Pak Guru Bilang, Lupa Itu Tidak Apa-apa

Akan jauh lebih sederhana, jika jenis-jenis penyakit itu sesimpel diagnosa Puskesmas: PUSing, KESeleo, dan MASuk angin.

Kalau pusing kasih aja parasetamol. Kalau keseleo kasih aja asam mefenamat. Kalau masuk angin kasih aja vitamin C.

Tetapi dalam prakteknya, penyakit tidak pernah sesederhana itu.

Penyakit itu, menurut ICD-X ada ribuan jenis. Setiap diagnosa penyakit punya obat yang beda-beda. Tidak semua penyakit bisa sembuh dengan kasih obat, beberapa harus ditindak, mulai dari dipijit sampek dibelah.

Persoalannya, tidak semua dokter hapal jenis-jenis pertolongannya. Daya menghapal itu sangat ditentukan bermacam-macam faktor, mulai dari umur dokter yang bersangkutan, pengalaman, sampek kemauan dokternya untuk membaca buku dan ikutan seminar. Akibatnya, nggak semua keluhan pasien yang datang berobat bisa ditangani dengan betul. Ada yang penyakitnya hilang (saya nggak suka istilah SEMBUH), ada juga yang enggak. Ada yang terhibur setelah dokternya bilang, “Nggak pa-pa kok, Bu/Pak. Ini normal.” Ada juga yang jadi galau setelah dokternya bilang, “Hmm..ini bisa sembuh asalkan Anda begini, begitu, bla-bla-bla..nanti kontrol lagi ke sini bulan depan ya?” Ini dokternya bisa ngobatin nggak sih?

Dokter juga seorang pedagang yang nggak mau pasiennya kabur (baca: nggak balik lagi) cuman gara-gara pasiennya nggak percaya kepadanya. Karena itu jawaban “Nggak pa-pa kok, Bu/Pak” jadi jawaban favorit dokter yang ragu-ragu. Padahal “nggak-pa-pa” itu akan jadi bom di kemudian hari jika sebenarnya pasien itu “apa-apa” akibat dokternya tidak mengkonfirmasi keraguan. Jadi yang rugi di sini siapa? Pasiennya kan?

Guru saya membahas ini kemaren. Sabdanya, dokter mestinya nggak boleh takut menjadi tidak populer cuman gara-gara sungkan mau buka buku di depan pasiennya. Seorang pejabat mantan wapres di negeri ini malah pernah bilang bahwa pasien sebetulnya mengerti bahwa dokter bisa lupa (maksudnya lupa itu, tidak hapal semua penyakit, sehingga juga tidak hapal semua obat yang harus diresepkan). Dan karena mereka menghargai sifat dokter yang juga bisa lupa itu, mereka nggak keberatan juga kalau dokter itu mau mengkonfirmasi keraguannya. Konfirmasi keraguan itu bisa dengan cara macam-macam:
1. Lihat contekan yang diumpetin di laci, di ruangan lain. Versi canggih: di talenan (tablet, maksudnya) atau di laptop.
2. Tawarin pasiennya pemeriksaan lab tambahan meskipun pasiennya harus bayar sendiri.
3. Suruh pasiennya balik lagi tiga hari lagi, soalnya dokternya mau baca buku lagi untuk memastikan penyakit si pasien.

Saya mau nanya nih ke jemaah blog saya. Sodara-sodara Jemaah Georgetterox, gimana perasaan Sodara sebagai pasien, jika sewaktu berobat ke dokter, dokternya buka buku di depan Sodara? Apakah kepercayaan Sodara terhadapnya berkurang, atau Sodara malah menganggap itu lumrah? Jawab di kolom komentar ya..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

31 comments

  1. Asep Haryono says:

    Wah menarik sekali nih. Jadi ingat waktu sekolah dulu, Jamannya contek mencontek hiehiheiee, biar begitu belajar juga loh, Minimal tau letak letak dimana liat contekannya. Hihieieiee. Lam kenal ya, izin follow nih mba. Salam dari Pontianak

  2. orangefloat says:

    belum pernah nemu sih sama dokter yang buka buku pas pasiennya sedang konsultasi, dokter baru yah…..??? tapi gak apalah asalkan ada kemauan dari dokternya buat belajar dan berkembang daripada dokternya yang sok tau

  3. mikhael says:

    jangan2 kalau dokter buka bukunya pakai iPad 3 atau Samsung Galaxy Note keluaran terbaru, pasiennya jadi makin kagum lihat dokternya yg apdet ilmunya…heheh

  4. mikhael says:

    ikut menyimak… rasanya tidak masalah kalau dokter buka buku di depan pasien. asalkan anamnesa dan pemeriksaan jasmani nya sudah tepat caranya, utk mengkonfirmasi diagnosis dan terapi buka buku sih oke2 saja. tidak semua penyakit bisa dihapal terapinya, minimal perlu buka guideline atau MIMS.

  5. depz says:

    buka contekan di talenan. 😀
    dokter pun manusia yg bisa gengsi-an juga ya vik
    sayangnya gengsi untuk membaca or cari referensi krn lupa itu bisa berakibat fatal ya. 😀

  6. ecchan says:

    gak masalah sih. daripada salah..
    lagian dokternya kan bisa ngomong "untuk memastikan. biar gak salah diagnosa/kasih resep"..

    kalo emang ragu, boleh disuruh balik lagi..
    yang penting jangan ngomong "oohh.. itu nggak papa.. nggak mama.. nggak anak2" XDD~ soalnya aku kapok ama dokter yang baru dicurhatin, tanpa pemeriksaan lebih lanjut langsung ngomong "itu nggak pa pa".. ujung2nya ternyata ada apa-apa..

    heeerrggghhh…..

  7. kalo mau diajak ngobrol biar buka-buka buku nggak jadi soal, malah kesannya bagus sebagai dokter yang terus belajar. yang sering dokter itu kalo ditanya belagak sibuk…sok muter-muter kayak lagi nyari duit recehnya yang jatuh

  8. capcai bakar says:

    Lebih suka dokter yang buka buku dan konfirmasi ke rekan sejawatnya kalau ragu-ragu. Wajar lah… apalagi kalau penyakitnya ga wajar. *korban dokter yang diagnosis kena pengapuran pas nyari second opinion ternyata cuma kurang pemanasan*

  9. Ranger Kimi says:

    Kalau bagi saya sih tidak masalah. Ketimbang salah diagnosa? Kan berabe… Asal buka bukunya jangan lama2. Kalau mau cepat sih, google aja. Hehehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *