Trik Curang Ujian

Terlalu banyak nonton film maling cerdas bikin saya ngerti pelajaran moralnya: Kalau kamu kepingin nangkep maling, berpikirlah a la maling.
Jadi, kalau kamu kepingin nangkep murid yang curang waktu ujian, berpikirlah a la murid yang kepingin curang.

Berbagai macam cara dilakukan buat nyontek.
Gambar: http://cuppasunshine177.blogspot.com

Kolega saya cerita, jaman dia masih kuliah S1 dulu, mereka bahu-membahu nyuri soal. Kebetulan sistem ujiannya ya sama aja dengan ujian mahasiswa pada umumnya: ada ujian tengah semester (UTS), ada ujian akhir semester (UAS). Bahkan ada ujian perbaikan. Biasanya, materi untuk soal UAS itu, sebagian diambil dari soal UTS. Malah, materi untuk soal ujian perbaikan biasanya ngambil dari soal UTS dan soal UAS. Jadi kuncinya, kalau mau sukses di UAS atau ujian perbaikan, ambillah soal UTS. Persoalannya, gimana caranya ngambil soal UTS, lha saban kali habis ujian, soal nggak boleh dibawa pulang?
Jadi kolega saya dan teman-temannya bikin strategi. Anggaplah berkas soal UTS itu terdiri atas 100 soal dalam 10 halaman. Nah, terbentuklah sindikat yang terdiri atas 10 orang mahasiswa yang ikut ujian. Pada waktu ujian dilaksanakan dan soal sedang di tangan mahasiswa, mahasiswa pertama bertugas nyobek soal halaman 1, mahasiswa kedua kebagian nyobek soal halaman 2, mahasiswa ketiga nyobek soal halaman 3, dan seterusnya. Masing-masing pelaku sudah bawa stapler buat menjepret berkas soal supaya tetap rapi seperti semula, tapi mereka umpetin halaman sobekan masing-masing, dan hasil sobekan itu mereka kumpulkan diam-diam sesudah ujian. Hasil sobekan dikoleksi, lalu difotokopi dan dibagikan satu per satu ke teman-temannya seangkatan. Jadi mereka bisa kembali mempelajari soal itu untuk UAS nanti.

Akankah ketahuan? Bisa ya, bisa enggak. Biasanya kelakuan tim pengawas itu selalu sama. Sesudah menit terakhir ujian, soal dan jawaban kan dikumpulkan di meja pengawas. “Kesalahan” pengawas adalah, mereka minta soal ditumpuk di tumpukan soal, jawaban ditumpuk di tumpukan jawaban. Coba kalau yang ujian ada 100 orang aja, mana pernah mereka meriksa bahwa ke-100 berkas soal itu dikumpulkan masing-masing dalam keadaan lengkap?

Tentu saja sekarang kampus makin pinter. Setiap mahasiswa disuruh menuliskan nama mereka pada berkas soal, jadi ketahuan nanti siapa yang berkas soalnya kekurangan halaman.
Mahasiswa nggak mau kalah. Mereka sudah sepakat nyatet soalnya sendiri-sendiri. Misalnya, mahasiswa nomer absen 1 nyatet soal nomer 1, yang nomer absen 2 nyatet soal nomer 2, dan seterusnya sampek nomer absen 100 nyatet soal nomer 100. Sepulang dari ujian, mereka ngumpulin catetan masing-masing. Jadilah 100 soal dalam berkas yang sama.

Kadang-kadang ada aja yang nggak mau repot nyatet soal. Diam-diam waktu ujian, dia ngeluarin HP, lalu dia potretlah itu soal.
Sudah nggak manjur pengawas nyuruh mahasiswa ngumpulin masing-masing HP-nya di meja pengawas. Kadang-kadang mahasiswa punya HP dua biji, jadi yang dia kumpulin cuman satu, dan satu lagi dia umpetin di saku bajunya. HP yang dikumpulin di pengawasnya itu jenis HP murahan, yang udah rusak, yang udah jatuh dari puncak Gunung Bromo berkali-kali, dan dijual di pasar gelap pun nggak laku-laku, jadi kalau pun hilang sewaktu dikumpulin di meja pengawas pun nggak pa-pa.
Tinggallah pengawas nampak seperti tukang tadah HP bekas..

Ngapain sih saya nulis ginian? Bukannya malah ditiru sama adek-adek yang masih sekolah buat jadi modus nyontek?

Ny Siami, ibunda dari murid SD yang disuruh gurunya memberi
contekan kepada teman-teman sekelasnya pada ujian nasional.
Sumber: http://okezone.com

Saya nulis ini, karena buat menuhin tantangannya Bair, yang tadi siang di Twitter minta saya nulis tentang #IndonesiaJujur. Saya simpati sama Bu Siami (baca kasusnya di sini), yang terpaksa diusir oleh para tetangganya di Gadel, Surabaya lantaran melaporkan guru anaknya ke Dinas Pendidikan Nasional. Pasalnya, si guru itu nyuruh anaknya Bu Siami buat ngasih jawaban ujian ke teman-teman sekelasnya supaya murid-murid sekolah itu lulus ujian..

Saya jijay setengah mati sama guru itu. Mbok ya ide nyontek itu paling pol ya dateng dari muridnya, jangan dateng dari instruksi gurunya. Guru kok nyuruh muridnya nyontek sih? Nih guru kurang gizi ya sampek-sampek mental pendidiknya berubah jadi mental tukang nyolong?

Saat saya menulis ini, anggota yang bergabung di grup Facebook Dukungan untuk Ny Siami sudah mencapai 1490 orang. Guru yang menyuruh putra Bu Siami untuk kasih contekan kepada teman-teman sekelasnya, sudah dicopot dari sekolah itu. Besok, Kamis, 16 Juni, Bu Siami akan menghadap aula Mahkamah Konstitusi untuk berbicara mengenai kasus yang menimpa putranya yang malang itu.

Saya nulis trik nyuri soal ini, supaya para sekolah lebih waspada. Anak semakin pintar diajar, nggak cuman pinter hard skill, tapi juga pinter soft skill. Kalau diarahkan, dia bisa jadi orang berguna buat bangsa. Tapi kalau nggak diarahkan, dia bisa jadi maling. Makanya sekolah sebagai lembaga pendidikan harus bisa menjaga mental murid supaya tetap jujur. Jadi sekolah harus bisa mengantisipasi upaya kecurangan dalam bentuk apapun. Termasuk sekolah harus tahu modus-modus apa aja yang dipakai muridnya buat main curang waktu ujian!

Saya sih udah berkali-kali nulis trik nyontek yang saya lakukan jaman saya sekolah dulu, sepanjang blog Georgetterox ini hidup. Yang rajin baca blog saya pasti sudah eneg baca tulisan saya tentang nyontek. Tinggal jemaah sekarang bagi-bagi tips nyontek waktu ujian, supaya para guru yang mestinya melek teknologi ini bisa dibantu mengantisipasi. Supaya anak-anak Indonesia bisa jadi anak yang jujur. Supaya bangsa Indonesia jadi orang yang jujur. Dan kita bisa jadi manusia yang mentalnya bermutu, bukan cuman mental maling a la koruptor..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. Ya, Huda. Dengan insiden pencontekan ini, mau nggak mau kita jadi bertanya-tanya apa sesungguhnya motivasi anak untuk bersekolah dan apakah motivasi itu efektif untuk tujuan sekolah yang diharapkan.

    Seorang teman saya di Perancis pernah bercerita bahwa penjurusan di sana bahkan sudah dimulai sejak sekolah menengah, sesuai dengan cita-cita yang diharapkan. Misalnya seorang remaja ingin menjadi penata rambut, jadi ketika SMA ia tidak masuk sekolah umum, melainkan langsung masuk sekolah kecantikan. Di sana ia langsung digembleng untuk menjadi penata rambut profesional supaya setelah lulus nanti dia bisa buka salon sendiri.

    Atau ketika seorang remaja ingin jadi atlet sepakbola. Maka dia pada usia remaja langsung masuk sekolah khusus sepakbola, dan di sekolah itu dia tidak diwajibkan untuk belajar mata-mata pelajaran selain apapun yang terkait sepakbola. Akibatnya pendidikannya pun lebih terfokus dan dia bisa mencapai profesi yang diinginkan.

    Indonesia belum seperti itu, Huda. Target Indonesia ialah masih kejar setoran untuk menghasilkan banyak sarjana. Targetnya bukanlah menghasilkan kaum profesional yang efisien dan efektif di bidang masing-masing. 🙂

  2. Huda Tula says:

    hmmm… saya mulai nyontek sewaktu SMP-sampek kuliah. kecuali kalau soalnya essay atau pas pelajaran favorit saya. Tapi kalau ada yang minta contekan tetap saya kasih.

    kalau menurut saya sih, untuk mengurangi contek menyontek, Penjurusan diadakan lebih dini. Trus siswa di kasi kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang memang dia sukai dan benar-benar membuatnya tertarik.

    kalau diingat-ingat lagi, waktu yang kita habiskan untuk belajar mempelajari materi yang tidak kita suka benar-benar buang waktu. padahal kalau sudah terfokus dari dulu, pasti sudah master di bidang yang memang kita ingini.

    materi pelajaran sekolah emang udah kebanyakan… buang-buang waktu aja..

  3. Saat ini Walikota Surabaya udah bekerja sama dengan RW setempat buat mengamankan rumah Bu Siami dari amukan warga tetangga. Terakhir kali gw baca berita, Bu Siami masih mengungsi ke rumah orangtuanya di Gresik karena ngeri dimusuhin tetangga. RW setempat juga diam-diam minta warganya supaya jangan musuhin Bu Siami. Kita harap dengan adanya pemberitaan media, penggalangan dukungan nasional dari kalangan dunia maya buat Bu Siami, termasuk juga kampanye blog pro Bu Siami, bisa bikin warga Gadel yang telah ngusir Bu Siami jadi sadar bahwa tindakan ngawur mereka itu dicemooh oleh seluruh negeri.

    Sebetulnya, warga ngusir Bu Siami karena diprovokasi. Pasalnya, gara-gara Bu Siami "nyanyi" di depan Dinas Pendidikan Nasional, kepala sekolah SD-nya jadi dicopot.

  4. Viiiccc, sori yah Say baru mampir dimari lagi 🙂

    Iyah gw juga ngerasa nelongso dengan kasus ini. Kayanya otak guru makin tiarap deh, mana dukungan masyarakat terhadap kasus ini justru lebih memilih yang salah, so jadinya klop. Indonesia makin ngawur ajah!!

    kalo ngomongin nyontek, gw juga dulu suka ko. Huehehe, parah deh ah! Tapi secara ga bakat nulis contekan kecil2 di kertas (2x ktauan Kakak kelas yang ajdi pengawas), makanya gw lebih memilih nanya ke temen ajah. Diaksih tau syukur, ga juga ora popo 🙂

  5. Aubergine says:

    kesel memang yah dengan kenyataan di negeri kita. masyarakat kita emang paling mudah diprovokasi. padahal salah, tp ngotot!
    apa pemerintah daerah ga bisa ngatasin yah?? cuman nyelamatin satu keluarga gitu loh. yang jelas2 benar. hadeuh… capek deeegh

  6. Nah lho, siapa suruh gurunya males?
    Makanya bikin soal juga yang sifatnya kuat tapi ndak usah banyak-banyak.
    Kalo guru berani nyuruh muridnya ngerjain lima soal essay aja, berarti mereka juga harus berani meriksa kelima soal yang dikerjakan murid-muridnya itu dong.
    Bukankah itu memang tugas guru, meriksa jawaban murid?

  7. Latree says:

    betul. jijay sama sekolah yang punya ide mencontek itu.

    aku masih bisa memaafkan contek-contekan antar murid. bukan ngepek lho ya. karena contek2an itu seringnya masih mengandung mikir. tapi kalo guru maksa murid ngasih contekan itu… ya memang pantes dicopot.

    aku juga setuju kalo soal dibikin esssay aja. pilihan ganda itu bikin anak males mikir.

    tapi kalau soal essay semua, gurunya yang males ngoreksi. dan ga kebayang gimana supaya bisa computerized…

  8. sibair says:

    Ah ya ampun mbak.. terimakasih loh… pantes kok traffic blog saya naek.. ternyata ada link saya di postingan ini… 😀

  9. Sebenarnya efek yang mau dicapai dengan dijemur itu apaan sih? Bikin keringetan gitu? Atau bikin jadi item?

    Sebenarnya kalo murid sampek niat nyontek, itu karena salah gurunya, Mbak. Salah gurunya nggak bisa kasih motivasi ke muridnya untuk mau belajar. Salah gurunya juga nggak bisa bikin murid memahami pelajarannya. Pendek kata, dia nggak kompeten jadi guru.

  10. IbuDini says:

    Jadi inget dulu waktu SMP yang pernah nyontek akhirnya ketahuan dan di jemur dilapangan upacara.

    Alhamdullilah saya selama sekolah nyonteknya cuma sekali waktu ulangan sejarah…terang2an baca buku , habis gurunya gak mendukung utk menjadi guru…dan bukan saya aja teman2lainnya juga iya.

    Tapi namanya akal anak murida pasti ada aja yang supaya tidak menyusahkan mereka sendiri jadi cara apapun itu pasti bisa dilakukan mereka.

  11. Menurut saya sih itu nggak curang, Mike. Lha nggak ada yang ngelarang kita ngapalin soal kan?

    Tapi saya rasa dosennya nggak kreatif. Mosok soal udah keluar di ujian utama mau dikeluarin lagi di ujian perbaikan? Mbok ya kreatif dikit dong, bikin soal yang baru..

    *kayak yang gampang aja bikin soal ujian, hihihi..*

  12. mikhael says:

    kalau ditempat saya, saban ada ujian teman2 mahasiswa udah bagi2 tugas buat menghapal semua soal yg keluar… selesai ujian semua ingatan kolektif dikumpulkan lalu dirangkai jadi satu… untuk mengantisipasi adanya teman yg ketiban Her atawa Remed…(kebijakan dekan,mahasiswa dilarang membawa pulang soal ujian)

    Nah yg kaya gitu kira2 dianggap sebagai kecurangan atau bukan mbak ? he he

  13. Demi melanjutkan sekolah, Bay. Lu kalo mau masuk SMP ditanyain nilai ujian SD-nya berapa. Bahkan gw mau masuk sekolah spesialisasi aja ditanyain nilai IPK S1 gw berapa.

    Padahal gw kalo ngelamar kerjaan nggak pernah ditanyain nilai lho.

  14. Mas Stein ini pasti sembahyangnya khusyuk, pasrah ngerjain matematik tetep lulus. Lha saya sudah se-pede apapun tetep aja kalo ngerjain matematik, ujung-ujungnya tetep ada salahnya..

  15. mas stein says:

    saya males nyontek mbak, modal saya pasrah, yang bisa saya kerjakan pake itungan, yang ndak bisa saya kerjakan sambil merem. berusaha meyakinkan diri sendiri kalo nothing to loose, apa yang terjadi terjadilah. ndilalah yo lulus. hahaha

  16. Galih, kita mengetahui bahwa pegawai mana pun yang mendapat penghargaan sebagai pegawai berprestasi akan dapet hadiah, baik berupa hanya selembar piagam atau mungkin malah kenaikan pangkat yang berarti kenaikan kesejahteraan.

    Kita harap motivasi serakah ini nggak menular pada semua guru kita. Salam hormat saya buat ibunda Galih yang berani bilang "Tidak". Saya mengerti, berkonflik dengan kolega di tempat kerja itu sangat tidak enak.

  17. galihsatria says:

    15 tahun yang lalu, saya ingat ibu saya pernah konflik dengan teman sesama guru karena beliau menentang seorang guru yang memberi bocoran jawaban soal ujian ke siswanya agar nilainya bagus sehingga dianggap ia jadi guru berprestasi. Waktu itu masih menjadi "kejahatan individual", belum menjadi "kecurangan institusi" seperti sekarang.

    Ketika ibu saya tanya kenapa harus melakukan itu, beliau menjawab karena beliau punya anak yang masih kecil2 (saya). Itu adalah untuk menanamkan nilai2 integritas pada saya yang masih anak-anak. Mengajarkan nilai tidak lewat nasihat saja, tetapi lewat keteladanan.

  18. Ada, Man. Gurunya nyuruh muridnya yang paling pinter kasih contekan ke temen-temennya, supaya dapet pencitraan bahwa seolah-olah satu sekolah itu lulus ujian semua..

    Memang ketahuan nyontek itu malu-maluin banget, Man. Kesannya jadi maling kok nggak becus, gitu. Lho, gimana ya?

    Mas Eko, aah..Mas Eko ini nggak pernah tahan deh kalo liat yang buka-bukaan dikit. Paha temen sendiri kok dilalap seh? :p

  19. Arman says:

    baru tau gua ada kasus ini. masa sih kok gurunya malah yang nyuruh muridnya kasih contekan? aneh banget…

    gua rasanya pernah nyontek cuma pas masa smp dan sma kelas 1. setelah itu gua gak berani lagi nyontek. takut kalo ketauan… malunya itu lho…

  20. Rawins says:

    inget jaman sekolah
    temen temen cewek kalo bikin contekan tuh di paha
    jadi kalo mau liat tinggal angkat rok dikit

    lumayan dapat amal gairah…
    hehe

  21. Sebenarnya, Ninda, model ujian yang paling bagus itu ya ujian essay-mu itu. Dengan essay, cara berpikir murid itu akan mudah terpetakan, sehingga kita bisa tahu apakah sebenarnya pelajaran itu sampek tercerna murid atau tidak.
    Tapi kenapa sih dinas pendidikan masih males aja bikin soal ujian essay..

    Yoga, modus toilet itu dulu juga populer jaman saya dulu sekolah. Sampek dinding toilet sekolah saya penuh dengan contekan jawaban. Biarin aja, mana pernah sih guru inspeksi sampek ke toilet murid sekolah? Kan mereka punya toilet sendiri yang jauh lebih bersih dan harum..

    *nasib murid sekolah negeri*

    Tapi setiap kali saya tuker-tukeran contekan gitu, saya selalu merasa bersalah. Kok saya lebih percaya orang lain ya, ketimbang percaya dirinya sendiri?

    Mas Hoeda, dengan adegan pemaksaan kasih contekan gini, saya juga nggak kaget kalau penguasa negeri ini isinya maling semua. Kita seperti telah dididik buat jadi maling, bersikap a la maling, bekerja jadi maling..

    Slamet, ya memang tidak terjadi contek berjamaah. Sekarang yang kita persoalkan bukanlah apakah di Gadel terjadi contek berjamaah atau enggak. Yang kita pedulikan di sini, ada guru yang memang menyuruh muridnya buat kasih contekan ke teman-teman sekelasnya. Gitu lho yang bikin dongkol banyak orang..

  22. aaSlamDunk says:

    dari SD, SMP, SMA, beneran saya gak pernah nyontek, gak tau kalau saya #khilaf

    semenjak kuliah jadi sering nyontek karena diperoblehkan
    untuk bu anisa ini memang parah, tadi saya sempat baca kok katanya gak terjadi conek berjamaah… tapi belum tau benarnya gimana… dukung #indonesiajujur

  23. Hoeda Manis says:

    Sumpah, dongkol banget baca ini! Guru nyuruh muridnya agar ngasih contekan pada teman-temannya sewaktu ujian. Mau jadi apa negeri ini???

    Kalau sejak kecil udah dididik rusak kayak gitu, nggak heran kalau kemudian besarnya jadi birokrat keparat, pegawai penghisap darah rakyat, pejabat korup, atau DPR sok alim tapi ternyata suka nonton bokep. Mau dibawa kemanaaaaaaa bangsa ini?

    *ditulis dengan sepenuh kedongkolan oleh komentator*

  24. Gaphe says:

    hemm, iya sih kalo nyontek mau cara goblog sampe cara paling pinter semua ada. Dulu nggak cuman nyalin jawaban, tapi tuker-tukeran jawaban modusnya yaa ke toilet gitu. Mana ada pengawas yang sampe bolak-balik nemenin ke toilet. Atau, paling canggih kalo soalnya pilihan ganda, pake bolpoin yang dikerok dan ditulisin jawaban (dan nggak keliatan kalo dari jauh isinya jawaban ABCD). Modusnya sih saling pinjem bolpoin.

    tapi balik lagi sih, bukan masalah nyonteknya tapi masalah moralnya.

  25. ninda~ says:

    sejak kuliah seinget saya ngga nyontek lagi mbak hehe.. habis essay semua, banyak pake tabel2 juga… waktu ngegarisinnya aja cukup ngabisin waktu apalagi buat toleh2… kalo udah blank paling cuma bengong pasrah ngelihatin jawaban yg gak ngalor gak ngidul.. berharap semoga tabungan tugas dan lain2 cukup nutupin nilai, habis juga gk ada ujian perbaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *