Supaya Operasi Anda Aman dan Nyaman

Mendengar kata “operasi”, umumnya orang selalu jiper duluan. Membayangkan tubuh dibuka bikin siapapun jadi nggak doyan makan. Sepertinya kalau disuruh operasi, orang langsung bilang “No!” keras-keras. Alasannya takut terasa sakit ketika dioperasi, takut mati gara-gara (membayangkan) badannya “dibelah”, dan lain-lain. Siyalnya kadang-kadang musibah nggak bisa ditolak, sakit bisa melanda, akibatnya diri sendiri atau keluarga yang dicintai terpaksa harus dioperasi untuk menyembuhkan penyakit. Saya pernah menyaksikan seseorang menelepon semua kawannya karena boss saya hendak mengoperasinya besoknya, seolah-olah itu hari terakhir dia hidup. Saya membatin bahwa uangnya akan habis bukan untuk bayar operasi, tapi habis untuk bayar pulsa yang dia habiskan untuk menelepon semua orang di phonebook HP-nya.

Saking takutnya orang dioperasi, sering juga kita mendapati banyak orang yang kepepet sama (rasa) sakitnya malah akhirnya minta dioperasi. Saya sendiri, yang tiap hari berjibaku mengurusi orang melahirkan, sering banget dapet permintaan dari pasien saya yang minta dioperasi aja karena nggak tahan sakitnya melahirkan. Jaman saya masih praktek di desa dulu, kalau saya ketemu orang yang sesak napas karena sakit TBC kronik, maka pertanyaan dari pasien saya adalah “Dok, apa saya harus dioperasi?” Nyokap saya juga ternyata termasuk lucu. Waktu saya dulu masih kecil banget dan divonis harus pakai kacamata (padahal jaman dulu langka banget lho anak kecil yang pakai kacamata, nggak kayak sekarang), nyokap saya menatap dokter matanya dengan cemas dan bertanya, “Apakah mata anak saya harus dioperasi?”

Sebenarnya, kejadian operasi itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Operasi, artinya pembedahan, yaitu kegiatan mengiris, memotong, dan atau menjahit anggota tubuh manusia. Anak laki-laki Anda pernah disunat? Atau kakak perempuan Anda pasang susuk KB di lengannya? Atau kaki Anda terluka sehingga terpaksa dijahit? Nah, acara sunat, pasang susuk KB, atau jahit luka, itu sebetulnya termasuk operasi, saking aja klasifikasinya disebut operasi kecil. Karena dalam kegiatan menyunat kulit kemaluan pria, ada adegan mengiris kulit dengan pisau. Untuk menyelipkan susuk KB, harus mengiris kulit lengan dengan pisau. Menjahit luka jelas perlu jarum dan benang. Itu semua kegiatan operasi kecil lho.

Nah, semua kegiatan operasi, baik itu operasi kecil maupun besar, perlu bius supaya pasiennya nggak kesakitan sementara tubuhnya “dikerjakan”. Jenis obat bius yang digunakan bermacam-macam, tergantung besarnya operasi yang dilakukan. Bius itu sendiri ada bius lokal, ada bius umum. Bius lokal artinya obat hanya bekerja pada daerah-daerah tertentu. Misalnya menjahit betis kaki yang terluka, maka obat bius hanya membuat mati rasa betisnya, tapi tidak sampek membuat mati rasa sebelah badan yang lain (sehingga di tengah-tengah dokter lagi menjahit betisnya, pasien masih bisa main HP atau bahkan makan martabak). Bius umum artinya obat bekerja di seluruh badan, akibatnya pasien menjadi ketiduran sehingga operasi dilakukan selama pasien tetap tidur.

Bius itu sendiri adalah tindakan yang berisiko, apalagi bius umum. Apa pasal? Soalnya obat bius untuk bius umum nggak cuma bikin pasien jadi tidur, tapi juga bisa bikin pernapasan pasien menjadi tertekan. Pernah dengar pecandu narkoba kejang-kejang sebelum kemudian tewas? Nah, itu karena obat yang dia konsumsi telah menghimpit pernapasannya, sehingga dia kehabisan oksigen untuk otak, otaknya menjadi rusak sehingga reaksi otaknya adalah kejang-kejang.

Wew, jadi lumayan berbahaya ya bius itu? Makanya obat bius nggak boleh dipakai sembarangan. Syarat pemakaian obat bius adalah orangnya harus dalam keadaan sehat, didefinisikan sebagai jantungnya baik, parunya oke, livernya bagus, dan ginjalnya ciamik. Konsekuensinya, orang kalau mau dibius ya harus disurvey dulu, apakah syarat-syarat sistem tubuhnya terpenuhi. Kalau syarat itu gagal, maka biusnya batal. Akibatnya operasinya juga nggak boleh dilaksanakan. Jadi, nggak sembarang orang boleh minta dioperasi.

Sekarang, bagaimana kalau kita yang harus dioperasi, atau misalnya keluarga kita yang harus dioperasi? Maka kontribusi kita adalah menyiapkan operasi dengan baik. Ini yang bisa kita lakukan:

1. Jangan makan.
Obat bius bekerja melumpuhkan otot lambung. Jika lambung terisi makanan padahal pasien sedang dibius, pasien bisa muntah selama operasi.
Makanya, selama enam jam sebelum operasi dimulai, pasien nggak boleh makan.

2. Jangan pakai perhiasan.
Bukan, bukan masalah pasien nggak nampak cantik selama badan pasiennya lagi “digarap”. Tapi kalung, cincin, dan gelang yang kita pakai itu mengandung kuman, sedangkan kamar operasi adalah kamar yang steril. Tenang aja, nanti setelah operasi, cincin kawinnya boleh dipakai lagi kok.

3. Lepaskan gigi palsu.
Susternya nggak akan tanya ini ke pasien yang masih muda dan giginya belum copot. Tapi jaman sekarang sudah banyak kan yang masih kinyis-kinyis sudah pakai gigi palsu? Copotlah gigi palsu Anda sebelum dioperasi dan titipkan ke keluarga Anda.
Seperti yang saya bilang, obat bius akan menghimpit pernapasan, dan untuk mengantisipasinya, dokter ahli bius akan memasukkan pipa bantuan napas ke mulut Anda supaya selama operasi Anda bernafas dengan bantuan mesin. Bayangkan kalau dokternya yang nggak tahu apa-apa itu memasukkan pipa napas dan nggak sengaja mendorong gigi palsu Anda sehingga giginya tertelan..

4. Hapus cat kuku.
Cat kuku sekarang unyu-unyu, ada yang cap glitter, ada yang dilukis, ada yang warna burgundy. Tapi di ruang operasi, semua kuku harus polos tidak bercat!

Seperti yang pernah saya tulis, rona kuku Anda yang berwarna merah muda itu pertanda oksigen masih mengalir deras dalam tubuh Anda. Rona kuku yang tetap putih setelah dipencet dua detik, pertanda tubuh sudah kekurangan oksigen dan tubuh siap-siap mau tewas. Kalau pasien masih pakai cat kuku selama dioperasi, gimana dokternya mau tahu si pasien ini cukup oksigen atau tidak?

5. Jangan maksa masuk ke ruang operasi.
Mentang-mentang operasi itu jarang-jarang, jadi bapaknya mau ikutan masuk, ibunya juga, termasuk aa-nya, teteh-nya, pakde-nya, bude-nya, dan semua tante-tante yang naik mobil kij.. Memang sekarang sudah banyak rumah sakit ngijinin suami menemani istri di dalam kamar operasi sementara istrinya dioperasi Cesar. Itu tergantung kemampuan rumahsakitnya untuk mengatur keluarga supaya tetap berperilaku baik selama di dalam kamar operasi. Perilaku baik itu antara lain, menjaga supaya nggak bawa kuman dari luar, nggak ribut nyorakin dokter yang lagi mengoperasi pasien, apalagi sampek berkeliaran di sekitar pasien sambil jepret-jepret pake kamera HP dengan blitz..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. Kakaaak…. Aku baru aja operasi gusi tapi aku malah disuruh dokternya makan dulu biar bisa makan obat tepat pas sebelum operasi ya aku makan hahahaha itu salah ya?

  2. mamipapa says:

    infonya sangat bermanfaat..salam kenal 🙂

    memang kalo denger kata operasi itu udah ngeri duluan hehe, waktu itu ngalamin SC 2x buat 2 anak gara2 dua2nya sungsang itu juga udah takut duluan hahaha

    lebih takut lg pas temenin anak kedua operasi jantung soalnya ada kelainan dr lahir, biusnya pake gas lewat mulut habis anaknya tidur baru keluar…duh rasanya udah mau nangis T_T

  3. Sy pny kerabat yg tni jg merangkap jd dokter anastesi. Tiap hr ada lebih dr 5 tmpt dia ikut operasi. Baca post ini jd gak kebayang repotnya operasi. Anastesinya aja ribet apalagi dokter bedahnya. Salut deh sm org medis.
    Btw, nice post. Salam kenal, dok. New visitor 🙂

  4. Rawins says:

    bener itu bu…
    sebagai orang awam aku pun sering berpikir begitu. kalo sudah sakit berat pasti ingetnya soal operasi itu.

    jadi kayaknya ga salah salah amat dengan asumsi masyarakat. udah telanjur salah kaprah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *