Mereka Ada di Mana-mana

Kemaren, lantaran saya lagi sumpek kehabisan objek foto-fotoan, jadi saya ke Pasar Baru. Sudah tiga tahun saya nggak ke Pasar Baru semenjak saya pindah ke Surabaya, jadi kesempatan pulang ke Bandung lama-lama gini saya pakai buat ngunjungin tempat belanja itu.

Saya sebenernya benci Pasar Baru. Itu tempat mau diapain aja tetep kumuh kayak gang senggol. Toiletnya nggak enak, dan mushollanya nggak enak, plus di sana toko-tokonya banyak yang nggak mau pakai kartu kredit. Tapi nyokap saya seneng di sana. Dan tante-tante saya yang dari luar kota selalu minta dianter ke sana. Soale katanya, murah.

Ya iyalah, murah. Lha tempatnya aja kayak gang senggol.

Tiga tahun nggak ke sini, akhirnya saya merelakan juga diri saya mendarat ulang di tempat ini. Untunglah napsu belanja saya lagi turun drastis, jadi saya konsentrasikan fokus saya buat moto-moto orang transaksi. Tiga tahun, tak ada yang berubah. Tetep aja kumuh. Tetep aja kayak gang senggol. Tapi saya tertegun.

Saya bersenggolan sama pengunjung lain, kalau dari logat ngomongnya sih kayak logat Melayu. Tapi matanya pake celak kayak orang Tamil. Oh, turis Malaysia.

Saya jalan lagi. Terus nemu turis Malaysia lagi.

Halah, keliling satu lantai aja ketemu rombongan turis Malaysia sampek lima kali.

Terus saya pindah ke lantai lain. Lalu saya ketemu turis Malaysia lagi.

Saya naik-turun eskalator di Pasar Baru, dan turis Malaysia itu ada di mana-mana!

Saya memang udah tahu kalau Bandung nekat nerima penerbangan langsung dari Kuala Lumpur, tapi saya nggak ngira kunjungan turis Malaysia ke Bandung akan segitu masif. Dan saya nggak ngira Pasar Baru yang kumuh ini sangat atraktif buat wisatawan Malaysia. Sampek-sampek di salah satu dinding void ada spanduk segede-gede gaban, “Mohon tidak menggunakan jasa tour guide tidak resmi di lingkungan Pasar Baru”. Apa maksudnya, di sini berkeliaran calo-calo yang mau mengeksploitasi orang-orang berlogat asing?

Mungkin Bandung membuka jalur penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke bandaranya yang cuman seuprit itu karena kepingin mengeruk devisa sebanyak-banyaknya. Tapi bisa juga Malaysia yang ngeyel kepingin langsung ke Bandung karena mereka mengincar Pasar Baru.

Jika Anda kepingin tahu Pasar Baru di Bandung itu kayak apa, bayangin aja ITC Mangga Dua di Jakarta. Atau Jembatan Merah Plaza di Surabaya. Belom pernah ke sana? Oke, bayangin aja es dawet.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

    1. Bagian yang becek dan bau masih ada, Mbak. Itu di kawasan basement. Sekarang di atas basement ada gedung setinggi enam lantai, dan tiap lantai isinya kios-kios dengan omzet jutaan per kios setiap harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *