kenyataannya kita cuman kuli tulis. Yang saya lakukan sekarang adalah mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dari guru-guru saya sambil membuat penelitian sendiri (pengalaman itu dihasilkan, tidak bisa dibeli). Suatu saat nanti saya tahu saya bakal menulis buku sendiri. Saya tahu semua yang saya lakukan sekarang cuma permulaan. One must start somewhere. Tidak semua ilmuwan diberkahi dengan kemampuan berbahasa dan menulis. Memang sekarang kita cuma 'digunakan' sama orang2 yang lebih tinggi dari kita, tapi nggak selamanya. Apalagi dengan internet yang bisa diakses siapa saja. Kita bisa bikin publikasi yang nggak bisa diganggu gugat siapapun, secara mandiri.

    Vicky, sebagai sesama orang yang bisa nulis dengan gampang sambil ngupil, you know what i'm talking about, don't you?

  3. Klaim? Ya mau sih. Cuman teknis mengklaimnya gimana, itu yang masih dipikirkan. Aku sendiri merasa, pengadilan publik lebih ampuh ketimbang pengadilan meja hijau.

  4. Duh sayang sekali kalau kejadiannya spt itu. Mereka kok tidak menghargai hasil karya orang lain ya..?
    Sekecil apapun kontribusi seseorang dalam buku itu tak dapat dipandang sebelah mata, karena tanpa semua orang yg terlibat dlm proses pembuatannya maka buku itu tak akan bisa terbit.
    Emang gak ada yg berniat utk meng-claim ya mbak..?

  5. nadiafriza says:

    "Tahu nggak, padahal kalau nama saya tetap ada di situ, saya bisa pakai buku itu sebagai portofolio karya ilmiah jika suatu hari nanti saya ingin dipromosikan jadi doktor atau profesor. Pengakuan nama saya lebih penting ketimbang segepok duit" << jleb banget..

    salam kenal mbak.. semoga kejadian kayak gini ga keulang lagi ya 😐

  6. Mbak Vannya, ada yang terlewat di sini yaitu aspek penerjemahan. Penerjemahan itu adalah keahlian tersendiri, coz nggak gampang menerjemahkan teks dari bahasa linggis ke bahasa lokal. Bahkan sampek-sampek penerjemah itu sudah dijadikan profesi tersendiri. Ini menandakan bahwa penerjemahan adalah aktivitas yang profesional, dan berarti ya harus mendapatkan tarif yang layak. Jadi ya sebenarnya nggak pantes kalau nerjemahin itu dikira gratis..

    Mas Hoeda, kayaknya itu bukan dua pilihan yang sama enaknya. Kalo aku sih jelas nggak akan mau ambil dua-duanya, hahaha.. Yah, kayaknya ini memang pelajaran baru ya buat kita. Tidak semua penerbit yang akan menerbitkan buku kita itu penerbit keren.

    Mbak Rohani, persis banget apa yang disebut Mbak itu, begitulah perasaan saya. Kayaknya benci banget lihat buatan saya sendiri diakui buatan milik orang lain. Tega bener mereka pikir mereka sudah membeli saya, tapi nggak memberikan apa yang secara etisnya sudah jadi hak saya. Saya merasa diperlakukan tidak adil..

  7. Sakit banget memang rasanya mbak kalo karya kita nggak diakui sebagai karya kita… masalah capek2nya dan uangnya sih nggak masalah. tapi itu buah karya kita. seperti kita yang hamil dan melahirkan seorang bayi terus tiba2 anak kita diambil orang dan diakui sebagai anak dia. menyebalkan banget…

    tapi mau bagaimana lagi ya mbak, orang2 itu memang sudah dibutakan oleh uang. padahal penulis itu semuanya pasti lebih bahagia melihat namanya ada dikarya yang telah mereka tulis daripada mendapatkan uangnya…

    mereka pikir uang bisa membeli segalanya

  8. Hoeda Manis says:

    Pilih mana, nama gak muncul tapi dapat duitnya, atau nama muncul di buku tapi gak dapat duitnya? Nah, yang terakhir itu pengalamanku. Namaku muncul di buku, tapi penerbitnya bangkrut sebelum sempat bayar royalti. Tetep aja aku nangis bombay karena ngitung2 jumlahnya.

    Yeah, seperti yang dibilang mas Fahmi, pengalaman adalah guru terbaik, hanya saja harganya mahal…

  9. hehe pernah ngalamin juga…tapi waktu itu cuma nerjemahin buku textbook yang rencanya akan dirilis versi terjemahannya dalam bahasa INdonesai, jadi lebih mendinglah daripada kamu yang harus mikir nyusun lau out segala…. tapi waktu itu emang kolega yang memberi tugas gak pernah menjanjikan kalau nama kita bakal dicantumkan jadinya ya gpp karena toh kita cuma nerjemahin.

    yah lain kali sejak awal harus jelas dulu perjanjiannya…karena keliatannya di Indonesia banyak yang kayak gitu…sabar ya Vic

  10. Dian, makasih ya udah dibantuin ngamuk. Sekarang saya udah jadi murid sekolah spesialis, praktis sekarang kudu jaga kelakuan. Imbasnya, saya jadi nggak boleh ngamuk. Repot juga sih, padahal kalo saya nggak ngamuk kan berarti saya bukan manusia normal, hahaha.. Ya udah, sekarang ngamuknya saya delegasikan aja ke jemaah blog, hahaha.. 😀

    Mbak Murni, iya makasih juga. Gw sampek sekarang masih bertanya-tanya, kok tega yah sekolah kedokteran kandungan di Surabaya mau nerima gw yang pecicilan ini, hihihi.. Mungkin lain kali kalo gw dah lulus, gw pingin bikin buku lagi. And this time, I promise, gw mau pastikan semua perjanjian apapun harus pakai tanda tangan..

  11. Dokter Vicky,
    gue juga sebel dengan hal2 kecolongan model gini. Kepercayaan (atau kealpaan akan satu hal) kita pada lawan bisnis disalahgunakan buat kepentingan sepihak.

    Tapi (ada/tidak langkah dokter & teman2 menggugat mereka), daripada senewen tiap kali keinget ambil positifnya, ya.

    Yg jelas diakuinya/disukainya buku tersebut bisa jd pengukur prestasi diri sendiri. (Lepas dari soal pengakuan siapa yg sebenernya capek2 ngerjain)

    Plus perjanjian hitam di atas putih, buat lain kali.

    Oya, buat diterimanya di sekolah dokter kandungan, selamat ya, dok! Gue seneng banget, deh, bener! 😉

  12. di says:

    Mbak vick,,,,,,banyak pembaca yang mengambil hikmah dari punya mbak vick,,,terimakasih ya mbak share pengalamannya, meski tidak habis pikir bahwa orang yang kita hormati TEGA berbuat seperti itu (mengaku-ngaku secara keseluruhan),,,,,,,:((

    Duh mbak,,,,,darah saya juga ikut terkesiap kalau saja saya membayangkan apa yang terjadi pada mbak vick,,,,,jatoh juga pada saya dan orang lain,,,,,

    Saya mau sedikit,,,(barang hanya sedikit kok),,,,,bantuin NGAMUK_NGAMUK hahahahha,,,,,, 😛

  13. Well, Adit, padahal kalo mereka bilang dari awal bahwa yang mereka inginkan adalah ghost-writer, aku jelas nggak akan ambil proyek itu. Ghost-writer jelas nggak cocok buatku yang lebih tergila-gila nyari prestasi.

    Aku rasa picik banget ide soal ngejar-ngejar royalti itu. Memangnya di dunia ini orang cuman mau ngejar duit doang?

    Ichanx, makasih ya. Iya nih gw berusaha sabar..

    Mas Fahmi, aku ingin memperjuangkannya, tapi aku nggak tahu bagaimana cara memperjuangkan tanpa harus merusak hubungan baik yang dulu sudah terjalin antara aku dengan orang yang sudah menyewaku. Di dunia ini ada jenis orang-orang yang nggak mau menerima gugatan dengan baik. Aku takut aku telah berurusan dengan orang-orang yang tidak baik.

    Trims, aku berharap lingkungan baru di timur bisa lebih sopan dalam menghargai karya koleganya sendiri. Aku sungguh senang bisa hidup di sini.

    Mbak Allisa, terima kasih buat doanya. Saya udah sering denger novel dibajak, textbook dibajak, tapi saya juga nggak ngira bahwa karya ilmiah pun bisa dibajak bahkan ketika masih berupa bentuk draft. Saya bahkan nggak tahu apakah ini juga disebut pembajakan, lha wong yang melakukannya adalah sesama penulis koleganya sendiri. Saya masih ngeri menerima kenyataan bahwa kejadian ini dilakukan oleh kolega saya sendiri, dosen saya sendiri, guru saya sendiri..

    Saya akan jadi SpOG, dan saya akan berusaha keras supaya bisa lulus. Dan tidak ada yang lebih saya inginkan selain bikin buku dengan nama saya sendiri untuk menyebarkan info yang bermanfaat kepada ilmuwan-ilmuwan lain untuk kepentingan kebaikan orang banyak. 🙂

    Mbak Dini, memang mestinya sih demikian seperti yang Mbak Dini katakan. Sulit meragukan kemampuan mereka mempertanggungjawabkan, coz mereka memang ahlinya dalam bidang ini, hanya saja mereka nggak punya waktu untuk mengarang sehingga mereka memutuskan untuk membayar orang untuk itu.

    Tidak, saya tidak patah semangat buat menulis lagi kok. Hanya saya masih mencari kesempatan yang tepat. Mungkin dengan mencari penerbit indie seperti yang Agus bilang.

  14. Kimi says:

    Telling the world may get their attention. Syukur2 mereka menyadari kesalahan mereka. Dan siapa tahu, di revisi buku berikutnya, nama Mbak dan teman2 bisa dicantumkan. ^^;

  15. IbuDini says:

    Seharusnya bila ingin memghapus nama karya hendkanya mereka berpikir dulu ya Bu, bagaimana mempertangung jawabkan karya tersebut.
    Yang penting jangan patah semangat ya Bu dokter untuk menulis lagi…

  16. Halo mbak Vicky, lama gak berkunjung di sini, eh, ternyata ada cerita serem gini. Serem karena memang pembajakan terhadap kekayaan intelektual adalah hal yang mengerikan. Jangankan yang seperti mbak Vicky alami dalam kerjaan sehari-hari aja kalo ada yang sembarangan mengcopy data kita tanpa minta ijin lebih dulu rasanya udah gak bener..

    Saya yakin mbak Vicky orangnya sabar dan bisa menyikapi ini dengan dewasa. Ya, benar ini bisa dijadikan pelajaran yang amat sangat berharga buat kita semua..

    Saya hanya bisa mendoakan semoga mbak bisa secepatnya dengan sukses meraih gelar SPOG. Jadi dokter kandungan yang ramah, baik, dan informatif juga sabar ke semua pasien mbak dan saya harap someday u'll make ur own book with ur own name is written on its cover 😉

  17. efahmi says:

    nah, orang bilang pengalaman itu guru paling baik. sekarang pengalaman itu sudah ngajari kita tentang kontrak kerjasama, walaupun dengan ongkos belajar yg amat mahal.

    aku nggak tau masih sempat diurus ato enggak, tapi dalam kasus ini namamu masih potensial untuk diperjuangkan, seperti yg aku pernah bilang di japri.

    anyway, tuhan tidak tidur. segala kerja keras itu nanti pasti ada ganjarannya, walaupun tidak dalam bentuk yg diharapkan, tapi insya allah akan ada hal baik yg kamu terima di masa mendatang.

    sekarang waktunya siap2 untuk hidup baru. denger2 sih lingkungan baru di timur sini lebih manusiawi daripada di barat sana. dan jangan lupa, di lingkungan barumu, kamu sudah punya banyak relasi dg power yg lebih gede (you know what i mean).

    pokok'e maju terus, good luck 😉

  18. ditter says:

    Ya ampun, Mbak. Aku turut prihatin…
    Mmmm…. Mungkin dari awal mereka memang mencari ghost-writer, sayangnya tidak dikomunikasikan dengan jelas. Begitulah, kalau ada proyek penulisan, memang sebaiknya ada perjanjian yg jelas, kalau perlu di hitam di atas putih, misalnya apakah nama penulis selaku ghost writer berhak dicantumkan sbg penyusun atau tidak.

    Btw, utk masalah royalti, sebenarnya nama penyusun yg tercantum di buku sama sekali tidak otomatis kecipratan royalti. Itu semua tergantung isi surat perjanjian antara lembaga penyedia naskah dengan penerbit. Jadi, kekhawatiran si oknum lembaga kalau royalti akan lari ke nama penyusun, itu sangat tidak beralasan, kecuali karena (alasan) serakah, hehe….
    Semangat, Mbak! Semoga pendidikan lanjutnya berjalan lancar 🙂

  19. Yah, ini bukan waktu yang tepat buat bikin gw marah. Bulan ini gw disibukkan dengan pindah rumah, perbaikin gadget, ngurus sekolah baru, jadi peristiwa pengezoliman karya gw ini malah nambah-nambah stres aja. Gw juga berharap sih orang-orang yang telah menyewa gw bisa menjelaskan ini ke gw, sebagai tanda bahwa mereka beritikad menjalankan manajemen komunikasi dengan baik. Lha gw sendiri ragu itu bisa terjadi, coz selama proyek ini berjalan gw melihat di antara mereka sendiri banyak banget miskomunikasi..

  20. bridge says:

    Semoga ada penyelesaiannya ya Vicky… Agar hati elo gak penasaran dan kesel kayak sekarang… Ngerti banget kecewanya elo… Turut prihatin…

  21. lischantik says:

    ajukan protes
    minta agar di revisi buku tsb
    agar nama anda & teman2 di masukkan juga
    kan anda & teman2 anda yang berjuang u/ nyeleseinnya.

  22. Iya yah, hari ini banyak banget yang gemes sama pengalaman buruk ini, hehehe.. Sekarang setelah baca komentar Jemaah semua, saya jadi rada terhibur dikit. Makasih.. 🙂

    Saya ngerti sekarang bahwa kesalahan saya adalah saya percaya begitu aja pada perjanjian yang nggak ada kontrak tandatangannya. Perjanjian kekeluargaan ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan memuaskan..

  23. ReBorn says:

    wah, ga kebayang… sabar bu.

    tapi sebelumnya ada semacam tandatangan kontrak gitu ga sih? kalau saya yang kena begini sih, ini masalah besar buat saya. pengakuan itu penting.

  24. kok ada ya manusia yg berpendidikan tapi kelakuan spt itu? cuma gara2 royalti pula. Duh, Vick..kamu lagi diuji kesabarannya. gemes saya baca artikelmu ini. gemes sama orang2 yg sudah bertindak seenaknya sama kamu. manusia..manusia…duh duh..

  25. Salam kenal Zubaidi. Ya, memang kepuasan macam punya Zubaidi itu yang saya cari. Saya juga ngerti sekarang bahwa kelemahan terbesar di proyek ini adalah ketidakjelasan pengakuan nama penyusunnya yang memang tidak diatur sejak awal.

    Iya yah, Susan, gw sebenarnya nggak meributkan royalti itu kok. Mendadak jadi sakit hati gw kalo gw diantisipasi sedemikian rupa supaya nggak nagih minta duit. Ck ck ck, medit kok saru..

    Makasih ya, San. Gw sih berusaha keras supaya sekolah gw lancar. Memang salah satu motivasi gw ngerjain buku itu lantaran materinya adalah bagian dari sekolah gw besok. Nggak pa-pa deh, setidaknya gw dapet ilmunya.. *menghibur diri*

  26. Gw jadi ikutan 'gemes' Vic bacanya. Gile, itu mah jelas2 tindakan pencurian!! Masa yang ngedit dicantumin, yang kerja keras banting tulang nulsi tu buku malah ga ada namanya hanya gara2 urusan royalti. Padahal kan masalah royalti bisa dibikin item di atas putih, pake materei, kalo semua penulisnya yang bukan merupakan warga tu lembaga, ga akan mempermasalahkan royalti karena udah menerima bayaran sebelomnya. *mmmm, bisa ga yah kaya gituh??*

    Ya sutra lah Vic, diikhlasin ajah. Yang penting lo udah buktiin kemampuan lo dengan nulis tu buku.

    Ga usah sedih lagi yah Say, ini pelajaran berharga buat lo.

    oya, satu lagi. sukses yah sekolahnya. moga2 cepet lulus dan bisa jadi seorang dokter spesialis yang hebat. kiss kiss dari Zahia

  27. suduthati says:

    Salam kenal mba, dari jauh, tetangga pulau. *_*
    Saya bisa memahami banget apa yg dirasakan, karena dulu saya juga pernah menyusun buku untuk dipakai di kampus dan di terbitkan legal. Sungguh suatu kepuasan dan kebanggaan tersendiri emang, bukan karena uangnya tapi lebih pada kepuasan batin dan akademik yang berlangsung lama.
    Menurut saya memang kekurangannya adalah ketidakjelasan kontrak, perjanjian atau apalah namanya. Mba pasti lebih tahu ttg itu. Ada yang namanya tertulis dan dapet royalti selama diterbitkan, ada yang nampang nama dan sekali aja dapet bayaran, dianggap udah dibeli, dll dech. So, pelajaran buat kita semua adalah; manajemen 'kekeluargaan' tidak selamanya baik buat semuanya. Tetap semangat mba…terus berkarya yukkkk…

  28. Iya, mirip lah sama si PhD yang di Doctors itu. Lha asumsi kami kan tadinya, bahwa ini kan karya ilmiah, jadi pasti juru ketik pun mestinya disebut dong. Lha ini sama sekali nggak tuh..

  29. Fanda says:

    Jadi teringat novel Doctors deh…
    Mungkin harusnya masalah pencantuman nama itu disebutkan sejak awal negosiasi ya?
    Hmmm..jadi begitu yah, di dunia kedokteran pun ada yg namanya ghost writer. Kirain cuma di politik, entertainmen sama per-bloggeran…

  30. Mbak Elsa, aku sering banget sih baca yang kayak gini-gini di novel n film-film, tapi aku nggak ngira kejadian ini bakalan nimpa aku sendiri! Rasanya kayak mimpi buruk di siang bolong..

    Mbak Chichi n Mbak Ina, ya, di kalangan dokter gini ndak biasa pake legal-legalan. Memang jadi pelajaran sih buat kita, lain kali ya nggak boleh malu-malu pakai surat materai gitu. Saya memang kepingin sih bikin buku tandingannya, tapi belum kebayang caranya bikin yang lebih bagus.. 🙂

    Mbak Dewi, aku nggak kapok nulis kok. Cuman mungkin lain kali lebih hati-hati buat percaya orang lain aja. Makasih ya.. 🙂

  31. DewiFatma says:

    Duh, bingung deh mau ngomong apa.

    Emang yah, kita tuh sering kecolongan oleh orang yang kita percayai nggak akan memperdaya kita, ya?
    Udahlah, yang sabar ya, Jeng? Tuhan tuh nggk buta kok. Jgn kapok nulis lagi yah?
    Semangattt..!!

  32. Chic says:

    well, buat pelajaran?

    saya sih selama ini meskipun yang minta temen, tetep aja pake perjanjian legal. errr kebawa profesi juga kali ya… jadi saya merasa jelas posisi saya ada di mana, ghost writer kah atau nama saya berhak ada di buku itu 😀

    eh bikin buku sendiri ada Vic! buat saingannya buku yang itu.. Sapa tai dengan demikian pembeli buku jadi bisa compare mana tulisan yang asli dan bukan 😀

    yang sabar ya jeng….

  33. Elsa says:

    kok bisa gitu yaaa
    menyebalkan sekali tuh namanya.

    aku pikir, pasti hal hal seperti itu banyak sekali.
    rasanya menyakitkan, sudah pasti

    ah, semoga mereka yang berbuat curang dapat balesannya sendiri suatu saat nanti

  34. Nggak ada kontrak tertulis, Mbak, coz proyek ini sifatnya "kekeluargaan". Pasti saya dan teman-teman aja yang ke-ge-er-an karena merasa dianggap keluarga. Lha yang meminta kami kan dosen kami sendiri, kami nggak pakai acara kontrak yang mengikat secara hukum segala. *Ternyata salah ya cara mikir begitu?*

  35. Bekti says:

    Wah, ga enak banget ya… Emang sih kita harus hati-hati kalau masuk suatu proyek. Perhatikan dengan cermat isi kontrak yang tertulis… Yang namanya bahasa hukum emang beda dengan bahasa sehari-hari. Saya juga pernah, bukan tulisan sih, tapi design. Dan tanpa di edit pulak, dan tidak menerima bayaran sepeser pun! *kesal*

  36. Itik Bali says:

    Saya juga pernah gitu kok mbak
    melihat karya kita di media tapi bukan diakui sebagai karya kita

    Maksudnya sih bukan demi uang. tapi cukup dengan sedikit pengakuan, bahwa karya kita adalah bagus dan layak untuk ditampilkan

  37. Lha namanya juga perjanjian kekeluargaan, mana ada hitam di atas putih? Lagian kan itu dosen kami sendiri, guru kami sendiri, mosok sih murid nggak percaya gurunya? *naif*

    Aku nggak tahu, apakah aku akan seneng kalau buku ini jadi best seller. Aku cuman berharap buku ini bisa diambil hikmahnya, mulai dari proses pembuatannya, penerbitannya, distribusinya, sampek pembacanya. Mudah-mudahan ini bukan terakhir kalinya aku nulis buku. Dan semoga lain kali nggak kecolongan lagi oleh gurunya sendiri.

    Well, ide tentang ketakutan membagi royalti itu sungguh menggelikan.. Royalti itu bisa dicari, tapi kredit prestasi itu yang mahal harganya.

  38. depz says:

    behhhh

    kejam banget tuh
    pasti menyebalkan dan ga enak bgt dgituin

    hanya karena takut membagi royalti, jd ngga bisa menghargai hasil jerih payah org lain.

    sucks..

    tetep semangat bu dokter 🙂

  39. AdeLheid says:

    Bingung mau komentar apa. Tapi klo aku jadi Vicky pasti kesel sih. Tapi kalau memang ngga ada perjanjian diatas putih tentang nama pasti dicantumkan atau tidak juga ngga bisa bilang apa-apa ya. Tapi kalau memang buku ini jadi best seller, boleh coba untuk mulai nulis sendiri 🙂 dan semoga lain kali ngga kecolongan lagi kaya sekarang 😀 Semangat terusss yaaaa!

  40. Tujuan saya bukan kepingin mengumumkan kepada dunia bahwa nama saya sudah disingkirkan, Kim. Saya hanya ingin nama saya ada di dalam buku yang sudah kadung tersebar itu, that's it.

  41. Kimi says:

    Gak ditulis aja di surat pembaca, Mbak? Cantumkan saja nama-nama yang terlibat didalamnya. Ini penting! Ini masalah hak cipta dan penghargaan atas jerih payah orang lain! *halah*

  42. Nggak, bahkan perjanjiannya nggak nyebut-nyebut bahwa saya ini jadi ghost writer. Jelas-jelas saya bilang ke supervisor saya, "Kalau bukunya sudah jadi, saya mau pamerkan nama saya di buku ini ke orang tua saya di rumah."
    Saya rasa supervisor saya sudah setuju itu, tapi nampaknya ada staf lain yang tidak setuju kalau nama seorang penulis non-lembaga dicantumkan juga di situ.

    Mudah-mudahan pengalaman ini, cukup saya aja yang merasakan. Saya memang naif, saya nggak mengira guru-guru saya sendiri akan melakukan itu kepada saya.

  43. Joko Sutarto says:

    Wow, itu sama saja seperti pembajakan karya intelektual. Dan celakanya, kaum intelektual yang notabene bukan orang-orang bodoh justru malah melakukannya. Hebat! Sama memalukannya seperti plagiat beberapa doktor yang pernah terjadi di ITB beberapa waktu yang lalu.

    Namun, di satu sisi saya juga sependapat dengan Mas Arman. Kalau dari awal perjanjiannya memang Mbak Vicky diperlakukan sebagai Ghost Writer ya tak bisa nuntut. Tapi ternyata ndak, ya?

    Ini sebuah pembelajaran buat kita semua. Terima kasih sharing pengalamannya, Mbak Vicky.

  44. Memang semenjak awal tidak ada pernyataan bahwa tentang kesediaan jadi ghost writer. Perjanjian ini dibuat secara kekeluargaan, karena sebenarnya staf-staf lembaga tersebut adalah dosen-dosen kami ketika kami masih kuliah S1 dulu, jadi memenuhi job ini sebenarnya kami anggap sama dengan menolong guru-guru kami. Biarpun perjanjiannya hanya secara kekeluargaan, kami tetap berupaya mengerjakan penulisan itu seprofesional mungkin, seperti menulis dengan kaidah buku teks yang benar, memenuhi deadline, dan sebagainya. Kami sama sekali nggak berprasangka guru kami akan mengambil karya kami tanpa menyertakan nama kami sedikit pun.

  45. Ditya says:

    Bisa jadi pelajaran buat yang lain, kapan-kapan kalo dapet job beginian lagi harus jelas dari awal perjanjiannya. Kalo udah kejadian kayak gini kita nggak bisa apa-apa lagi soalnya. Cuman bisa berdoa semoga mereka mati berkalang dosa

  46. Nggak ada perjanjian dari awal kalau kami akan jadi ghost-writer. Kalau memang jadi ghost-writer sih saya jelas nggak akan ambil proyek ini dari awal. Saya kan ambil proyek ini bertujuan mau bikin kredit untuk kepentingan curriculum vitae, bukan buat nyari uang.

    Tulisan asli memang ada di saya. Staf-staf lembaga itu mengeditnya, coz mereka kan dokter spesialis, jadi mereka merasa "lebih berhak" atas ilmu dalam textbook itu ketimbang saya yang dokter umum. Apa ya ini? Penjajahan intelektual?

  47. Dina says:

    Tidak bisakah ditindak lanjutkan?
    Data draft tulisan asli tetap ada di mbak kan ya?Gemes deh sama orang-orang itu.

  48. Arman says:

    itu yang namanya ghost writer vic.
    banyak tuh celebrities yang trus bikin buku atau bikin otobiografi tuh sebenernya mereka gak nulis sendiri tapi ngebayar orang untuk nulis tapi nantinya di buku itu nama si penulis aslinya gak ditulis. jadi dibayar putus. yang dapet royalty ya si celeb nya itu.

    banyak kok penulis2 yang rela menjadi ghost writer karena kalo mereka nulis dengan nama sendiri malah belum tentu tembus penerbit. sedangkan kalo pake orang yang udah ada nama, kan lebih gampang untuk nembus penerbitnya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *