Putus Fesbuk?

Tidak semua orang bisa menerima pengaduan dengan baik. Malah, tidak semua orang bisa membedakan, mana itu mengadu, mana yang cuman ngingetin, mana yang bahkan cuman cerita-cerita.Alkisah, saya punya sepupu yang masih a-be-geh. Dasar a-be-geh ya, kalau nulis status tuh isinya ya nggak jauh-jauh dari kehidupan alayismenya (ya ampun, apa sih istilah yang tepat dari alay-isme?)
Nah, kadang-kadang dia misuh-misuh gitu, mulai dari misuh soal temen-temen sekolahnyalah, soal pacarnyalah, kadang-kadang soal gurunya atau bahkan bonyoknya. Saya suka geli sendiri ngebacanya, alangkah cemennya kalau ngebandingin persoalan a-be-geh dengan persoalan saya sendiri, mengingat selama beberapa bulan terakhir, orang-orang yang saya pisuhin kebanyakan adalah pejabat pemerintah. Kadang-kadang saya pikir remaja-remaja itu lebih realistis daripada orang dewasa. Kenapa orang dewasa mau-maunya misuh-misuh tentang pejabat, padahal kenal aja enggak? Coba Anda pikir sedikit, pernahkah Anda ngirimin kartu Lebaran secara pribadi kepada Tifatul Sembiring? Kalau enggak, kenapa Anda ngolok-ngolok Pak Tiff?*nggak penting*Nah, nyokap saya kan friend-an sama sepupu saya yang suka misuh itu di Fesbuk (saya benci menggunakan istilah 'berteman' untuk dunia maya). Ya yang namanya juga orang tua ya, lama-lama risih lihat status muda-mudi jaman sekarang (ceilee..bahasaku! *dilempar Macbook*) yang isinya misuh-misuh melulu. Jadi suatu hari nyokap saya ngomong sama maminya sepupu saya itu kalau sepupu saya itu suka ngomong yang..yah, mungkin kurang pantas didengar.Berikutnya, beberapa waktu kemudian, nyokap saya di-remove dari daftar friend sepupu saya itu.
Hahaha!Nampaknya, kesimpulan nyokap saya, tiap anak punya orang tua sendiri-sendiri, jadi nggak perlulah ada orang lain yang menasehati anak itu selain orangtuanya.Justru sekarang saya yang ketawa terbahak-bahak dalam hati. Saya rasa, sebenarnya itu kesalahan sepupu saya. Tidak, kesalahannya bukanlah me-remove nyokap saya dari daftar friend. Kesalahannya adalah membiarkan orang tua yang TIDAK MEMAHAMI KONTEKS ke-alay-annya untuk membaca status Fesbuknya.. :pYa know, selalu ada gap budaya yang nggak bisa dijembatani antar tiap generasi. Kalian pikir, kenapa di toko baju selalu dipisah antar segmen orang dewasa dan segmen anak, bukan dicampur-campur? Karena nggak ada ceritanya orang dewasa nyaman milih-milih baju jika di deketnya ada anak-anak yang berantem rebutan siapa yang milih duluan baju motif Powerpuff Girl. Demikian juga, kenapa toko mainan harus dipisah antar segmen dewasa dan segmen anak? Karena anak-anak lebih suka mainan gelembung sabun buat ditiup-tiup, sedangkan orang dewasa pakai mainan sabun buat dioles-oles ke anu-nya. See? Inilah sebabnya tiap generasi punya ruangannya sendiri-sendiri, jadi kalau sampek dua generasi yang berbeda jalan pikiran itu berada di dua ruangan yang sama, pasti akan ada konflik. Konflik itu bisa macem-macam, versi besarnya mungkin perang mulut, versi kecilnya mungkin sebel-sebelan doang lihat kelakuannya.Bisa nggak, dua generasi yang berbeda duduk di ruangan yang sama tanpa konflik? Ya bisa dong. Caranya ya jelas, yang satu kudu bisa memahami gimana rasanya berdiri di sepatu yang lain. Anak, mestinya tahu bahwa risiko friend-an Fesbuk dengan orang tua, entah itu dengan bonyoknya, dengan pakde-budenya, dengan dosennya, atau dengan entah siapa, adalah apapun yang dia tulis akan ditanggapi dengan a la orang tua. Artinya dia akan menghadapi risiko "digurui", yang mungkin merupakan risiko yang dia nggak sukai. Demikian pula, orang tua juga mestinya tahu kalau friend-an Fesbuk dengan anak, entah itu anak masih remaja atau sudah kerja sekalipun, risikonya adalah membaca status-status yang mungkin terasa kekanak-kanakan baginya. Jika dia menanggapi status itu dengan nada menggurui, yang jelas tanggapannya nggak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapin si anak, bisa jadi anak malah sebel ditanggapin orang tua, dan akan bereaksi macem-macem, mulai dari menghapus tanggapan sampek membuang dari daftar friend.Kata kaum tua, kaum muda harusnya berterima kasih karena dia diberi tahu tentang cara yang benar. Lha saya rasa, kebenaran itu nggak ada yang absolut, artinya belum tentu apa yang benar bagi kaum tua itu adalah benar bagi kaum muda. Mungkin sepupu saya merasa lebih baik kalau dia menyelesaikan masalahnya dengan misuh-misuh di Fesbuk, coz dengan cara itu seluruh dunia bisa tahu bahwa temennya mungkin telah berbuat jahat kepada sepupu saya dan sepupu saya berusaha melawan. Meskipun dalam pandangan orang tua, misuh-misuh itu bukan tindakan yang pantas. Ngomong-ngomong, tindakan yang lebih pantas itu gimana, Om? Tante?Saya pikir, mungkin ini sebabnya, sampek hari ini masih banyak temen saya yang ogah di-follow orangtuanya di Twitter, coz mereka sudah jenuh diawasin orangtuanya yang sudah pada pensiun itu di Fesbuk. Sebenarnya, ada banyak cara lho menyaring aspirasi-aspirasi yang nggak diinginkan supaya nggak jadi rentetan sampah di timeline atau news feed kita. Mulai dari pakai aplikasi Mute di Twitter ataupun Hide di Facebook (saya pakai aplikasi ini untuk menghindari status sampah dari orang-orang tertentu, misalnya friend yang siaran online shop melulu, atau friend yang statusnya penuh dengan memaki-maki Amerika), sampek memblokir orang-orang tertentu supaya mereka nggak bisa baca status kita (tanpa harus remove mereka dari daftar friend).P.S. Kalau ada orang lain ngomong yang jelek-jelek tentang anakmu, kamu nggak perlu menanggapi mereka dengan serius. Bisa jadi itu benar, bisa juga salah. Tapi kalau pun itu benar, nggak perlu bilang, "Mama malu waktu Bu De X ngomong kamu suka makan sambil kecap-kecap!" karena itu hanya bikin anakmu jadi sebel sama Bu De X. Cukup bilang aja kepada anakmu, "Mama rasa, sebaiknya kamu berhenti makan dengan mulut kecap-kecap. Kamu kedengeran seperti kuda yang suka makan rumput di Selabintana." That's it.Eh, ini posting saya kok jadi bernada menggurui pula ya? Haiyaa..siap-siap deh bentar lagi saya di-remove. Hihihi..

http://laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Nah, makanya saya nggak mau meladeni a-be-geh yang ngomong alay gitu. Nanti mereka jadi merasa ditanggapi, dan mereka terbiasa ngomong gitu terus. Kalo terbiasa sampek dewasa, kesiyan mereka bisa dicap kayak anak nggak pernah sekolah.

    Saya ngerti para orang tua punya naluri mengoreksi anak yang senang misuh-misuh. Tentu saja namanya juga anak-anak, perlu belajar perlahan-lahan supaya bisa berhenti misuh-misuh. Saya sendiri sudah umur segini masih suka misuh-misuh kok, dan saya berusaha berhenti, meskipun usaha belajarnya sama sulitnya seperti perokok yang berusaha berhenti ngebul. Ya, mudah-mudahan kita semua bisa jadi orang yang wataknya lebih baik ya.

  2. Cahya says:

    Kadang satu pertanyaan saya, akankah mereka yang terbiasa dengan alay-nya suatu saat nanti benar-benar bisa menghadapi persoalan secara dewasa. Atau pada akhirnya sampai tua pun tetap hobi misuh-misuh, lha itu kan berarti ada kegagalan dalam edukasi pembentukan watak dong.

  3. Apa? Ninda masih suka main bekel? Niinn..ayo tanding!

    Wijna, itu sudah terjadi pada saya. Saya lagi enak-enak kerja lalu bapak saya ng-sms bilang nggak suka sama status fesbuk saya yang terakhir. Satu-dua kali masih oke, tapi lama-kelamaan bapak saya mengeluh tentang tulisan saya di status, lama-lama bapak saya pun saya remove!

    Tapi saya sadar nggak bisa begitu terus. Akhirnya bapak saya add saya lagi dan saya approve. Dan saya tetap menulis sesuka hati saya, biarpun bapak saya nggak seneng. Saya rasa, bapak saya harus menerima saya sebagai anaknya apa adanya, bukan memaksa saya untuk tidak berkelakuan seperti yang tidak disukainya.

    Slamet, pakai aplikasi Hide itu gampang banget. Kamu buka Facebook-mu di Personal Computer, kan ada news feed tuh. Di bagian bawah news feed, sebelah kanan, ada edit options. Di situ, kamu bisa bikin daftar Hide, berisi friend-mu yang nggak mau kamu lihat statusnya.

    Inge, itu enaknya ya kalo nyokap nggak gaptek. Ada tuh temen-temenku yang nyokapnya nggak bisa buka Facebook, jadi cepet heboh gitu kalo diceritain yang enggak-enggak oleh temennya yang kebetulan ngeliat tulisan temenku di Facebook. Aah..wong ndeso, wong ndeso! Sesungguhnya, semua salah paham yang terjadi di dunia maya itu, tidak perlu terjadi seandainya kita nggak terlalu rajin usil mengkritisi status orang lain..

  4. AdeLheid says:

    hahaha.. aku pernah kejadian nih, tp bukan krn misuh2 atau putus FB gt, tp lebih tepatnya "high security mode on" aja jadi yg berhubungan dgn org di kampung halaman aku tutupin gara2 mereka bikin gossip macam : "ortu ku nyuruh anaknya jd Romusa" klo pas aku tulis status lg stress kerjaan, "dibilang udah jadi OKB" kalo posting foto jalan2, "pacaran ama si A B C" padahal gara2 si pacar ganti gaya atau potongan rambut. Yang ada si nyokap kebat-kebit krn ga punya FB dikira anaknya berbuat aneh2 & ga tau hrs jawab apa kalau ditanya org. Tdnya aku block semuanya spy ga ada yg cerita aneh2 lagi ke nyokap.

    Tapi akhirnya aku bikinin account deh buat nyokap biar bisa liat kenyataan trus blocknya aku buka biar mereka jg bisa ngeliat respon si nyokap juga. jadi skrg semua udah aman terkendali & ga ada yg berani bikin gossip kacangan lg 😀

  5. aaSlamDunk says:

    banyak juga sih abegeh sekarang kaya gitu…
    pagi pagi udah bikin gak mood…
    untuk yg suka ngetag, status alay, misuh-misuh, jualan langsung di remove… eh tapi tadi pake aplikasi apa buat nge-hide (merasa katrok)

  6. mawi wijna says:

    sssst mbak dokter, Fesbuk saya sudah saya hide dari adek saya karena ortu suka memata-matai saya lewat fesbuk adek saya.

    Saya ndak mau kalau lagi di jalan tiba-tiba ditelpon ortu untuk membahas status saya yg muncul di fesbuk :p

  7. ninda~ says:

    ngga menggurui kok mbak, jadi catatan kalau suatu saat saya jadi orang tua.. (masih suka main bekel gini ngomongin jadi orang tua nin)

  8. Padahal para ABG itu yang tenang-tenang aja nulis-nulis alay, kok kita jadi keki sendiri bacanya ya? *soalnya kita nggak bisa ikut-ikutan alay*

    Halah, nggak cukupkah saya ngebuntutin Twitter kalian semua sampek-sampek saya kudu add kalian pula di Facebook? Saya lebih sering ngetwit lho ketimbang buka Facebook..

    *e-mail saya vicky [underscore] laurentina [at] yahoo [dot] com* #kode

  9. niQue says:

    hahaha… jadi geli saya
    soalnya pernah ngalamin hal seperti itu juga
    persis seperti itu deh pokoknya
    emang abg2 sekarang pada alay2
    jadi yang tua2 ini suka heboh sendiri mbacanya hahahaha

  10. Mudah-mudahan setelah baca blog ini, para jemaah blogku bisa sadar bahwa sebenarnya Facebook kita itu bisa dibikin private alias hanya untuk dibaca orang-orang tertentu.. :p

  11. Hoeda Manis says:

    Membaca post ini bikin aku punya alasan untuk bersyukur karena nggak punya akun di Facebook. Hahah!

    Emang repot ya. Lihat status alay, pala kita pusing. Baca status yang sok ceramah, jadi pengin muntah. Pas kita nulis stat sendiri yang biasa2 aja, orang lain salah paham. Mau dibawa kemanaaaaa hidup kita?

  12. Yup, di fesbuk gw udah jarang banget status-status alay gitu. Mungkin penyebabnya, populasi alay di friend list gw dikit banget. Mungkin juga, sebagian besar dari mereka udah gw kurung di daftar Hide, hahahahah!

    Yang gw kadang-kadang suka risih, orang-orang seumuran gw masih pada pake status alay. Eh, jangan-jangan gw yang udah ketuaan ya, jadi sebel sama status gituan..

    Kalau ada yang alay di timeline Twitter gw, gw teken Mute aja. Daripada mata jadi sepet..

  13. Bayu Hidayat says:

    tapi kok di facebook sekarang gw liat udah ngak heboh yah status status gitu. orang pada lari ke twitter. kalo di facebook buat chatting doang. ama narsis foto.

    hmm buat ABG yang status nya aneh aneh. hati hati entar jadi artis dadakan

  14. Mas Eko, awas ya kalo besok-besok misuhin aku. Aku sumpahin blognya jadi miskin komentar! Hihihi..

    Zippy, yah..kamu ngomong gitu coz kamu nggak a-be-geh lagi. Kamu ndak ngerti kenapa mereka harus menulis status dengan ejaan yang bikin sakit mata, dengan nama-nama alay yang bikin pembacanya seolah-olah nggak patut dihargain..
    Kalo ada yang kirim friend request ke saya pakai gituan, tanpa tedeng aling-aling, langsung saya reject. Pakai bahasa alay "neegh.." atau "lam kenal" aja langsung saya reject. Mata saya cukup sensitif kalo ngeliat ejaan yang mroesak mata.. :p

  15. Zippy says:

    Hhahaha…ngakak mbak bacanya 😀
    Tapi bener sih, banyak abegeh jaman sekarang yang kalo nulis status isinya cuma sumpah serapah yang, aduuuh…gak enak banget dengernya 😀
    Belum lagi lihat nama akun mereka yang (maaf) membuat saya sakit mata.
    Ya..ampun, pantang bener namanya, belum lagi pake kalimat yang susah dibaca 😀
    Kalo saya sih biasanya hide status orang yang gak saya kenal 😀
    Lebih aman dan sopan 😛

  16. Paling nggak asik ya, approve teman yang suka salah paham. Nggak di-approve jadi salah paham. Nggak boleh lihat foto kita, dia jadi salah paham. Statusnya dikomentarin, dia malah salah paham. Kita ngoceh bikin status entah apa yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan dia, dia jadi ke-ge-er-an dan salah paham. Pusing!

  17. zee says:

    Hahahahaaa..aku suka deh soal kirim kartu ke Pak Tif itu.

    Bener Vick, gap budaya antar generasi itu akan sekalu ada, dan jangankan yang beda generasi. Kakak adik saja pun bisa putus fesbuk. Mungkin adiknya kalau di fesbuk suka aplod foto2 dugem, sementara kakaknya bawel minta ampun. Akhirnya kakaknya pun gak di-approved di febsuk.

    Masalah becandaan antaer temen juga bisa bikin berantem… karena takut ada keluarga yg baca jadi salah paham. Jadi biar aman, mungkin pikir2 dulu kira2 siapa yg akan di-approved ya.

  18. Ay says:

    akangku saja ga ada di contact listku..hihihi.. takut salah kaprah kalo ada temen yang becandanya keterlaluan.. 🙂 lagian temannya juga beda..

    anehnya, dia juga ga invite aku sebagai temannya dia.. :))

    no problemo sih..santai aja..

  19. Padahal kalau nggak suka statusnya, nggak usah remove-lah. Cukup dibikin Hide aja, biar nggak ngotor-ngotorin news feed. Kalau putus Fesbuk malah merusak silaturahmi, apalagi diblokir?

  20. Ami says:

    Hahaha, udah sering putus fesbuk, lebih parah lagi diblokir. Padahal temen2 cewek ini kalo ketemu masih cipika cipiki… alasannya? mereka lebih suka hura-hura dan status fesbukku mulai mengarah ke spiritual…

    ma kasih sharingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *