Eforia Ibu, Ancaman Hari Tua

Suka geli baca status ibu-ibu yang mamerin kegiatannya sehari-hari yang ngurusin balita-balitanya. Bagian yang menggelikan adalah mereka nggak pernah lupa nambahin, “Enakan gini ketimbang kerjaan kantoran! Anak dan suami adalah duniaku satu-satunya sekarang!”

Selamat bahagia, Mommies.
Tapi ingatlah, pilihan Anda bukan pilihan
yang bisa bikin paling bahagia di dunia ini.
Foto dari sini.

Saya selalu mikir, mereka masih dalam fase “eforia menjadi ibu”. Dan semenjak dulu, saya sudah ngeh bahwa eforia yang terus-menerus itu berbahaya.

Bulan lalu saya pulang ke Bandung dan mendapati Grandma saya sudah makin parah depresinya. Kadang-kadang saya mergokin Grandma nangis sendirian, tapi setiap kali saya dan nyokap bertanya, Grandma nggak bisa ngomong apa yang jadi kesedihannya. Pokoknya sedih. Sedih, that’s it, period.

Tahun lalu, ketika Grandma masih lancar berjalan, nyokap bawa Grandma keluar rumah buat jalan-jalan naik mobil. Tujuannya nggak jelas ke mana, entah itu cuman ke pasar beli beras, atau cuman sekedar nganterin bokap ke tempat praktek, tapi intinya supaya Grandma lihat pemandangan, nggak di rumah terus. Soalnya kalau di rumah terus, Grandma bosan dan kesepian.

Saya lihat mental Grandma drop dengan nyata semenjak Grandpa meninggal tujuh tahun lalu. Memang di kuliah psikiatri waktu saya sekolah S1 dulu, diterangkan bahwa ditinggalkan oleh suami/istri adalah penyebab kesedihan terbesar manusia. Jika saya melihat Grandma sekarang, mungkin saya percaya. Tetapi kalau saya melihat anak-anak perempuan Grandma, saya nggak percaya bahwa cuman ditinggal suami bisa bikin drop. Anak-anak perempuan Grandma, saya memanggil mereka Bu De X dan Bu De Y, sudah jadi janda juga, tapi mereka masih berkeliaran ke sana kemari dan saya menjuluki mereka nenek-nenek lincah lantaran mereka nggak mau diam. Tetapi ada anak perempuan lain, yang saya sebut aja Bu De Z, dan sepupu saya telah protes bahwa ibunya itu cuman mau tiduran aja di sofa sepanjang hari dan kesepian lantaran anaknya nggak cepat pulang dari kantor. Saya meramalkan Bu De Z akan kena depresi juga seperti Grandma, tetapi saya percaya Bu De X dan Bu De Y enggak akan kena.

Saya heran, kenapa mereka berempat punya genetik yang sama, tetapi sebagian bisa punya karakter penyedih dan yang lainnya cenderung periang. Padahal kan sama-sama janda lho. Saya juga mendapati Bu De Z lebih banyak jadi pengeluh daripada Bu De X atau Bu De Y, padahal suami Bu De Z masih hidup dan bugar. Nampaknya ini adalah pelajaran penting bahwa “punya suami belum tentu lebih bahagia ketimbang tidak punya suami”.

Jadi saya nanya ke nyokap, kenapa Bu De X masih jadi orang gembira, tapi Grandma enggak? Padahal suami mereka meninggal hanya beda setahun.
Jawab nyokap saya begitu sederhana, Grandma tidak pernah sebahagia Bu De X.

Jangan menghabiskan masa tua
 dengan meratapi kebahagiaan masa muda
yang tidak akan pernah kembali lagi.
Foto diambil dari sini

Mungkin yang membedakannya, Grandma mengalami banyak hal sedih dalam hidupnya. Nyokapnya menikah lagi waktu ia masih kecil, karena ayah kandungnya meninggal. Salah satu dari anak perempuan Grandma pernah hilang waktu bayi, dan baru dikembalikan ke Grandma setelah anak itu dewasa. Anak perempuannya yang lain kena meningitis waktu bayi, dan jadi cacat sampek akhirnya meninggal di usia 20 tahun. Keluarga saya punya banyak cerita yang kalau dibikinkan film bisa lebih panjang daripada sinetron Tersanjung.

Tapi saya nggak setuju. Lepas dari urusan human error (kawin lagi, anak hilang, kekurangan fasilitas kesehatan), sebenarnya ditinggal mati oleh keluarga itu kan takdir Tuhan, jadi ya nggak boleh dikambinghitamkan sebagai biang kesedihan.
Lalu saya menyadari hal lain. Setelah Grandpa meninggal, Grandma diam aja di rumah dan menganggur tanpa kegiatan selain nyuruh bedinde bersih-bersih rumah.
Sedangkan Bu De X dan Bu De Y, setelah pakde-pakde saya meninggal, mereka milih bergabung dengan arisan manula. Bu De X main mini golf seminggu 1-2 kali. Bu De Y bahkan jadi ketua asosiasi bidan di kotanya dan tiap hari kerjaannya adalah tanda tangan surat izin praktek bidan.
Bu De Z, sebaliknya, adalah penganggur. Seumur hidupnya dihabiskan dengan jadi ibu rumah tangga mengurus anak-anak. Ketika kelima anaknya sekarang sudah besar-besar dan satu per satu ninggalin rumah, ia merasa ditinggalkan dan kesepian. Itu membuatnya merasa sedih dan lambat-laun dementia mulai menggerogotinya pelan-pelan.

Jadi, seharusnya kesedihan karena ditinggal mati suami, atau ditinggal pergi anak-anak, tidak mempengaruhimu terus-menerus. Libatkan dirimu dalam pekerjaan, jangan terus-menerus mengenang yang sudah meninggal atau yang pergi. Karena hidup harus terus berjalan.

Ibu, jangan terpaku pada anak.
Biarkan diri Ibu berkembang untuk kegiatan-kegiatan lain,
supaya Ibu tidak jenuh dan depresi di hari tua.
Foto dari sini.

Maka saya balikin lagi ke alinea pertama di atas. Saya belum pernah punya suami atau pun anak, jadi saya nggak tahu nikmatnya menikah dan jadi ibu. Betul, prioritas utama kita adalah mengurus suami dan anak-anak. Tetapi, harus diwaspadai bahwa suatu saat nanti suami dan anak akan pergi meninggalkan kita, karena itu mereka tidak boleh jadi satu-satunya pusat perhatian kita. Maka para ibu sebaiknya punya hobi rutin yang tidak menyangkut urusan suami dan anak. Hobi bisa berwujud macam-macam, entah menjahit jampel, les nari Tango, atau sekedar nyapu di kebun (nonton sinetron tidak termasuk!). Hobi ini yang nanti akan jadi investasi kita saat hari tua nanti, saat kita sudah kesepian lantaran suami sudah meninggal, dan kita cuman tinggal jadi penonton lantaran anak-anak kita sudah bermain dengan anak-anak mereka sendiri.

Oh iya, jangan lupa sembahyang, apapun agamamu. Percaya apa enggak, ada penelitian yang bilang, orang yang rajin ibadahnya sewaktu muda, ternyata tingkat kebahagiaannya di masa tua lebih tinggi daripada orang yang nggak rajin sembahyang.

Cegah depresi dari sekarang. Perempuan seharusnya menjadi nenek yang ceria, bukan nenek yang kerjaannya cuman mengeluh dan menangis saja.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. Dan sekarang gw memandang si ibu kok mikirnya sempit banget lantaran cuman mau tahu soal anak-suaminya doang. Mungkin gw akan dipandang angkuh pula lantaran gw mau ngotot beraktivitas sampek tua, bahkan jalan-jalan segala, hihihi..

    Yah, cara pandang setiap orang memang beda-beda. Tergantung keluasan pengetahuannya juga sih.

  2. Setuju Vic. Biarpun cinta banget ama anak dan hubby, gua mau praktek sampai nenek2. Selain itu juga mau travelling, mau ikut aktivitas ini itu dsb dsb. Btw you are a very good observer of life!

  3. hhehehe, gue tertarik soal komen mendingan begini daripada kerja. Seandainya ibu itu tau ada org yg berpendapat sebaliknya 😀 karena msg2 orang memandang berbeda terhadap kehidupan orang lain.
    Dan sama aja sih dengan orang yg depresi karena biasanya ada yg diurus ini sekarang gak ada dengan org yg biasa kerja tau2 udah pensiun… Memang bisa aja keluarga mendampingi dan membujuk tapi mesti ada kemauan dari diri sendiri yak…

  4. Sakti, orang kalau sudah tua, dia tidak sadar kalau dia mengompol sendiri. Karena saraf-saraf di tubuhnya yang mengatur fungsi pipis sudah tidak bekerja dengan baik. Ya, memang kita sebagai cucunya yang harus maklum. 🙂 *pengalaman bolak-balik ganti popoknya Grandma-ku*

    Arman, Grandma gw sering banget mikir kapan dos-q mati. Soalnya satu per satu teman-temannya sudah meninggal semua. Wah, kenapa ya dos-q nggak seneng gaul aja sama anak-cucunya yang masih hidup..

    Mbak Lita, gw nggak punya anak, gw nggak kerja kantoran.
    Jadi gw ngapain yah?
    Gw sekolah, biar lebih pinteran dikit (daripada yang nanya..) :p

  5. bebek says:

    wuuahhh setuju banget….gw heran kalau ada temen-temen nyang udah punya anak pada nanya…"lah, jadi kerjaan lu ngapain aja?"(gw belum ada anak, udah gag kerja kantoran)
    mereka pikir gw kesepian apa ya? xixixixi kegiatan gw segunung lohhh..

  6. Arman says:

    bener banget tuh vic…
    punya hobi itu perlu banget. buat persiapan kalo pensiun ntar. hehehe.

    kalo gak, bengong2 doang bisa bikin depresi… gak ada kegiatan malah ntar mikir yang enggak2… malah stres sendiri…

  7. sakti2 says:

    jadi teringat nenek dulu, beliau cerdas, suka menulis, tapi sudah sering ngompol atau buang air besar tidak sengaja, dianya cuman ketawa, sambil meringis melihatkan gusinya yang cuma tinggal satu giginya. Saya dan ibu yang mencak-mencak mengepel lantai hehehe,
    nenek…aku rindu padamu, semoga kita bertemu di alam sana nanti

  8. Jadi perkumpulan pensiun itu sangat berguna sekali ya. Sebaiknya dibentuk semenjak sebelum pensiun. Kalau yang aslinya memang nggak bekerja, baiknya tetap punya hobi dan cari teman yang sehobi, supaya di usia tua nanti nggak kesepian.

  9. Lyliana Thia says:

    Sebenernya apapun itu akan meninggalkan qta kelak… apapun.. suami,.. anak… bahkan pekerjaan!
    Yang bisa membuat bahagia adalah diri sendiri… dan emang kalau sudah pensiun atau apa, baiknya punya perkumpulan yg rutin mengerjakan aktivitas bersama2…

  10. Mbak Mulyani, simpati saya kepada Bapak. Semestinya bapaknya Mbak Mulyani bisa mempercayai putra-putri bahwa meskipun ibu sudah meninggal pun masih ada putra-putri yang bisa menjaga Bapak. 🙂

    Mas Hoeda, dulu-dulu sih saya under-estimated sama istri-istri yang kerjaannya keluyuran melulu sambil ngerumpi. Baru saya mikir sekarang, pada dasarnya wanita itu berteman untuk investasi ya, investasi anti kesepian. Kebayang nanti kalau suami sudah meninggal, siapa yang mau nemenin dia sehari-hari? Ya pasti temen-temennyalah, terutama yang juga sama-sama janda..

    Mbak Ina, memang orang itu beda-beda macamnya. Ada ibu yang senang bekerja, ada juga ibu yang senang di rumah aja. Yang bekerja pasti be-te kalo cuman di rumah, tapi yang di rumah pun pasti pe-de kalo kerjaan kantoran nggak cocok sama dia. Mestinya balik lagi ke motivasi awal, kenapa dia milih bekerja, kenapa dia milih di rumah. Pilihan-pilihan itu nanti ada risikonya, termasuk risiko untuk kesepian di kemudian hari, yang terutama ditempuh oleh ibu-ibu yang memang sehari-harinya memang nggak punya kerjaan yang produktif.

    Mbak Ami, golden geriatric club itu bagus banget buat manula. Bu De X-ku ikutan mini golf khusus manula, hampir sama deh dengan golden geriatric club itu. Bagus lho itu, untuk kesehatan psikologisnya para manula.

    Dhykta, terima kasih sudah mampir sini. Senang dengar neneknya masih sehat wal afiat. Mestinya bisa ditiru lho oleh nenek-nenek lain, tanpa harus mempertimbangkan apakah dida tinggal di kampung atau di kota. Menyapu teras di rumah itu juga adalah olahraga psikologis lho.

    John, jadi mestinya apa dong? Terlalu membenci? 😀

    Dian, makanya jadi orang memang kudu kreatif ya mengisi hidupnya. Aih, nanti kita bikin klub nenek ceria ya, yang tiap harinya ke disko, joget-joget sambil makan lumpia basah.. 😀

    Mas Eko, ahahaaa..ini pengalaman pribadi ya? :p

    Pak Aris, hihihhi..ini memang bukan buat sampeyan..

    Jessie, yang biasanya nuduh gitu adalah orang-orang yang memang nggak kerja kantoran. Entah karena mereka nggak pernah cocok kerja kantoran, atau nggak pernah diterima di lowongan kerja yang mereka impikan. Jadilah mereka sirik sama ibu-ibu yang kerja kantoran.. 😀

    Pak Joko, nampaknya perlu direvisi ulang cara kita memandang makna perlunya seorang pasangan ya. Apakah buat sekedar teman anti kesepian, atau memang pasangan yang bisa mendidik kita untuk nggak tergantung pada kehadiran mereka. 🙂

    Pitshu, gw jadi malu denger cerita lu. Agak rikuh ya nenek-nenek mandiri itu kalo mereka tau-tau dibantu orang lain. Aah..manula Singapur ini sebaiknya diteladani.. 🙂

    Slamet, cewek kalo banyak olahraga itu juga nggak akan depresi kok.. Kayak aku ini, olahraganya adalah tawaf keliling mal.. 😀

    Pak Eka, betul, betul..

    Terima kasih, Mbak Zizy. Itu sebabnya aku nulis ini, maksudnya supaya memotivasi diri kita semua bahwa kebahagiaan itu sebenarnya memang datang dari diri kita sendiri. Jadi memang pribadi kitalah yang membentuk menjadi pribadi kesepian, dan kita juga yang membentuk diri kita menjadi pribadi yang tidak kesepian ketika ditinggal. 🙂

  11. @zizydmm says:

    Banyak alasan bisa bikin orang depresi. Perempuan mungkin gampang depresi saat kesepian, apalagi bila sebelumnya ada saudaranya, banyak temannya, anaknya selalu di dekatnya. Suami? Kalau aku enggak ngaruh.
    Masalahnya kan kita sendiri, apa mau stress terus atau memilih utk bahagia. Utk apa pusing2 yg gak jelas, malah menggerogoti diri. Menjalani hidup dengan ikhlas dan positif, itu harus dicoba dan jadi motivasi setiap hari.

  12. Cerita Tugu says:

    kalau yang biaya kerja atau biasa beraktifitas kayaknya mudah untuk menghidari depresi tapi kalu yang ngga biasa beraktifitas ini yang repot sebab harus menyesuaikan dunia baru yang belum pernah dialaminya

  13. aaSlamDunk says:

    kalo teman saya ada yang melakukan olahraga., senam gitu… buat meredakan depresi…

    tape temen saya itu cowo, kalo cewe mungkin lebih susah kali

  14. Pitshu says:

    g sih mikirnya, banyak kegiatan menuju hari tua, biar enggak duduk bengong doank! kek auntie2 di SG, tua2 masih pada kerja, kadang di MRT aja ada auntie2 yang mau di kasih duduk emoh, ga suka dikasiainin, dan masih pada kuat2 boo~

  15. Joko Sutarto says:

    Masa eforia kalau menurut saya sah-sah saja tapi ya itu, benar jangan keterusan dan terlalu berlebihan. Dan ada masanya harus berganti fase atau mengurangi kualitas eforianya seiring dengan bertambhanya usia. Bayangkan kalau masa eforia masa pacaran terus berlanjut. Sudah tua masih tetap yang-yangan terus. Ini yang salah tempat. Akibatnya meski da tua umurnya tapi tak pernah dewasa menyikapi arti sebuah kehilangan pasangan.

  16. ~ jessie ~ says:

    Emang dilema juga sih Vick utk jadi ibu RT full-time, yang mana waktu anak2 masih kecil, mereka sangat membutuhkan ibu mereka banget dan itu yang bikin ibu sibuk. Kesibukan yang luar biasa itu tiba-tiba nggak ada waktu anak2 udh gede2, jadi kayak tiba2 nganggur gitu.
    Pergumulan ibu2 yang kerja kantoran juga banyak kok, Vick, salah satunya adalah sering dituduh orang nggak merhatiin/sayang sama anaknya dan dituduh tega karena nitipin anaknya ke Daycare atau emaknya atau mbak-nya. ;(

  17. Rawins says:

    sebenarnya bukan masalah enak ga enak
    tapi tetap berdasarkan kompromi dengan pasangan
    lagian ngurus rumah itu cape tapi ga keliatan bekasnya

  18. dianotes.blogspot.com says:

    Hidup ibu-bapak saya suka kadang-kadang bertengakar tapi baikan lagi dan lagi. Saya yang jadi pengamat paling dekat mereka kok berpikir jika salah satu dari kedua meninggal duluan merasa depresi lebih dirasakan bapak saya dari pada ibu saya ya.

    Depresi kemungkinan bisa dialami oleh orang-orang yang sepertinya kurang kreatif sama umur dan hidup mereka, ah mbak vic, cita-cita pengen jadi nenek2 ceria yuk,,,, 😀

  19. mbak vicky…ini kunjungan perdana..menyimak tulisannya sangaaat menarik…

    saya juga kebetulan masih punya grand ma yg kira2 sudah hampir se abad.

    Tetapi dy masih semangat, bahkan masih sering ke kebun, maklum dy dikampung..

    sy sering melihat dy begitu rajin ibadah terutama sholat dhuha. saya setuju dengan bagian akhir mbak vicky org yang lebih rajin beribadah lebih ceria lebih semangat…

    tukeran link yuukk

  20. Ami says:

    di rumahku ada golden geriatric club, belajar di usia 50 tahun ke atas… ya.. sebetulnya bisa dirubah kalo mau sih, kadang temen ibuku suka nutup diri. diajakin aktif gak mau…

  21. sampai sekarang mamaku masih merasa kehilangan saat Abahku meninggal, padahal mamaku itu orangnya sangat aktif dan periang, sejak Abah meninggal dia suka sedih dan gampang sakit, emang sih bisa dimengerti kehilangan orang yg sudah 35 tahun bersama? Apalagi Abahku itu lelaki setia dan sangat memanjakan mama. Kalo lelaki yg ngebetein kali ditinggal mati malah happy kale he…he…Aku mungkin ngga seperti wanita2 yg hanya bahagia cuma mengurus suami dan anak. Bekerja dan berkarya juga suatu kebahagiaanku dan saling melengkapi< ngga kebayang deh kalo di rumah terus aku bakal bete setengah mampus dan anak2 dan suamiku juga bete juga lihat mamanya uring2an terus.Walaupun kadang musti akrobat bagi waktu di rumah dan ditempat pekerjaan, tapi as long as itu bikin aku happy, aku percaya ibu yang bahagia akan berpengaruh pada kebahagiaan keluarga.

  22. Hoeda Manis says:

    Baru nyadar nih yang kayak gini. Segala hal yang serba mendadak itu memang bikin shock. Mendadak kehilangan, mendadak nggak sibuk, mendadak sendirian, mendadak nggak tau apa yang harus dilakuin…

    Jadi kesibukan lain selama berkeluarga itu penting ya. Jadi bayangin gini nih, seorang istri kerjaan hariannya shopping melulu, ngerumpi sama ibu-ibu, jalan-jalan, dll. Trus ditegur sama suaminya, "Kenapa kok kamu nggak pernah di rumah sih? Keluyuran mulu kerjaannya!"

    Trus si istri menjawab, "Gini Bang, ini maksudnya buat persiapan kalau kelak Abang mati, saya nggak shock atau bingung, karena udah biasa sibuk dengan kegiatan lain."
    Hehehe…

  23. IbuDini says:

    Jadi keinget sama Bapak…waktu ibu meninggal ya sakitnya tambah parah sampai2 sakitnya yang lumayan makin parah…karna menurutnya tak ada lagi yang bisa menjaganya.

    Terus terang aja bila saya libur tak memiliki kegiatan maka pasti akan bosan sekali, Dini tak ada di rumah dan suami pergi bekerja mungkin akan beda bila kita memiliki kesibukan sampingan…jualan mungkin atau apalah.
    Karna sangat berbeda orang yang biasa di hadapi dgn pekerjaan dan tiba2 tidak ada kegiatan pasti akan bosan dan lama2 bisa pusing juga.

  24. Inilah macam depresi yang sering menimpa wanita-wanita setengah baya. Saat mereka sudah terbiasa mengurusi suami dan anak-anak, tetapi ketika suami sudah meninggal dunia dan anak-anak sudah pergi meninggalkan rumah, mendadak wanita menjadi depresi karena mereka merasa sudah tidak berguna lagi.

  25. Mulyani says:

    Lebih depresi ketika kita selalu disibukkan dan kemudian tiba2 kita tidak ada aktifitas yang bisa membuat kita banyak bergerak atau apalah itu.
    Bila kita bisa mengatur waktu kenapa gak bila kita sendiri, suami , anak dan pekerjaan adalah segalanya bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *