Antologi “Nyesek”

Kalau kamu suka dia, bilang. Tapi kalau kamu nggak berani bilang, jangan pernah ketakutanmu bikin kamu nyesel.


***


Kolaborasi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari ini saya acungin empat jempol! Dua jempol dari tangan saya, dua jempol dari kaki saya. Soalnya biarpun Perahu Kertas sampek dipecah jadi dua seri sehingga saya terpaksa dateng ke bioskop dua kali, dua-duanya sukses bikin saya lengket sama kursi bioskop lantaran saya penasaran kepingin nonton credit crew sampek terakhir. Filmnya hampir sama bagusnya dengan novelnya, dan nggak salah film ini jadi trending topic di mana-mana.

Kugy dan Keenan kabur ke pinggir pantai untuk membahas mimpi masing-masing.
Keenan satu-satunya yang hafal semua dongeng karya Kugy yang dianggap irasional .



Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Koesmadji) diam-diam saling naksir sejak kuliah, tapi nggak pernah bilang satu sama lain. Siyalnya, sahabat Kugy, Noni (Sylvia Fully) malah nyomblangin Keenan dengan sepupunya sendiri, Wanda (Kimberly Ryder) sehingga Kugy jadi patah hati dan menghilang. Wanda yang kemecer setengah mati dengan Keenan, mencoba menipu Keenan dengan pura-pura beli lukisan Keenan, sehingga Keenan nekat drop out kuliahnya demi melukis profesional.


Ketika Keenan ngeh ditipu, Keenan putus asa dan kabur ke Bali untuk tinggal bersama Wayan (Tio Pakusadewo), pelukis yang dikaguminya dan secara kebetulan juga masih mantan pacar Lena, ibunya sendiri (Ira Wibowo). Di Bali itu dia mencoba menyusun hidupnya yang berantakan, dan berkencan dengan ponakan Wayan, Luhde (Elyzia Mulachela).

Keenan sudah memilih Luhde, seharusnya Luhde senang.
Tapi Luhde galau karena merasa dirinya selalu jadi bayang-bayang Kugy.



Tapi Keenan tidak pernah melupakan Kugy. Keenan pelan-pelan bangkit, lalu membuat lukisan pertamanya, yang inspirasinya datang dari dongeng-dongeng karya Kugy yang sering diceritakan Kugy saat dulu mereka masih dekat. Lukisan pertamanya tahu-tahu dibeli Remi (Reza Rahadian), seorang pengusaha periklanan top dan sejak itu karier Keenan melonjak menjadi pelukis ternama.


Dewi Lestari memang sengaja mempersempit setting dengan mempertemukan Remi dan Kugy, dan ujung-ujungnya mereka pacaran. Kugy akhirnya ketemu Keenan lagi setelah Keenan tiga tahun drop out kuliah, dan ternyata Keenan sudah jadi ilustrator jempolan dan sudah punya pacar.


Pertemuan itu bikin Kugy galau karena diam-diam ternyata ia masih mencintai Keenan yang nggak jomblo lagi, sedangkan ia sendiri sudah punya pacar. Keenan juga akhirnya sadar bahwa Kugy sudah di-tag Remi, sehingga Keenan memilih Luhde. Padahal Luhde ternyata selama ini penggemar tulisan Kugy, dan Luhde langsung minder karena merasa kalah keren ketimbang Kugy. Remi sendiri akhirnya tahu bahwa ternyata tunangannya diam-diam naksir sohibnya sendiri, dan lukisan yang dipujanya ternyata dibikin oleh sohibnya yang naksir tunangannya sendiri, sehingga film ini pun jadi mbulet karena tokoh-tokoh utamanya terjebak dalam lingkaran sesat yang campur-aduk antara perasaan salut terhadap saingan dan sekaligus patah hati.

Lihat adegan Kugy dan Remi ini, maka kau akan belajar tentang apa itu ikhlas.
Saya nangis waktu adegan ini, hihihi..cengeng banget deh saya :p



Film ini dilabelin buat Remaja, dengan konflik simpel yang sebetulnya nggak jauh-jauh dari kehidupan kita sendiri. Coba Jemaah semua acungkan tangan, siapa yang dulu punya gebetan tapi nggak berani ngomong langsung? Jika kalian mengaku, coba pikir-pikir, sekiranya sekarang ketemu lagi sama mantan gebetan, dan ternyata si mantan gebetan itu ngaku bahwa dia dulu juga naksir kalian, apakah kalian menyesal? Dengan kenyataan yang kayak gitu, jika sekarang si gebetan sudah bersama orang lain, dan kalian sendiri sudah bersama yang lain lagi, apakah ini yang dinamakan “nyesek”?


Sekian lama saya nonton film Indonesia, baru kali ini saya lihat pemeran utamanya nampak kucel dan jarang mandi. Maudy di sini nampak bebas make-up, mungkin disesuaikan sama karakter Kugy yang berantakan. Reza ternyata sukses mencuri perhatian banyak penonton, nampak dari komentar-komentar di Twitter yang menyatakan klepek-klepek lihat pembawaan tokoh Remi ini. Ira, yang sekarang lebih sering jadi model iklan krim anti-aging, juga masih menarik biarpun sudah berperan jadi emak-emak.


Sayangnya ada beberapa yang kurang pada film ini. Hanung nggak memainkan adegan Wanda kejeduk atap rumah kost Keenan yang kumuh, padahal Wanda dibikin antagonis dan adegan di bukunya sebetulnya lucu sekali. Juga tidak dieksplorasi kenapa Lena dulu putus dari Wayan dan malah memilih Adri (August Melasz) sehingga menghasilkan Keenan. (Meskipun saya sudah bisa menduga jawabannya: karena Adri nampak tajir dan elite, sedangkan Wayan hanyalah seorang pemuda bertattoo yang doyan melukis dan mulutnya bau asbak). Tapi yang bikin saya gusar adalah adegan yang tidak mendidik: Kugy dalam keadaan hamil malah naik perahu di laut demi mengalirkan perahu kertas. Gila apa, kalau di tengah laut dia kecemplung gimana? Bisa gugur janinnya nanti! Terlalu!


Film ini juga sukses bikin saya meneteskan air mata karena terharu. Yang pertama ketika Keenan minta Kugy nggak mengenang cinta mereka lagi, karena Keenan ikhlas Kugy sudah di-tag Remi. Yang kedua adalah ketika Remi akhirnya tahu bahwa Kugy memendam cinta diam-diam kepada Keenan meskipun Kugy sudah memilih Remi, dan dengan besar hati, Remi melepaskan Kugy. Seolah-olah di sini nampak pelajarannya: 1) Jangan kau ambil pacar orang lain, meskipun kau mencintainya, dan meskipun dia juga mencintaimu. 2) Saat kau sadari pacarmu sebenarnya lebih mencintai orang lain daripada mencintaimu, biarkan dia pergi meskipun kamu mencintainya setengah mati.


Ini memang film yang sarat cerita akan komplikasi yang timbul akibat suatu kesalahpahaman. Ceritanya yang membumi dan apa adanya bikin film ini nggak ngebosenin buat ditonton. Semua tokoh punya karakter yang kuat, alhasil penonton punya banyak pilihan menentukan karakter favorit. Mumpung sekuel keduanya masih main di bioskop, ayo nonton yuk! 🙂

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

33 comments

  1. nyonyakecil says:

    wah tos dulu, aku juga penggemar Perahu Kertas. My fave novel. Cman ya itu kadang kalo novel dijadiin film, jadi2nya alurnya rada panjang model sinetron. aku sih nikmatin, suamiku yang rada2 bosen pas nonton haeheheh.

    Kalo di novelnya aku suka banged adegan Keenan dan Kugy saling tahu bahwa mereka saling mencintai, namun di saat yang sama juga tahu bahwa mereka tidak mungkin saling memiliki. Mungkin karna imajinasi gw sangat indah pas baca novelnya ya, jadi adegan di film nya blom bisa bikin gw nangis hihihi. Tapi gw tetep acungin jempol bwt Dee dan Hanung, film nasional ini sangat enak ditonton, punya alur yang jelas dan sarat makna.

    Oya gw kurang sreg ama aktingnya Maudy. dan chemistry mereka pas adegan di pantai itu kok terkesan 'biasa' ya? Coba kalo gw liat gebetan gw telanjang dada gt, gw pasti kebat-kebit ga karuan n blushing. Tapi si maudy tenang2 aja gak salting gimana gitu hahaha.

    BTW soundtrack film ini bagus2 lohhh! Gw suka lagu nya yang "Tahu Diri"

  2. dhycana says:

    wah…benar2 ketinggalan informasi film nasional nich….maaf mbak saya juga belum nonton filmnya, tapi diusahakan nonton deh…

  3. Ninda says:

    uwAAAA aku nangis juga nonton ini
    maminya keenan sama adri itu hamil diluar nikah mbak jadi kepaksalah dia memilih adri, kilasannya sih gitu
    yg gk sesuai itu kugy pas nikahannya eko
    dandanannya kok begitu pdhl dibukunya digambarin bagus lo
    terus luhde itu indo ya bukan gadis bali beneran? hehe habisnya mukanya bukan muka org bali
    overall tetep bagus

    1. Ninda says:

      ada mbak di novelnya pas wayan ngomong soal keenan waktu lena ke bali itu… 😀

      aku entah kenapa merasa mukanya dibuat ndeso
      orang bali itu muka2nya kayaknya gk begitu, garis2 mukanya kayak ada indonya gitu …mungkin yg asli bali lebih tau

  4. Kedua adegan yang mba bilang itu sebenernya bagus, cuma sayang…menurut aku aktingnya adipati ama maudy masih kurang. Kedua adegan tersebut sebenernya masih bisa lebih emosionil lagi, tapi jadinya malah datar gitu. Mungkin karena aku kebanyakan nonton korea juga kali ya hehehehe… Akting artis2 korea biasanya total banget, terutama di adegan2 nangis…

    Aku malah lebih sebel ama endingnya ketimbang bagian Kugy hamil2 naik kapal ke tengah laut. Endingnya kayak dipaksain abis. Sebel banget dah. Padahal aku belom baca bukunya, tapi tetep kesel ngeliat endingnya hahahaha.

    1. Aku masih penasaran tentang cara bikin adegan film yang bisa sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Adipati vs Maudy seharusnya bikin penonton menjadi ngotot ingin membela eksistensi mereka, mengharapkan supaya mereka akhirnya happy ending. Dan adegan-adegan yang di Perahu Kertas belum bisa sampek ke taraf ke sana. Mungkin Hanung belum mengerahkan seluruh kemampuannya, hehehe. Aku percaya dia bisa. Di film Tanda Tanya, Hanung sukses bikin aku terharu kok.

  5. Perasaan dulu pernah maen kesini, waktu gw masih sering ngeblog, hehe.. Resensinya keren juga bisa menampilkan plus minus filmnya. Gw aja yang ga suka film cinta-cintaan kayak ini jadi penasaran nih.. We'll see.. *thumbsup

  6. ~ jessie ~ says:

    Buat saya pribadi, saya nggak suka filmnya. Saya nonton kedua film itu karena saya suka bukunya. Saya tergila-gila dengan karakter yang ada di dalamnya, tapi begitu melihat filmnya, saya merasa pemeran yang betul2 masuk dalam karakter hanya: 1. Elyzia (Luhde); 2. Reza (Remi); dan 3. Fauzan (Eko). Yg lain? Entah ya, masih terasa kurang pas, gitu. Tapi dari semuanya, saya paling nggak suka dengan endingnya. Saya nggak ngerti kenapa Dee memutuskan utk kasi ending seperti itu di filmnya. Buat saya, endingnya ibarat krispy kreme (yg udh manis) dikasi taburan meses plus gula putih. Udh ga enak lagi, malah bikin eneg. Sorry to say, but in my sotoy opinion, ending di buku sudah sempurna: Keenan ketemu Kugy at the end dan langit tak pernah seindah itu. That's it. Ngga perlu ditambah2in lagi.
    Siska? Who the heck is Siska? She's juz mentioned once or twice only in the book. Dan di film dia dapet Remi? Oh, no.

    1. Memang ending-nya itu merusak, hahahaa..
      Saya sampek jadi ragu-ragu coz seingat saya di novelnya, Wanda itu nggak disebut-sebut lagi di bab-bab terakhir, maka saya terheran-heran kenapa Wendy dapet Kevin Julio di akhir filmnya. Dan seingat saya, Siska juga nggak terlalu signifikn eprannya di situ, apalgi sampek jadi orang ketiga/keempat di antara Remi dan Kugy. Mungkin di film terpaksa diceritain gitu "demi membahagiakan penonton", hahahaa.. Meskipun saya pikir itu nggak perlu-perlu juga sih. Saya nggak yakin penonton peduli apakah Remi akhirnya harus dapet teman kencan atau tidak. Saya yakin penonton lebih memilih Remi untuk bersama masing-masing dari mereka saja.. :p

  7. Mila Said says:

    Semua org pd bilang film ini bagus yah. Klo film ga ada berantem2an, tembak2an, dan ga ada yg mati berdarah2 klo buat aku ga menarik buat ditonton hahahaaa….

  8. angki says:

    Hihihihi sukses nonton film ini tiga kali, PK1 dua kali dan PK2 satu kali. Yang PK1 pertama sama kalian plus Siwi lanjutnya ama @hlistiani doms. Yang PK2 sama @hlistiani tentunya.
    😉

    1. okky says:

      Kemarin pas ketemu Siwi di SosMedFest, katanya dia mau nonton PK2 bareng kalian.. 😀

      Hai Vicky, salam kenal.. 🙂
      *salim*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *