Satu Foto Sehari

Saya punya proyek yang rajin saya lakonin semenjak tiga bulan terakhir, yaitu motret. Yang saya potret bukan sembarangan hal, tapi saya motret orang bergerak. Misalnya orang nyapu. Atau orang lagi masak. Atau orang lagi ngayuh becak. Pokoknya bukan orang yang lagi diam berpose, apalagi selfie.Saya mematok bahwa setiap hari saya harus dapet satu jepretan. Fotonya saya ambil pake HP aja. Alasan pake HP karena selain handy, juga karena bisa langsung di-upload. Dan upload-nya kudu ke Instagram.Kenapa pakai Instagram, soalnya secara ajaib saya mengakui bahwa foto sejelek apapun bila tampil di Instagram maka tetap akan keliatan keren, hahahah. Mungkin karena di Instagram ada filter-filter yang bisa meminimalisir cacat setiap foto. Plus Instagram memang untuk mengapresiasi foto, bukan untuk fokus terhadap caption atau komentar.Proyek ini memang saya fokuskan buat moto orang yang lagi berkegiatan. Nggak boleh foto selfie, coz itu bukan kegiatan (tapi narsis). Nggak boleh foto pemandangan, kecuali kalo di foto itu ada orang yang berkegiatan. Nggak boleh foto benda mati, karena syaratnya memang harus moto orang.Kenapa kok saya ngeyel moto orang bergerak? Ini sebenarnya terkait dengan masalah pribadi saya juga. Sudah sekitar hampir setahun ini saya didaulat untuk latihan empati terhadap orang lain. Karena saya merasa selama ini saya lebih banyak mendengar diri saya sendiri bicara ketimbang mendengarkan orang lain bicara. Jadi saya mulai pelan-pelan dengan lebih banyak diam dan belajar mengamati dan mendengarkan orang lain.Semisal kalau saya lagi pesan sushi, saya lihat pelayannya lelet, saya menahan diri untuk nggak minggat, dan saya belajar sabar menungguinya bekerja. Ternyata untuk bikin sushi, dos-q kudu ngambil segepok nasi ketan sepanjang setengah meter yang dalemnya sudah disumpal potongan ikan mentah. Lalu membungkusnya dengan nori seperti membungkus dengan kertas kado licin. Dan memotong-motongnya dengan presisi ketat karena kalau dia motong rada lebihan dikit, dia bisa dipelototin bossnya dan gajinya akan dipotong. Dan menghidangkannya di baki secara cantik supaya pembelinya jatuh cinta dan mau makan di situ lagi.Saya belajar menghargai proses. Bukan sekedar mendapatkan hasil. Makanya saya mengamati orang memasak, bukan cuman motretin makanannya doang. Saya ngawasin orang nyapu taman, bukan cuman motretin taman yang asri doang. Bahkan saya motretin orang lagi nunggu giliran naik kereta api pun, saya harus dapet ekspresi muka menunggunya. Ada yang resah gelisah, ada yang senewen. Tapi itu semua proses.Dan itu tidak mudah. Karena bersabar memotretin orang berkegiatan ternyata lebih sulit daripada moto makanan di piring. Karena mereka bergerak, sedang saya maksa pakai kamera HP yang resolusinya pelit, maka fotonya sering kali kabur. Tidak mungkin saya suruh mereka diam sebentar demi menghasilkan foto yang jernih. Alhasil saya terpaksa belajar fotografi juga sedikit-sedikit. My hunk ngajarin saya untuk motret di cahaya terang supaya mengurangi blur. Foto di siang hari lebih ciamik daripada foto di pagi hari. Maka saya pun berkorban, kudu rela iteman dikit demi dapet foto yang terang.Satu jepretan sehari kadang-kadang tidak mudah. Saya bersekolah di rumah sakit yang kegiatannya ya itu-itu aja. Mosok saya motret cleaning service lagi, atau motret UGD yang nelangsa lagi. Plus saya pake baju jas putih, dan dokter motretin orang sakit dengan kamera HP hanya untuk ng-upload ke Instagram adalah tindakan tidak etis. Praktis saya sering kehabisan ide buat difoto. Makanya kalau lagi hari libur gitu, saya belain rekreasi ke tempat rame demi dapet foto-foto beragam. Saya senang pergi ke pasar, ke taman ria. Di sana banyak orang lalu-lalang yang menarik untuk difoto, dan pedagang balon tidak pernah marah kalau saya potret meskipun saya nggak beli dagangannya. Beda dengan motretin tukang gei-n-jai di mall sementara saya bukan penggemar gei-n-jai.. :pLha ngeblog-nya gimana? Kalau proyek ini cuman sekedar pelatihan-empati, kenapa fotonya cuman diunggah ke Instagram, kenapa nggak ke blog sekalian? Alasan saya adalah, di blog saya ingin tetap nampak banyak bicara melalui tulisan. Sedangkan proyek foto saya bertujuan "foto ini harus lebih banyak bicara daripada seribu kata". Kalau saya maksa ngunggah ke blog, nanti blog saya jadi blog pameran fotografi, bukan blog orang cerewet.. :DOh ya, username Instagram saya "vickylaurentina". Tolong dikomentarin ya, foto saya bagusnya di sebelah mana, kurangnya di sebelah mana.. 🙂

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. Idah Ceris says:

    Semua pekerjaan emang butuh proses. So, sabar ajeee deh, Mba. Tapi, kalau lagi lapeer kadang ya gituuu. Ngedumeel sendiri. 😀

    Saya dukung programnya deh. Semoga tiap hari bisa upload dan juga posting di blog ini, Mba. 😀

  2. aku juga baru mainan instagram Vick….telat banget yaaa…he..he..tapi itu hasilnya…banyakan narsis gitu hahaha…tapi lagi belajar juga moto pemandangan…suka takjub liat photo-photo orang luar tuh bagus-bagus, trus tentu saja motoin si princess anakku sisanya…shopping-shopping online gitu biasalah emak-emak…aku add ya instagramnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *