Rebo Nyunda

Kemaren, saya turun ke jalan dan papasan dengan beberapa remaja yang nampaknya baru pulang sekolah. Kalau diliat dari rok yang mereka pakai sih kayaknya ini anak SMP. Tapi saya terhenyak liat atasannya. Eh, sekarang model seragam sekolah itu pakai renda-renda dineci di pinggirannya ya?

Nyokap saya bilang ke saya, sekarang ada peraturan baru. Pada hari tertentu anak SMP wajib pakai kostum tradisional. Manifestasinya, anak cewek disuruh pakai kebaya putih ke sekolah.

Sebetulnya anak cowok disuruh pakai blangkon, tapi sejauh ini saya belum papasan dengan cowok a-be-geh berseragam pakai tutup kepala yang satu itu.

Akibatnya, sekarang tukang dagang kebaya di Pasar Baru laris semua, dan mereka berlomba-lomba jualan kebaya putih itu. Kebayanya model kebaya encim gitulah.

Ketika saya ng-upload kejadian ini ke Instagram, kolega saya yang bernama Inez, bilang ke saya bahwa ini namanya “Rebo Nyunda”.

Saya, ndengerin cerita nyokap, tergelak-gelak.
Maksudnya ini gimana, mau nyamain kayak anak India pergi ke sekolah pake kain sari gitu?

Untungnya ini cuman terjadi di Jawa Barat. Saya nggak kebayang kalau ini terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.
Di Papua, misalnya. Pergi ke sekolah pakai koteka? Saya bisa maklum, mungkin kewajiban pakai seragam putih biru bisa merepotkan perekonomian keluarga. Tapi gimana kalau Dinas Pendidikan lokal memang mewajibkan pakai koteka karena ada Hari-Memakai-Kostum-Tradisional?

Atau kalau ini terjadi di Cali, kewajiban pakai kostum Dayak.
Bu Guru (sambil menunjuk gambar di papan tulis): “Jadi apa nama pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru, Pulan?”
Pulan: (celingak-celinguk berusaha memiring-miringkan kepala?)
Bu Guru (heran): “Pulan, kepala kamu kenapa kok miring-miring gitu?”
Pulan: “Ngg..gambarnya terhalang oleh bulu di ikat kepalanya si Hendri, Bu!”
Hendri (duduk di depan Pulan, yang pakai ikat kepala berbulu khas Dayak): *tepok jidat*

Mudah-mudahan ini nggak jadi kebijakan anget-anget tokai ayam. Atau malah jadi nyekek leher. Jadi inget tetangga di kampung belakang rumah, anak kecil yang merengek-rengek ke nyokapnya minta dibeliin seragam Pramuka karena disuruh gurunya. Nyokapnya cuman seorang janda yang cari makan dengan nyuciin baju orang lain. Membelikan kostum tambahan hanya karena disuruh seorang pejabat dinas pendidikan, kadang-kadang bisa jadi beban ekstra yang memberatkan. Lebih berat lagi kalau sang pemakai baju Pramuka ketangkap basah nongkrong-nongkrong di warnet sembari ngebul dan main Candy Crush pada jam sekolah..

Pakai baju itu sebetulnya ada aturannya. Kepantasan pakai baju tergantung pada pembawaan pengguna, pada situasi apa baju tersebut dipakai. Menciptakan kebiasaan baru kadang-kadang memang bisa jadi kontroversif. Mudah-mudahan acara Rebo Nyunda ini nggak menurunkan nilai mulia dari kebaya itu sendiri.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

3 comments

  1. Abiyasa A.L. says:

    Punten, mau ijin nimbrung hehe. Saya tertarik membaca tulisan Anda, karena memang tanggapan mengenai Rebo Nyunda ini lumayan berbeda-beda dari berbagai kalangan.

    Saya sendiri dalam menyikapi hal ini, ambil sisi positifnya saja. Soalnya ini kan program tujuannya untuk melestarikan kembali budaya Sunda yang sudah mulai larut di kalangan masyarakat Bandung. Lagipula jika Anda membaca informasi lebih lanjut, Rebo Nyunda ini hanya bersifat anjuran & ajakan, bukan paksaan & kewajiban dimana akan ada sanksi apabila melanggarnya. Jadi kalo ga mau pake, yo weis, ga masalah.

    Jadi ini sih kembali ke individu masing-masing. Saya yakin kalo emg ada siswa sekolah yang mengenakan baju pangsi & kebaya, pasti dia, orang tua ataupun gurunya sendiri sudah mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya.

    Nuhun. 🙂

  2. Jadi kepikiran, gimana kalau Rebo Nyunda ini bertepatan dengan hari pelajaran olahraga? Susah bener anak sekolah jaman sekarang, jam segini harus ganti jadi kostum olahraga, sejam kemudian ganti lagi pake kostum kebaya. Kayak artis aja.

  3. mungkin maksudnya sih baik ya… Tapi pada prakteknya suka gak sesuai dengan sikon… Kl kayak di Jakarta terbirit2 nguber bis pake kebaya kayaknya gak banget dueeehhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *