Berhenti Berkata “Seandainya”

Setelah itu, kita cuma bisa bilang "Seandainya.."Perempuan ini baru pertama kali mau punya anak dan dia tidak pernah periksa kehamilannya ke siapa-siapa. Tengah malam dia datang ke sebuah rumah sakit di kawasan Mojokerto karena mengeluh sesak. "Sesak yang aneh," kata keluarganya. "Saya tahu orang hamil pasti sesak karena keberatan membawa anak dalam perutnya, tapi dia keliatan kepayahan..macem orang mau semaput aja.."Dokter di rumah sakit itu bergerak cepat, periksa sana periksa sini, lalu memutuskan bahwa perempuan ini menderita preeklampsia, suatu penyakit yang lebih dikenal orang awam sebagai keracunan karena kehamilan, dan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan penyakit ini adalah melahirkan bayinya saat itu juga. Persoalannya adalah si ibu sesak berat karena paru-parunya bengkak dan akan butuh berhari-hari untuk mengempeskan bengkaknya, sehingga dia akan susah sekali bernafas sesudah operasi selesai nanti. Akan perlu mesin alat bantu nafas untuk menolong si ibu, dan siyalnya, tempat itu tidak punya alatnya. Terpaksalah pasien malang itu dikirim ke Surabaya, karena konon Surabaya punya mesin itu.Maka lahirlah bayi itu di Surabaya dengan susah-payah. Usai anak itu lahir, ibu itu mengalami perdarahan berat, darahnya ngocor gila-gilaan tanpa henti. Dokter-dokter di Surabaya terpaksa mengikat rahimnya supaya perdarahan berhenti, tapi si ibu sudah kadung drop, infeksi menyerang dan parunya kena radang.Kemaren, ibu ini meninggal di ruang rawat intensif oleh karena pneumonia. Umurnya baru 26 tahun.Preeklampsia masih jadi penyebab kematian utama di negara kita. Kejadiannya lebih banyak terjadi di perkotaan, rata-rata korbannya masih golongan berpendidikan, minimal tamat SMA, yang artinya mereka sebetulnya cukup tahu bahwa sebaiknya orang hamil periksa ke dokter kandungan. Ibu yang saya ceritakan ini, tidak pernah periksa kehamilannya sama sekali. Jangankan ke dokter kandungan, ke bidan saja tidak pernah.Siyalnya, preeklampsia masih seperti hantu. Tidak tahu kenapa penyakit ini bisa terjadi, di mana kesalahan si ibu sehingga dia ketiban musibah. Dokter hanya tahu bahwa pada suatu hari si ibu datang ke tempat praktek untuk kontrol mingguan seperti biasa, dan ketika ditensi ternyata tensinya sudah tinggi. Ketika si ibu diperiksa kencingnya, ternyata kencingnya penuh dengan protein. Saat itulah baru diketahui bahwa perempuan itu mengalami preeklampsia, dan penyakit ini akan ganas merusak pembuluh-pembuluh darah ibunya, sehingga untuk menghentikannya adalah harus dengan mengeluarkan janinnya.Beberapa ibu, yang akhirnya selamat dari penyakit ini, mengaku bahwa mereka mengeluh pusing kepala pada 1-2 hari sebelumnya. Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya itu salah satu tanda preeklampsia, karena semula mereka mengira mereka hanya kecapekan karena kelelahan membawa anak di dalam perut mereka. Baru ketika kepala mereka semakin terasa sakit, dan mendadak mereka muntah, lalu dada terasa sesak, tergopoh-gopoh mereka merangkak ke rumah sakit, dan saat itulah tekanan darah mereka sudah melewati 160/90 dengan kencing keruh yang penuh protein.Beberapa ibu lainnya, bernasib sedikit lebih baik. Mereka rajin periksa kehamilan, dan ketika kontrol mereka kedapatan tekanan darah sudah mencapai 140 saja, bidan memeriksakan kencing mereka dan kadang-kadang saat ini preeklampsia sudah bisa ketahuan. Saat ini dokter masih memperketat jadwal kontrol si ibu, supaya bisa dipantau kapan tekanan darahnya merangsek naik. Ketika tekanan darah sudah menyambar angka 160 dan kencing si ibu mengandung protein, inilah saatnya merencanakan untuk mengakhiri kehamilan alias mengeluarkan si jabang bayi.Jadi, di mana peran serta si ibu yang hamil supaya ia sendiri selamat dan tidak sampai drop akibat preeklampsia? Tindakan berharga yang bisa dilakukan sang ibu adalah rajin kontrol periksa selama hamil. Awal-awal hamil, hendaknya periksa kehamilan minimal sekali setiap bulannya. Setelah kehamilan mencapai 28 minggu, ibu lebih rajin periksa, setidaknya dua minggu sekali. Lebih sering lagi ketika kehamilan ibu sudah 37 minggu, periksakan kehamilan seminggu sekali.Banyak sekali hal-hal yang harus diketahui ibu selama hamil. Berapa tekanan darahnya? Dirinya merasa hamil berapa bulan? Apakah anaknya tumbuh semakin besar seperti janin normal? Bahaya preeklampsia selain mengancam ibu, adalah mengancam janin pula, mulai dari mematikan plasenta sehingga anak kekurangan gizi dan menjadi tumbuh kecil, dan pada akhirnya: janin meninggal dalam kandungan.Ibu-ibu hamil bukan tidak waspada terhadap bahaya. Kadang-kadang mereka cuma alpa kontrol. Macam-macam alasannya: Mulai dari malas ngantre di tempat praktek dokter, terlalu sibuk bekerja sampai nggak sempat kontrol, atau memang merasa dirinya baik-baik saja. Nyatanya, ibu memang baik-baik saja, tapi anaknya belum tentu baik-baik pula.Seandainya ibu mau kontrol teratur, tidak perlu ada perempuan semuda itu meninggal cuma gara-gara hamil. Kita memang sebaiknya bersikap rada lebih cerdas. Dan berhenti berkata "seandainya .." ketika maut sudah kadung mampir ke tempat tidur keluarga kita.

http://laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

31 comments

  1. aih ngerinya aiiih ngerinya AIH NGERINYAAAAA…..

    *lebay, sori*

    Ini info penting banget nih. Ane udah tahu seh kalo orang hamil kudu rajin nge-cek, tapi ane baru tahu ada penyakit kek beginian. Wuih moga2 deh pas ane hamil nanti ngga ada yang aneh-aneh. Amin. Nah, sekarang tinggal cari calon suami ane hahahah *ngakak guling2*

    Btw, ane udah lama ngga ke sini. Gimana kabar? Ane udah punya blog baru en semoga sekarang bisa lebih aktif hehehe.

  2. @zizydmk says:

    Seperti yang saya alami saat hamil Vaya dulu. Rutin kontrol, namun di minggu ke-37 setelah telat kontrol 3 hari karena dokternya sedang seminar, saat kontrol ke dokter, tensi tinggi hingga 185/berapa (lupa), dan saat periksa kencing, protein 1. Pusing-pusing juga tentu, sudah lelah sesak sejak 3 hari sebelumnya. Dokter bilang gejala preeklamsia. Langsung deg-degan….

    Dikasih obat saat itu juga untuk menurunkan tekanan darah dan sejam kemudian turun jadi 150, lalu disuruh istirahat di rumah. Kalau malamnya sesak napas disuruh balik ke RS utk mengakhiri kehamilan.

    Eh besok malamnya pecah ketuban, dan Vaya lahir 4 jam kemudian….

    1. Weww..preeklampsia banget itu. Untung Vaya-nya cepet lahir ya, Mbak. Sebenarnya apa yang bikin deg-degan waktu itu, Mbak? Pusing-pusingnya atau karena tahu bahwa kehamilan Mbak itu nggak beres?

    1. Ada, Mike. Masyarakat kan tinggal dalam kecamatan, dan di tiap kecamatan itu selalu ada bidan yang bertugas menjaring ibu-ibu hamil untuk selalu konsultasi kandungan secara teratur. Tapi kadang-kadang bidan sulit menjangkau mereka, umumnya karena tingkat pendidikan ibu hamil yang jelek, atau karena ibunya yang gengsi periksa kehamilan.

  3. Entin says:

    jeung dokter, sy punya knalan jg yg meninggal krn penyakit tsb. Dlm taon ini jg. Padahal dy sndiri jg dokter..dokter umum termuda di kota sy. Bahkan dy sndiri tidak merasa ada kelainan apa2 sampai waktu memeriksakan kandungannya yg berusia 7bln. Atau kah dy sblumnya gak pernah kontrol ke dr.kandungan ya…

  4. ndutyke says:

    iya sih, banyak cerita temen yg kalo periksa ke OBGYN, antrenya sampek jam 12 malem cynnnn…. Pleus jauh dari rumahnya dia. Ngebayanginnya aja udah males. Kesian juga kan ibu hamil antre ampe berjam-jam gitu.

    Makanya aku sejak awal udah tekad, kalo cari OBGYN yg deket2 ajalah dari rumah, dan yg relatif sepi juga. Walo sepi bukan berarti ga bagus lho ya.

    1. Di dunia ini, ada ibu-ibu yang hobinya periksa ke dokter obgyn yang antreannya berjam-jam, sampek jam 12 malem, dan tempat antreannya jauh dari rumah.

      Dengan kata lain, di dunia ini ada orang yang hobinya memang hidup susah ๐Ÿ˜€

  5. beL says:

    "Mulai dari malas ngantre di tempat praktek dokter"…ini gw bgt vick;p Klo gw sih bukan antre kehamilan, tapi (berobat) kesuburan…ya krn si males antri ini, berobat kesuburan gw terundur2 smp 4 tahun gini…cerita lo, gamparan ni buat gw si malas ke dokter

    1. Yah, gw rasa kesuburan bukan masalah penting buat lu, sampek lu mengundur-undur pengobatan lu empat tahun. Memang kebetulan lu punya prioritas lain yang lu rasa lebih penting ketimbang berobat kesuburan. Si ibu yang gw ceritain ini juga sama, nampaknya dia lebih peduli hal lain entah apa ketimbang sekedar tahu anak yang dia kandung sudah bisa nendang apa enggak..

  6. ecchan says:

    ya Allah..
    turut berduka cita.. dan preeklampsia?? *ilmu baru* *catet* walopun pakdhe spog tapi diriku barusan tahu ttg inih..

    thx ya mbak!
    btw salam kenal ๐Ÿ˜€

    1. tu2t says:

      Haha (ยดฯ‰๏ฝ€)
      Biasanya pakdhe suka share2 perkara beginian.. udh sepuh kali ya jadi dah gak sempet share ke ponakan2nya..

      Ya semoga menjadi pelajaran buat kita semua, termasuk yg mbaca ๐Ÿ˜€

  7. Ami says:

    banyak orang yang menggampangkan proses kehamilan, aku sendiri bayiku kuning, tapi Alhamdulillah bisa teratasi. apalagi lagi hamil tetep hidupnya serampangan kayak ngerokok atau makanan yang gak sehat

    1. Soalnya orang beranggapan kehamilan itu proses alamiah. Kalo perlu, melahirkan tanpa bidan/dokter pun nggak apa-apa. Tapi 10 persen dari kehamilan itu mengandung bahaya, dan orang tidak tahu apakah mereka termasuk dalam populasi 10 persen tersebut.

  8. Arman says:

    emang hamil dan melahirkan itu perjuangan hidup dan mati…

    dulu pas hamil andrew juga esther pas usia kehamilan 36 minggu kurang terdeteksi preeklampsia dan kencing ada protein. tekanan darah tinggi banget.

    trus bayinya gak bergerak2, mengarah fetal distress. akhirnya dikeluarin deh… untung everything was fine abis itu… walaupun jangan ditanya gimana takutnya kita waktu itu…

    1. Sebenarnya, tekanan darah tinggi dan kencing ada protein itu sudah jelas preeklampsia, Man. Saat itu mestinya Andrew segera dikeluarkan. Apalagi kalo Andrew sudah fetal distress, jika memang saat itu bukaannya Esther belum lengkap, maka Esther kudu di-Cesar saat itu juga.

      Wah, kalo sekarang ngeliat Andrew bisa lari-lari kenceng, bisa main biola, kayaknya sulit percaya kalo dulu dia pernah fetal distress ๐Ÿ™‚

  9. zachflazz says:

    bener mengerikan ya kalo tidak disiplin. dampaknya tak hanya ibunya, tapi juga ke janinnya ya.

    btw foto di atas hanya ilustrasi atau foto ibu yang diceritakan?

  10. Bonnie says:

    Yah mba, jangan kan lulusan SMA.. banyak orang yg aku tau lulusan S1 masih males cek kedokter selama kehamilan, bahkan masih menganggap pap smear itu bukan hal penting..saya heran, bisa ada orang yang menganggap remeh nyawa yang dikandung, padahal dia org beruntung yg diberi kepercayaan kehamilan *tepok jidat*

    1. Padahal sebetulnya cek kehamilan itu nggak selalu harus ke dokter lho. Ke bidan juga bisa. Hanya 10 persen sebenarnya yang memang butuh diawasin dokter kandungan, lain-lainnya boleh-boleh aja diladenin bidan. Tinggal masalah ibunya, mau atau enggak periksakan kehamilan.

  11. Pitshu says:

    lho… bukannya bumil biasanya ada jadwal untuk suntik2 gitu yah! dan minum2 obat biar nanti anak na sehat gitu, kok bisa ini ibu ga periksain kehamilannya selama hamil, sama sekali gitu ?! kasian yah ibu na udah ke sby, trus malah meninggal, tapi anak na idup kan yah ? turut berduka cita ใ… ใ… 

    1. Ya, ini kan hamil pertama kali, Pits, jadi dia rada nggak berpengalaman gitu. Siyalnya nggak ada yang nasehatin dia buat periksa-periksa sama sekali.
      Anaknya sih idup, kembar dua, dan badannya kecil-kecil. Nggak tahu nih anaknya bisa bertahan hidup sampek umur setahun atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *