Pak, Bagus Itu Nggak Membereskan Persoalan

Dear Pak Tino Sidin,

18 tahun sudah berlalu semenjak Bapak meninggal tapi efek yang Bapak timbulkan masih membekas sampek sekarang.

Ingatkah dulu waktu Bapak masih menggawangi acara gambar-gambar buat nak-kanak di TVRI ketika saya masih umur empat tahun? Acara itu dulu market share-nya 100 persen, Pak (meskipun saya tau sebabnya adalah karena TVRI kan satu-satunya stasiun tivi waktu itu). Tapi itu acara kegemaran saya, meskipun ternyata bertahun-tahun nonton itu nggak bikin saya jadi pandai menggambar. In fact saya malah pandai memotret, ya bedanya sebelas dua belas kan, Pak. Iya kan Pak? Iya aja deh..*maksa*

Saya ini sering ng-upload foto ke Instagram, Pak. Terus banyak yang nge-like gitu. Seneng sih seneng, tapi kok saya lama-lama bosen, Pak. Orang-orang cuman nge-like doang, Pak, tapi kok ya nggak kasih tau saya apanya yang di-like? Komposisinya? Pengaturan fokusnya? Isi fotonya? Atau jangan-jangan..malah caption-nya, Pak? Coz saya curiga bahwa saya lebih pinter menciptakan kata-kata ketimbang gambar, Pak. Lebih parah lagi, saya lebih gampang untuk dikata-katai ketimbang mengungkap dengan kata-kata..

Kenapa ini saya hubungkan dengan Bapak? Karena acara Bapak telah menciptakan kebiasaan untuk memuji, Pak. Bayangin, semua gambar yang dikirimkan ke Bapak selalu Bapak bilang “Bagus, bagus..” Gambar burung berkaki tiga Bapak bilang bagus. Gambar tokai diinjek kucing Bapak bilang bagus. Gambar rumah di pinggir pantai terus ada cerobong asepnya juga Bapak bilang bagus. Lha terus yang jelek yang mana, Pak?

Tau nggak, Pak, gara-gara Bapak cuman ngomong bagus-bagus aja, kami mantan anak-anak ini jadi nggak tahu gambar yang jelek kayak apa. Alhasil gedenya ya sampek sekarang, kami nggak pernah belajar ngerti kekurangan kami di mana, Pak. Makanya sampek sekarang saya nggak pernah denger foto-foto jepretan saya jeleknya di mana, karena yang saya lihat di Instagram cuman like, like, dan like melulu. Giliran satu foto saya nggak ada yang nge-like, nggak ada yang bilang, “Oh, ini bagusnya cahayanya dibikin rada terang..”, atau “Oh, kalau fokusnya ditonjolin ke gunungnya mungkin lebih keren..” Atau setidaknya “Coba kalau caption-nya nggak rada sengak mungkin fotonya akan kasih persepsi lebih bagus..”

Pak Tino, seandainya Bapak dulu bilang, awan nggak selalu harus biru, boleh berwarna ungu atau jingga, mungkin generasi kami akan lebih kreatif. Seandainya Bapak dulu bilang cerobong asep nggak mungkin menyala pada saat matahari terik, mungkin generasi kami nggak akan menyembah-nyembah negara Barat. Seandainya Bapak dulu berani ngomong, “Gambar ini jelek, mestinya kamu bisa mewarnainya lebih rapi”, mungkin kami akan lebih tekun dalam menggambar dan efeknya nular menjadi lebih tekun dalam pekerjaan sehari-hari..

Kebiasaan dipuji-puji itu, Pak, bikin orang jadi takut kritik, Pak. Dikritik jadi alergi bak disemprot merica gatel. Mau mengkritik juga nggak berani karena takut dicap jahat. Padahal maksudnya kan baik, Pak. Lha angkatan Bapak juga nggak ngajarin caranya mengkritik dengan nada kasih sayang itu kayak gimana..
Kami sekarang harus belajar untuk introspeksi kekurangan kami sendiri, Pak. Dan itu nggak gampang sekarang. Melihat kekurangan diri itu susah, Pak. Apalagi kalau sudah terbiasa sejak dulu dikata-katain “Bagus..bagus..”

Semoga Pak Tino tenang di alam sana. Terima kasih sudah memuji-muji kami, Pak. Sudah hampir 20 tahun, TVRI sudah hampir bangkrut, stasiun tivi swasta sudah bejibun, tapi tak ada MC acara gambar di Indonesia yang lebih legendaris daripada Bapak..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *