Simbol Natal dan Protes Lebay

Sewaktu umur saya 15 tahun, guru fisika saya curhat di depan kelas saya. Dia bilang, kalau Lebaran, sekolah dikasih libur seminggu. Tapi kalau Natal, guru yang Nasrani cuman dikasih libur pas 25 Desember doang. Jadi guru saya, yang memang agamanya Protestan, merasa iri..

Guru saya ngomong gitu sambil ketawa, sehingga murid-murid sekelas ikutan ketawa juga. Tapi saya, saat itulah untuk pertama kalinya belajar, bahwa negara ini memang nggak bersikap adil terhadap golongan minoritas.

Oh ya, waktu itu saya sekolah di SMA negeri yang mayoritas murid dan gurunya muslim.

Saya sering mikir, kenapa Pemerintah kasih cuti Lebaran sampek seminggu, sedangkan cuti Natal aja nggak sampek tiga hari. Memangnya orang-orang yang Natalan nggak kepingin kumpul lama-lama sama keluarganya ya? Lalu kalau kayak gitu caranya, sekalian aja pas Nyepi dikasih cuti seminggu untuk orang-orang Hindu, dan ada cuti Waisak seminggu untuk orang-orang Budha. Adil toh? Jangan bilang itu nggak mungkin.

Saya bisa bayangin, penduduk Indonesia yang mayoritas muslim ini pasti ngamuk kalau cuti Lebaran cuman dikasih dua hari. Tapi dalam sejarah Indonesia, nggak ada ceritanya orang Kristen ngamuk kalau dikasih cuti Natal dua hari. Tanpa bermaksud kasar, memangnya didengerin ya?

Jadi, saya ketawa denger sebuah lembaga religius kemaren bilang bahwa simbol Natal dipasang berlebihan di tempat-tempat umum. Sayang berita itu nggak melansir definisi kata “berlebihan”. Apanya yang lebay sih? Kalau nggak suka liat pohon Natal dipasang menjulang tinggi setinggi 30 meter di mal, ya nggak usah ke mal aja selama bulan Desember. Kalau pegawai toko yang pakai jilbab nggak mau disuruh pakai topi Sinterklas, ya nggak usah masuk kerja. Memangnya dengan mengagumi semarak Natal bisa merusak akidah ya? Kok kesannya mental religiusnya jadi nggak tahan godaan?

Saya suka ngeliat semarak warna merah, ijo, dan emas di mana-mana. Lagu Natal favorit saya adalah All I Want for Christmas is You-nya Mariah Carey. Dan saya juga seneng ciuman di bawah mistletoe. Tapi Natal tidak lantas mengubah saya menjadi seorang Kristen atau pun Katolik. Karena pandangan religius saya nggak bisa digeser cuman gara-gara simbol sebuah hari raya.

Jadi, sodara-sodara mayoritas yang nggak seneng liat simbol Natal, segel saja mulutmu dan berhentilah jadi orang lebay. Negara ini bukan cuman milik umat agama kalian sendiri, tahu. Biarkan orang lain merayakan hari rayanya dengan bersorak-sorai, toh mereka juga nggak pernah laporin anak-anak kalian yang main mercon saban kali habis taraweh. Kenapa kita nggak coba berkontribusi kreatif dengan bikin pohon Natal dari seribu ketupat? Selain buat dekorasi, toh bahannya bisa dimakan bersama-sama..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

49 comments

  1. m4nofsilence says:

    Libur lebaran seminggu? lho? sejak kapan?

    Waktu kerja di swasta saya cuma dapat libur pas tanggal merahnya doang (2 hari).
    Waktu kerja di pemerintahan saya dapat 4 hari (2 tanggal merah + 2 cuti nasional)

  2. bayu probo says:

    Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan. Sebagai orang Kristen, sering saya merasa sebagai waraga negara kelas dua karena tidak mendapat hak yang sama padahal dituntut menjalanai kewajiban yang sama. Dari tulisan mbak vicky dan tanggapan teman-teman ternyata masih banyak juga yang menerima orang Kristen Indonesia dengan lapang. Sekali lagi terima kasih.

  3. Natal milik aku juga nggak ya?

    *mikir-mikir*

    Hm, kalau Natal, itu jadi alasan buat toko-toko untuk bikin sale. Akibatnya toko-toko jadi balapan diskon dan akhirnya aku sebagai konsumen yang seneng. Jadi kayaknya, Natal milik aku juga 🙂

    *Oh, andai saja Galungan n Waisak jadi alasan buat sale juga*

  4. Menurut saya Natal sudah bukan lagi milik umat Nasrani sepenuhnya, tapi sudah milik orang banyak. Seperti hari ibu. Atau hari peduli Aids sedunia. Kalau ini masih diprotes, beneran deh, klewatan banget fanatisme agamanya. Kalah deh suporter Persib. Hehe.

    Pada dasarnya saya merayakan semua hari raya. Karena hari raya itu menyenangkan, seperti kesempatan untuk berpesta dan berkumpul sama teman dan keluarga. Lebaran saya ikut keliling kampung karna selalu dapet opor ketupat! Lagian suasananya meriah, kalo kata orang: happening banget gitu loh. Maknanya juga dalam: kembali ke fitri, memaafkan sesama. Agama saya nggak melarang itu, apa salahnya ikutan?

    Natal adalah momen untuk mensyukuri anugerah cinta bersama orang2 terkasih. Menjelang tahun baru kita bisa lihat ke belakang dan berpikir "Alangkah beruntungnya" dan ini bikin damai di hati. Menurut saya, orang yang bisa menerima segala hari raya mendapat semua berkah terbesar: jiwa yang fitri, damai di hati. Kenapa harus repot dipilih2 kalo bisa dapat semua?

    Salut postingannya!

  5. Angki, padahal namamu kan Ainur Rifqi ya, apa ada orang Kristen dinamai begitu? 😀

    Aku juga sering banget diselamatin Natal. Mungkin karena mereka pikir namaku Laurentina, hahaha.. Ya nggak pa-pa sih, asalkan aku kecipratan kadonya dari Sinterklas, hahaha..

    Aldrik, dua tahun yang lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana para pegawai bandara di Palangka Raya disuruh pakai topi Sinterklas pada hari Natal. Termasuk pegawai-pegawai yang pake jilbab. Saya tidak tahu apakah pegawai yang berjilbab itu keberatan atau tidak, tapi nyatanya mereka riang-riang saja waktu bertugas.

    Saya setuju, jika simbol Natal sudah mencapai urusan berpakaian di tempat kerja, mestinya hal itu bisa dimusyawarahkan. Mestinya serikat buruh sudah membicarakan ini. Tidak perlu dipelintir sebagai fenomena perayaan Natal yang berlebihan segala.

    Tapi kalau ini nggak terjadi, mungkin kita nggak akan dapet topik buat ajang diskusi, ya nggak? 🙂

  6. aldrik says:

    Maaf sebelumnya, saya juga seorang muslim. Tapi saya setuju dengan pendapat anda. Menurut saya, walaupun di pasang simbol natal di mana-mana juga menurut saya tidak masalah. Karena itu hak kita sebagai WNI. Ya meski ada ketentuan-ketentuannya seh

    Untuk masalah pegawai muslim di suruh memakai atribut natal, ya itu seh tergantung orangnya masing-masing. Tapi kalau saya pribadi, saya musyawarahkan dengan atasan saya, kalau penyampaian kita baik maka pasti hasilnya adalah yang terbaik. Untuk liburan, saya juga 2 hari raya Idul Fitri itu aja libur tapi menurut saya tidak ada masalah. Daripada tidak libur sama sekali, hehehe.

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pemeluk agama lain

  7. angki says:

    Walau saya Islam, saya masih sering terima ucapan Selamat Natal dari rekanan di kantor dulu. Karena kantor saya dulu yang satu-satunya Islam ya saya ini. Masuk gereja untuk motret misa dan juga pernikahan Nasrani pernah. Sehingga mereka berpikir kalo saya ini Nasrani.

    Btw Selamat Natal untuk semua.

  8. Kalau berdasarkan ajaran Islamnya, memang idul fitri itu dua hari. Tapi yang jelas tidak diajarkan sampek seminggu. Di Malaysia dan Saudi Arabia, lebaran cukup dua hari aja, setelah itu ya kerja lagi seperti biasa. Lebaran di Indonesia berhari-hari karena ada mudiknya. Cuma Indonesia, negara muslim yang punya tradisi mudik.

  9. DewiFatma says:

    hahaha.. aku suka kata-kata: 'memakmurkan para penjual teh botol'. Berarti niat mereka bagus dong.. :p

    Btw, di tempat kerjaku, biarpun kita mayoritas atau minoritas, libur hari besar agama hanya pas tanggal merah aja, Vick. Kalau mau nambah ya potong cuti. Tapi biarpun begitu, libur tanggal merah pas lebaran tetap lebih banyak yaitu 2 hari, sementara hari besar agama lain cuma 1 hari. Emang nggak adil ya?

  10. Tenanglah, Mbak. Memang ada beberapa orang yang perlu melakukan demo dan sweeping sebagai kebutuhan pribadi. Alasan pertama, adalah kepingin masuk tivi. Alasan kedua, adalah untuk memakmurkan para penjual teh botol.

  11. a very nice post 🙂

    seandainya byk orang indonesia yang berpikiran luas dan terbuka seperti jeng vic ini alangkah damainya indonesia 🙂

    ga ada tu demo2 ga penting dan sweeping2 ga penting. (ormas yg itu tuhh)

  12. thesalem says:

    Kalau dirasa gak perlu silahturahmi rasanya sadis bener haha, dimana-mana hari besar keagamaan (mau agamanya apa) maupun tahun baru etnis (mau etnisnya apa) yah judulnya ngumpul-ngumpul dong ah 🙂

    Aku mah biarkata gak diliburin, sedari kecil pas Imlek juga sekelas rame-rame bawa surat ijin setengah hari haha, abis kita kan juga sama dengan anak kecil yang lain pas merayakan Tahun Barunya kan, diwajibkan kionghi ke tetua dan kepengen juga ngider ngumpulin angpao saat salam tempel 🙂

    Kalau Natal biasa malam Natalnya ke Gereja Mbak, yang misa malam jam 22 gitu, besoknya makan keluarga, terus jalan-jalan deh, terutama ajak jalan keluarga yang dari Kupang. Makanya mana cukup ya libur 1 hari hihi.

    Mbak minta emailnya boleh? mau invite blog. thx

  13. thesalem says:

    Nice posting Mbak.

    Udah biasa kita mah dipotong cuti dan bahkan ada yang kena potong uang kerajinan kalau mau silahturahmi sama keluarga besar di hari Natal dan Imlek hehe *ketawa miris*

  14. Mas Yoga, akur. Tapi saya tambahin, untukmu agamamu, untukku agamaku. Tapi pohon natalmu, pohon natalku juga..

    Wijna, memang konsep toleransi masih belum dipraktekin konsekuen di negara kita. Yang repot, bahkan dengan pemeluk agama yang sama pun, masih susah bertoleransi kalau ijtihadnya beda..

    Allisa, saya sendiri nggak mufakat kalau perbedaan dijadikan ajang uji keimanan. Perbedaan itu jangan dianggap bisa melemahkan iman dari satu-dua kelompok. Kalau iman seseorang sudah kuat dari dasarnya, nggak butuh keberadaan agama lain untuk melemahkan iman itu. (Ini apaan sih, kok omongan saya jadi ribet?)

    Pak Eka, betul banget. Saya sendiri bertanya-tanya kenapa Lebaran mesti dikasih libur selama itu, sedangkan hari raya agama lain cuman bentar.

    Mbak Fanny, kalo semua orang berpikiran seperti saya, nggak asik juga. Nanti saya nggak punya bahan buat ditulis dalam blog, hehee..

  15. salut dgn tulisanmu ini,Vick. Coba kalo saya yg nulis pasti diprotes banyak orang karena saya nasrani. hiks..emang susah ya jadi kaum minoritas? hehee…

    lha, kalo lebaran dan mal mal dihiasi ketupat dsbnya, saya juga suka menikmati. bagus itu. mal jadi cantik dan gak ngebosenin. seandainya semua orang berpikiran spt kamu…alangkah amannya dunia eh, Indonesia ini. gak ada lagi pertengkaran, kerusuhan antar umat beragama.

  16. Cerita Tugu says:

    kalau inyong perhatikan hari raya yang liburnya paling banyak adalah hari raya lebaran sedangkan yang lain itu pas pada hari rayanya saja, bener ngga mba?

  17. Nice posting, bu dokter…

    Kalau saya, jujur saja tak pernah merasa tersisih apalagi iri dengan 'keistimewaan' yang diperoleh oleh kaum mayoritas terutama dlm perayaan hari besar agama. Di hati saya, semarak dan sukacita Natal tidak akan berkurang hanya karena pemerintah memberikan libur yang sangat sedikit.. Sukacita Natal ada di hati, bukan pada kondisi 🙂

    Tapi saya sangat setuju kalau kita harusnya maju ke depan, bkn mundur pada pemikiran yang primitif. Hati kita harus lapang menerima perbedaan krn bukankah justru dgn adanya perbedaan maka iman kita akan semakin tahan uji?

  18. mawi wijna says:

    hahahaha, saya sekata dengan komentator lain. Artikel ini memang bener-bener bentuk protes yang unik dan menyentil, khasnya mbak Dokter. 😀

    Semoga pihak MUI ada yang membaca artikel ini. :p

    Yah, yang paling utama kita ndak boleh berburuk sangka kepada pemeluk agama lain. Banyak-banyak bergaul dengan pemeluk agama lain. Dengan yang ndak punya agama sekalipun dan juga dengan agama-agama adat.

    Bangsa kita ini memang dihuni individu yang beraneka ragam, harus pinter-pinter bertoleransi…hmmm…

  19. Gaphe says:

    waduhh bu dokter protes. hehehe…

    yaa kalo saya sih Lakum Dinukum Waliyaddiin.. untukmu agamamu dan untukku agamaku.

  20. Ya, saya juga ngerti perasaan tersisih yang dialamin temen-temen Kristen (dan non-muslim lainnya), dan saya juga menyesal nggak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saya jadi menteri pendayagunaan aparatur negara, saya mungkin kepingin kasih jatah libur hari raya yang sama untuk semua pegawai negeri, meskipun saya harus menanggung risiko dipecat untuk itu.
    Tapi pada prinsipnya, saya tetap berpikir bahwa hendaknya Natal diperlakukan sama semaraknya seperti Lebaran, demikian juga hari-hari raya religius lainnya. Setidaknya, semangat menyambut hari raya itu nggak usah dibatasin lah. Bagaimanapun, merayakan hari raya religius juga merupakan hak asasi beragama. Ah, kayak gini sih nggak usah dijelaskan lagi, kan udah diajarin semuanya waktu SMA kan? (Nggak tau ya kalau ada yang nggak lulus SMA..)

  21. Yunna says:

    aku juga sering heran mbak…..
    banyak temanku yang non muslim sering bingung kalau natal, soalnya liburnya cuma dikit….

    walau aku seorang muslim yang taat aku juga suka liat hiasan lampu-lampu natal, bagus banget……

  22. debhoy says:

    ini salah satu gunanya ngeblog, br tw saya ada protes bginian

    but, bukanny sok Kristen, Mba…
    tp liat aja deh, orang Kristen di buat tersisih jg tetep semangat di hatinya tentang Natal ga padam

    Sejujurnya semua agama kan mengajarkan kebaikan dan ketentraman, karena merasa jd bagian mayoritas dengan tidak mengurangi penilaian indah saya tentang Islam, tp kebanyakan yang jadi mayoritas malah kebablasan…

    Thanx yah Mba, postingan ini semakin membuat saya optimis bahwa orang-orang pintar dan edukatif seperti Mba masih bisa berfikir rasional, ga seperti yang saya temui kebanyakan

  23. yustha tt says:

    suka cara mb Vic menyampaikan uneg2nya… blak2an…

    kalau jalan kebenaran dianggap sebagai kebenaran, kita gk akan sampai pada kebenaran itu sendiri… (gk nyambung sama postingannya, tapi sy benar2 ingin menyampaikan ini)

  24. IbuDini says:

    Tulisan ibu Dokter satu ini selalu saja panas, lucu dan mendidik. saya suka…
    Apa yang mb tulis semua benar..kita sudah memiliki keyakinan masing2 jadi emang kudu saling menghormati dan tidak membuat seseorang merasa kita rugikan hanya karna perbedaan.

  25. Kayaknya koneksi gituan lebay juga deh, Mbak Sylvia. Lha kalau nggak semua orang ngerayain Natal, udah aja orang yang nggak ngerayain ya nggak usah diselametin tho? Gimana kalo gw buka praktek di Amrik situ, terus ada pasien berobat, lalu setelah gw obatin terus gw bilang dengan basa-basi, "Semoga cepet sembuh, selamat Natal!"..apa gw dianggap salah kalau ngomong gitu?

  26. BabyBeluga says:

    Mudah2an makin banyak orang broad minded spt km. Disini kata2 Christmas diganti dengan Holidays krn kaum liberal, demokrats, berkeberatan, dengan alasan gga semua orang rayain Natal dan gga semua orang percaya Tuhan. Logikanya kalau semua orang dituruti kehendaknya, gga akan abis2nya.

  27. Khas banget gayanya mbak Vicky…!
    Aku pribadi juga gak mempermasalahkan siapa saja merayakan hari besar agama mereka.. karena aku sendiri tak ingin ada yang menghalangiku merayakan hari besar agamaku.
    Memang sikap toleransi sangat dibutuhkan di negara yang sangat heterogen spt negara kita…
    Semoga saja pengamalan butir2 pancasila masih berlaku disini.. ^_^

  28. Padahal semangat Natal malah bikin untung lho, bukan bikin rugi. Kan menggairahkan perekonomian. Mulai dari bisnis kue, bisnis sewa kostum, sampek bisnis pohon cemara..

  29. ReBorn says:

    wah, lagi marah-marah… uh, serem. 🙂
    saya juga ngerasain hal yang sama. yang memprotes malah menurut saya yang lebay. aqidah saya juga ga akan berubah kalo cuma ngeliat warna jo, merah emas, mah… :p

  30. Dari dulu juga aku tahu kalau di Amrik, Natal hanya dianggap sebagai liburan akhir tahun, bukan hari religius. Tapi kasihan juga kalau mereka dipaksa mengeliminasi kata "Christ" dalam "Christmas", hanya supaya kedengeran netral. Partai mana sih yang rewel soal itu, Nge? Republik atau Demokrat?

    Ah ya, aku kesiyan juga sama Jepang. Sempat tahun lalu aku jadi escort buat orang Jepang di Bandung. Kutanya agamanya apa, Shinto atau Kristen, maksudnya buat nentuin apakah aku mesti kirimin dia kartu Natal apa enggak. Eeh..dia jawab dengan santai, "I don't have religion." Katanya, di Jepang, banyak orang mengaku Kristen tapi nggak pernah ke gereja. Halaah..gimana ini? Pantesan angka harakirinya gede banget di Jepang, nggak punya agama jelas rentan banget buat kena depresi.

    Makanya tho kalau ada hari raya religius di negeri sini, jangan diusilin atau dikritik macem-macem. Ekspresi hari raya itu penting lho buat menumbuhkan spiritualitas dalam pribadi individu. Kalau masyarakatnya dilarang buat mengekspresikan semangat hari rayanya, jangan kaget kalau nanti jadi benih chaos yang malah merusak kehidupan bermasyarakat.

  31. AdeLheid says:

    huhuhu… tulisan yg bagus. Dan kayanya di Amrik aku malah denger sekarang2 ini kayanya Natal ga boleh berbau Rohani. Jadi harus netral krn pengaruh partai tertentu. Jadi lucu aja mereka pny kata2 Christmas tapi ga boleh dipake, karena mengandung "christ" didalemnya :p
    Disini, supaya adil dan merata malah tidak ada libur hari raya keagamaan. Yang ada cuma hari libur Nasional & ulang tahun Kaisar setiap 23 des. Jadi ga perduli lebaran, natal, nyepi, waisak, tetep kerja…
    Aku jadi malah kangen suasana lebaran, natal & hari2 raya lain yg ada di Indonesia.

  32. Cahya says:

    Saya suka suasana Natal, walau bukan dari golongan Kristiani – jika mau terpaksa menggolong-golongkan manusia.

    Beragama itu selayaknya membawa kedamaian, itu saja, kalau masih ribut karena agama, rasanya jadi sia-sia saja beragama.

  33. Ah ya, Perancis itu juga norak. Melarang-larang burka, dengan alasan kebebasan beragama sebaiknya nggak boleh lebay. Mayoritas Indonesia mau meniru ini nampaknya. Heran, pikiran parno kok ditiru? Eh, ngomong-ngomong, parno sama siapa sih?

  34. Huda Tula says:

    ikut jadi pengemar ah…

    meski saya termasuk yang mayoritas, saya ga terganggu tuh ma semarak natal di mall-mall atau di hotel atau di mana saja.

    tapi…kecenderungan untuk parno ma atribut agama lain tidak hanya terjadi di negara ini saja sih. di Perancis, misalnya, kan ada pelarangan pakai jilbab tuh? di Amerika pernah ada yang mau bakar alQuran juga, kan?

    jadi, emang bener ma yang disampein 'the dream catcher' kita bergerak ke belakang. sikap paranoid kayanya emang lagi ngetren aja…

    so sad but true T_T

  35. ncies says:

    gud posting mba viky, apa adanya..saya suka menulis blog yang apa adanya…

    Benar sih, seharusnya memang kita saling toleransi, ketika kita berbicara A kepada orang lain, apa iya kita melakukan itu kepada diri sendiri..

    Bagus untuk menjadi wacana orang yang berfikir dewasa dan tidak sempit…

    salam kenal, god bless !

  36. Minggu lalu, dosen gw bilang, bahwa usia bertambah bukanlah jaminan bahwa individu tersebut akan menjadi bijaksana. Dan nampaknya, fenomena kepala sempit ini layak untuk kita khawatirkan bersama.

  37. Nice posting Vic;) Belajar bertoleransi itu memang susah kok… Tapi gue liat, semakin tua dunia ini orang malah semakin banyak yg berpikiran sempit… jaman semakin mundur kebelakang… Pity…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *