Suara Hati Seorang Pelayan

Yak..ada tamu datang lagi. Anggun sekali penampakannya. Dia menatapku sekilas, lalu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia mau pilih kursi yang mana ya? Ah, pasti dia kepingin duduk di sofa. Semua tamuku selalu milih sofa karena tempat itu yang paling empuk.

Ah, lihat caranya berjalan. Angkuh sekali. Dia nampak nggak banyak dandan, tapi, well..dia sangat menarik. Ya, menarik. Hey..lho, kok sofanya dia lewatin? Dia nggak mau duduk di sofa? Wah, dia malah pilih kursi di pojok. Haiah..dikasih yang empuk kok malah pilih yang keras?

Nah, itu laki-laki di belakangnya menyusul. Laki-laki itu menarik kursi di depannya dan duduk.
Kuhampiri mereka. Kusodorkan buku menu. Si cewek meraup bukunya, membuka halaman depannya. Dia tidak nampak tertarik dengan halaman appetizer, dia terpaku lebih lama dengan halaman main course. Partner-nya nampaknya lebih tergila-gila pada kamera, sejak masuk tadi dia sibuk motret. Vas di meja dia potret. Lukisan retro di tembok pun dia potret. Apakah orang ini camera fetish?

Mendadak si cewek berkata, “Ditinggal dulu deh. Nanti saya panggil kalau saya sudah tau mau pesen apa.” Suaranya merdu, tapi kedengeran tegas. Sounds bossy.

Aku mengangguk dan mundur. Aku bersandar di aisle dapur, mengawasi pasangan aneh itu. Si cewek membolak-balik halaman buku menu. Kadang-kadang dia menatap lama halamannya, keningnya berkerut, matanya menyipit, seolah dia berpikir keras. Dia berbisik ke partnernya sembari menunjuk sesuatu di dalam buku itu, dan partner-nya manggut-manggut. Aku dengar partner-nya berkata, “Terserah kamu deh mau pesan apa.”

Tiba-tiba cewek itu melambai. Aku terlonjak dan buru-buru menghampirinya kembali. “Ya, Bu?” tanyaku dengan suara parau.
“Sini menu unggulannya apa?” tanyanya.
“Ehm..di sini menunya yang paling laris itu bruschetta dan spaghetti bologna,” jawabku sembari berdoa semoga jawabanku tidak salah. Aku kadang-kadang jadi kasir juga kalau si Rere mbolos kerja, jadi aku tahu sedikit-sedikit apa yang sering dipesan tamu.
“Bruschetta-nya isi apa?”
“Err..daging ayam dengan saos tomat, Bu.”
“Cuman saos tomat aja?” tanya cewek itu dengan tatapan menyelidik. “Nggak pake keju?”
“Err..” Aku berusaha mengingat-ingat. Aku nggak hafal komposisi menu. Si Budi lebih hafal, kan dia chef-nya. Eh, bukan chef sih, dia cuman juru masak ding. “Ada kejunya juga, Bu.”

Sekarang si cewek menutup bukunya dan menatapku dalam-dalam. “Kejunya dibalurin cair kental atau diparut terus ditaburin di atas dagingnya?”
Demi Tuhan, cewek ini terbuat dari apa sih? Apakah dia polisi yang lagi menyamar? Polisi kok ngurusin makanan?
“Saos keju cheddar, Bu,” jawabku cepat-cepat. Aku pernah mendengarnya sekilas waktu pengarahan si boss pada hari pertamaku kerja di sini.
Si cewek nampak berpandangan penuh arti dengan partner-nya. Partner-nya mengangguk. Lalu si cewek berkata, “Ya sudah, saya pesan mozarella fritta aja.”
Ebuset, udah maksa aku ngarang-ngarang soal keju di bruschetta, ujung-ujungnya dia cuman pesan risoles keju bulet??

“Kalau ini apa?” Ia menunjuk gambar minuman di buku.
“Oh itu soda dengan essence buah kiwi, Bu.”
“Yang putih di atasnya ini apa?”
“Itu frosty, Bu.”
“Oh, nggak pakai whip cream? Sini yang pakai whip cream yang mana aja?”
“Bu, semua minuman di sini bisa dipakaikan whip cream jika Ibu pesan,” kataku.
“Oh, gitu ya,” ia manggut-manggut. “Ya sudah, kalau gitu yang paling laris di sini apa?”
“Ini Bu, choco almond coffee,” aku menunjuk gambar di halaman paling belakang.
Ia mengernyit. “Lha, kok gambarnya nampak sepi gitu? Yang kira-kira paling keren kalo difoto yang mana?”
“Err..” Aku mulai kebingungan. Lalu aku menunjuk halaman sebelahnya yang nampak lebih mahal. “Ini mocktail rainbow, Bu. Sirup grenadine, dilapisi essence mangga dan gin citron.”
Si cewek menatapku seolah aku sudah sinting. “Gini aja deh. Saya mau choco almond coffee, terus dilapisin whipped cream di atasnya, dan..ini kalau pake kacang almond masih nambah harga ya?”
“Err..enggak sih, Bu. Tapi bisa kami pakaikan almond kalau Ibu mau.”
“Oke, pasang almond-nya. Biar cakep kalo difoto.”

Aku menulis kata-katanya di notes-ku dengan cepat.
“Darling?” Ia menatap si fotografer. Cowok itu nampaknya baru menembak poster The Beatles yang berada di dinding pojok.
“Oh..” Si fotografer terdiam sejenak. Ia membaca buku menu sekilas. “Aku pesen Cola float aja.”
“Baik, Pak,” jawabku. “Pilihan es krimnya mau rasa apa? Kami punya rasa vanilla, strawberry, dan cokelat.”
“Vanilla,” si fotografer dan si cewek-tukang-banyak-nanya menjawab bersamaan. Aku hampir terlonjak.
“Cepetan ya,” cewek itu melirik arlojinya, seolah-olah jadi juru start balapan mobil.

Aku menghambur lari ke dapur, lalu membacakan semua pesanan ke si Budi. Sementara si Budi menggoreng fritta, aku mengintip ke ruang makan. Pasangan itu nampak pamer gadget masing-masing. Kurasa mereka update status.

Tiba-tiba si cewek melambai. Hah, mau nambah pesan apa lagi dia? Sementara fritta-nya masih belum matang.
Aku menghampirinya, dan si cowok kali ini yang nanya, “Password wifi-nya apa?”
“Cocktailblewah. Huruf kecil semua,” jawabku.
Si cowok nampak puas. Kutinggalkan mereka. Di balik punggungku, kudengar cewek itu berbisik, “Emangnya blewah bisa jadi cocktail?”

Bel berdering. Si Budi rupanya sudah selesai. Kubawa fritta, float, dan kopi itu ke meja. Budi telah menyirami semua almond yang kita punya di atas kopi itu sampai menutupi krimnya. Sekarang kopi itu nampak seperti puncak gunung salju yang kena badai meteor warna coklat muda.

Si cewek melihat arlojinya lagi, bak penjaga garis finis balapan mobil. Kutinggalkan mereka.

Mereka tidak se