Peta Babi di Surabaya

Buat saya, kecele adalah kiamat kecil yang seharusnya nggak perlu dianggap
sebagai awkward moment. Karena ternyata saya bisa menyulap acara kecele itu
menjadi sebuah karya yang berguna.
Oke, singkirkan prolog tidak penting ini.

Saya sudah lama denger tentang Nasi Empal Pengampon. Konon tempatnya jualan empal enak. Saking larisnya di Surabaya, sore-sore pun udah tutup. Karena penasaran, saya catet tempatnya dan saya rayu my hunk ke sana, daerah pecinan yang sangat kumuh itu. Tempatnya begitu nyempil, dengan traffic yang begitu padat, dan my hunk jarang main ke sana, sampek-sampek tempatnya nggak keliatan dan mobil kami udah lewat.
Saya nggak putus asa, saya nyoba ke sana lagi minggu lalu, dan saya bela-belain dateng ke sana sehabis jogging pagi karena saya nggak mau ada alasan toko sudah tutup karena kehabisan makanan. Kami menemukannya, setelah saya mencoba berbasa-basi dengan tukang parkir. Tempat yang sangat nyempil, di gang yang papan namanya nyaris nggak keliatan. Itu sebuah depot besar, dengan pelayan yang sigap-sigap. Kami menyambar sebuah meja yang cukup strategis (baca: deket kipas angin), lalu saya mulai membaca menu. Lalu saya tertegun.
Mereka jual bubur babi.
Kami tidak bertahan di depot itu lebih dari lima menit dan langsung pulang. Pagi itu saya mutusin untuk nyeplok telor mata sapi aja buat sarapan.
***
Di kawasan Gandapura di Bandung, ada rumah makan yang jelas-jelas nulis besar-besar di spanduknya: SATE BABI. Saya suka banget sama pengusaha kayak gitu, mereka jelas sangat jujur. Di satu pihak, mereka tidak membuat muslim seperti
saya yang dateng ke situ merasa kecele karena jelas-jelas sudah ngingetin dari awal. Alias, tulisan kayak gitu seakan ngomong, “Lu mau parkir di sini ya terserah elu. Lu nggak mau parkir juga gw nggak pa-pa.” Di lain pihak, itu sangat membantu konsumen-konsumen yang memang kepingin makan babi. Tanpa saya harus berpidato panjang lebar di sini mengenai kerugian makan babi bagi kesehatan usus, kita nggak bisa nolak bahwa kebutuhan akan menu babi masih ada dan konsumen babi pasti akan tetap
eksis.
Saya tinggal di Surabaya selama tiga tahun, dan saya nggak mendapatkan pengusaha-pengusaha kuliner babi di tempat ini seblak-blakan pengusaha babi di Bandung. Saya ngetik kata “babi di Surabaya” di search engine Google, ternyata yang keluar cuman “Babi Guling Bu Ketut”, “Pork Kee”, dan “Sate Babi Glory”. Padahal restoran-restoran babi di Surabaya bejibun, dan sebagian besar restoran favorit turis dari luar Surabaya ternyata jualan babi (please lihat ranking restoran Surabaya di Trip Advisor).
Lalu saya mikir, berapa banyak orang yang seperti saya, yang tertarik denger iklan kuliner dan cerita-cerita kawan mengenai tempat-tempat makan keren di Surabaya, dan ternyata begitu didatengin langsung batal makan lantaran tempat itu jualan babi? (Beberapa muslim percaya, meskipun di tempat itu bisa
memesan menu selain babi, tetapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa wajan untuk masak babi bukanlah wajan yang sama untuk memasak menu lainnya.)
Maka saya mikir, ketimbang saya blingsatan mencurigai tuh restoran jualan babi apa enggak, mending dari awal aja saya data mana-mana yang jualan babi. Kalau data ini saya konfigurasikan dalam bentuk peta dan peta ini saya taruh di internet, kan enak yang baca bisa tahu mana tempat yang harus “diwaspadai”
(atau malah harus dikunjungi)?
Proyek ini udah pernah saya bikin pilot project-nya di Foursquare, dan ternyata alhamdulillah daftar “Babi” saya banyak yang nyimpen. Berarti yang butuh daftar rumah makan babi kan emang ada (banyak)?
Saya belom nemu cara yang tepat untuk menyingkat link ini, hahaha..
Saya sertakan juga link-link yang nyebut tempat-tempat ini jualan babi. Bila Anda kepingin kasih saya masukan untuk nambah data di sini, tolong kontak saya beserta data yang mendukung yah. Dan bila Anda adalah pemilik dari tempat-tempat yang saya sebutkan dan merasa nggak jualan babi lagi, tolong kasih tahu di sini, lebih bagus lagi kalau ada pernyataan sertifikat Halal MUI-nya.
Peta ini juga sekaligus percobaan untuk peta-peta bikinan saya di Google Maps. Saya lagi belajar bikin peta sekarang. Nggak cuman peta babi di Surabaya yang saya bikinkan, mungkin lain kali saya juga mau bikin peta creambath di Surabaya, peta spa pijet di Surabaya, peta pizza di Surabaya, dan peta entah apa lagi..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. Agung Prass says:

    Mungkin saya akan menambah juga akan artikel babi pada blog saya supaya bisa mengingatkan mereka yang mengharamkannya ^_^ tapi, biasanya sih… makanan khas Bali itu juga ada yg mengandung babi…

  2. saya pernah kecele 🙁
    critanya wkt saya cari sarapan pagi dan ditemani tmn saya yg chinesse jalan2 ke ruko dkt mess kantor..(kami sama2 dr luar daerah). sepanjang ruko emang rata2 menjual B2..jd pastinya kami ga mampir, nah smpai di sbuah ruko dg spanduk sangat JELAS "PEMPEK PALEMBANG, MIE BANGKA"
    berhubung saya muslim, saya ragu2 dan minta tlg tmn saya yg chinesse menanyakan apakah yg mrka jual halal atau ga?
    sipenjual menjawab ";Halal koq, yg kan dari ikan"
    yowis,pesanlah saya di dpn langsung bhwa saya pesan pempek..
    kemudian saya masuk restoran dan duduk trs iseng2 liat menu….
    "mie Babi"
    gubraaakk..terlanjur basah, sedih, sebeeel..bgitu pempek dtg yg ada ga ketelen dan saya ksih aja ke tmn saya..
    tmn saya paham dg kondisi saya, bahkan membantu saya menanyakan ke si penjual..
    tp yg saya ga paham knp si penjual ga jujur??ggrhhh

    1. Ada beberapa alasan kenapa penjual makanan bisa menjadi tidak jujur:
      1. Dia nggak kepingin kita batal membeli dagangan mereka.
      2. Dia nggak mengatakan apa yang tidak kita tanyakan. Mbak Syera kan tanya, "Halal nggak?"
      Dia menjawab, "Halal." Maksudnya pempeknya memang halal karena nggak dibikin dari babi. Tapi mie-nya nggak halal. Karena Mbak Syera nggak tanya juga, "Mie-nya halal, nggak?"
      Mungkin ya, asumsi saya begitu.

      Pedagang non-muslim tidak tahu lho, bahwa halal buat kita bukan cuman urusan bahan baku makanan. Tapi bahan tambahan juga harus halal. Misalnya wajan untuk nggoreng pempek, harus bebas dari minyak yang tadinya dipakai untuk nggoreng mie babi.

  3. Etika Maria says:

    Wih, keren banget mbak postingan nya.. Ide peta babinya, luar biasa membantu pastinya! Di tempatku Parepare apalagi Makassar sepertinya belum ada yang masang blak2an kayak gitu.. Dan Tika setuju, memang lebih baik langsung jujur aja gitu yah 🙂

  4. Waduh saya dulu di surabaya perasaan justru di surabaya, sebelah rumah saya (yg di daerah mayoritas muslim pun) tulis "SATE BABI" besar2. Juga tempat baikut n babi panggang rosari yg semuanya nulis babi.

    Malah di bandung ini kakak saya pernah cerita pernah makan babi di mana di mana, tempatnya ga nulis apa2. Mulai dari yg jauh sampai deket kampus, kebanyakan ga nulis kecuali gerobak dorong yg mangkal deket gereja Maulana Yusup, sampai temen saya yg doyan babi susah banget nyari makanan tsb haha

    1. Di Bandung, menu babi biasanya dijual di kawasan-kawasan tertentu seperti kawasan Kebon Kawung, Kebon Jati, Gardujati, Cibadak. Rata-rata yang tinggal di sana memang keturunan Tionghoa, jadi mereka jarang menulis di plang bahwa mereka jual babi.

      Tapi di luar area itu, penghuninya beragam sehingga nyari menu babi akan sulit jika nggak punya kisi-kisi. Akibatnya penjual yang berjualan babi di sana juga kesulitan menjaring pelanggan baru sehingga mereka terpaksa pasang plang babi untuk mempromosikan menu mereka.

  5. Momzhak says:

    saya tinggal di pecinan, dok…Buanyakk banget yang jual babe. Tapi, lagi2 untuk labelnya mereka tidak terang2an kalau makanan yang mereka jual mengandung babi. Paling cuma tertulis: bakuteh, aleng bakut, bektim, dan ba… ba… yang lain.

    Wajar sih kalau mereka nulis pake jargon, secara mereka jual di daerah yang banyak pengkonsumsi babe yang pastinya paham istilah2 tsb, dan muslim yang tinggal di sani udah paham banget dan pastinya gak akan beli makan di sana.

    Cuma, kasian dong sama seorang temen yang kulineran di daerah rumah saya. Dia makan bubur tim sebelum main ke rumah, dan baru tahu kalau itu mengandung babi setelah saya kasih tahu, hehehehe…

  6. Rawins says:

    disini cenderung terbuka. mereka pasang spanduk di depan warung. walau pernah kecele juga gara gara mereka pake bahasa daerah. liat tulisan iwek panggang, aku pikir ikan bakar karena dalam bahasa banjar iwek itu ikan. jebulnya dalam bahasa maanyan iwek itu babi 😀

  7. profijo says:

    Kebiasaanku, membaca lebih cepat dari tulisan. Ketika sebelumnya ada kata "babi" dan dilanjutkan dengan "nyeplok telur…" aku langsung mendahului baca "nyeplok telur mata babi…" #duh :)))

    1. profijo says:

      Eits, Klo untuk urusan menghayati tidak terpengaruh dgn gaya ini lho. Hamboksumpih.

      Kebiasaan ini sebagai akibat karena terkena dengan gaya penulisan. Tenin ini.

  8. budiono says:

    iya setuju, kalo ada menu baby mestinya terang2an dipasang tuh plangnya. jangan menjebak. malah ada yang kurang ajar sudah tahu yang beli pakai jilbab tetep diam aja gak mau ngasih tau ini mengandung babi. kayaknya memang sengaja menjebak

    semoga peta ini nantinya bisa terus bertambah datanya dan memberi manfaat buat muslim

    1. Mereka, pengusaha restoran, nggak merasa punya kewajiban memberi tahu. Jadi kadang-kadang kita aja yang merasa dijebak.

      Kita yang harus proaktif melindungi diri kita sendiri dari makan babi secara nggak sengaja.

      Ini petanya masih sedikit ya content-nya, tapi saya masih berencana nambah data lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *