Tribut untuk Mama Kantoran

Di social media akhir-akhir ini beredar status-status yang isinya simpati terhadap para mama kantoran. Mama kantoran adalah populasi ibu yang juga kerja di kantor, dan populasi ini sering dihujat karena mereka nitipin anaknya sama pembokat.

Saya sendiri nggak inget persis semenjak kapan isu ini mencuat. Memang semenjak buku Ainun dan Habibie booming, seseorang rupanya mengutip quote Ainun yang mengungkapkan bahwa Ainun adalah seorang dokter umum lulusan Jakarta namun melepaskan kariernya untuk membesarkan anak-anak suaminya. Quote ini booming sekali di Facebook, dan menarik simpati sekelompok wanita rumahan yang kebetulan memang tidak punya pekerjaan. Kelanjutan dari booming quote ini sungguh tidak enak, banyak sekali isu yang meskipun mengangkat kemuliaan status ibu rumah tangga, ternyata malah menyepet para ibu yang bekerja kantoran.


Kita sering denger ungkapan seperti ini:
“Mama yang kerja di kantor mengabaikan anak-anaknya di rumah bersama babysitter/pembokat.”
“Anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibunya pada akhirnya menjadi ‘anak dari pengasuhnya’, bukan ‘anak dari ibunya’.”

Saya kuatir kalau mindset ini dibiarkan berkembang biak tidak karuan, lama-lama kita akan punya stigma baru: “Anak dari ibu rumah tangga lebih bagus mutunya daripada anak dari ibu kantoran.” Alangkah cupetnya pikiran itu.

Teman saya, Alexis (sorry bukan nama sebenarnya), yang ibunya adalah ibu rumah tangga yang bersih-bersih rumah saban hari dan nggak pernah bekerja kantoran, dan sekarang Alexis sudah kabur dari rumah untuk menikahi cewek yang nggak disetujui ibunya. Sepupu saya, Morgan, yang seumur hidupnya ditinggal ibunya kerja di Pancoran, dan menurut pendapat saya Morgan adalah cewek yang paling alay dan manja di Jakarta.

Contoh-contoh ini bikin saya ngerti bahwa mau ditinggal pake pembokat atau dikawal terus oleh mami di rumah, bukanlah harga mati untuk menentukan anak itu bakalan jadi orang yang rajin solat atau enggak, jadi dokter bedah atau enggak, bisa masak atau enggak. Jadi kenapa harus jelek-jelekin mama yang ninggalin anak sama pembokat?

Di negara-negara yang pendapatan kapitanya gede, orang nggak biasa nyewa pembokat untuk tinggal di rumah mereka. Toh mereka masih bisa menghasilkan sumber-sumber daya manusia yang bisa jadi insinyur, jadi atlet olimpiade, atau minimal jadi anak yang nggak buang sampah ke sungai sampek bikin ibukota negaranya kebanjiran. Di Indonesia, gaji pembokat di sebuah rumah bisa tinggi sekali bahkan melewati tarif listrik + air bulanan di rumah itu. Tetapi sebagian keluarga masih tetap maksa buat pekerjakan pembokat. Temen saya, yang udah kecanduan pakai pembokat semenjak kecil, ketika harus pergi ngekost di kota lain untuk kuliah, sampek minta emaknya kirim pembokatnya setiap bulan untuk beresin kamar kostnya yang cuman ukuran 3 x 2 meter.

Kenapa mama-mama pada minta pembokat untuk rumah mereka? Karena, supaya ada yang bantu nyapu dan ngepel, sementara mama-mama sendiri sibuk ngelapin piring dan panci. Supaya ada yang bantu nyetrika baju, sementara mama-mama sibuk nyusuin si bungsu dan nganterin si sulung ke sekolah. Pendek kata, ya untuk efisiensi pekerjaan.

Dan jangan kira ngatur pembokat itu gampang. Ngajarin seseorang untuk nyapu sesuai selera kebersihan kita itu susah. Pernah denger anak perempuan dan ibu berantem di rumah gegara perbedaan selera ngepel? Ibu maunya ngepel sampek lantai mengkilat, tapi anak kepingin ngepelnya a la kadarnya aja supaya lantai cepet kering dan bisa segera diinjek. Ngajarin anak ngepel sesuai selera aja susah, apalagi ngajarin pembokat yang notabenenya adalah orang lain?

Dan saya rasa, mama yang milih untuk mempekerjakan pembokat adalah tindakan mulia. Soalnya, namanya aja mempekerjakan, berarti mama tersebut udah bisa kasih makan orang lain. Berarti dia sanggup menyediakan lapangan pekerjaan (meskipun mungkin baru bisa untuk satu orang). Satu orang yang bekerja sebagai pembokat, kira-kira dia bisa menghidupi empat orang keluarganya. Apanya yang nggak mulia itu tindakan si mama? Bandingkan dengan mama yang masih harus kerja kantoran alias masih harus ikut orang supaya bisa menghidupi diri (anak-anak-)nya.

Mama-mama yang udah biasa berumah tangga tanpa pembokat juga nggak perlu merasa lebih hebat daripada mama-mama dengan pembokat. Nggak berani liburan ke luar kota lama-lama lantaran takut nggak ada yang jagain rumah? Maksa anak yang udah menikah untuk tetap tinggal di rumah karena nggak ada sumber daya buat ngepel? Merasa punggung mulai kena osteoporosis karena nyapu rumah sendirian mulai nggak sekuat jaman dahulu? Dan ini waktunya bertanya,

“So you think you can live without any maid?”

Saya yakin kalau hidup bisa ideal, semua ibu pasti ingin bisa tinggal di rumah, mengawasi anaknya selama 24 jam sehari bagaikan kamera CCTV. Kalau pun mereka ingin bekerja, pasti karena duitnya untuk diwarisin ke anak-anaknya, dan hanya sedikit dari gaji mereka yang mereka sisihkan buat beli tas Hermes. Dan kalo mereka boleh milih, mereka pasti kepingin bisa kerja di rumah supaya bisa pura-pura jadi kamera CCTV di kamar anaknya.

Tapi kan hidup nggak selalu bisa seideal itu. Makanya mereka pergi bekerja. Makanya mereka perlu pembokat. Dan mereka pasti mendoakan setiap saat supaya pembokat mereka bisa jagain anak-anak mereka di rumah dengan kualitas kamera CCTV..

Pembokat adalah sumber daya manusia yang nilainya tak terhingga. Anak memang protes kalau mama nggak ada, tapi kesabaran untuk membuat anak mengerti itu akan diganjar Tuhan dengan pahala yang besar. Mama yang bisa membantu suami untuk menambah nafkah, sekaligus bisa bikin anak jadi orang baik-baik, dan sekaligus bisa bikin para pembokat membebaskan keluarga mereka dari kemiskinan, sesungguhnya adalah perempuan hebat yang sangat mulia..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

17 comments

  1. Ranger Kimi says:

    Aku jadi kepikiran kalau nanti aku menikah pastinya aku harus tetap bekerja. Perempuan bekerja dan punya duit sendiri itu bagus karena dia bisa mandiri, selain tentunya membantu suami juga. Aku ndak bisa ngebayangin aku jadi ibu rumah tangga tok. Gak punya kerjaan. Seharian di rumah, ngurus anak, dan mau belanja aja harus nunggu duit dikasih suami. Beuh. Bukan aku banget.

    1. Ibu rumah tangga itu punya tantangan tersendiri. Kerjaannya justru banyak. Bukan cuman kerjaan fisik, tapi kerjaan pikiran.

      Aku sendiri merasakan, semenjak aku jadi ibu rumah tangga, aku nggak sepenuhnya istirahat. Saat aku pergi tidur, yang di kepalaku adalah besok motong sayur untuk sarapan mulai jam berapa, manasin lauk untuk sarapan jam berapa, dan jam berapa paling lambat cucian harus dijemur supaya aku nggak sampek item kepanasan gara-gara njemurnya kesiangan. Aku bahkan mikir seminggu depan menunya apa aja. Gaji suami mau aku investasikan di mana supaya bisa dapet untung banyak, dan dengan untung segitu kapan aku dan suami bisa pergi naik haji. Mau pergi liburan aja aku juga yang menentukan itinerary, pergi di musim kapan supaya harga tiketnya ngirit, nginep di hotel mana yang nyaman tapi terjangkau, bahkan tempat mana yang kalau dikunjungin bisa dapet foto-foto mejeng + beli oleh-oleh sekaligus. Itu kerjaan ibu rumah tangga.

      Ibu rumah tangga akan senang sekali kalau bisa punya penghasilan sendiri. Dengan penghasilan tambahan, ibu bisa bereksperimen membuat menu-menu masakan yang bahan-bahannya masih cukup mahal, bisa beli vacuum cleaner untuk bersihin permadani di rumah, bisa membangun kamar tambahan yang lebih luas di atas garasi supaya pembokatnya nyaman tinggal dan bekerja di rumahnya.

      Emak kantoran harus bekerja lebih keras untuk bisa memenuhi hal-hal di atas.

      Memang pada akhirnya semua balik ke nilai-nilai yang dianut masing-masing orang. Di dunia ini ada orang yang menganut nilai utamanya adalah keintiman keluarga 24 jam, tapi ada juga yang menganut nilai utamanya adalah meraih posisi karier setinggi mungkin. Dan cara bahagia kaum yang satu, tidak mungkin berlaku untuk menjadi cara bahagia kaum yang lainnya. Karena nilai anutannya juga berbeda.

  2. quinie says:

    hm… masing2 ibu pasti punya pertimbangannya masing2 dan pasti terbaik untuk anaknya dan jg kelangsungan rumahtangganya.
    bnyk juga kok kasus ibunya di rumah ngaku ngurus anaknya, tp kenyataannya anaknya ga punya manner hanya karena si ibu-di-rumah itu 'melonggarkan' didikannya krn mengganggap si anak msh terlalu kecil untuk diajarkan sopan santun. Pun sebaliknya ke ibu2 pekerja. Kadang ya balik lagi ke individu si ibu sendiri dgn segala pertimbangan terbaiknya untuk bekerja/di rmh aja.
    ga ada yg lebih sempurna antara ibu dirmh atau ibu pekerja, sama2 seorg ibu yg pasti berjuang untuk anak dan keluarganya

  3. Goiq says:

    saya dan sodara dibesarkan ibu yang menghabiskan waktunya dirumah.. faktanya, walaupun ngga ada diantara kami yang pernah berurusan sama narkoba atau polisi, tetap saja ada diantara kami yang pernah punya kelakuan yang tidak didambakan orang tua manapun,..

  4. depz says:

    masing2 mempunyai pemikiran "ideal" dan pertimbangannya sendiri.

    btw telkomsel ngiklan d blog lo skrg? *abis liat signature di bag bawah postingan* 😛

  5. masing-masing punya pilihan sendiri ya mbak silakan yang mau jadi mama pekerja atau mau jadi full mama dirumah. Apa jadinya kalau semua perempuan dirumah, disekolah-sekolah masih butuh guru-guru perempuan, dokter juga dibutuhkan yang perempuan dan profesi lainnya. Baiknya sih saling menghargai baik mama pekerja maupun tidak ya. Setiap pilihan harus dipertanggung jawabkan masing-masing

    1. Ya, saya sih lebih seneng kalau acara saling menghargai pilihan orang lain itu dimulai dengan menghargai diri sendiri dulu. Kalau kita menghargai diri sendiri, saya rasa kita akan cari hal-hal yang lebih bermanfaat untuk dibagikan, bukan melakukan reposting pada status-status yang melecehkan "kaum" lain.

  6. galihsatria says:

    Yang lebih berat lagi adalah faktor psikologis ibu yang mencoba berhenti bekerja demi merawat anak. Sehari-hari teman-temannya di kantor dengan lingkungan yang dinamis, kemudian tiba-tiba berubah lingkungan menjadi ibu-ibu RT yang suka ngerumpi sana sini. Aku ga bisa membayangkan isteriku bisa hidup seperti itu nanti. -___-"

    1. Mungkin bagian yang menyebalkan bukanlah menjadi ibu rumah tangga. Tapi yang menyebalkan adalah kenyataan bahwa "dia harus ngerumpi sana sini" 😀

      Saya masih mencari solusi untuk menghindari acara ngerumpi nggak jelas itu.

  7. Mel says:

    like this! *eh masi jaman ya?*
    saya juga dari bayi 2 bulan udah dititipin ke baby sitter. Tapi skrg saya bisa tuh jadi tukang insinyur, nikah baik2, punya anak, dan tetep deket banget sama ortu. Saking deketnya sama mama kalo setiap hari blom ngobrol rasanya blom afdol.

  8. Ninda says:

    saya sering mikirin ini mbak… gimana entar kalau udah menikah dan punya anak… ? sebagai cewek yang kodratnya sebagai ibu pasti pengin membesarkan anak anak yang lucu-lucu itu… penginnya. tapi begitu mereka beranjak besar dan lebih sibuk bareng teman-temannya? ngapain yaa dirumah? hehehe
    saya inget masa2 nganggur. itu seriusan bikin galau tak masuk akal berkepanjangan. badmood dan mengada-adakan masalah besar yg semestinya bisa ditanggepin dengan cool.

  9. aku dibesarkan sama ibu yang bekerja kantoran. mulai umur 5 tahun sih tepatnya karena sebelum usia itu beliau gak berani menitipkan aku sama orang lain. memang betul, itu bukan berarti mengabaikan. aku juga gak pernah protes karena aku ngerasa tetap punya waktu yang cukup sama ibu, kok. selama setiap sore ibu ada di rumah dan weekend bisa habiskan waktu bersama. itu udah cukup 🙂

    1. Hai, Mbak Indi, senang bisa denger Mbak ternyata punya hubungan yang baik dengan ibu Mbak. Sebagian anak seumuran kita-kita yang udah gede ini masih merasa kurang kasih sayang dengan ibu mereka, bahkan meskipun ibu mereka selalu bersama mereka di rumah. Salam buat ibunya Mbak Indi ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *