Mualaf Belajar Pelan-pelan

Tak ada bayi baru lahir langsung bisa berjalan. Pasti mereka belajar merangkak dulu pelan-pelan.

***

Seperti biasa, setiap tanggal 25 Desember, saya ngirimin ucapan selamat Natal ke teman-teman saya yang Protestan dan Katolik. Ini kebiasaan saya semenjak kecil yang saya piara bertahun-tahun. Teman-teman saya sudah hafal itu. Dan lucunya, selalu ada aja satu-dua orang yang bilang selamat Natal ke saya padahal saya nggak nyelametin duluan. Mungkin karena tampang saya mirip Tionghoa, kalau diteropong dari puncak Monas pakai sedotan.

Bicara soal Tionghoa, hampir selalu temen-temen saya yang Tionghoa itu Nasrani. Sedikit sekali dari mereka yang ternyata Budha atau Konghucu.

Lalu saya semakin bertambah umur, dan teman-teman saya makin banyak. Termasuk teman baru pun makin bejibun juga dan teman-teman baru ini kebetulan dari bangsa bermata sipit pula. Jadi waktu Natal kemaren, saya dengan spontan kirim message ke teman saya, sebut aja namanya Ronald, yang baru saya kenal beberapa bulan, selamat Natal.

Terus..Ronald membalasnya begini, “Makasih, Buu! Btw, aku muslim lho, hehehe..”
Saya langsung malu berat!

Besoknya saya cerita ke my hunk, “Ronald itu ternyata bukan Kristen ya? Aku sampek mokal waktu di-message itu!” Soalnya kan my hunk yang ngenalin saya ke Ronald.
My hunk: “Lho, Ronald itu Islam..”
Saya: “I thought he was Chinese! Lha waktu kita ketemuan sama dia di mall itu, aku liat pacarnya itu juga Cina!”
My hunk: “Ronald itu muslim, tapi pacarnya Kristen. Keluarganya Ronald itu campur-campur, ada yang Islam, ada yang Kristen. Dia pergi sholat Jumat kok. Tapi kalo ada keluarganya yang makan-makan babi, dia juga ikutan makan.. :D”
Saya: “Whuaaattt??”

***

Mengajari seseorang yang baru masuk Islam, hampir sama susahnya seperti mengajari bayi berjalan. Kecuali sudah diajari sejak kecil, seseorang yang umurnya sudah setua Ronald (dan praktis juga setua saya ini) pasti sulit memahami hal-hal aneh: Kenapa kita harus berolahraga membungkuk dan sujud 17 kali sehari, kenapa kita harus cuti makan 30 hari dalam setahun termasuk nggak boleh minum air seteguk saja, kenapa kita nggak boleh makan babi sama sekali.

Jadi saya mengerti bagaimana susahnya menjadi mualaf.

Ini bukan masalah belajar tentang “ini nggak boleh dan itu boleh”, tapi memahami esensi mengapa Tuhan melarang kita makan babi lebih baik daripada sekedar melarangnya tanpa memberi tahu alasannya.

Nah, saya bukan mualaf, tapi saya nyaris sama begonya dengan mualaf. Adakah yang bersedia memberi tahu saya, kenapa kita tidak boleh makan sirip ikan hiu? Karena ada yang jual sirip ikan hiu di kawasan Manyar Kertoarjo dan my hunk menolak mentah-mentah waktu saya ajak ke sana..

www.laurentginekologi.wordpress.com

www.laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. A.S. Dewi says:

    gw bertanya2 deh soal BPOM itu. Produk2 (makanan atopun obat) yang gak didaftarin ke sana tuh diperhatiin gak sih sama mereka? Ya kayak sirip hiu ini contohnya, ato kosmetik2 yg banyak pake mercury (masih banyak beredar kan itu?)

    1. Orang-orang pemerintahan ini bekerja jika ada laporan, Dew. Jadi kalo nggak ada laporan input ke mereka, mereka nggak kerja. Nggak ada yang laporin sirip ikan hiu atau kosmetik mercury lagi, mereka ya nggak oprak-oprak. Makanya di komentar-komentar sebelumnya gwbmau tahu, nih BPOM punya Twitter nggak? Supaya kita bisa lapor, gituu..

  2. Sebelum gw pake jilbab banyak yang nyangkain gw non muslim. Sampe di kantor lama sempet mo dikirimin Salah satu direktur cake natal. Makanya ada baiknya juga gw sekarang berjilbab, 'menjadi pengenal bagimu'. Kalo sirip hiu emang gak tertarik siu. Alasannya ya kasian aja hiu ditangkap diambil siripnya terua dibuang lagi ke laut. Itu kan sama aja penyiksaan.

  3. julie says:

    Dear Vicky (mudah2an komen gw masuk ini)

    Mau komen tentang apakah sirip ikan hiu haram atau halal, sama spt jawaban kawan2 di atas semua binatang laut halal dimakan
    Masalah hiu adalah binatang yang dilindungi itu cerita lain
    Dan gw juga baru tau bahwa sirip ikan hiu beracun dari komen di atas

    Yg kedua, tentang ajaran2 agama Islam
    Karena gw sendiri pernah menikah dengan seorang muallaf maka gw pernah sempat mempelajari alkitab perjanjian lama dan baru, secara umum dlm perjanjian lama ajaran2 agama Islam mirip dengan ajaran agama Nasrani tetapi di perjanjian baru diupdate.

    Yang ketiga, mau komen tentang tugas Badan POM sebagai badan yang bertanggung jawab atas peredaran makanan dan obat2an serta kosmetik yang aman bagi manusia, gw setuju banget bahwasanya Badan POM seperti FDA di amerika seharusnya menetapkan makanan2 apa saja yang boleh dan tidak boleh beredar di Indonesia misalnya permen beracun, bakso yg ada boraks, formalin dan lain2 mengapa bisa beredar? Sirip ikan hiu yg katanya beracun kenapa juga bisa ada yg menggunakan utk pembuatan cangkang kapsul?
    Sebenarnya beberapa kali gw pengen menyampaikan pertanyaan kepada Badan POM dengan postingan lo ini gw akan segera menyampaikannya

  4. Hoeda Manis says:

    Sebenarnya bahkan lebih berbahaya dari yang kutulis di koment tadi. Di antara "produk olahan" sirip hiu adalah bubuk kapsul suplemen yang dibuat dari tulang lunak sirip ikan hiu, yang banyak dikonsumsi sebagai obat.

    Padahal, ketika sirip hiu diolah menjadi bubuk, racunnya tetap melekat/gak hilang. Ketika ia dikemas menjadi kapsul, orang yang mengonsumsinya tetap akan terpapar racun itu, meski mungkin tujuannya untuk mengobati penyakitnya. Ini seperti gali lubang tutup lubang. Mengatasi satu penyakit sambil memasukkan penyakit yang lain.

    Ya, ini rumit, karena melibatkan kapitalis yang bermain dalam industri farmasi. Apakah kementerian kesehatan gak tahu? Mungkin tugas para dokter untuk memberitahu mereka, kalau memang mereka gak tahu.

    1. Kementerian kesehatan, dalam hal ini adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan, itulah yang bertugas menentukan bahan apa yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh dimakan (termasuk mungkin sirip ikan hiu olahan). Itu isinya sarjana-sarjana farmasi, mereka yang lebih berkompeten untuk membredel sirip ikan hiu.

      Adooh..call out for chemists!

  5. Hoeda Manis says:

    Nambah nih, dan sori kalo kepanjangan.

    Selain alasan konservasi, memakan sirip ikan hiu juga riskan karena mengandung racun BMAA (beta-n-methylamino-L-alanine). Racun itu gak cuma terdapat dalam sirip ikan hiu yang dikonsumsi dalam kondisi segar seperti dalam sup, tapi juga pada produk olahannya.

    Kadar racun BMAA dalam sirip hiu dianggap mengkhawatirkan, karena cukup tinggi untuk memicu kerusakan saraf otak. Kadar racunnya antara 144 hingga 1.836 nanogram/mg di setiap potongan siripnya. Akibat yang ditimbulkan racun itu, di antaranya, adalah kerusakan saraf, termasuk Alzheimer atau pikun, serta gangguan anyotrophic lateral schlerosis.

    Ya, koment ini niat sekali, dan gak ada hubungannya dengan mualaf. 😀

    1. Hah? Lho, berbahaya sekali sirip ikan hiu itu kalo gitu, Mas. Kenapa nggak sekalian aja dilarang sirip ikan hiu itu oleh Kementerian Kesehatan buat dimakan? Apakah orang-orang Kemenkes nggak tahu bahaya dari makan sirip ikan hiu ini?

  6. risdania syf says:

    yang suka jadi dilemma itu ngucapin selamat natal, biasanya aku jg ngucapin ke beberapan teman yg akrab, cuma natal kemarin dijelasin panjang lebar sama suami soal kenapa kita sebaiknya ga ngucapin selamat natal sampai selamat thn baru,,jadi malu juga,,kayanya islamku slama ini masih islam ktp,,hehe

  7. efahmi says:

    iya itu ikan hiu sih sebenernya halal, tapi ikan itu sudah mulai langka. kalo banyak restoran yg jualan sirip ikan hiu nanti bisa cepet punah. mendingan makan ikan kerapu aja, kerapu di papuma itu enak :9

    1. Lho, jadi Mas selama ini nggak mau ma'em yang di Manyar itu bukan karena alasan keagamaan tho?

      *garuk-garuk kepala*

      Tapi kita nggak bisa ke Papuma, Mas.. Kan kemaren Papuma-nya ambruk gara-gara badai ujan..

  8. Rie Rie says:

    sirip ikan hiu? waduh enggak banget.
    antara marah dan muntah-muntah saat mel;ihatnya, teringat saat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang nelayang menangkap hiu, mengiris siripnya kemudian melemparkannya lagi ke laut…enggak banget!

    1. Whoaa..jadi nggak enak kepikiran kepingin nyobain sirip ikan hiu! :((
      Di mana di dunia ini yang sirip ikan hiu disembelih dengan halal, Rie? Yang ikan hiunya ditangkap dengan perikehiuan dan nggak dilempar lagi ke laut setelah siripnya diambil? :((

  9. Rawins says:

    banyak tuh cerita kayak gitu diantara temen teman kerja
    katanya sih engkong engkongnya konghucu
    anak turunnya dah berantakan kemana selera
    kejadiannya ya persis gitu
    ada yang jumatan ada yang makan babi
    tapi mantaplah, berarti kebhinekaannya jalan…

    1. Itu banyak terjadi dulu juga pas aku masih di Cali. Orang-orang Dayak itu campur-campur, dalam satu keluarga bisa ada Muslim dan Kristen dengan proporsi yang setimbang. Yang Kristen sudah tau kalo Muslim nggak makan babi. Akibatnya kalo mereka mau dugem babi, mereka bikin sekte sendiri dan nggak ngajak-ngajak. Keluarga yang muslim nggak ngambek tuh biarpun nggak diajakin dugem babi. Seneng lihatnya, nggak pernah berantem..

      Mbok bhineka itu ya gitu, nggak usah terlalu banyak mikir..

  10. ichanx says:

    Sirip ikan hiu pada prinsipnya halal, dasarnya karena seluruh hewan laut adalah halal (Al Maidah: 96, dan bbrp hadist). Jadi meskipun hiu termasuk hewan buas (bertaring), tapi karena hidup di laut, dia tetep halal dimakan.

    itu masalah halal-haramnya ya. kalo masalah konservasi/keberadaan hiu yg udah dikit, dll, itu beda perkara.

    *edan, gw seriusan gini*

    1. Aduh, Chanx, gw suka banget kalo ngomongin yang rada terpelajar sama lu kayak barusan. Biasanya gw sama lu ngomong tuh nggak ada yang topiknya bener, kalo nggak tentang hak-hak para pengebul, pasti tentang hobi lu karaoke sendirian..

      *tersenyum bahagia*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *