Pegel, Cepat Kau Lari!

Sewaktu Pak Guru nyuruh saya ke Jombang untuk magang, saya oke-oke aja mengepak baju-baju saya ke sana. Tetapi yang nggak pernah saya – dan Pak Guru saya – duga adalah, ternyata seminggu kemudian di Jombang berjangkit wabah difteri.

Korbannya dokter pula, yang kebetulan dinas di rumah sakit lokal. Itu satu keluarga di rumahnya kena, ya dokternya, lalu anaknya si dokter, berikut asisten pribadinya si dokter. Semula nggak ada yang percaya kalau itu difteri. Difteri di tahun 2012? Please deh, penyakit itu cuman saya baca di buku-buku sejarah medis dan sudah bertahun-tahun nggak pernah muncul di Jawa. Tapi nyatanya si dokter kena, positif difteri, dan Dinas Kesehatan lokal menyebutnya Kejadian Luar Biasa (KLB). Itu istilah medis politis untuk menyebut suatu penyakit yang muncul mendadak di suatu area dan penyakit itu sudah lama sekali tidak pernah muncul.Tapi saya tahu bahwa istilah KLB itu cuman istilah basa-basi. Ini wabah, jelas. Saking aja Dinkes nggak enak bilang ke Bu Menteri dan wartawan kalau ini wabah, takut bikin heboh. Yang pasti, entah itu KLB, entah itu wabah, pokoknya konsekuensinya sama. Penderitanya kudu diisolasi semua. Dan semua penduduk disuntikin vaksin tanpa pandang bulu.

Maka di Jombang pun, semua penduduknya diserukan buat berduyun-duyun ke Puskesmas untuk disuntikin imunisasi difteri. Termasuk di rumah sakit tempat saya magang, semua pegawainya langsung disensus satu per satu buat diwajibkan imunisasi difteri. Nggak cuman pegawai tetap, tapi juga tenaga honorer cleaning service, apalagi para koass dan dokter tamu kayak saya.

Saya malah ketawa ngakak. Ini lucu sekali! Nggak pernah sebelumnya saya pelesir ke suatu daerah dan sesampainya di sana saya malah disuruh imunisasi supaya nggak kena penyakit. Macam pergi ke Zimbabwe aja?

Tapi beneran, saya disuruh imunisasi juga. Vaksinnya gratis, spednya gratis. Saya cuman tinggal kasih tau saya sudi disuntik sebelah mana.
Jadilah saya nyodorin lengan kiri saya buat disuntik. Yang nyuntik ya masih kolega saya sendiri. Kenapa lengan kiri? Soalnya antisipasi pegal-pegal. Karena saya lebih banyak kerja pakai tangan kanan, bisa-bisa tangan kanan saya nggak enak kerja kalau disuntik.

Suster-suster itu malah minta disuntik di bokong. Biar nggak sakit pas disuntiknya, katanya. Halah. *nggak percaya*

Koass-koass nanya ke saya pas saya baru disuntik, “Pegel nggak, Dok, abis disuntik?”
“Nggak,” jawab saya.
Koass-koass itu mencibir. “Hmh! Lihat saja besok!”
Eh, beneran, saya nggak merasa sakit pas disuntik. Malah saya tetep aktif banget. Malam itu saya masih sempet ngelahirin bayi lagi, banyak.

Baru kerasa besoknya, pas saya bangun tidur. Badan saya terasa demam, dan lengan kiri saya mulai pegel. Ah, ini pasti reaksi vaksinnya, batin saya. Nggak pa-pa ah.
Lalu saya keluar kamar, masuk ke ruang bersalin, lihat salah satu pasien saya sudah kangkang dengan kepala bayi membuka vulva.
Spontan saya langsung tolong, dan si bayi keluar sambil nangis-nangis. Masalah baru muncul pas saya mau mijet rahim pasiennya untuk ngeluarin plasenta. Adooh..tangan kiriku pegell..

“Berapa hari sih efek pegel vaksinnya?” sergah saya jengkel.
“Tiga hari, Dok,” kata koass-nya dengan ekspresi flat.
“Bah!” Saya membanting badan saya ke kursi, memandangi bidan yang gantiin saya ngeluarin plasenta. Si bidan sendiri sudah nggak pegel-pegel. Dia sudah disuntik duluan lima hari sebelumnya.

Oh oh, saya memang ndeso, hampir-hampir nggak pernah disuntik. Terakhir kali saya disuntik ya imunisasi hepatitis B bertahun-tahun lalu, selanjutnya ya saya lupa lagi. Kalau saya sakit ya obatnya pakai pil, bukan suntik. Pil kan lebih gampang, nggak ribet kayak suntik yang harus nyediain kapas alkohol dulu. Makanya saya hampir-hampir nggak pernah tahu sakitnya disuntik.

Hari ini hari ketiga setelah saya diimunisasi difteri, dan lengan saya masih pegel juga. Demamnya sudah turun sih. Tapi bodi saya masih belum enak. Saya baru pulang dari Jombang semalam, rasanya masih kelelahan mengingat saya sudah nggak tidur nyenyak selama dua minggu..

Pegel, cepatlah kau lari!
Aku mau bisepsku nyaman kembali!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

    1. Jadi, partikel dalam vaksin sebenarnya berat sekali, sehingga sel tubuh kita yang disuntikkan vaksin itu rada "kaget" karena dimasukin barang berat. Rasa kaget itu yang bermanifestasi sebagai kemeng.

  1. Rawins says:

    kirain kalo dokter lebih tau cara mencegah penyakit
    jadinya lebih jarang sakit..

    eh, tapi menteri kesehatan saja mundur karena sakit ya
    hehe…

  2. Pegel-pegelnya karena efek vaksin, bukan karena disuntik. Jadi nggak akan bisa ilang dengan maen badminton. Tapi bisa ilang dengan olahraga yang "lain" *nyengir ke Mas Fahmi*

    Plasenta bisa keluar sendiri. Tapi kalo nggak dipijat, bisa jadi perdarahan. Gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *