Bosan Pura-pura Melarat

Ketika saya nulis tentang program melahirkan gratis di rumah sakit tahun lalu, saya nggak ngira kalau program gratisan itu bisa bikin dampak complicated kayak gini.Alkisah seorang perempuan, sebut aja namanya Kembang (kenapa Kembang? Karena kalau namanya Bunga itu kayak nama korban pemerkosaan), sedang hamil lima bulan, pergi ke bidan untuk periksa kehamilan. Ketika ditensi ternyata Bu Kembang sakit darah tinggi. Kuatir pasiennya kena preeklampsi, bidannya buru-buru anter si pasien ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, dokternya mengumumkan Bu Kembang memang beneran kena preeklampsi, jadi Bu Kembang kudu diopname dan diobservasi ketat.Tersebutlah dokter yang mengopname Bu Kembang di rumah sakit itu pusing tujuh keliling karena tensi si ibu naik-turun galau nggak karuan setiap hari. Saban kali dokternya mau nyuruh Bu Kembang pulang, nggak jadi soalnya tensi Bu Kembang naik melulu nggak turun-turun. Bu Kembang makin stres soalnya bosen diopname dan nggak bisa ketemu keluarganya sering-sering. Pasalnya Bu Kembang diopname di kelas 3, dan aturan rumah sakit bilang kalau keluarga cuman boleh jenguk pasien pas jam besuk aja. Selama dirawat pasien nggak boleh ditungguin keluarga di samping tempat tidur soalnya kehadiran pendamping nggak kasih kontribusi apa-apa selain menuh-menuhin ruangan yang udah telanjur sempit. Padahal Bu Kembang udah diopname di situ tujuh hari, bisa dibayangin betapa bosennya dos-q karena di situ dos-q cuman tidur dan tiduran aja nungguin jam besuk datang. Lha apa bedanya sama penjara kalau gitu?Akhirnya keluarga Bu Kembang dateng ke manajemen ruang opname dan memohon supaya keluarga boleh tinggal di samping Bu Kembang 24 jam. Alasannya soalnya ibu hamil kan sering-sering pipis, jadi supaya ada yang siap memapah Bu Kembang ke toilet setiap saat. Manajemennya nolak soalnya kata dokternya Bu Kembang itu masih bisa jalan sendiri, jadi nggak perlu didampingin setiap menit. Lagian manajemen tahu itu cuman akal-akalan keluarga si pasien aja, supaya keluarganya diijinin masuk ke kamar kelas tiga di luar jam besuk.Lama-lama keluarga ngeyel kepingin tetep bisa nemenin si pasien terus-terusan. Akhirnya rumah sakitnya kasih tahu bahwa, aturannya adalah keluarga cuman bisa menemani si pasien di samping tempat tidur jika si pasien diinapkan di kelas satu atau kelas VIP. Keluarga bilang oke aja kalau pasiennya dipindahin dari kelas tiga ke kelas satu atau kelas VIP sekalian. Tapi rumah sakit nggak mau oke, soalnya sejak awal tuh pasien udah mendaftar ingin dirawat di rumah sakit itu dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu alias menyatakan dirinya miskin. Dan pemerintah setempat sudah mutusin bahwa warga miskin cuman berhak dirawat di kelas tiga, nggak boleh naik kelas ke kelas dua apalagi minta dirawat di VIP. Kalau sampek Bu Kembang selaku pasien Tidak Mampu minta naik kelas, artinya dos-q mengaku bahwa pernyataan awal yang dos-q bikin bahwa dos-q miskin itu ilegal.Dokternya sampek geleng-geleng kepala. Bukan aneh lihat pasien ngaku miskin mendadak kepingin dirawat di kelas VIP cuman demi bisa ditemenin keluarga. Tapi keheranan kenapa rumah sakit pemerintah nggak mau terima kenyataan bahwa si pasien miskin bisa mendadak mengaku bisa bayar VIP. Lha ini kan Lebaran, siapa tahu pasien miskinnya baru dapet mustahiq zakat jadi sekarang bisa bayar mahal, ya kan?Bu Kembang dan keluarga jadi nyesel kenapa dari awal mereka ndaftar di rumah sakit itu dengan mengaku-ngaku Tidak Mampu. Coba kalau dari awal nggak nyodor-nyodorin Surat Keterangan Tidak Mampu, pasti mereka bisa pindah kelas kapan saja mereka mau. Lha mereka pakai Surat itu soalnya denger-denger yang Tidak Mampu itu bisa dirawat gratis di rumah sakit alias nggak mbayar. Tapi mereka nggak ngeh kalau ternyata konsekuensi dari nggak mbayar itu harus bersedia dirawat di kelas tiga. Artinya harus bersedia mematuhi aturan bahwa dia harus tidur sendirian bersama pasien-pasien lain di ruangan yang sempit tanpa ditemani keluarga. Cuman boleh dijenguk keluarga pas jam besuk doang.Sekarang Bu Kembang memohon-mohon ke dokternya supaya boleh pulang. Dokter menolak karena menganggap pasiennya belum sehat betul. Pemerintah sudah berkomitmen kepingin merawat warganya yang miskin dengan serius, bela si dokter, jadi kalau tensi masih galau pada si ibu hamil ya ibunya nggak boleh pulang.
Dan karena memang penyebab tekanan darah tinggi pada ibu hamil adalah kehamilannya itu sendiri, maka idealnya si ibu harus tinggal di situ sampek tiba waktunya melahirkan. Padahal kehamilan si ibu baru enam bulan. Alamak.Program pemerintah menggratiskan warga untuk diopname itu cuman program populis. Bungkusnya yang bernama "gratis" itu terdengar indah, tapi manifestasinya tetep aja nggak enak. Mestinya masyarakat nggak boleh langsung terbuai dengan kata gratis, karena di dunia ini jelas "there's no such thing like a free lunch". Selalu ada yang harus dibayar dengan penderitaan. Dikiranya enak kalau punya duit cukup buat pindah ke kelas VIP tapi nggak boleh pindah gegara dari awal sudah ngaku-ngaku melarat?Jangan pernah ngaku-ngaku kerdil. Nanti ditanggapi kerdil sungguhan. Nyesel lho.

http://laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Zizy Damanik says:

    Ada aja emang yg pura-pura miskin demi hemat beberapa ratus ribu, tapi kemudian begitu tahu kenyataannya, kan badannya memang gak terbiasa miskin toh makanya mengeluh. Dan dia gak malu juga…

  2. Cahya Legawa says:

    Lha, saya juga sering kok melihat sesuatu yang seperti itu. Geleng-geleng dah jadinya.

    Biar saja, nanti kalau merasa kan mereka bakalan lebih bijak dengan sendirinya.

    Di mana-mana katanya (sejak ada jampersal), unit persalinan dan kebidanan bikin tekor rumah sakit pemerintah, dan mesti disokong dana lebih dari unit lainnya. Ha ha…, ya subsidi silang gitu.

    Tapi kok ya orang mampu itu ndak berpikir mengasuransikan kesehatannya ya kalau begitu.

    1. Jampersal bikin tekor semua rumah sakit karena perjanjian awalnya tidak dilaksanakan dengan betul.
      Kan awal perjanjiannya Jampersal hanya untuk wanita-wanita yang hamil anak pertama atau anak kedua. Tapi pada prakteknya Jampersal dipakai juga untuk wanita yang hamil anak kelima bahkan anak ketujuh. Gimana nggak tekor rumah sakit bayarin Jampersal kalo kayak gitu caranya?

  3. Dian Jauhari says:

    Pasien mengaku miskin agar tidak perlu bayar saya kira pilihan lebih bijak. Daripada daftar sebagai pasien umum di kelas III tapi bayar rawat inap, obat, dan jasa medis. Kalau dihitung-hitung semua biaya itu jatuhnya besar juga, apalagi masa rawatnya lama. Yang awalnya mampu bisa jadi miskin juga.

    Toh sebenarnya itu merupakan kewajiban pemerintah untuk melindungi seluruh warganya, hanya yang miskin dapat prioritas.

    Cuma konsekuensi dari pilihan itu juga harus disampaikan dan pasiennya sudah siap. Jadi ekspektasinya lebih rasional.

    1. Bagaimana menyampaikan konsekuensi dari pilihan itu kepada pasien? Saya rasa itu sudah disampaikan dalam informal consent. Sebelum menandatangani perjanjian rapat inap, rumah sakit selalu punya surat tanda tangan dari keluarga pasien bahwa pasien bersedia dirawat di kelas 3 di mana konsekuensi dari bersedia dirawat di kelas itu adalah ini, ini, dan itu. Omong kosong jika di kemudian hari pasien mengklaim tidak tahu apapun tentang perjanjian padahal dia sendiri yang tanda tangan.

      Eh, kok lama-lama saya jadi kedengaran seperti pengacara rumah sakit ya? Hihihi..

  4. capcaibakar says:

    ini pasiennya yang ngaco. penunggu memang ga ada mamfaatnya kog, kan sudah ada suster. Kalau sanggup kenapa harus bilang ga sanggup.. *pengen jitakin*

  5. ternyata gak jauh beda dengan disini ya, seirng dengar cerita dari tante yang kerja dirumah sakit mengenai ini. si pasien menggunakan surat sakti tapi ternyata waktu dicek kerumahnya mentereng punya kendaraan pribadi ynag bagus

  6. Adini says:

    Emang yang gratisan itu ngak enak kok Vic, karna ada ujung-ujungnya yang ngak enakan.
    Tapi kalau emang bener2 ngak mampu , gratisan pasti sangat Alhamdullilah dan membantu sekali dan rela di letakkan dimana saja asalkan mendapat perawatan.

    Kebetulan saya melahirkan kemarin mendapat gratisan Vic, tapi bukan saya mengaku-mengaku ngak mampu. Di karenakan saya di tawarin ikut Jampersal oleh Ibu Bindan dimana saya selalu periksa. Gratisan melahirkan saya juga ngak milih di rumah sakit karna mengerikan kalau gratisan melahirkan di rumah sakit tempatku.

    Minal Aidin walfaizin Vic, gimana udah makan kue pelagi-pelaginya belum, kan udah lebaran nich.

    1. Hai Mbak Mul, selamat Lebaran ya, mohon maaf lahir batin. Ternyata Mbak Mul sekarang sudah melahirkan ya? Gimana adeknya Dini sekarang, nyusunya kenceng ndak? 🙂

      Seneng banget denger Mbak Mul bisa bersalin normal dengan memakai Jampersal. Memang mestinya ibu-ibu yang hamil normal itu melahirkan di tempat praktek bidan atau di Puskesmas aja, jangan melahirkan di rumah sakit. Di tempat-tempat bidan biasanya suasanya lebih kekeluargaan, jadi bagus sekali efek psikisnya buat ibu-ibu bersalin yang biasanya sensitif. 🙂

      Eh saya belum makan kue pelanginya nih, soalnya masih baru kembali dari medan perang. Besok-besok kalo pergi dugem mau makan kue pelangi aah.. 🙂

  7. Arman says:

    kacooooo… huahaha.

    tapi gua ngebaca ini jadi geli. soalnya baru beberapa hari lalu denger cerita temen disini. beberapa taun lalu dia operasi karena ada cancer, dan dia gak bayar. dia bilang dia gak ada duit. jadi ya gak bayar aja gitu… 😛

    padahal ya, tiap taun liburan pulang indo mah bisa aja tuh bayar tiket nya. bisa beli rumah dan mobil juga… hihihihi

    1. Arman says:

      iya disini di LA. gua gak ngerti juga kok gak dikejar ya. udah lewat bertahun2 tuh dia kagak bayar. gelo juga ya…

      gak heran california jadi bangkrut gara2 yang beginian ini kali ya… 😛

    2. Operasinya di mana? Di Cali atau di Indo? Kok bisa operasi di Cali nggak bayar? Apakah pemerintah Amrik menjamin warga imigrannya untuk operasi nggak bayar? Kalo iya, apakah Kementerian kesehatannya Amrik ini nggak tau kalo imigran yang satu ini "miskin" di Amrik tapi "tajir" di Indo? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *