Boikot Path = Boikot Bakrie?

Minggu ini ada kejutan, Aburizal Bakrie beli saham Path. Gara-gara ini beberapa orang pengikut Path ribut, mau keluar aja dari Path. Alesannya, kalau ikut Path berarti mensukseskan rejekinya Bakrie.

Saya sendiri bingung bagaimana mekanisme memboikot Path bisa mengerdilkan Bakrie. (Eh, boleh dong saya pake istilah “mengerdilkan”? Saya nggak akan dicap subversif kan?)

Menurut saya, yang ikut Path itu nggak cuman orang Indonesia doang kan? Saya rasa nggak sampek setengahnya saham Path dipunyain oleh Bakrie. Bahkan saya nggak yakin Bakrie itu tahu Path itu apa. Orang milyuner kan gitu, taunya cuman beli perusahaan ini, beli perusahaan itu, sama kayak nyokap saya milih-milih beli kacang asin di Denpasar.

Saya penasaran apa dampaknya Path kalau dibeli Bakrie. Warna dasar Path jadi kuning, gitu? Perasaan Tipiwan yang jelas-jelas miliknya Bakrie warnanya dari dulu ampe sekarang ya tetep merah aja. Saya malah lebih curiga Bakrie sebenernya naksir PDI, tapi PDI nggak mau terima dia, karena dia ambisius kepingin jadi ketua umum, sedangkan ketuanya masih tetep ibu-ibu yang satu itu.

Meanwhile, sebetulnya ada banyak cara yang lebih efektif buat boikot Bakrie daripada cuman sekedar boikot Path. Nggak usah nonton Tipiwan. Kalau stasiun tivi superlebay-dengan-penyiar-bombastis-amatiran yang satu itu nggak ada pemirsanya, maka market share-nya akan merosot. Tak ada market share, maka tak ada iklan. Tak ada iklan, stasiun tivinya mau makan dari mana?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. Cahya Legawa says:

    Path itu punya basis pengguna besar di Indonesia.

    Kalau masyarakat Indonesia memang mau cerdas, ya caranya boikot cuma keluar dari Path. Bayangkan saja kalau Path ndak dapat pengguna di Indonesia gegara Bakrie, pasti dia akan berpikir keras tentang investasi dari Bakrie.

    Perusahaan Internasional lain pun akan berpikir dua kali jika mau menerima investasi dari Bakrie jika hal seperti ini terjadi.

    Sama ketika dulu Instagram diboikot oleh para penggunanya, hingga hilang separuh lebih penggunanya, akhirnya mereka mengalah juga. Dan perlu waktu berbulan-bulan memulihkan pengguna kembali.

    Hanya saja pertanyaannya, apa masyarakat Indonesia cukup cerdas berpolitik di dunia maya, dan apa masyarakat Indonesia yang pakai Path punya insting persatuan. Itu saja kok, ga perlu repot.

    1. Maka pe-er-nya, bagaimana membuat developer Path sadar mengapa Bakrie menjadi alasan untuk meninggalkan Path. Saya kuatir bila pemboikotan ini berlalu sia-sia dan Path (di bawah subsidi Bakrie) masih tetap berkembang.

      Saya malah mikir jangan-jangan saya harus ganti kawan di Path. Karena di lingkup Path saya belum ada tanda-tanda pemboikotan.

      Apakah selain Cahya, ada teman-teman saya yang lainnya sudah memboikot Path semenjak akuisisi Bakrie minggu ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *