Berbagi, Pamer, dan Komentar

Bagian yang mencuri perhatian dari setiap profil account social media itu adalah avatar dan cover photo-nya. Baik avatar dan cover photo sama-sama mewakili jatidiri si empunya account, maka wajar kalau di dunia ini ada orang yang bisa mikir sehari semalam cuman demi merancang cover photo profilnya sendiri.

Saya melihat bahwa kalau ada orang baru ganti cover photo atau ganti avatar, pasti ada aja orang lain yang komentar. Mungkin komentar itu datang dari orang lain secara spontan. Tapi ada juga orang-orang yang tertentu yang sengaja ganti cover photo atau ganti avatar hanya karena kepingin dikomentarin. Nah, orang-orang yang “kepingin dikomentarin” ini sebenarnya nggak jauh dari sifat pamer.

Sebetulnya saya nggak pernah merasa terganggu dengan orang-orang yang kepingin pamer ini, meskipun mereka bisa ganti avatar BBM sampek tiga kali sehari. Terganggu sih enggak, tapi kadang-kadang saya kepingin bertanya aja, sebenarnya apa sih modus kalian ganti avatar sampek tiga kali sehari itu? Pesan apa yang ingin kalian sampaikan? Dan yang lebih penting lagi, sebenarnya siapa yang kalian harapkan untuk melihat pergantian avatar itu? Soalnya saya nggak pernah concern sama avatar orang lain, jadi boro-boro ngerasa dipamerin profile picture, ngeliatin avatar orang aja nggak pernah..

Tapi saya lebih geli sama orang yang peduli. Pernah lagi duduk-duduk sama teman di sekolah, sebut aja namanya Morgan, sambil ngawasin pasien mau melahirkan, terus Morgan lagi main HP. Dia celoteh gini, “Si Alexis ini lagi nongkrong di Cafe X ya, kok DP-nya gambar ini?”

Saya ngintipin avatarnya Alexis, terus mengenali interiornya cafe yang cukup happening di Surabaya itu. “Hm.. ya.” Lalu saya mbalik lagi mantengin pasien saya yang lagi cemberut di depan saya. Mungkin obat induksinya sudah mulai jalan dan dia mulai kesakitan.

Satu jam kemudian, Morgan celoteh lagi, “Wah, si Alexis sekarang lagi ada di mall Y. Sama dokter Anu.”
Saya, karena saya adalah pemberi feedback yang baik, hanya mengangguk. “Hm, iya.” Lalu saya balik lagi ke pasien. Bingung kenapa kok obat induksi sudah jalan tapi bukaan si pasien nggak nambah.
Eh eh, satu jam kemudian, si Morgan komentar, “Haiah..si Alexis sudah di Cafe Z! DP-nya udah ganti lagi!”
Dan bukaan si pasien pun masih tetep. Siyalan. Bayinya macet.

Saya noleh ke Morgan itu. Menatapnya heran. Bukan heran sama Alexis yang demen gonta-ganti DP. Tapi heran kenapa Morgan mantengin recent update di BBM melulu. Situ nggak kerja tah, kok HP-an terus?

(Waktu itu saya lupa, dia kan sudah senior. Saya masih junior. Makanya saya yang kerja, dia cuman mikir manajemen resiko kalau kerjaan saya dodol. Oke sip.)

Jadi, mungkin di dunia ini, ada orang-orang seperti Alexis, seperti Morgan, seperti saya.
Barangkali Alexis memang centil suka gonta-ganti avatar. Karena dia ingin berbagi.
Atau sebenarnya Alexis memang kepingin pamer ke orang-orang seperti Morgan.Barangkali Morgan memang tukang komentar. Karena dia dilahirkan dengan jiwa yang seperti itu.
Atau sebenernya Morgan risih liat orang lain ganti-ganti DP sedangkan dia sendiri nggak bisa gonta-ganti DP. Karena gimana mau ganti DP, tiap kali buka satu aplikasi aja, juwet Kanada-nya langsung kasih gambar jam pasir. (Emangnya HP-mu, Viic?)

Yang siyal itu kalo Alexis kepingin pamer ke orang seperti saya. Because I never give a damn care about other people’s over-existency in cyber world.
Morgan juga siyal. Soalnya saya nggak pernah nyambung kalo diajakin ngegosipin orang lain..
Teman macam apa aku ini..

Profile picture/avatar/cover photo adalah perwakilan jati diri kita yang diliat orang dalam satu detik pertama.
Anggap saja orang lain tidak kenal kau apa adanya, lalu dia melihat gambarmu berupa menu ayam panggang, tidakkah dia akan menilai bahwa dirimu adalah seekor ayam..?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. wiwid says:

    buahahaha… *toss* aku gak pernah ngeh kalo ada orang gonta-ganti PP. Dan PPku belum ganti sejak entah 1-2 tahun kemarin. Yang jelas bukan PP gambar bunga atau ayam goreng juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *