Merayap(!) di @BragaCulinary Night

Bau aroma sosis panggang merebak dari sisi kiri. Sementara itu pasukan surabi berterak-teriak nawarin dagangan, suaranya berpadu dengan
suara minyak yang lagi nggoreng cireng. Air liur menggelegak di mulut
saya, sementara saya tersiksa karena nggak bisa gerak kecuali pilihannya
harus berjalan maju. Depan saya adalah serombongan muda-mudi yang
terus-menerus cekikikan guyon sembari ngetawain diri mereka yang nekat
nyebur ke lautan manusia yang memadati jalan andesit itu. Ini Braga
Culinary Night, dan semua jajanan favorit orang Bandung ada di sini.

Mereka
menulisnya di social media secara masif dalam bulan ini sampek saya
penasaran sendiri. Ridwan Kamil, walikota yang baru itu, nekad menutup
jalan Braga pada hari Sabtu malam dan menyulapnya menjadi pasar tumpah
khusus jualan makanan. Alhasil tempat itu sekarang seperti pasar malam,
mengingatkan saya pada pesta musik jalanan di kota-kota di Perancis.
Cuman bedanya kalau itu di tiap gangnya ada tukang ngamen, maka di sini
di tiap gang ada tukang jual makanan. Saya nemu basreng, nasi uduk,
pizza, yamien. Tapi my hunk sangat tertarik pada sosis panggang.

Maka
semalam, saya dan my hunk melibatkan diri ikut join dengan kerumunan
rakyat. Festival itu padet sekali seperti tumpukan ikan pindang. Kami
susah-payah mengenali setiap gerobak vendor yang jualan, karena semuanya
penuh dikerumuni pengunjung. Padahal harganya ya nggak murah-murah
amat, saya ngitung satu porsi cemilan aja bisa ngerogoh kocek sampek
minimal Rp 15k. Tapi sepanjang saya ikut umpel-umpelan sama pengunjung,
nggak ada satu kali pun saya denger ada yang ngeluh kemahalan. Yang
ngeluh antrenya panjang kayak ular ngantre beras, banyak.

Ridwan
gendeng, saya mbatin. Seperempat warga Bandung pasti ada di sini, coz
saya nyaris nggak bisa jalan saking penuhnya. Saya bayangin berapa
pawang hujan kudu disewa, coz sudah dua minggu ini Bandung diguyur hujan
angin tiap malem, kok ya khusus semalam tahu-tahu Bandung cerah ceria.
Di setiap sudut saya melihat pedagang-pedagang amatiran, mereka yang
sudah lihai menjajakan, mereka yang nampaknya baru satu-dua kali jualan
dan mulai panik ketika dikerubutin pengunjung yang cerewet dan
kelaparan. Semuanya laris. Dan hampir semuanya disuruh pake iket kepala
Sunda. Sekalian promosi icon kebudayaan lokal?

Dan walikota itu
ada di sini, di tengah-tengah festival. Dia mengobrol dengan pengunjung,
dengan wartawan, dengan penggemar-penggemarnya. Dia menikmati festival
yang digagasnya itu, yang meskipun menyedot pengunjung jutaan tapi tetap
tertib dan nggak sampek jadi kerusuhan. Ini baru bulan Januari, apakah
tidak terlalu prematur kalau saya sudah menyebutnya man of the year?

Braga
Culinary Night ini direncanakan akan dihelat setiap malam minggu di
Bandung. Mulai dari jam 6 sore sampek jam 12 malem. Festivalnya dihelat
di sepanjang jalan Braga, mulai dari perempatan BNI sampek perempatan
Lembong. Kalau ke sini nggak usah pake sepatu hak tinggi, ketimbang
sakit terinjak orang atau malah nggak sengaja nginjek kaki orang. Pake
baju yang siap keringetan. This place is swarming!

Catetan:

Saya
dan my hunk cuman bisa pasrah dengan sebelah tangan tetap gandengan dan
sebelah tangan lainnya jepret-jepret kamera. Dalam hati saya nyesel
punya postur pendek, sehingga saya cuman bisa motretin bonggol-bonggol
kepala orang doang. Termasuk waktu saya mau motret Ridwan Kamil yang
lagi dikerubutin fotografer-fotografer amatiran itu. Untung ada my hunk,
jadi begitu saya bilang itu ada walikota Bandung, dos-q langsung
ngacungin kameranya.

Gerbang masuk dari festival ini ditulisin gede-gede, BCN. My hunk, yang
bukan orang Bandung dan saya seret ke sini dengan muslihat
ayo-kita-jalan-jalan-ke-Braga, bingung dan nanya ke saya apa itu BCN.
Saya jawab, BCN itu artinya Braga Culinary Night. Syukurlah saya 
terangin, karena dos-q mengira BCN itu singkatan dari Bunga Citra Nestari..

Tiba di rumah, kami ngeliat-liat hasil foto-fotoan my hunk.
Katanya,
“Eh? Walikotanya itu yang ini kan?” Dos-q nunjukin seorang pria yang
sudah tua berjaket gelap yang nampak lagi dikerumunin orang.
Saya ngeliat yang dos-q tunjuk, dan saya langsung tepok jidat. “Aduh, bukan, Mas..”
Dos-q terkejut. “Lho? Bukan tho? Ta’ kira yang ini yang dikerubutin orang?”
Bodi saya langsung melemas. “Bukan, walikotanya itu yang duduk ketutupan sama orang ini..”
My hunk ketawa ngakak dan saya geleng-geleng kepala. Dasar turis Surabaya..

Foto-foto di sini karya Eddy Fahmi semua. Foto jepretan saya sih di Instagram aja..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

11 comments

  1. Arman says:

    wuiii rame banget ya vic!!! seru pastinya ya… tapi ya gak nyaman ya kalo terlalu penuh. hahaha.

    gua jadi pengen dah ama sosis2 di bandung yang enak2… 😀

  2. BabyBeluga says:

    Gga takut kecopetan Vick? Waduh kebayang deh kalau saya kesana bawa misoa. Sb disini tuh kalau ke supermarket, and lihar parkiran padet (meski gga sepadet parkiran di Indo) misoa lgs batal, palagi dibawa ke BCN. Eh omong2 skrg disana bahasa Inggris boleh digunakan dengan bebas ya? Jamannya aku masih disana, Mall aja kudu diganti jadi Mal. Makanya misoa blg bahasa Indo itu gampang kali ya, tinggal menggal2in dan ganti abjad. Seperti Mall jadi Mal, Police jadi polisi, Taxi jadi taksi.LOL

    1. Copet? Ah ya, saya juga waspada. Jadi saya ke sana ya pake kostum seringan mungkin, tas yang praktis, gadget yang paling efisien doang.

      Memang kalau mau ke BCN kudu niat sih.

      Eh, ngebalik-balikin kosakata bahasa Inggris di Indonesia it udah dari jaman kapan yak? Hihihi.. Sekarang penggunaan bahasa Inggris udah nggak seketat dulu kok. Makin banyak nama restoran yang nggak bisa diucapin tukang becak berlogat Sunda, tapi ya restorannya tetep laris-laris aja..

  3. Asep Haryono says:

    Hiheihei saya tertarik dengan kosa kata :
    "umpel umpelan": Sering saya dengar kosa kata ini. Kalau nda salah ini artinya dalam 1 kamar bertumpuk tumpuk penghuninya ya. Hheiheie. Benarkah soalnya sering banged dengar kosa kata tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *