Luarnya Mewah, Dalemnya KW

Dulu tuh Menteri Kesehatan (sekarang mantan) Fadillah Supari pernah nyela anggapan masyarakat bahwa rumah sakit yang bagus itu kudu rumah sakit yang lantainya dari marmer, mewah, dan sebagainya. Saya dengan jujurnya mengaku bahwa kalau pun saya sakit dan kudu diopname, saya ingin dirawat di rumah sakit kayak gitu. Meskipun saya nggak tahu apa hubungannya lantai marmer dengan kesembuhan pasien, hehee..Lalu, kemaren, pas saya lagi ngiderin Foursquare, tahu-tahu mata saya tertumbuk pada status kolega saya yang nulis, dos-q lagi jaga di Rumah Sakit X. Hey, saya langsung kepo, dan nanya kok bisa-bisanya dos-q kerja sambilan di Rumah Sakit X, padahal saya tahu tuh rumah sakit cuman mau mempekerjakan dokter spesialis sedangkan kolega saya kan juga sama-sama masih dokter umum.Lalu, dos-q jawab, tuh rumah sakit memang maunya dibayar oleh pasiennya dengan tarif spesialis, tapi supaya murah meriah maka institusi itu mempekerjakan dokter umum. Supaya aman dari kemungkinan tuntutan nggak enak, nama yang dipasang adalah nama dokter spesialis entah siapa gitu, meskipun nanti tangan yang bekerja adalah tangan asistennya (asistennya itu ya dokter umum). Kalau ada apa-apa ya yang tanggung jawab adalah sang spesialis bersangkutan karena kan nama dos-q yang dipasang.Saya dengernya jadi agak kecewa, karena somehow sekitar beberapa tahun lalu saya pernah punya cita-cita kepingin melahirkan di rumah sakit itu. Dalam benak saya waktu itu, saya kepingin diladenin spesialis kandungan, lalu kalau saya sampek jatuh kepada situasi di mana saya harus dioperasi, saya ya maunya dibius sama dokter spesialis anestesi. Bukan dibius oleh, maaf ya, spesialis anestesi KW alias dokter umum (meskipun saya tahu juga bahwa sang dokter umum itu bertanggung jawab terhadap dokter spesialisnya juga).Saya nggak menyalahkan dokter umum yang mau-maunya bekerja atas nama orang lain sedangkan dos-q sendiri cuman dapet bayaran dikit, itu terjadi di banyak tempat, saya sendiri mengalaminya sekarang.
Saya juga nggak menyalahkan dokter spesialis yang harus nyambi bekerja di banyak tempat yang sudah kadung teken kontrak dengannya, padahal tenaga fisiknya sendiri mungkin nggak kuat untuk bisa membelah diri dan konsentrasi pada banyak tempat sekaligus.
Tapi rumah sakit seharusnya lebih jujur. Jika berani bilang kepada pasien bahwa "kami akan memberi Anda dokter spesialis", jangan lantas pada prakteknya hanya memberikan dokter spesialis yang baru seperempat jadi (alias spesialis KW).Ah, tapi siapa yang akan mempertanyakan kejujuran rumah sakit? Apalagi kalau rumah sakitnya. Sudah mewah dan berlantai marmer seperti yang diceritakan Bu Supari, ya toh?

http://laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. mikhael says:

    bukti kalau rumah sakit itu lahan bisnis.. di tempat kami beberapa residen interna senior juga kerja sambilan di swasta buat nambah2 uang kuliah. Ngakunya sebagai Internis…hehehe…

  2. nilola24 says:

    Jadi maksudnya, nama di papan misalnya Dr specialis A, tp ternyata yang praktek di dalem si dokter umum B. Wahh…gawat dong kalo ternyata ada pasien baru (ga pernah liat muka si dr spesialis) yang lagi kebingungan nyari second opinion dan dapet nama dokter specialis yang kata orang-orang hebat, eh, tau-tau malah dilayani si dokter umum ini. Kacaunya dia ga tau kalo itu bukan dokter yang dia cari. Kalo salah analisa gimana? Hiii…makanya orang yang punya banyak duit, lebih milih cari dokter luar negeri yang ga maen2 sama jabatan. Yang ga punya duit..ya pasrah!

  3. Ami says:

    gimana ya, kakakku tuh di jakarta milih berobat ke penang katanya ke rumah sakit dilempar-lempar gak jelas. second opinion pengobatannya lain lagi

  4. Adelheid says:

    Baru tau ada istilah spesialis KW hehehe.
    Oh ya vic, sebenernya dokter spesialis gitu lebih murah kalo kita dateng periksa ke mereka waktu di RS atau waktu mereka praktek dirumah sih ya?
    Btw, dokter di JPN gini ga ada lagi yg praktek rumahan skrg. Jadi klo sakit harus ke klinik atau RS & dokternya belum tentu ada juga klo yg spesialis tertentu.

    1. Sebetulnya lebih baik jika kita ketemu dokter yang sama untuk penyakit kita. Tidak ganti-ganti orangnya. Karena dia yang tahu seluk-beluk diri kita dan penyakit kita, dan pasien yang satu dengan pasien yang lain tidak bisa disamaratakan kendati penyakitnya sebetulnya sama.

      Tapi memang ketersediaan dokter masih terbatas, barangkali di Jepang demikian. Sehingga dokter yang satu masih diperlukan di banyak tempat, sehingga dia tidak bisa available untuk pasien yang sama (seolah-olah untuk berhubungan dengannya, kita harus janjian dulu).

      Anyway, definisi kepepet bagi medis maupun bagi pasien itu berbeda sama sekali. Ada beberapa tindakan medis yang tidak perlu dilakukan oleh dokter yang sama, tetapi bisa dilakukan oleh dokter yang berbeda, bahkan bisa juga dilakukan oleh hanya seorang paramedis (misalnya oleh perawat). Ini normal, dan sebaiknya pasiennya terima saja, jika dia memang terdesak oleh waktu (dan uang). Yang penting, dokter yang bersangkutan tahu-menahu mengenai kondisi pasien yang bersangkutan, sehingga dia bisa bertanggung jawab jika terjadi musibah pada penanganan yang dilakukan oleh petugas yang menggantikannya.

    2. AdeLheid says:

      Oh gitu, kadang aku lebih berani ke RS soalnya harganya udah pasti ya. Klo dateng langsung ke rumah takut jadi lebih mahal.

      Iya, disini paling klo mau yg mahal tu yg tipe2 klinik2 elite atau klinik yg tujuannya lebih untuk kecantikan.

      Oh maksud aku itu klo misalnya kaya mau ketemu spesialis tulang, kadang di RS itu jadwal terima konsultasi cuma seminggu 2x karena sisanya ntah dokternya pergi belajar atau pergi operasi atau dirotasi ke ICU atau kemana gitu… jadinya kalau pas kepepet banget ga selalu bisa ketemu dokter yg sama. Klo di Indo kan bisa cari dokernya wkt praktek dirumah bahkan neror lewat sms ya hehe…

      Tapi ga tau sistem mana yg sebenernya lebih bagus.

    3. Wah, aku nggak tau mana yang lebih murah, antara praktek di RS atau praktek di rumah. Soalnya sampek sekarang tarif dokter di Indonesia belum ada standarnya.

      Tarif yang dibayarkan pasien pada dokter spesialis di RS, itu nggak seluruhnya masuk ke kantong si dokter. Dari tarif itu ada yang harus masuk ke kas RS. Variasi persenan yang masuk benar-benar ke kantongnya si dokter sangat bervariasi antara RS satu dengan RS lain.

      Karena nggak sama variasinya itu, sebagian dokter spesialis buka praktek sendiri. Dengan harapan semua tarif memang masuk ke kantong dia, nggak bagi hasil sama perusahaan (RS) tempatnya bekerja..

      Aku pernah punya teman yang tinggal di Jepang. Memang dia bilang kalau dia nggak pernah nemu dokter yang praktek rumahan. Bagus sih sebetulnya, jadi regulasi distribusi dan tarif dokter diatur oleh pemerintah Jepang, nggak ada iri-irian antara dokter yang berakibat jelek ke pasien.

      Nggak mesti ke dokter spesialis kok, Nge. Kalau di sana dirasakan dokter umum bisa melayani, maka kamu nggak akan dirujuk ke dokter spesialis.

  5. nah nah … gimana nih nasib pasien yang gak tau-an ? waduh, jadi makin serem ya.

    gimana klo mo bedain dokter umum sama spesialis klo gitu mbak Dokter? emang pasien boleh ya nanya identitas dokternya gitu?

    1. Sebetulnya dokter umum dan dokter spesialis itu nggak bisa dibedakan dari tampangnya, Mbak. Banyak dokter umum yang tampangnya sudah boros, sebaliknya banyak dokter spesialis yang tampangnya masih imut-imut.. Pasien kalau mau nanya identitas dokternya sih boleh-boleh aja, kalau mau.. Tapi jarang banget ada pasien yang mau nanya gitu..

      Saya kalau ditanyain, "Anda dokter umum atau dokter spesialis?" saya pasti akan jawab, "Menurut Anda, bagaimana?" :p

  6. Latree says:

    kesimpulan, kemasan mewah belum tentu dalemnya bagus…

    kl aku sih milih rumahsakit yang nyaman tapi terjangkau. dokternya ya harus sesuai dengan yang diminta…

  7. Arman says:

    lho tapi itu maksudnya jadi pasiennya gak ketemu ama spesialisnya sama sekali gitu vic? jadi cuma ama assistennya?
    atau emang ketemu ama asistennya dulu untuk preliminary exam, baru abis itu ketemu specialistnya?

    kalo gak ketemu ama specialistnya sama sekali, dan cuma ketemu asistennya, itu mah penipuan dong ya…

    1. Dalam beberapa kasus, pasien akan ketemu asisten untuk preliminary exam. Seterusnya, dia akan diladeni specialist-nya.

      Tapi dalam banyak kasus, dia hanya akan ditemui asisten, dan nggak ketemu spesialisnya sama sekali. Spesialis cuman ngawasin dalam bentuk laporan doang. Penipuan? Yah, tergantung dari sudut mana kau menilainya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *