Mispersepsi Penguasa Gaptek

Jadi ceritanya waktu itu saya menikah. Pas saya jalan masuk ke gedung resepsi bareng suami saya, semua orang dengan berbagai blitz berkelebatan motretin kami. Saya senyum ke setiap kamera, sampai kemudian saya terhenyak karena di antara tamu-tamu yang berdiri dengan kamera itu, ada tamu yang berdiri dan menutupi wajahnya dengan buku yang penampakannya mengingatkan saya pada buku menu Starbucks. Saya langsung mbatin, dasar tamu nggak sopan, ada penganten lewat, tamunya malah baca buku!

Ketika saya duduk di pelaminan, baru saya ngeh. Nampaknya itu bukan buku menu S*bux, mungkin sesungguhnya itu adalah Samsung G-note..

***

Kemaren saya ngobrol dengan guru saya dan guru saya itu mendongeng tentang tragedi yang terjadi sekitar beberapa tahun lalu di sebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya. Seorang direktur mengadakan rapat dan mengoceh ini-itu. Lalu ada seorang asisten duduk sambil mengetikkan isi ocehan si direktur pada notes-pad-nya di smartphone-nya dengan tekun. Tiba-tiba si direktur berkata, “Tolong saya didengarkan! Jangan SMS-an saja!”Si asisten terlonjak kaget karena si direktur sudah memelototinya.

Ketika rapat itu, si asisten pergi ke kamar si direktur dan menunjukkan isi ketikannya di notes-pad dalam smartphone-nya tadi. Dia tunjukkan bagaimana pidato si direktur yang sampek berbusa-busa tadi telah terekam sempurna dalam notes pad itu, bahkan batuknya si direktur pun sampai terketik! Si asisten itu telah menjalankan tugasnya sebagai notulen dengan rapi, bukan SMS-an.

Saya mendengarkan dongeng guru saya dan ikut tersinggung mendengar si asisten dimarahi. Notes pad dalam smartphone kita adalah penemuan yang sangat hebat dalam 10 tahun terakhir, bisa muat tulisan banyak, ngirit kertas, dan bisa dibaca sambil pup di WC. Apa maksudnya orang dimarahi gara-gara nyatet isi pidato bossnya di dalam HP??

Guru saya bilang, “Beberapa orang hanya tahu bahwa HP itu untuk SMS-an. Orang-orang macam mereka tidak tahu bahwa barang itu bisa berubah menjadi mesin ketik mini.”

Lalu guru saya melanjutkan, beberapa bulan sesudah kejadian itu, si asisten yang rajin, pandai, dan tidak pernah korup, dimutasi ke sebuah kota kecil di luar Surabaya dengan tugas pekerjaan yang tidak pantas baginya sebagai seorang asisten direktur.

Tragedi yang menjijikkan. But yes, it happened.

***

Kadang-kadang kita harus menerima bahwa kita dijahati orang karena persepsi yang salah dari orang lain terhadap kita. Seringkali persepsi yang salah dibangun dari membaca bahasa tubuh yang salah. Kau mencatat pidato gurumu di notes pad di HP, tapi gurumu ngira kau SMS-an. Kau menatap mata orang yang bicara denganmu supaya kau bisa menyimak apa yang dia bicarakan, tapi dia mengira kau sedang menantangnya. Kau melipat tanganmu karena AC ruangan membuatmu kedinginan, tapi mereka mengira kau sedang marah. Lalu karena mereka salah mengira macam-macam, lantas mereka membuat reaksi dengan menghilangkanmu dari radar mereka, manifestasi menghilangkannya dengan bermacam-macam cara, kamu bisa sebut sendiri.Bukan salah mereka yang salah membaca bahasa tubuhmu. Tapi itu salahmu yang membuat hidupmu jadi bergantung kepada keputusan mereka.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

14 comments

    1. Masa-masa gitu belum berakhir buatku, Mbak. Sekarang aja masih harus nyari-nyari di antara dosen, masing-masing karakternya gimana. Hanya untuk menghindari salah paham di kacamatanya si dosen..

  1. katrin says:

    Mirip ama tante2 yang bisik2 di gereja, pas liat orang (yg lebih muda) buka (& baca) smartphone pas pendeta ajak jemaat baca alkitab. Lha emang alkitab-nya di-install di smartphone…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *