Dongeng dari Bangsal Pasrah

Selama tiga minggu terakhir saya disuruh guru saya magang di bangsal khusus orang-orang yang punya penyakit di alat kandungan. Sebenarnya target saya cuman belajar penyakit-penyakit yang cemen-cemen kayak tumor jinak, mens nggak teratur, dan sejenisnya. Tapi pasien yang menderita begituan di bangsal ini nggak terlalu banyak, alhasil kalau waktu saya senggang, saya lebih sering bantuin kolega senior saya yang meladeni kanker-kanker kandungan. Kanker ini paling banyak berupa kanker leher rahim, jadi kali ini saya mau cerita tentang derita pasiennya.

Kanker leher rahim, atau lebih populer disebut kanker serviks, pada dasarnya adalah tumor yang tumbuh di kawasan antara vagina dan rahim. Kalau masih di stadium 1 atau 2, cukup angkat aja rahimnya, maka kankernya nggak akan nyusahin penderitanya lagi. Tapi yang kasihan kalau udah stadium 3, di mana kankernya nggak cuman main di leher rahim, tapi sudah ndusel-ndusel ke saluran kencing sehingga bikin ginjalnya rusak dan pasiennya susah pipis.
Maka penderitanya harus diobati dengan radiasi, artinya dikasih sinar khusus yang mengandung zat-zat radioaktif untuk menghambat pertumbuhan kanker. Paling apes pada stadium 4, di mana kanker sudah nyebar sampek ke tempat lain di atas perut, misalnya ke tulang punggung, ke paru, bahkan ke otak. Kalau kayak gini nggak mungkin dioperasi, radiasi juga kayaknya nggak mempan, obat-obatan kemoterapi belum tentu manjur. Dalam hal ini pasiennya tinggal “tunggu waktunya saja”.

Pasien (kolega senior) saya yang saya urusin ini rata-rata stadium tiga. Beratnya penyakit yang sudah saya gambarkan di atas bikin saya bisa memahami kenapa mereka kadang-kadang begitu rewel. Ada yang tumornya begitu bandel, ditowel dikit aja langsung berdarah, dan darahnya na’udzubillah ngalahin cewek-cewek mens hari pertama. Nggak heran kalau kadang-kadang pasien-pasien ini suka nggak berani bersihin vaginanya saban kali habis pipis lantaran takut berdarah.

Efeknya betul-betul sinting: kebersihan kemaluan penderitanya sangat mengharukan. Kalau saya mau visite, baru jarak semeter aja udah tercium baunya busuk. Penderitanya jadi minder karena mencium bau vaginanya sendiri, alhasil mereka jadi depresi berat. Nggak cuman itu, banyak banget yang terpaksa “kehilangan” suami, lantaran suaminya juga sungkan mendampingi karena nggak tahan kebauan.

Nyeri kanker ternyata itu sakit minta ampun. Biarpun kankernya cuman di kawasan selangkangan, tapi nyerinya ternyata nyetrum sampek ke seluruh perut. Kadang-kadang penderitanya duduk miring-miring, tidur pun dengan posisi sedekap aneh, ternyata karena menghindari nyeri di kawasan antah-berantah dalam selangkangannya yang dia sendiri tidak bisa membayangkan di mana persisnya. Belum lagi kalau sudah nggak bisa pipis. Saat kami berusaha menolong dengan kasih kateter pipis, dia menjerit-jerit karena susternya nggak sengaja nowel kankernya.

Biarpun secara teoritis kanker stadium 1-2 bisa ditolong dengan operasi, nggak selalu operasi itu bisa dilaksanakan. Kadang-kadang tumornya terlalu besar, dan kalau dipaksa operasi, bisa-bisa jadi pendarahan hebat dan pasiennya malah mati di meja operasi. Supaya aman, pasien ginian harus dikasih kemoterapi dulu. Nanti kalau udah kemoterapi tiga kali dan ternyata tumornya mengecil, baru deh dioperasi.

Kemoterapi pada kanker itu sebetulnya memasukkan obat khusus ke dalam infusnya si pasien. Obat ini konon bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker supaya nggak merangsek makin banyak. Yang menyebalkan adalah efek sampingnya. Obat ini ternyata nggak cuman menghambat sel kanker, tapi ternyata juga menghambat sel-sel lain yang masih sehat. Salah satu sel yang kena adalah sel rambut. Alhasil banyak penderita yang setelah dikemoterapi jadi botak.

Obatnya sendiri bikin mual. Padahal nginfusin obatnya sendiri nggak lama, paling banter tiga jam. Tapi kata pasien saya, sekali kemo, mualnya bisa sampek seminggu. Jadi buat penderita kanker, kemoterapi ini bisa jadi fase penyiksaan lantaran bikin mereka jadi gundul dan muntah-muntah 🙁

Seperti yang saya bilang bahwa pasien (kolega senior) saya kebanyakan stadium tiga, dan stadium tiga itu mestinya diobatin pake sinar. Dan rumah sakit tempat saya sekolah itu kebanyakan pasiennya dari kelompok miskin yang berobat gratisan. Siyalnya pasien-pasien miskin ini nggak bisa langsung disinar karena untuk acara radioterapi itu mereka harus ngantre. Sehubungan pengobatan ini program gratisan Pemerintah, maka antreannya panjang banget, bisa makan waktu enam bulan. Mosok mau ngobatin orang aja kudu nunggu enam bulan, maka si pasien terpaksa diobatin dengan terapi garis kedua supaya nggak sampek tewas. Terapi garis keduanya ya kudu ikutan kemoterapi tadi, sambil nunggu sampek tiba saatnya tiket untuk terapi sinar. Masuk zona gundul-muntah deh.

Dengan deskripsi derita di atas, nggak heran kalau pasien-pasien kanker serviks itu stress berat. Nggak cuman pasiennya yang stress, tapi keluarganya juga ikutan stress. Kesakitan itu membuat pasiennya ngamuk, lalu dia ngamuk pada dokternya, pada perawatnya, termasuk juga ngamuk pada keluarganya, dan pada akhirnya ngamuk pada dirinya sendiri. Pada pasien-pasien miskin yang berobat gratisan, asuransi Pemerintah nggak sampek meng-cover keluarganya, walhasil keluarganya jadi terbebani kalau harus nungguin pasiennya selama diopname. Banyak dari mereka yang terpaksa jual rumah dan jual sawah demi berobat. Kadang-kadang keluarganya ikutan sumpek, karena harus menjaga pasiennya yang tidur berjubel bareng-bareng pasien lain yang sesama sekarat. Saya pernah menyaksikan keluarga pasien berantem cuman gara-gara yang satu kepingin tidur dengan AC nyala sedangkan tetangga di sebelahnya nggak tahan AC.

Beberapa pasien yang tidak cukup sabaran menghadapi pengobatannya, kadang-kadang nekat berhenti berobat dan lari ke dukun-dukun modern yang dewasa ini populer dengan nama “pengobatan alternatif”. Di sana mereka dicekoki ramuan macam-macam dan dikasih bisikan sesat bahwa dengan ramuan itu kankernya sembuh. Tentu saja karena tidak satupun dari ramuan itu punya dasar ilmiah, maka banyak yang tertipu dan beberapa bulan kemudian terkapar dengan ginjal yang bengkak lantaran kankernya semakin ganas dan ginjalnya kepenuhan oleh ramuan-ramuan alternatif tadi. Terpaksa cuci darah deh.

Apakah semua penderita kanker serviks seperti itu? Enggak juga. Karena operasi, radiasi, dan kemoterapi ternyata memang bisa menolong. Mereka yang patuh menjalani pengobatan dan bersedia disinar sampek 35 kali dan diberi kemoterapi sampek enam kali, ternyata kankernya mengecil dan bahkan selangkangannya kembali mulus. Memang dokter tidak boleh bilang kankernya sembuh, tetapi ya, pasiennya memang mendapatkan hidupnya kembali.

Beberapa pasien saya yang sudah dikemo berkali-kali, akhirnya mengakui bagaimana kemo yang bikin muntah-muntah itu akhirnya mengembalikan diri mereka lagi. Perdarahannya mulai berhenti, vaginanya tidak sebau yang dulu lagi. Mereka sesama penderita itu saling berkawan, saling curhat akan penderitaan, dan mereka berusaha menguatkan “teman-teman” sesama penderita lain yang sedang kesakitan. Bagian yang lucu adalah bagaimana mereka bertukar info tentang toko jualan jilbab, karena mereka ingin menutupi kepala mereka yang botak tidak karuan akibat obat kemoterapi itu. Rumah sakit kami mewajibkan mereka yang sudah selesai dikemo dan diradiasi untuk pap smear teratur (demi mengecek, siapa tahu kankernya kumat), dan setiap ada “alumni” yang pap smear-nya tetap bersih setelah tiga tahun, selalu dipandang kawannya yang lain untuk jadi bahan inspirasi supaya mau tetap berobat.

Kanker tidak bisa sembuh. Sel kanker akan tetap ada di sana, tetapi bisa dihambat supaya tidak tumbuh apalagi menyebar. Yang penting, penderitanya harus tetap bisa hidup dengan menerima dirinya sendiri. Bukan mati dalam keadaan tragis: kesakitan, botak, sedih, dan bangkrut. (Dan kadang-kadang, mati setelah tertipu dukun alternatif.) Karena seperti kata profesor saya, hendaknya jika umur sang penderita memang sudah habis nanti, penderitanya meninggal dengan tetap punya harga diri. Tetap punya perasaan bangga terhadap dirinya, tetap senang biarpun kepala sudah gundul, dan tetap punya uang cukup untuk sekedar membelikan cucu-cucunya esgrim.

www.laurentginekologi.wordpress.com

www.laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Anonymous says:

    dok mau nanya saya atul umur 20thn saya terakhir dapet mens tgl 4juli tapi sampe sekarang belom dapet lagi saya juga tidak pernah berhubungan badan penyebabnya apa? kira kira solusinya apa ya dok? makasih 🙂

  2. candra dewi says:

    sekarang saya juga lagi maen2 *penelitian di POSA, kebangeten deh antriannya yg ca cx..buaanyiuuuwak buwanget,..dan lebih banyak yang menengah ke bawah, pasien mantan kemo ada yg menceritakan dg gamblang efek sampingnya pada si calon penerima kemo dg hiperbol, padahal kan tidak semua orang mendapatkan efek yg sama ya ketika di kemo… smoga tidak ada yg lari dr pengobatan ketika mendengar cerita mitos seputar kemo.

  3. sanguines says:

    Gue nggak boleh nunda lagi nih, mesti buruan imunisasi kanker serviks.
    Sampe skrg gue males banget ke klinik buat lakuin ini. Haduh!
    Makasih reminder nya Laurent! =)

  4. Endah P says:

    Saya ibu dgn 2 anak.yg satu 9 thn.satunya lagi 6 thn.dari sekarang saya sudah siap siap meng edukasi anak anak saya untuk divaksinasi HPV.Termasuk juga memberi tau bapaknya bahwa tidak cukup saya saja ibunya yang divaksinasi tetapi juga anak lelaki saya.Salam.Nice post.keep writing yaaa

    1. Wah, Mbak Endah, ini manuver yang maju sekali. Mengajari cewek-cewek tentang pencegahan kanker serviks saja masih sulit, apalagi mengajari para calon suami. Semoga berhasil, Mbak Endah..kasih tau kalo sukses ya 🙂

  5. nyonyakecil says:

    baca tulisan kamu jadi ngingetin gw karna gw blon pernah papsmear dan vaksin antiserviks. paling telat umur berapa buat vaksin? dan sebenernya biasanya untuk cancer kan ga ada vaksinnya ya, knapa kalo cancer cerviks ini bisa ada vaksinnya? gimana cara kerjanya? harus diulang2 vaksinnya ga? *konsul gratis hueheuhe*

    btw gw suka baca2 tulisanmu, jadi gw ijin taro link di blog kuh yaa. thanks

    1. Salah satu penyebab tersering Ca cervix adalah virus Human Papilloma (HPV), jadi kalau penyebabnya adalah kuman seperti HPV, berarti pasti ada vaksinnya. Virus ini sebenarnya sudah nongkrong di badan kita tanpa menimbulkan penyakit, tapi trauma oleh penis dari pasangan seks bisa bisa mengakibatkan virus ini menjadi ganas dan membuat penyakit dalam cervix kita. Untuk mematikannya harus disuntikkan virus dulu pada waktu tiga tahun sebelum cervix kita terpapar penis. Jadi kalau ditanya umur berapa kita sebaiknya mulai divaksin, maka jawabnya adalah "pada waktu tiga tahun sebelum kita mulai berhubungan seks". 😀
      Nggak ada istilah paling telat untuk vaksin juga, karena belum ada penelitian yang membuktikan umur paling telat untuk vaksin anti Ca cervix 🙂

      Cara kerjanya ya simpel aja kayak vaksin-vaksin lain. Vaksin berisi kuman yang udah dilemahkan, dimasukkan ke tubuh kita, lalu dibaca oleh badan kita sebagai "musuh". Maka badan kita akan memproduksi sel-sel antibodi untuk menanggulangi kuman asing tersebut. Jika lain kali yang datang adalah HPV sungguhan alias calon Ca cervix, maka antibodi kita sudah siap menghadapi serangan virus itu.

  6. A.S. Dewi says:

    out of curiousity Vic, mungkin gak sih ca cervix terjadi pada wanita yg belum pernah berhubungan sex? Semestinya gak bisa kan? Ato emang bisa?

    1. sebetulnya bisa aja sih terjadi pada perawan, karena aktor utama patofisiologinya kan imunitas, sedangkan penis hanya jadi provokator. tapi nyatanya pasien ca cervix umumnya memang sudah punya pasangan seksual, jarang yang masih perawan.

  7. Rawins says:

    penyakit sekarang kok serem serem gitu ya, bu..?
    perasaan dulu ga kayak gini paling banter rangen atau kesambet
    memang ada penyakit baru atau dulu belum bisa dideteksi sih..?

    1. Dulu deteksinya nggak seramai sekarang,Mas. Sekarang karena pelayanan kesehatan makin baik, deteksi juga makin ketat sehingga penyakit yang ketahuan juga makin banyak.

  8. Rian Ra-kun says:

    Ternyata kemoterapi itu begitu ya. Tapi rasanya sulit mengharap pemerintah meningkatkan mutu pengobatan gratis. Memang harus kitanya yang jaga kesehatan dg baik ya.

    1. Sebetulnya yang namanya pengobatan gratis itu nggak pernah ada. di negara-negara maju, orang boleh berobat gratis asalkan mereka bayar pajak yang tinggi. jadi kalo Rian kepingin Pemerintah kasih pengobatan gratis, ya pastikan semua orang bisa mengelola pajak dulu dong..

  9. mikhael says:

    Dongeng yang menarik… saya sendiri sampai sekarang baru 1-2 kali bertemu Ca Cervix.. di tempat kami, kurikulum onk-gyn hanya diberikan utk residen senior.. kalau ada yang IVA atau papsmearnya mencurigakan, langsung dirujuk..heheh

    1. Ketika saya koass seperti Mikhael dulu, saya juga hampir nggak pernah ketemu kasus Ca cervix. Kasus-kasus seperti itu bukan porsinya koass.
      Sekarang saya menyesalkan karena saya dulu tidak mendapatkan kesempatan, jadi saya kurang mengenal Ca cervix. Padahal banhak vejala-gejala awal Ca cervix yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari dan sering diadukan kepada kita sebagai dokter umum.

  10. f4dLy :) says:

    Baca postingan ini malah merinding mbak membayangkan penderitaan mereka yang sakit, kesehatan benar-benar sangat berharga yah mbak :'(

    1. Iya, dalam hal ini kita jadi memahami bahwa kesehatan cervix kita sangat berharga. Fadly kan nggak punya cervix ya, tapi kalo nanti sudah punya istri harus disayang-sayang. Suami-suami pasien saya lho ketiban menderita juga gara-gara cervix istri mereka kena kanker..

  11. Membaca post ini, bikin saya jadi makin kagum sama orang yang ngabdi di dunia medis, khususon yang punya blog ini :). Anyway great post. New visitor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *