Bikini dan Ratu Kecantikan

Sekedar memoir, buat kalian yang jarang nonton tivi, malam ini ada pemilihan Miss World. Tumben-tumbenan Indonesia dipercayai buat jadi tuan rumah penyelenggaraan kontes kecantikan ini. Padahal menang saja tidak pernah.

Di tweet-nya @OfficialRCTI, disebutkan bahwa untuk kontes tahun ini, tidak ada penilaian kontestan memakai bikini.

Lalu saya jadi bingung. Kebingungan ini saya susun menjadi dua postulat:

Pertama, saya heran kenapa menilai seseorang harus dengan melihatnya pakai bikini.

(Kenapa tidak dengan kostum lain? Dengan kostum astronot, misalnya?)

Kedua, saya lebih heran lagi kenapa stasiun tivi harus menekankan bahwa kontes ini nggak pake bikini. Seolah-olah bakalan disomasi aja kalau kontes ini pake bikini.

Lha memangnya kalau perlombaan ini memakai bikini, terus kenapa? Peserta yang dari negara Palestina lantas nggak bakalan menang, gitu?

Sekarang seandainya kontes ini diselenggarakan di negara pemuja bikini dan disiarkan ke seluruh dunia, lalu apakah kontes ini layak dibredel/diboikot? Lha nanti panitianya pasti bilang, “Elu gak mau nonton juga gak papa.. Gw juga gak akan rugi kehilangan sedikit persen share audience aja..”

Kontes kecantikan adalah kontes kecantikan. Perkara perbikinian itu nggak perlu didramatisir. Kalau nggak suka lihat orang pake bikini, ya nggak usah nonton. Bikin aja kontes kecantikan tandingan, kalau gitu. Bikin ketentuannya peserta harus memakai baju astronot. Saya mau kok jadi jurinya. Lumayan tuh jadi juri, udah dibayar mahal, tugasnya cuman nanya-nanya, bisa masuk tivi pula..

www.laurentginekologi.wordpress.com

www.laurentina.wordpress.com

www.georgetterox.blogspot.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *