Jadi, Sudah ke Sana?

Well..ini bermula dari hobi saya akhir-akhir ini yang doyan liat iklan wisata murah. Ada yang nawarin ke Karimun Jawa dengan dana Rp 700k untuk dua malem, lalu ke Bromo dengan biaya Rp 700k untuk semalem aja, dan entah apa lagi.

Saya ngitung-ngitung biaya, lalu waktu, dan pada akhirnya bertanya-tanya ke my hunk apakah dos-q sudi nemenin saya trip kayak gitu. Mengingat dari dulu kita kepingin ke Cape Town, tapi sampek sekarang kok nggak jadi-jadi.

Saya sudah mulai nurunin mimpi saya, kalau rejeki buat ke Afrika belom ada, oke deh, gimana kalau kita mengkhayal ke Maladewa aja.

Ternyata rejeki ke Male itu belom ada juga, jadi mari kita turunin kasta aja, gimana kalau ke Pulau Seribu aja? Kan sama-sama kepulauan ini?

Oh oh, rejeki belom cukup pula.. Akhirnya saya turunin lagi mimpinya, baiklah, kita ke Pulau Sempu aja? Ternyata itu kejauhan nyetirnya dari rumah kami.

Jadi saya mikir, gimana kalau jalan-jalannya nggak usah keluar Surabaya dulu, kita mulai aja dengan jalan-jalan nyambangin tempat wisata di Surabaya? Ngomong-ngomong, sudah berapa kali saya baca soal hutan mangrove di Wonorejo itu, tapi saya sampek sekarang belom sambangin juga tempat itu. Lalu saya tanya my hunk, dan jawaban dos-q sungguh mengejutkan karena ternyata dos-q juga belom pernah ke sana..

Kemudian saya memandangnya dengan micingin mata, lu-teh-sebenernya-orang-Surabaya-apa-bukan?

My hunk bilang tempat itu panas soalnya rawa dan di pinggir pantai persis, dan dos-q tahu bahwa saya nggak suka kulit saya jadi item. Saya bilang saya kan nggak kerja jadi model, ngapain pula saya takut item? Lagian saya kan udah laku, hahahah.. Nggak ada lagi takhayul a la iklan pemutih itu yang bilang cewek-item-nggak-akan-dapet-jodoh.

Saya ngeyel bahwa saya akan bawa payung, saya akan pake lotion anti UV, plus kita akan pergi sore hari saat matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat, yang berarti radiasi sinar matahari sudah berkurang banyak, jadi nggak ada lagi alesan segan ke hutan mangrove karena takut kepanasan.

Tapi yang sebetulnya memberatkan hati saya adalah, saya nggak suka kalau saya sudah lama tinggal di suatu kota, tapi saya nggak tahu apa-apa kalau ditanya tentang kota itu.

Sudah lama Surabaya bergulat dengan isu abrasi atau erosi (dooh..apa sih bedanya istilah-istilah itu?), sehingga Surabaya mengumumkan bahwa kawasan mangrove di sebelah pantai timur nggak boleh ditebang apalagi dijual untuk dijadiin lahan apartemen. Makanya pemerintah lokal ngeyel menjadikan mangrove itu sebagai hutan wisata, tapi anehnya hutan itu nggak dipromoin ke turis-turis ekspatriat yang dateng ke Surabaya. (Saban kali turis itu nanya apa aja tempat wisata di Surabaya yang menarik, mesti jawabannya Suramadu, tugu Pahlawan, atau wisata kuliner. Kok nggak ada yang nyuruh turisnya ke hutan mangrove sih?)

Jadi saya bulatkan tekad, saya harus nyambangin hutan mangrove itu, minimal satu kali deh seumur hidup. Supaya kalau ada orang luar tanya ke saya, hutan mangrove yang di Surabaya itu kayak gimana sih? Saya bisa tinggal jawab, hutan itu tampangnya begini, begitu, yaa gitu deh..

Bukan cuman jawab, “Katanya sih, hutannya begini, begitu, tapi itu katanya..” (Saya nggak suka manajemen berbasis “katanya”)

Maka saya dan my hunk ke hutan itu kemaren. Dan kami bersenang-senang. Pulang dari sana, saya tanya kok my hunk nggak pernah ke sana padahal dia seumur hidup tinggal di Surabaya. Lalu dia jawab, soalnya kalau mau ke hutan itu nggak ada temannya..

Saya timpal, untung lu punya bini yang tukang penasaran binti ngeyelan. Kalau nggak ada saya biang jalan-jalan ini, kayaknya seumur hidup my hunk nggak akan pernah ke hutan itu, yang ternyata letaknya cuman enam kilo dari rumahnya..

Tapi intinya adalah, sudahkah kita kenal kota tempat tinggal kita sendiri? Yakin kita sudah tahu semua tempat menarik yang ada di kota kita?

Karena semakin lama saya menyelami Surabaya, semakin saya nyadar kalau masih banyak tempat wisata di Surabaya yang belom saya ketahuin.

Mungkin, itu sebabnya Tuhan belom ijinkan saya ke Maladewa. Lha gimana mau ke dusun orang, kalau dusun sendiri aja belom dihabisin semua..?

Jadi gimana cerita jalan-jalan ke hutan mangrove-nya? Oke, saya ceritain di postingan besok ya. Hahahahah..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. PRofijo says:

    Katanya, gengsi, klo liburan gak ke tempat yang jauh *baca : Luar Negeri. Padahal bisa jadi objek wisata di sana hanyalah tiruan dari indahnya alam di belakang rumah.

  2. Keke Naima says:

    hihihi, saya bahkan bbrp waktu lalu pernah bikin postingan ttg Bekasi. Dr kecil sy di Bekasi, tapi gak satupun saya tau oleh2 dan tempat wisata di Bekasi sampe sekarang 😀

  3. Jadi ini ceritanya cuma soal rencana jalan2 yang meleset jauh… dan pada akhirnya memilih utk menyelami dan mengenal lebih jauh potensi kota tempat tinggal ya mbak?
    Kirain sudah mau cerita soal hutan mangrove nya.

  4. BabyBeluga says:

    Waktu SMA pernah tuh gw dan bbrp temen, cewe, semua, hiking ke (bukan gunung sih, bukan bukit pula) well, hy perkampungan di srh belakang rumah dia di Setiabudi atas. Jalanan setapaknya emang agak nanjak gitu. Kita bawa perlengkapan piknik. Baru juga gelar tikar dan mulai makan, kita udah dirubung semut2 gede dan bbrp critter-craters, ga lama kemudian bbrp remaja desa nyamperin dan mulai Tanya ini-itu dan minta ini-itu. Akhirnya kita merelakan bbrp games kita dan lgs cabut dari lokasi piknik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *