Nikah Siri dan Kematian

Setiap orang sebetulnya kepingin seumur hidupnya sehat wal afiat dan kalau bisa menghindarkan diri dari rumah sakit. Tapi yang namanya musibah kadang-kadang belum bisa ditolak sehingga mereka terpaksa mondok di rumah sakit dan siyalnya terpaksa nongkrong di sana untuk waktu yang cukup lama: waktu yang semestinya lebih efektif kalau dipakai buat bekerja atau bersekolah atau minimal buat cuci baju dan masak untuk keluarga di rumah. Untuk sebagian orang, bagian yang paling menjengkelkan dari diopname adalah harus keluar duit yang banyak sekali.Saya baru kasih berita ke pasien saya hari ini bahwa dos-q terpaksa diopname untuk waktu beberapa hari lagi. Sebetulnya tuh pasien sudah nginep tiga hari, dan mestinya saya suruh pulang karena keadaannya membaik. Pas keluarganya lagi beres-beres gembolan, tahu-tahu pasiennya berdisko alias setep. Memang dasarnya pasiennya itu punya sakit epilepsi (orang awam menyebutnya sakit ayan). Kalau sudah begini kan saya nggak berani pulangkan tuh pasien coz dos-q kan hamil. Kami ngeri membayangkan dos-q ada di rumah lalu berdisko lagi. Orang hamil jika kejang, oksigen di otaknya merosot drastis sehingga pasokan oksigen ke janinnya pun ikutan seret. Kalau janinnya nggak dapet oksigen, bisa-bisa si janin klepek-klepek. Bukan tidak mungkin bayinya mati di dalam kandungan, padahal ini anak pertama yang sangat ditunggu-tunggu oleh keluarganya.Keluarganya nampak resah karena mereka sudah mulai kehabisan perbekalan duit untuk bayar nginep di rumah sakit. Mereka terus terang kalau mereka cuman sanggup bayar nginep selama tiga hari dan itu kan sudah habis kemaren. Kalau kami suruh pasiennya nginep lagi lebih lama, mereka bokek.Ini sebetulnya persoalan klasik yang sering terjadi juga pada pasien-pasien lain. Puji Tuhan sebetulnya Pemerintah sudah terlalu baik ke rakyatnya, karena orang-orang yang terlalu miskin untuk bayar rumah sakit sebetulnya bisa dibayari oleh Pemerintah asalkan mereka sudah daftar asuransi kesehatan Pemerintah yang bernama Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat).Keluarga pasien saya sebetulnya sudah kepikiran buat jadi anggota Jamkesmas itu. Cuman ternyata persyaratan untuk jadi anggota Jamkesmas itu sungguh maharumit, antara lain harus punya benda bernama Surat Nikah.
Pasien saya ini ternyata nggak punya Surat Nikah. Dia nikah siri.
Saya tepok jidat.***Berapa kali harus diterangkan kepada masyarakat ini bahwa kalau mau hajat hidupmu beres, orang harus punya surat resmi. Kalau mau berobat gratis, ya harus punya asuransi. Kalau mau punya asuransi, ya harus punya surat nikah. Kalau mau punya surat nikah, ya nikah harus di tempat yang resmi di KUA.Iya, ini cuman pasien hamil dengan sakit ayan. Tapi bagaimana dengan pasien-pasien lain yang ginjalnya sekarat, yang jantungnya sekarat, yang otaknya sekarat? Berapa pasien miskin harus meregang nyawa cuman gara-gara rumah sakit nggak sanggup menanggung mereka dan gara-gara mereka nggak punya asuransi Jamkesmas? Dan semua ke-nggak-punyaan itu karena mereka nggak punya surat nikah dan hanya semata-mata karena mereka lebih seneng nikah ngumpet-ngumpet?

www.laurentginekologi.wordpress.com

www.laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

34 comments

  1. Lyliana Thia says:

    Hi Vicky…

    Kayaknya yg masalah bukan kua-nya yak… Hehehe… Masalah sbenernya di nikah keberapakah ini? Krn negara udah melakukan tugasnya melindungi hak2 perempuan sehingga laki2 yg menikah lg gak bs punya surat nikah tanpa persetujuan istri pertama… Utk yg nikah siri, yah kasian aja ya… Lagi2 yg jd korban ya perempuan… Salahnya knapa mau dinikah siri… Kasihan..

    1. Memang ini sebetulnya bukan masalah KUA-nya, hahahahah!
      Bener, Mbak Thia, siapa suruh nikah siri. Lihat tuh, gara-gara nikah siri, sekarang jadi kena getahnya.. Ketemu maut deh..

  2. Bayu Probo says:

    Wah surat nikah bisa untuk mengurus jankesmas ya? Saya kira hanya supaya tidak digropyok Hansip saja 🙂

    Dalam salah satu laporannya, Mahkamah Agung (MA) memang menyimpulkan biaya administrasi pernikahan & perceraian membuat kaum miskin makin sengsara dan terhambat dalam mengakses berbagai pelayanan pemerintah. Dalam laporan tersebut MA mengusulkan penggratisan layanan surat nikah dan cerai tersebut. Semoga terwujud.

  3. the others says:

    Selama ini yang diketahui umum kan fungsi surat nikah utk ngurus akta kelahiran guna kepentingan sekolah anak. Banyak yang belum nyadar bahwa surat nikah penting juga buat ngurus Jamkesmas. Kadang orang cuma mau enaknya, tanpa peduli dg lain2nya… baru deh kalau ketemu susahnya baru puyeng.

    1. Orang harus dipromosikan tentang manfaat surat nikah untuk membuat surat Jamkesmas. Tapi aku sendiri malah heran kenapa orang harus dibujuk untuk memiliki surat nikah. Bagaimanapun surat nikah itu kan manfaatnya untuk mereka sendiri, bukan untuk orang lain.

  4. Mel says:

    memangnya tidak bisa bikin pake KK orang tua? (kecuali namanya sudah tidak tercantum di KK ortu, itu lebih bodoh lagi)

  5. ooh ternyata salah satu syaratnya harus punya surat nikah ya. ada nih cerita seseorang mau minta surat pengantar untuk membuat surat keterangan tidak mampu untuk kerumah sakit, tapi anehnya dia tuh gak punya KTP dan KK didaerah itu gak bisa dibuatkan dong otomatis ya.

    1. Surat Keterangan Tidak Mampu seharusnya dikeluarkan oleh Kelurahan tempat ia menjadi warga. Jika ia tidak bertempat tinggal di sana (yang ditandai bahwa ia tidak memiliki KTP yang beralamatkan di sana), pasti lurahnya juga tidak bisa menandainya sebagai warganya sehingga lurahnya juga tidak akan bisa membuatkan surat keterangan tidak mampu atas dirinya dong.

  6. Goiq says:

    di Indonesia kalo udah denger kata prosedur itu udah jelimet duluan kayanya yah.. prosedur mo bikin KTP, SIM, paspor sampe surat nikah… padahal kenyataannya gak seribet itu juga.

  7. f4dLy :) says:

    Memang harus resmi dong mbak, masa' nikahnya mau ngumpet2. Hal ini memang menjadi salah satu masalah umum yang sering dijumpai di masyarakat

  8. win3 says:

    meski secara agama nikah sirri itu sudah syah akan tetapi lebih baiknya tetap harus daftar di KUA, njaganai kalo ada kejadian semacam itu.

  9. mikhael says:

    jaman sekarang kudu hati-hati, kalau pasien ini dipulangin krn ngga ada Jamkesmas, bisa2 RS nya masuk tipi, dengan judul headline .. "Pasien miskin ditolak oleh Rumah Sakit X" .. inilah Indonesia

    1. Dan nggak ada tuh berita dengan headline "Pasien nggak bisa diladeni Rumah Sakit X gara-gara nggak punya surat nikah.."
      Berita kayak gitu jelas nggak laku dan nggak akan bisa mendongkrak rating..

  10. nikah adalah sebagai kewajiban syarat di hadapan ALLAH, yang penting saksinya sesuai agama sah dan cukup, namun mendaftar pernikahan di KUA adalah kewajiban kita sebagai warga negara, dan itu sudah diatur dalam undang2, jadi perlu dipertanyakan disini, apabila tidak mau mendaftarkan pernikahannya di KUA, berarti secara sadar tidak mau menerima fasilitas yang dipersiapkan negara untuknya, salah satunya adalah Jamkesnas itu,
    salam 🙂

  11. Rian Ra-kun says:

    dulu KUA pungutannya banyak, maka itu konon sekarang sudah ada reformasi KUA yang menghapuskan segala pungli. Urusan nikah cukup bayar 600 ribu saja 😀

    Tapi kasihan juga pasien itu.

  12. Yg gua denger, soalnya nikah di Indonesia itu repot banget ngurusin surat2nya…plus banyak biaya "administrasi" di sana-sini yg bikin orang yg ga punya uang jadi memilih untuk nikah diem2 aja…

    1. Wah, kalo ngebayangin begitu bejibunnya pungli untuk urusan-urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di Indonesia, rasanya kepingin garuk-garuk tanah deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *