Turis Religi

Di dunia ini ada beberapa hal yang ingin saya lakukan. Nonton parade orang pura-pura jadi Yesus di Larantuka pada bulan April. Nonton biksu pake jubah warna kuning meramal garis tangan di Nepal. Nonton teman saya si Ketut bakar-bakaran mayat di Bali. Saya bahkan punya cita-cita nonton orang Yahudi sembahyang di Tembok Ratapan.

Perhatikan bahwa saya menggunakan kata “nonton”.

Tapi saya belum sempat melakukan semuanya. Saya baru sempat ke Uluwatu, ikutan baris bareng sekelompok pengumandang astungkara naik ke pura. Saya berhenti ketika rombongan itu masuk gerbang pura dan tidak ikut masuk. Saya merasa sudah terpuaskan setelah saya kena cipratan air dari seseorang yang saya pikir adalah pandita yang sedang memercikkan air berkah ke jemaahnya.

Sekitar dua tahun lalu saya pernah ikut my hunk dalam komunitas travelling yang acaranya adalah jalan-jalan lihat orang Konghucu lagi sembahyang di sebuah kuil di kawasan Pecinan di Surabaya Utara. Saya mencoba memotret-motret orang-orang yang lagi sembahyang itu, tetapi my hunk mendelik dan berbisik supaya saya ngaktifin tombol “mute” dan motret dari jarak jauh. Kendalanya adalah saya ini turis murah-meriah yang cuman bermodalkan kamera HP, efek sampingnya adalah saya cuman bisa motret jarak pendek padahal tindakan saya itu bisa mengganggu ketenangan sembahyang orang-orang itu.
Saya berasumsi orang-orang yang lagi sembahyang itu adalah tindakan eksotis. Jadi saya begitu excited motret-motret.

Malam ini saya baca liputan tentang perayaan Waisak di Borobudur yang nampaknya telah berubah menjadi sekaten versi Buddha. Terlalu banyak keramaian, terlalu banyak turis, terlalu banyak ritual yang dianggap eksotika. Salah satu adalah bagian lucu adalah seseorang mengomel di Twitter karena dia sudah bayar Rp 30k tapi cuman melihat biksu sembahyang, padahal dia jauh-jauh ke sana demi kepingin melihat lampion terbang. Very stupid person, pengomel itu.

Saya baru ngeh banyak orang menganggap nonton Waisak itu sebagai ekspektasi eksotis. Dan saya tercengang menyadari bahwa saya seperti mereka juga.

Ya nggak pa-pa sih nonton orang sembahyang. Tapi ya nggak usah motret-motret dari jarak pendek. Nggak usah maju merangsek menghalangi jalan barisan orang yang lagi berjalan sembari berdoa, demi Tuhan, itu bukan pawai. Minta ijinlah kalau mau motret ekspresi mukanya pas lagi berdoa dari jarak pendek. Dan tutup mulutlah, nggak usah komentar mengenai sesajen sesembahan mereka yang mereka taruh di (sesuatu yang Anda anggap) berhala mereka.

Paling simpel, coba kalau saya ini lagi sholat. Kebetulan sholat-nya di Timika, yang jarang ada muslimnya. Lalu seseorang yang jarang lihat muslim menganggap saya ini eksotis, lalu dia kepingin motret muka saya yang lagi khusyuk dalam balutan mukena. Seandainya dia sampek nyorongin HP ke muka saya pas saya lagi baca iftitah, niscaya saya langsung bilang istighfar dan segera menyambar semprotan obat nyamuk.

Empati, bo’! Empati!

Tapi saya masih kepingin ke Larantuka, Nepal, dan Tembok Ratapan itu. Saya masih kepingin motret mereka meskipun saya harus cari aplikasi yang bisa motret jarak jauh. Dan para turis religi sebaiknya wajib belajar tentang aplikasi “Mute”. Memang kalau mau jadi wisatawan itu ada tips-nya supaya nggak jadi turis norak yang nggak tahu sopan-santun.

Menonton orang lain beribadah seharusnya membuat kita belajar tentang empati. Bukan sekedar atraksi. Karena di situlah sebenarnya tujuan menjadi turis itu. Membuka wawasan kita, dan pada akhirnya, menjadikan kita orang yang lebih baik.

www.laurentginekologi.wordpress.com

www.laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. Mila Said says:

    kalo aku bukan penasaran pengen motret, tapi malah lebih pengen tau kenapa cara mereka berdoa seperti itu dan filosofi yang terkandung dibaliknya… sadeeesss…

  2. mawi wijna says:

    Saya dibesarkan di keluarga Muslim, sekolah di sekolah Muslim, dan mpe besar nggak tahu ibadah penganut agama lain. Tahunya di kalender ada tanggal merah dan jadi hari libur gitu doang.

    Saya penasaran, mereka ibadah seperti apa. Jadi, saya pernah ke Borobudur pas waisak, di tahun 2006. Saya lihat cara mereka ibadah. Rasa penasaran saya terpuaskan.

    Ketika saya berniat memotret mereka, saya "tertahan". Bahwa semata-mata saya nggak motret mereka hanya untuk dapet foto bagus untuk dipamerkan. Namun sebagai pengingat bahwa kita hidup berdampingan dengan mereka. Harus ada toleransi dengan mereka. Biar kita dan mereka sama-sama tidak terusik.

    Hal yang sama berlaku ketika saya motret pemandangan alam. Bukan untuk dipamerkan, tapi sebagai pengingat untuk setiap orang yang menikmati foto pemandangan alam saya, bahwa alam ini harus terjaga seindah yang ada di foto saya untuk selama-lamanya.

  3. beL says:

    Bener mba nique…pagi ini pun saya membaca bahasan yg sama di bbrp social media dan website2 berita

    Bangsa kita emng lebih senang trend2n, dimana ada keramaian, dsitu hrs hadir, tanpa tahu apa yg hrsnya dilakukan. Org2 rame ngumpul di borobudur, ikutan ngumpul…org2 rame jepret2, ikut2n aja jepret2…pokoknya yg penting eksis, ga mikir itu ganggu apa enggak

    1. Bell, aku termasuk juga penggemar keramaian itu. Inget jaman dulu aku masih seneng jepret-jepret pake kamera HP. Akhir-akhir ini mulai berhenti, karena lama-lama aku nggak mengerti esensinya yang aku potret..

  4. nique says:

    hehehe sepagi ini saya sudah membaca 2 tulisan tentang hal yang persis sama, walaupun lokasinya berbeda

    ya saya paham banget yg mbak maksud, sayangnya orang lain banyak yg ga paham tentang ini. betul sekali, EMPATInya entah sedang digadaikan kemana tau deh 🙁

    1. Lagi musim nih nulis ginian, berkaitan dengan insiden di Borobudur dua hari lalu. Semoga nggak terjadi lagi. Turis-turis Instagram amatiran itu, siapa yang bisa menertibkan mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *