Berapa Harga Nyawamu?

Sekitar tiga tahun yang lalu saya datang ke sebuah puskesmas di tengah kota Bandung. Saya dateng bukan buat berobat lho, tapi saya dateng ke situ karena semata-mata mau minta “surat keterangan berbadan sehat”. Ketika itu, saya perlu surat itu buat mendaftar masuk sekolah.
(Saya ini dokter, tapi saya nggak boleh membuat “surat keterangan berbadan sehat” atas diri saya sendiri. Kenapa? Saya juga nggak ngerti, lha birokrasinya ya begitu, hahaa..)

Seumur-umur saya nggak pernah bikin surat gituan, jadi saya terpaksa pergi ke Puskesmas. Saya dateng ke sana dengan norak, nggak tau caranya ngantre, nggak tau loket sebelah mana. Saya cuman melihat segerombolan orang berteriak-teriak nggak jelas di depan sebuah lobang jendela selebar 10 cm. Waktu saya mendekat, saya baru ngeh kalo lobang 10 cm itulah loket.

Ketika itu saya jatuh kasihan. Mereka yang berteriak-teriak di depan lobang jendela itu ternyata mau berobat. Ada yang sudah tua, ada yang ngomongnya nggak jelas, ada yang batuk-batuk melulu. Insting saya menebak-nebak, saya rasa yang di depan saya ini punya sakit jantung. Yang sebelahnya itu punya asma. Dan mereka membentak-bentak petugas loket menuduhnya lelet. Ini jam sebelas siang.

Setelah sabar menunggu dan sabar disikut orang-orang yang pengen nyerobot antrean, akhirnya saya berhasil ngomong di depan lobang kecil itu. “Saya cuman mau minta surat keterangan sehat,” kata saya.
“Lima ribu, Teh,” jawab petugas loketnya kalem.
Saya menatapnya nanar. “Eh, saya nggak sakit. Cuman mau surat sehat.”
“Sama aja, Teh. Berobat nggak berobat tetep bayarnya lima ribu.”

Saya mendengus. Maka saya bayar juga itu goceng. Sambil memaki-maki dalam hati, kenapa birokrasi maksa surat keterangan sehat dari rumah sakit pemerintah atau Puskesmas. Padahal kalo minta sama bokap yang praktek di rumah, kan gratis!

Terus saya ke ruang tunggu. Yang ternyata bukan ruang duduk, melainkan teras. Dan terasnya penuh dengan orang yang berjubel duduk dan berdiri. Setiap orang yang berdiri nampak mengawasi ketat bangku yang penuh, siapa tahu ada pasien yang mau berdiri dan tempat duduknya bisa langsung diambil. Pokoknya siapa cepat dia dapat. Nggak peduli harus balapan sama orang tua atau ibu-ibu gendong bayi. Sebodo amat dengan tata krama. Orang sakit nggak pernah mikirin tata krama.

Saya nggak berhenti ngawasin mbah-mbah berumur 50-an yang bolak-balik sesak dan jalannya kayak semut itu. Mendadak inget pakde saya yang meninggal beberapa tahun lalu karena sakit jantung. Perasaan waktu meninggal itu usianya baru 55. Membuat kepala saya pening karena bokap saya di rumah sudah 60 tahun lebih. Haduh, semoga Pops di rumah dikaruniai umur panjang. Saya masih ngutang banyak dan belom bikin prestasi apa-apa kecuali membuat kegaduhan di dunia maya.

Akhirnya saya dipanggil ke ruang dokter. Saya kirain ruangannya kayak bilik kecil tempat saya kerja di rumah sakit dahulu, ternyata ini lebih parah. Satu ruang hall diisi dua meja yang saling membelakangi. Dokternya duduk di balik meja, nggak mesem sama sekali.Saya duduk di meja kedua. Saya ngawasin meja pertama. Pasiennya si mbah-mbah 50-an itu. Nggak jelas dia ngomong apa, pokoknya dia ngomong pake bahasa Sunda yang saya nggak ngerti. Dokternya ngomong dengan nada habis kesabaran, “Saya kan udah bilang, Pak. Bapak ini harus dirujuk ke rumah sakit. Sakit jantung nggak bisa berobat di sini terus..”Lalu si mbah menggumam entah apa lagi.

Dokternya tetep ngeyel pake bahsa Sunda. “Bapak ini mau diobatin yang bagus apa enggak? Di sini cuman kasih obat biasa aja. Memang bikin kencing terus. Kalau mau sakit jantungnya sembuh ya harus berobat ke rumah sakit, Paak..”

Si mbah mengucapkan sesuatu seperti, “Di rumah sakit Hasan Sadikin ngantrenya lama..”

Orang seperti ini nggak bisa diharapkan mengantre di rumah sakit yang lebih sepi dan lebih mahal.”

Mau daftar sekolah apa?” Tiba-tiba seorang dokter sudah duduk di meja saya, menyelidik tajam.
Saya menatap matanya. “PPDS.”
Si dokter kaget. “Owalah, Mbak ini dokter??”
Saya tersenyum. Ada apa? Muka gw kayak mystery shopper ya? “Mereka bilang saya harus pake surat keterangan sehat,” dengan nada mirip birokrasi-nyebelin-you-know-lah.
Sang sejawat itu mengangguk-ngangguk setuju. “Saya nggak nensi ya? Biasanya tensinya berapa?”
Saya menyeringai. Situ memang percaya sama saya, atau tensimeternya belom dialkoholin dan situ sedang melindungi saya sebagai sejawat?”

Enak betul sekolah. Pasti banyak duitnya,” si sejawat mulai terdengar nyinyir.
Doh, saya nggak suka ini.
“Saya dulu mau daftar masuk Anak, tapi nggak keterima. Nggak sanggup bayar,” lho, kok mendadak si sejawat jadi curhat colongan. “Sekarang dokter yang muda-muda baru lulus langsung sekolah lagi, nggak pake PNS dulu. Banyak duitnya siih..”
Saya menatapnya pura-pura simpati. Susah simpati pada orang nyinyir.”Mbak-nya nggak PTT dulu, Mbak?” tanyanya.
Saya ketawa tergelak. Memang dasar muka saya kayak bayi. “Saya udah pulang PTT.”
“Di mana?”
“Kalimantan,” jawab saya kalem.
“Wuaah..berani yaa?”
Saya malah jadi bingung. Lho, memangnya pergi ke Kalimantan identik dengan pemberani ya?

Saya mulai nyari-nyari pembicaraan lain. Topik ini bikin saya nggak enak.
Sementara dokter sebelah masih bertikai karena si dokter mau merujuk, sedang si pasien nggak mau dirujuk karena ogah ngantre di rumah sakit.

Dokter depan saya nampaknya baca pikiran saya, dan berkata, “Susah pasien kayak gitu. Kita mau kasih jalan keluar yang terbaik, tapi pasiennya keras kepala kepingin tetap di Puskesmas. Padahal paling-paling obatnya ya gitu-gitu aja.”

Saya mengernyit. “Eh, Mbak, maaf, di sini ada furosemid?” tanya saya hati-hati. Saya nggak hapal stok standar obat Puskesmas.
Sang sejawat ketawa tergelak. “Haduh, Mbak! Sini mah paling-paling adanya ya HCT! Pasiennya beser wae terus!”

Saya pulang dari Puskesmas, dengan hati yang patah separuh.
Tentang pasien yang udah disuruh naik ke tempat yang lebih tinggi, tapi orangnya nggak mau.
Tentang dokter pegawai negeri Puskesmas yang ngurusin pasien berjubel, dan nampaknya dia akan ada di sana terus sampek dia pensiun. Stagnan. Lama-lama ya jenuh. Dan jadi nyinyir.
Tentang Puskesmas yang narik duit Rp 5k per pengunjung. Orang cuman minta surat keterangan sehat, suruh bayar Rp 5k. Orang sakit paru-paru, suruh bayar Rp 5k. Orang sakit jantung, suruh bayar Rp 5k. Padahal sakit jantung kan mengancam nyawa?

Negara kok cuman menghargai nyawa orang seharga lima ribu perak?? Lebih murah daripada ayam goreng KFC?Anda kalau berobat ke dokter bayar berapa? Kalau Anda ditagihin Rp 100 ribu untuk dokter yang udah meriksain bodi Anda, Anda ngamuk nggak? Lha Anda maunya dihargain nyawa berapa? Rp 5 ribu aja?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

9 comments

  1. mamipapa says:

    jadi inget nasib anak sendiri waktu itu terus minum furosemide sampe kelar operasi kayanya murah kok buat sebulan gak sampe 50rb minum sehari 2x trus itu dapet obat ya 2 macem lupa 1 lg namanya apa

    kl di subsidi pemerintah harusnya masyarakat bisa lebih sehat secara 50rb gak ada artinya juga, kecuali pasien operasi baru deh butuh puluhan sampe ratusan juta

  2. Ratu SYA says:

    miris memang kalau lihat puskesmas2 gitu. apalagi kalo sekarang gratis. bagus sih, tapi makin ga kebayang antreannya, mana orang indo ga bisa antri, bisanya ngegerombol.
    mangkanya aku lebih suka ke klinik atau rs kalo darurat. mahal dikit gak papa lah.

    1. Secara tidak sadar, rakyat sebenarnya menyalahgunakan Puskesmas sebagai lahan untuk berobat gratis. Tapi mereka tidak mau nurut kepada dokternya Pemerintah yang menganjurkan untuk stop merokok dan pake KB. Akibatnya penyakit yang menimpa penghuni Puskesmas sebagian besar adalah penyakit kronik dan pasien-pasien ini "mencekik" Puskesmas karena mereka menuntut Puskesmas menyelesaikan masalah mereka dengan solusi "a la kadarnya".

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *