Review Film “Tanda Tanya”: Apa Itu Murtad?

Sebab, untuk menjadi orang baik itu, tidak harus selalu dengan menjadi orang Islam.

Pernahkah kamu hidup di lingkungan yang serba paradoks? Sewaktu kamu merasa berada di jalan yang baik, tetapi orang lain bilang kamu di jalan yang salah? Atau ketika kamu memilih sesuatu, tapi orang yang kamu sayangi nggak mendukung pilihan kamu? Atau kamu selama ini diajari sesuatu, tapi ajaran itu nggak sesuai dengan kata hati kamu?
Film “Tanda Tanya” alias “?” yang digarap Hanung Bramantyo ini bercerita tentang paradoksitas itu. Dengan setting daerah kumuh yang masyarakatnya keras, film ini bercerita tentang tokoh-tokohnya yang punya konflik dengan latar belakang agama berbeda-beda. Ada Menuk (Revalina Temat), muslimah yang sudah lama bekerja jadi pelayan di rumah makan Cina milik Tan Kat Sun (Hengky Solaiman). Kat Sun dan istrinya sangat sayang pada Menuk, tetapi Menuk dimusuhi oleh Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto), anak Kat Sun.
Menuk sendiri punya suami bernama Soleh (Reza Rahadian), aktivis mesjid yang pengangguran. Soleh merasa nggak punya harga diri, lantaran merasa nggak bisa memenuhi kewajiban sebagai laki-laki, dan semakin minder pula karena Menuk bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari hanya dengan jadi pelayan di restoran yang menjual babi.
Kat Sun sendiri adalah penganut Kong Hu Cu yang sangat taat. Ia sedih karena Hendra nggak mau sembahyang, padahal Hendra adalah anaknya satu-satunya yang diharapkan mewarisi restorannya. Hendra sendiri pengangguran, yang dimusuhin masyarakat sekitar (terutama Soleh) karena dia keturunan Cina. Sebetulnya Hendra kepingin bikin restoran itu lebih maju, tapi dia nggak percaya dengan cara Kat Sun mengelola restoran. Kat Sun memaksa semua alat masak dipisahkan antara untuk daging babi dan non-babi. Padahal, biarpun sudah dipromosikan oleh Menuk yang sehari-harinya selalu pakai jilbab, restoran itu dijauhin masyarakat muslim lokal lantaran prasangka masyarakat bahwa setiap restoran Cina itu pasti jual babi semua.
Tetangganya adalah Rika (Endhita), janda beranak satu yang baru masuk Katolik. Rika
harus menghadapi anak laki-lakinya, Abi (Baim), yang malu digosipin karena Rika pindah agama, sedangkan Abi bocah muslim tulen. Padahal Rika masih rajin jemput Abi sepulang mengaji di mesjid, dan Rika masih demen ngajarin anaknya itu baca doa Arab sebelum makan.

Rika sendiri pacaran dengan Surya (Agus Kuncoro), aktor yang selama 10 tahun cuman jadi figuran dan terpaksa tinggal di mesjid gara-gara nggak bisa bayar sewa pada ibu kost yang berkerudung dan nyinyir.
Sewaktu paroki di gerejanya Rika mau bikin acara drama tentang penyaliban Yesus, Rika ngajak Surya ikutan casting, dan ternyata Surya yang berjenggot tebal itu malah lulus buat memerankan Yesus. Surya kebingungan karena takut dikira murtad gara-gara masuk gereja, tapi yang juga nggak kalah sedih, sebagian jemaah gereja nggak suka Surya memerankan Yesus karena Surya beragama Islam.
Saya dan my hunk nonton film ini kemaren, dan tidak bisa bilang apa-apa selain menyatakan bahwa film ini bagus banget.

Saya ketawa ngakak pada waktu adegan Surya latihan pura-pura jadi Yesus di tempat wudhunya mesjid, dan salah tingkah sewaktu ketangkap basah oleh ustadznya (David Chalik). Terharu lihat Kat Sun ngamuk pada Hendra gara-gara Hendra memaksakan restorannya buka pada H+2 Lebaran, dan berteriak, “Bisnis itu bukan cuman sekedar nyari untung! Tapi…” Adegan ngamuk itu terpaksa buyar gara-gara Soleh dan teman-temannya sesama aktivis mesjid menyerang dan menghancurkan restoran itu karena dianggap nggak menghormati karyawannya (maksudnya Menuk, istrinya Soleh) yang masih berlebaran. Dan kasihan sewaktu Rika mencoba nelfon nyokapnya untuk bilang bahwa dia sudah dibaptis dengan nama Theresia, dan nyokapnya langsung mutusin telepon..
Film ini juga menyiratkan banyak ironi. Pemuda-pemuda yang sehari-harinya berkumpul di mesjid, ternyata di pasar malah menjelma menjadi preman yang memaki-maki Tionghoa. Ketika ada acara perayaan malam Natal, Menuk dengan jilbabnya malah ngurusin pembagian konsumsi di gereja. Dan Rika ternyata merasa lebih damai dengan menjadi Katolik, padahal dulunya Rika pakai jilbab.
Biarpun ini film serius, tapi ending-nya nggak terlalu mengecewakan. Banyak paradoks yang terjawab di akhir film. Kenapa Kat Sun sayang pada orang-orang yang beda agama, meskipun orang-orang itu nggak balas menyayangi Kat Sun. Kenapa saat pendeta minta Rika menulis arti Tuhan, Rika malah menuliskan ke-99 nama Asmaul Husna.

Kenapa Soleh dan Hendra saling membenci, dan ternyata bukan sekedar karena permusuhan sengit antara para aktivis mesjid dan keturunan Tionghoa.

Dengan sinematografi yang ciamik dan pemain-pemain yang irit make-up, “Tanda Tanya” menjadi film yang layak banget buat ditonton. Bikin penontonnya jadi mikir ulang, bahwa ternyata murtad dan sesat itu jauh banget bedanya. Glenn Fredly juga ikutan tampil lho di sini, nggak cuman sekedar jadi cameo tapi ikutan bikin penonton geregetan sama karakternya. Dan pada akhirnya, setelah saya nonton ini, saya pun dapet satu kesimpulan: Ternyata, definisi baik itu sangat relatif. Dan, untuk menjadi orang baik itu, nggak selalu harus dengan jadi orang Islam..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

44 comments

  1. Akhidul says:

    Seneng ada yang membuat review film (?). Aku sendiri tidak mau menyempatkan nonton film ini, karena terlalu asyik dengan kerjaan, hehe.

    Di negara yang sangat liberal seperti Indonesia, dan sedemokratis Indonesia, apapun bisa terjadi. Siapapun boleh membuat film, siapa pun boleh mencacinya, bahkan, siapa pun boleh membuat bom, hahaha.

    Inilah memang paradox demokrasi dan liberalisme. Kita boleh saja mencaci sesuatu yang tidak sesuai dengan pendapat dan keyakinan kita, bebas, Bro! hahah Dan, kita mesti siap juga dicaci orang karena caci maki kita, uhhh.

    Inilah demokrasi dan liberalisme, siapa saja boleh sekolah, kecuali yang gak punya duit, xixixix. Siapa pun boleh berpendapat, sesuai cara pandangnya, sesuai latar belakang sekolahnya, sesuai pengetahuannya. Lha, wong sekolahnya aja cuman SD, kumpulannya preman, masak harus berpendapat ilmiah, ah…gak perlu, harap maklum aja.

    Begitulah aku melihat film ini, jadi siapapun boleh berpendapat. Yang gak suka gak perlu nonton…xixixi selesai

  2. Adanya pop corn di tanganku bikin aku nggak bisa mbrebes mili, hihihi..

    Tapi kadang-kadang ada adegan yang bikin air mataku siap jadi kubangan di kelopak mata. Mbak Katrin, apa yang ada di film itu, sudah pernah menimpa keluargaku, jadi aku tahu rasanya..

  3. katrin says:

    aku juga suka banget ama film ini. Sempet bbrp kali mbrebes mili, kalo org Jawa bilang. Keknya film ini deket banget ama kehidupan…

  4. Jeng Anna says:

    ini filem tentang keberagaman agama dan toleransinya kan, belum sempet nonton euy *semoga ndak kena sensor dulu* hehehe
    Salam kenal 🙂

  5. Ya Ninda, memang lebih baik tidak berkomentar seolah-olah sudah jadi ahli bikin film, kalo memang belum nonton filmnya, supaya nggak terdengar sok tahu.

    Mudah-mudahan filmnya sebentar lagi bisa masuk Malang ya, supaya Ninda bisa nonton. 🙂

  6. NINDAAA says:

    tapi btw mbak setahu saya film cin(T)a juga menyinggung sisi yang sangat sensitif : SARA. tapi karena peredarannya ngga semua bioskop nampilin atau bagaimana karena film indie… semua orang tenang2 saja.

    bingung juga sih mau komentar hehe habis belum nonton ini

  7. NINDAAA says:

    wah saya juga belum nonton mbak..
    lucunya saya dapat undangan via email bersama beberapa blogger… gala premier di jakarta. mungkin butuh diliput atau bagaimana kurang jelas.

    entah kok ngirimin saya yang ngga mungkin ke jakarta dalam waktu dekat. berat diongkos.

  8. Richardo, daripada Anda meng-copy paste pendapat Damien Dematra (tanpa sebut link-nya yang bisa membawa jemaah Georgetterox langsung melihat apa yang bisa Anda salin), akan lebih baik jika Anda langsung mengatakan pendapat Anda sendiri setelah menonton sendiri keseluruhan filmnya, bukan hanya nonton trailer yang cuma dua menit.

    Jensen, sebetulnya apa yang kamu bilang hampir sama dengan apa yang diucapkan ustadz dan pendeta di dalam film itu.
    Ustadznya bilang, waktu Surya mau memerankan Yesus, biarpun masuk gereja, hati kita tetap buat Allah SWT.
    Bahkan pendetanya juga bilang, nggak ada sejarahnya keimanan hancur cuma gara-gara adegan sebuah drama.

    Membredel filmnya juga memang bukan tindakan cerdas. Sesuatu yang dilarang, malah akan semakin dicari-cari. Memboikot filmnya Hanung malah akan bikin orang penasaran kepingin nonton filmnya. Lembaga(-lembaga) yang membredelnya malah akan jadi bahan ketawaan.
    Damien memang bilang, sebagian besar masyarakat Indonesia masih anggap pluralisme itu tabu. Jadi ya film ini memang rawan didemo. Saya rasa ini bisa diantisipasi dengan pasang label "Bimbingan Orang Tua" pada poster filmnya, hampir samalah dengan peringatan yang Jensen bilang. Bedanya, nggak usahlah pakai adegan rajam segala, hihihi.
    Semoga filmnya bisa segera sampek di Jayapura ya, supaya Jenden bisa ikutan nonton.

  9. jensen99 says:

    'Murtad' itu, sebenarnya sama dengan 'bertobat', tapi dari sudut pandang yang berlawanan. (LOL)#menjelaskanjudul

    Saya belum nonton vic, baru baca2 review dan opini yang bertebaran di dunia maya. Soal kontroversinya saya santai saja. Kita kan tidak menggantungkan iman di layar lebar. Kalo sudah punya keyakinan pada kebenaran, mestinya gak terpengaruh apapun juga tontonannya.
    Tentu saja melarang peredaran film juga sama bodohnya. Pasang saja label peringatan di film itu, atau bikin film tandingan sekalian. Lengkap dengan adegan orang yang murtad dirajam sampai mati. Fufufu…

  10. daur ulang says:

    mba vicky : info yang aku baca salah satu sutradara indonesia mangatakan begini : bahwa Hanung memotret pluralitas dari perspektif yang sempit. dan sutradara itu menyarankan hanung untuk berguru kepada tokoh2 pluralisme sejati,karna menurut nya hanung tidak menguasai tema film yang dibuat nya dengan sepenuhnya.bener2 kontroversial sekali

  11. Lhaa..yang minta filmnya dibredel itu (organisasi) masyarakatnya sendiri, Mbaak.. :p

    Menurut kuliah filsafat di sekolahku, daya nalar itu ditentukan dari penggunaan logika. Untuk bisa menggunakan logika, dalam menyelesaikan itu harus pakai data, bukan pakai emosi cetek.
    Jadi, kalau mau bangsanya maju, harus pakai nalar, harus pakai logika, bukan pakai emosi.
    Bangsa kita ini sudah pakai logika semua atau masih pakai emosi ya?

  12. BabyBeluga says:

    Baca review km, kayaknya filmnya bagus dan bermutu ya. Mudah2an gga dibredel deh. Sedih dengernya, sesuatu yg bisa memberikan wawasan lebar untuk bangsa dan masyarakat kok harus dibredel. Kalau rakyat terus menerus diperlakukan begitu, wawasana pikiran bisa terbatas dong. Pdhal kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa tinggi wawasan dan daya nalar mereka.

  13. Hm, saya nggak ngerti urusan marketing film, tetapi menurut saya, film-film tentang antagonisme polisi/pejabat di Indonesia mungkin belum laris, Pak. Idenya mungkin kurang menjual, jadi mungkin produser takut kurang laku kalo dibikinin filmnya.

    Sebagai perbandingan, film bergenre pluralisme seperti film "?" ini mungkin nggak terlalu laris juga kalo dibandingkan dengan film horor semi bokep. Waktu saya nonton film ini dua hari lalu, teaternya sepi, ngantrenya cepet. Kesimpulan saya, film macem gini punya penggemar (seperti saya), tapi penggemarnya nggak banyak.

    Maka, lepas dari masalah ruwetnya birokrasi perundangan film di Indonesia, mungkin kita harus cari tahu apakah di negara kita ini, banyak sutradara atau penulis skenario yang bisa bikin film tentang antagonisme pejabat dalam kemasan yang menarik?

    E-eh, Pak Joko kapan mau banting setir jadi sutradara dan bikin film tentang polisi selingkuh? :p

  14. Joko Sutarto says:

    Nah, jadi seru, kan diskusinya. Seseru filmnya. He….He….

    Sepertinya saya memang wajib harus nonton dulu baru berkesimpulan yang lebih jauh dan jernih mengenai film ini.

    Tentang pengatagonisan tokoh Polisi itu saya kurang tahu persis yang lebih tepat pelarangan itu hanya etika saja, atau ada undang-undangnya. Yang pernah bilang begitu insan perfilman sendiri, yaitu Garin Nugroho. Saya pernah mengulasnya di artikel ini

    Film Dunia Tanpa Koma? Saya belum pernah lihat. Apa mungkin setelah era reformasi aturan itu sudah tidak berlaku lagi sekarang? Namun, sejauh ini memang faktanya sangat jarang menemui film Indonesia memunculkan tokoh Polisi jahat, Jendral makar, Menteri korupsi, Presiden selingkuh muncul ditokohkan antagonis di film Indonesia. Betul?

  15. Hahaha..saya nunggu-nunggu pertanyaan ini dari kemaren, ternyata baru muncul sekarang.

    Apa maksud saya menulis pernyataan itu sampek dua kali? Pak Joko pasti paham setelah menonton filmnya.
    Seperti yang saya bilang di paragraf terakhir, baik itu relatif.
    Kat Sun itu bukan orang Islam, dia Kong Hu Cu, tapi dia melarang karyawannya yang muslim bekerja di hari Lebaran. Berarti dia orang baik kan?
    Rika itu Katolik, tapi dia memimpin acara syukuran khatam al-Qur'annya Abi di rumahnya, berarti dia orang baik kan?
    Ini logika yang sangat sederhana, tapi keliatan di sini, bahwa orang-orang yang tidak beragama Islam juga baik. Apakah saya lupa menyebutkan kata "harus"? Ya, kalimat ini sangat multi tafsir. Tergantung sudut pandang masing-masing pendengar kalimatnya, dan juga sudut pandang masing-masing penontonnya.
    Silakan Pak Joko cari aja contoh-contoh adegan lain dalam film ini yang menjelaskan kalimat saya.

    "mengapa sampai sekarang pengantagonisan tokoh seperti Polisi dan Pejabat tetap dilarang di film Indonesia?"
    Hm, sebenarnya sudah pernah, Pak. Hampir lima tahun lalu, pada film serial Dunia Tanpa Koma yang dibintangi Dian Sastro dan Tora Sudiro dan tayang selama beberapa bulan di RCTI, dikisahkan polisi membantu pelarian tahanan bernama Jendra (yang dimainkan bagus sekali oleh Surya Saputra) setelah Jendra menyuap mereka. Tapi saya tidak pernah membaca film itu dilarang.

    Kalau saya nggak sekolah, mungkin saya mau bikin film juga. Tentang dokter yang disuruh pejabat bikin surat keterangan sakit palsu, demi membebaskan pejabat itu dari tuduhan penggelapan surat pembebasan tanah adat, gara-gara masyarakat pemilik tanah itu nggak rela tanahnya dijadikan jalan lintas antar propinsi. Kira-kira yang antagonis yang mana ya?

  16. Bayu Hidayat says:

    wih jadi pengen nonton. langsung cari trailer nya di youtube.eh ngeri juga nih film. biasanya MUI langsung kecam. ato FPI. ahhh peace aja lah ya

  17. Joko Sutarto says:

    Saya harus sangat berhati-hati mengomentari tentang film ini, terutama pernyataan yang diulang sampai dua kali, di awal dan di akhir tulisan ini, yaitu pernyataan:

    "Sebab, untuk menjadi orang baik itu, tidak harus selalu dengan menjadi orang Islam."

    Kata-kata itu menurut saya sangat berbahaya, berbau SARA dan multi tafsir. Dan tafsirnya bisa bermacam-macam. Bisa dijelaskan lebih lanjut, Mbak Vicky? Inti dari maksud kata-kata itu apa, ya?

    Tentang film ini, saya belum nonton, sih tapi membaca review Mbak Vicky saya terkejut. Terkejutnya karena kontroversial dari film ini yang bahas pluralisme dan katanya sangat liberal. Karena belum pernah saya nonton film Indonesia bisa sebebas ini dalam menokohkan orang dalam tokoh dengan konflik berbagai agama dan ras seperti ini. Ini daerah sensitif, SARA.

    Saya tidak mendukung maupun tidak menolak kehadiran film ini meski di dalam film ini sangat sensitif karena unsur pluralismenya yang diangkat di film ini. Toh, ini hanya sebuah film. Film, kan ceritanya fiktif, hanya rekaan manusia. Kenapa mesti harus marah-marah.

    Hanya pertanyaan saya, jika di negara kita sudah boleh buat film sebebas ini apalagi ini sudah menyangkut tentang agama dan ras (SARA) mengapa sampai sekarang pengantagonisan tokoh seperti Polisi dan Pejabat tetap dilarang di film Indonesia? Lantas apa bedanya? Toh semua, kan film juga, sama-sama fiktif. Saya melihat ada kontra produktif aturan film disini. Benar?

    Ada yang bisa bantu jawab pertanyaan saya?

  18. *40 menit yang lalu nerima pesan dari Zia Ulhaq, Mbak Zizy Damanik, n Eka Situmorang. Katanya nggak bisa komen di sini kalo komennya dari HP. Iya gitu??*

    *ini saya komen dari HP lhoo..*

  19. ika says:

    jd pengen nonton… koq kayaknya filmnya bagus ya vick… bener2 menampakkan keanekaragaman agama di indonesia ya…

  20. Film nya bagus yah… Udah ada dvd nya belom? hehe..

    Betul, untuk menjadi baik nggak harus menjadi penganut agama tertentu, orang baik karena hatinya, bukan agamanya..

    Agama adalah petunjuk agar orang menjadi baik, dan semua agama mengajarkan kebaikan.. 🙂 Yang membedakan hanya konsep ke-Tuhan-an kan?

    Thanks review nya yah… Satu lagi film Indonesia yang bermutu 🙂

  21. Well, kalo aku nggak nonton film ini, mungkin aku nggak akan ngeh bahwa banser itu berpakaian niru-niru tentara. Kenapa mereka nggak coba kombinasi warna lain buat seragamnya? Misalnya kuning loreng-loreng atau ungu polkadot?

  22. efahmi says:

    Yg mau memberedel film ini mestinya liat dulu filmnya kayak gimana. Sensi amat sih, masak cuman masalah image banser aja dibikin ribut? Film ini memang nggak sempurna, tapi nilai manfaatnya lebih tinggi lah. Kalo mau ribut2 itu film2 hantu semi bokep aja yg diberedel hehehe… Btw adegan yg paling mengharukan itu waktu abi ngasih tulisan pingin pergi supaya nggak ngerepoti orang tuanya 🙁

  23. Cahya says:

    Saya belum sempat nonton, semoga ndak dibredel, dan semoga malah bisa tayang di televisi biar ndak usah beli tiket nonton :D>

  24. Richardo, ya, memang bener, ada adegan tiruan Yesus disalib.
    Itu adalah adegan Surya yang sedang memerankan Yesus dalam drama tentang penyaliban Yesus di gereja, seperti yang saya tulis di paragraf 6.
    Betul jika Hanung bilang, lihat dulu isi filmnya, baru berkomentar. Bahkan saya yang bukan Nasrani pun terharu lihat adegan yang diperankan Agus Kuncoro itu.

    Saya nonton film ini di bioskop kemaren. Saya rasa hari ini filmnya masih beredar. Saya buru-buru nulis blog ini, sebagai tanda pembelaan saya terhadap filmnya, coz saya denger selentingan isu bahwa film ini mau dibredel. Saya rasa orang harus nonton filmnya dulu secara keseluruhan, bukan trailernya doang, untuk memutuskan apakah film ini layak bredel atau tidak.

    Wita, perasaan yang sama juga saya rasakan waktu liat trailer-nya. Dan meskipun ada beberapa tanda tanya yang berhasil dijawab, tapi tetap aja ada banyak tanda tanya lain yang belum bisa dijawab..

  25. ireng_ajah says:

    Terlepas dari soal Murtad, kepercayaan (agama) yang dianut adalah bener2 dari hati dan yakin akan apa yang kita anut. Bukan punya agama karena turunan orangtua walopun seperti itu, hehehe.. terlebih lagi pindah karena pacara ato apalah itu..

  26. daur ulang says:

    aku pernah lihat sekilas tayangan film ini di salah satu televisi swasta, ada adegan tiruan sperti TUhan Yesus di salib. saya langsung tanda tanya film apa ini koq pake bawa2 agama sgala….dan film ni ssngat kontroversial , tapi waktu itu hanung sempat ber statement bahwa lihat dulu isi film nya baru komentar…..apa iya mba vicky film ini mau d bredel…? masih tayangkan di bioskop?….

  27. Gaphe says:

    jadi pengen nonton, karena baca review kamu Bick, jarang film indonesia yang bahas pluralitas macam begini. biasanya nggak lepas kalo nggak esek2 yaa horore.. boleh deh, sebelum dbredel sama MUI..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *