Sakit Jiwa Boleh Hamil?

Disclaimer: Semula saya mau nulis judulnya "Bolehkah Orang Gila Hamil?" Tapi kolega-kolega saya dari Departemen Psikiatri sering bilang bahwa penggunaan kata "orang gila" itu salah kaprah. Karena yang betul itu "kelainan jiwa". Dan kelainan jiwa itu spektrumnya luas, mulai dari gangguan jiwa sampek yang sakit jiwa. Kalau yang gentayangan nggak jelas di jalan-jalan dan nggak pakai baju itu sakit jiwa. Tapi kalau yang suka marah-marah di status Facebook dan galau nggak jelas di Twitter sampek update statusnya lima kali sehari padahal nggak ada yang komen, itu jelas gangguan jiwa.Departemen saya dikonsulin departemen Psikiatri. Alkisah, ada seorang perempuan putus dari pacarnya, lalu dikawinpaksa dengan cowok yang nggak dia maui. Semenjak kawin paksa ini, menurut keluarganya, si cewek jadi berubah kepribadian. Yang tadinya rame jadi pendiam, yang tadinya cerewet jadi banyak mengurung diri di kamar. Sampek kemudian dia hamil.Repotnya, semenjak hamil, dia jadi beringas dan marah-marah nggak jelas melulu. Dia benci semua orang, ya bonyoknya, ya sodaranya, lebih parah lagi dia benci suaminya. Keluarganya yang panik, membawanya ke dokter. Singkat kata, dia dirawat di rumah sakit, masuk ke bangsal untuk pasien-pasien sakit jiwa.Pasien ini ternyata ngidap skizofrenia paranoid. Penjelasan gampangnya, penyakit ini adalah penyakit nggak bisa membedakan kenyataan dengan khayalan. Dan yang menjengkelkan, dia curigaan terhadap semua orang. Dia mengira semua orang ingin mencelakai dia. Sekarang kami para dokter yang mau jadi dokter kandungan, takut si ibu curigaan sama bayinya juga. Lha kalau dia berusaha membunuh anaknya sendiri gimana?Untungnya si janin masih bagus, dan dosen-dosen saya pikir mendingan tuh pasien nanti melahirkan dengan operasi Caesar aja. (Nggak kebayang kalau nanti dia melahirkan lewat vagina, orang gila + stress mengejan bukanlah kombinasi yang menyenangkan. Oops..nggak boleh sebut "orang gila" ya?)
Kedua orang tua si ibu sudah bilang, nanti kalau bayinya lahir, bayinya akan diasuh oleh mereka berdua (kakek-nenek si bayi). Nggak masalah sih yang itu. Sekarang yang jadi masalah, si pasien ini ternyata susah banget disuruh minum obat buat nyembuhin sakit jiwanya. Sebulan lalu dia sempat rada enak diajak ngomong, karena itu psikiater memulangkannya ke rumah sambil membekalinya pil kecil-kecil. Ternyata selama di rumah, si pasien pundung nggak mau minum obat lagi, dan akibatnya si pasien jadi kumat lagi gokilnya sehingga keluarga terpaksa mengopnamekannya lagi.Kami yang kerja di bagian kandungan, bingung mikirin gimana kalau nanti si ibu ini hamil lagi? Bisa-bisa nanti skizonya kumat lagi dan bukan tidak mungkin kalau hamil lagi dia akan berusaha membunuh janinnya. Maka nggak ada jalan lain selain merayu keluarga si pasien supaya pasien ini boleh ikut KB. Persoalannya, metode KB apa yang cocok buat ibu dengan sakit jiwa yang disuruh minum obat sendiri aja nggak mau?Sebagian kolega saya bilang, baiknya si ibu dioperasi steril aja. Nanti kan dia melahirkan dengan Caesar, sambil dikeluarin janinnya ya sambil dibikin mandul, gitu. Kan gampang tuh tinggal sekali jalan. Nggak perlu kuatir lagi dia bakalan hamil, kumat nggak waras lagi dan mencelakai janinnya.
Tapi sebagian kolega saya yang lain nggak setuju. Perempuan berhak hamil. Dan perempuan berhak menentukan sendiri apakah dia ingin hamil atau tidak. Termasuk menentukan apakah dia ingin membuat dirinya tidak hamil. Ya, meskipun dia sakit jiwa.Si suami sendiri nggak bisa bikin keputusan. (Kami kalau mau bikin operasi mandul pasti harus minta ijin suami pasiennya dulu. Itu protokolnya). Dia menyadari bahwa istrinya nggak layak mengasuh anaknya sendirian, tapi dia juga nggak kepingin istrinya dibikin mandul. Mungkin, jauh di lubuk hatinya yang dalam, dia berharap suatu hari nanti istrinya akan sembuh, dan mereka bisa mengasuh anak mereka bersama-sama seperti keluarga normal (dan mungkin si istri perlahan akan belajar mencintainya pelan-pelan). Dan operasi steril jelas akan mengacaukan impian itu.Tadi pagi, kami putuskan untuk tidak mensterilisasi si pasien. Soalnya, kolega-kolega di Psikiatri bilang bahwa bisa aja kemungkinan si pasien ini sembuh. Kalau si ibu sampek sembuh, dan dia sudah keburu dioperasi steril, bisa jadi suatu hari nanti dia akan menuntut dokter-dokter karena telah sengaja membuatnya mandul. Meskipun mungkin, dokter membuatnya mandul karena ingin menyelamatkan si pasien dari kehamilan yang sulit dihadapi oleh si pasien.(Saya sendiri tidak yakin dia akan sembuh. Dulu saya diajari bahwa skizofrenia yang timbul pada usia muda seperti ini akan sulit sekali sembuhnya. Tapi saya bukan mahasiswa psikiatri, ini jelas bukan kompetensi saya, barangkali lebih baik kalau saya mempercayai kolega-kolega saya di Psikiatri saja, karena mungkin mereka benar karena mereka punya ilmunya).Saya menulis ini untuk kasih wacana ke Jemaah blog saya, bahwa setiap manusia punya hak yang sama. Setiap perempuan berhak hamil jika dia ingin. Setiap perempuan berhak mengenakan kontrasepsi jika dia ingin. Dan yang juga sama pentingnya, setiap perempuan berhak untuk menolak kontrasepsi jika dia masih kepingin punya anak lagi.Dan kita tidak bisa memutuskan bahwa seseorang tidak berhak untuk punya anak. Siapapun dia, meskipun kita mengira dia tidak punya cukup akal untuk bersikap rasional. Entah karena dia masih di bawah umur, atau karena dia sakit jiwa..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. mawi wijna says:

    Hmmm, bagi saya yang membngungkan adalah bagaimana hingga wanita ini bisa hamil? Apa suaminya memaksa melakukan hubungan intim? Mengingat sang wanita adalah korban kawin paksa semestinya ada penolakan saat berhubungan intim?

  2. Cahya, pada akhirnya memang keputusan di tangan keluarga. Kita para dokter cuman jadi eksekutor doang, bukan legislatornya.

    Rangga..apaan sih? 😀

    Mbak Monic, saya juga seneng bisa menyenangkan Mbak Monic.. 🙂

    Bella, ikut berduka cita. Skizofrenia itu penyakit yang bikin susah. Nggak ada orang mati karena sakit jiwa, tapi sakit jiwa itu membunuh hidup itu sendiri. Mungkin salah satu alasan kenapa gw nggak mau masuk sekolah psikiatri, karena gw tau hampir semua penyakitnya nggak bisa sembuh dalam waktu singkat. Contoh penderitanya ya sepupu lu itu.

    Pak Eka, setuju banget! Eh, apakah Pak Eka bersedia dimampetin juga? 😀

  3. bella sirait says:

    Postingan informatif…*jempol

    Akhir-akhir ini aku diajari tentang kata "kemungkinan kecil". Misalnya kemungkinan kecil untuk punya anak, kemungkinan kecil untuk sembuh, dan sebagainya. Aku lupa bahwa "kemungkinan kecil" bukanlah berarti "tidak mungkin", tapi itu berarti "bisa saja terjadi" —–> SEPAKAT VIQ

    en

    NGAKAK baca : Tapi kalau yang suka marah-marah di status Facebook dan galau nggak jelas di Twitter sampek update statusnya lima kali sehari padahal nggak ada yang komen, itu jelas gangguan jiwa ——-> BERARTI GANGGUAN JIWA LAGI EPIDEMI

    trus

    (Saya sendiri tidak yakin dia akan sembuh. Dulu saya diajari bahwa skizofrenia yang timbul pada usia muda seperti ini akan sulit sekali sembuhnya) ——-> kakak sepupuku penderita skizofrenia sejak usia 23an, akhirnya meninggal dunia di usia 35 thn (6 bulan yang lalu) dan dalam keadaan belum sembuh juga…

  4. begitu pula seharusnya bukti kasih sayang pacar… tidak menggunakan azas bertanggung jawab jika pacarnya hamil untuk merayu… dan tetutunya juga tidak akan menghamili pacarnya sebelum keduanya sama sama siap… //nglantur 😀

  5. Cahya says:

    Di sini mungkin problematikanya, sebagai profesional, kita bisa memberikan pertimbangan dari pelbagai sisi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing solusi yang masih mungkin diberikan. Tapi apakah solusi itu akan digunakan atau tidak, ya kembali pada pasien atau keluarga terdekatnya jika pasien tidak bisa/mampu dibebani untuk mengambil keputusan.

  6. Please deh, Hani, daripada bikin novel mendingan saya bikin iklan membela hak asasi perempuan sakit jiwa, pasti lebih mengena, wkwkwk..
    Kalo mau bikin drama, kayaknya Mbak Ina mau tuh, udah kepikiran mau bikin cerpen segala.
    Yah, memang ngenes banget pasien perempuan ini, sudah diputus pacar, lalu dikawin paksa dan jadi skizo pula. Aku sendiri nggak yakin orang skizo bisa sembuh hanya dengan melihat anaknya sendiri. Yah, mungkin ada hal-hal mengenai pemulihan jiwa yang aku belum mengerti. Siapa tau yah? Semoga..

    Kevin, kalau saya bilang sih, mencintai itu nggak bisa dipelajarin. Kalau memang dari hati belum tumbuh cinta, yah sampek kapanpun cinta itu nggak akan pernah ada.

    Rangga, bener banget. Kadang-kadang, bukti kasih sayang seorang suami adalah berupa tidak menghamili istri jika istri itu tidak siap dihamilin.

    Mikhael, fenomena yang Mike lihat itu sudah umum terjadi di sekolah kedokteran mana pun. Mungkin karena selama ini kita cuman memahami psikiatri setengah-setengah, akibatnya kita nggak tahu bedanya pasien psikiatri dengan orang gila. Padahal spektrumnya kan ya beda. Mudah-mudahan ada kampanye buat kita para kaum medis supaya kita nggak melihat pasien psikiatri hanya semata-mata sebagai orang gila.

  7. zaman sekarang masih ada kawin paksa gitu sampe sakit jiwa lagi duh ngenes banget bayanginnya, pas "make a love"nya aja kayaknya dia tersiksa apalagi sampe hamil dan melahirkan lagi, baik banget suaminya mau menerima dia walaupun sudah sakit jiwa dan tidak dicintai pula, mudah-mudahan ketulusan suaminya memberi kesembuhan pada sang istri dan siapa tahu pula setelah melihat bayinya terbit rasa keibuan dan kasih sayang dalam dirinya yang akan menyembuhkan sakit jiwanya.Semoga.Wah bisa dijadiin ide buat cerpen nih

  8. mikhael says:

    kasihan anaknya… punya emak orang gil…. oops… gangguan kejiwaan…
    btw tentang penggunaan istilah gangguan jiwa, bbrp residen dari Penyakit Dalam (di tempat kami) tidak segan2 menggunakan istilah "orang gila" (utk menyebut pasien psikiatri) kalau sedang ngajarin koas, … yeah …

  9. Kalo nge-like sendiri lantaran nggak ada yang komen itu jelas kelainan jiwa, Pak. Lantaran depresi merasa dirinya kurang oke.

    Tapi kalo koleksi jempol sampek komennya ratusan, itu bukan kelainan jiwa, itu namanya sok populer, wkwkwkwk..

  10. Rawins says:

    kalo update status 5 menit sekali
    gada yang komen
    di like sendiri
    itu kelainan jiwa yo bu..?

    trus kalo suka koleksi jempol dan komen sampe ratusan sebutane apa..?

    *malah gak nyambung…

  11. Rahim itu hak perempuan. Jadi perempuan berhak minta rahimnya dilindungi dengan cara sterilisasi.

    Tapi kadang-kadang kita lupa bahwa suami juga berhak untuk punya anak dari istrinya. Karena itu memang kalau minta persetujuan steril, selain dari istri juga harus dari suaminya. Maka dari itu, sayang banget kalau suami nggak bisa mendampingi istrinya pada saat persalinan si istri itu bermasalah dan satu-satunya pertolongan hanyalah steril.

    Akhir-akhir ini aku diajari tentang kata "kemungkinan kecil". Misalnya kemungkinan kecil untuk punya anak, kemungkinan kecil untuk sembuh, dan sebagainya. Aku lupa bahwa "kemungkinan kecil" bukanlah berarti "tidak mungkin", tapi itu berarti "bisa saja terjadi". Aku juga berharap pasiennya sembuh. Meskipun secara teori, lebih besar kemungkinannya untuk tidak sembuh. 🙂

  12. nique says:

    untung ga jadi disteril, soale ada temenku yg waktu melahirkan ada masalah,sementara suaminya tidak mendampingi, eh begitu anaknya lahir, dokter lgs nawarin disteril karena anaknya sudah 2, diapun setuju aja. tapi begitu suaminya tau, suaminya protes. cuma tidak dipermasalahkan.

    setelah beberapa tahun kemudian, mereka bercerai dan giliran yang perempuan yang nyesal sudah steril karena setiap mau menikah, pasti ditanya masih maupunya anak apa engga 😀 ya maunya sih mau, tapi masalahnya udah ga bisa hiks

    semoga saja mba itu lekas sembuh ya, wlo kemungkinannya kecil, tapi tak ada yang takmungkin bagi DIA kan 🙂

  13. Ooohh gw baru tau Vic kalo kena skizo (duh nulisnya salah betul yah?0 di usai muda susah sembuhnya

    Waaahh jadinya di steril yah?? Mmmm kalo ituh emang yang terbaik, daripada tar doski bunuh bayinya lebih repot dah urusannya

  14. Apa yang dulu kita kira akan berhasil, mungkin tidak berhasil pada masa sekarang. Penyebabnya adalah perbedaan nilai, Ninda. Dulu eyangnya Ninda bersedia kawin paksa karena mungkin menganggap mematuhi pilihan orang tua tanpa banyak cingcong adalah nilai yang baik. Tetapi di masa kini, kaum muda lebih kritis dalam menyikapi pilihan orangtuanya, artinya dia belum tentu menganggap pendapat orangtuanya adalah pendapat yang terbaik. Termasuk juga dia tidak punya opini yang sama baiknya dengan orangtuanya mengenai kualitas suami yang disodorkan oleh orangtuanya. Ini yang menyebabkan dia nggak mau terima dikawinkan dengan orang yang tidak pernah dia cintai.

    Tapi di tulisan ini saya nggak memedulikan esensi kawin paksanya ya. Saya hanya mengekspos tentang hak perempuan sakit jiwa untuk hamil 🙂

  15. Ninda Rahadi says:

    aduh kok mbak itu gak mau nunggu ya..
    siapa tahu suaminya baik.. biasanya kan cewek kalau dibaikin dicintai bisa tumbuh juga cintanya
    kayak eyang saya dulunya jaman masih pada jodoh paksa..

    entah ya kalau si cowok juga gak baik jadi mbak itu malah 'sakit'.
    errr… semacam tebak-tebak konflik film tanpa menyaksikan sendiri deh saya mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *