Penggemar Dadakan

Temen saya lagi kecanduan
politikus Hary Tanoe. Tahu kan, pengusaha pers yang lagi digadang buat jadi
wapres itu. Nah, temen saya itu bolak-balik nge-tweet soal dos-q secara masif
selama beberapa jam kemaren sore.
Semula saya ngira dos-q
lagi “jatuh cinta” sama politikus anyar itu. Menjelang musim Pemilu gini kita
memang sering denger nama-nama baru untuk jadi calon RI-1 dan RI-2, jadi ya
kayaknya wajar kalau temen saya ini lagi punya tokoh idola anyar.
Tapi pas malem (saya ini
selo banget ya kok mantengin timeline terus-menerus), kesukaannya ganti lagi.
Dos-q bolak-balik ngoceh kalau personelnya Coboy Junior baru nyium personelnya
JKT48. Isu gak penting apa pula ini?

Saya yang udah kenal si
teman selama 22 tahun, mulai curiga kalo si teman kena virus alay. Hasrat super(-wo-)man
saya pun nongol, saya mau sanitize si temen yang saya curigain baru kena
brain-washing. Maka saya buka tweet-nya si temen, dan ternyata..seharian ini
dos-q telah nge-retweet hal-hal nggak penting, salah satunya adalah iklan
jualan follower gratis.
Buru-buru saya kirim
messenger ke si temen dan bilang saya prihatin bahwa sekarang dos-q telah
menjadi fans die-hard-nya JKT48. Si temen langsung blingsatan panik dan
buru-buru ngeganti password Twitter-nya yang udah kena hack itu. Temen saya
adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan telekomunikasi yang pencitraannya
harus dijaga betul-betul.
Menjelang musim Pemilu
gini, banyak bisnis nawarin jualan follower. Misalnya dengan membayar sejumlah
duit tertentu, maka account Twitter kita akan di-follow sekitar 500 ribuan
follower. Seolah-olah fansnya kita ya 500 ribuan gitu lho (eh, follower dengan
fans itu sama nggak sih? Menurut Anda?)

Pasar dari bisnis
follower ini siapa lagi kalau bukan caleg atau pejabat anyar yang lagi mau maju
buat Pemilu. (Pasar lain yang juga potensial untuk jualan follower palsu ini
adalah orang-orang yang buka online shop). Mungkin sang caleg bloon mengira
kalau kredibilitasnya bakalan meroket pesat jika account Twitter-nya dibuntutin
oleh 500 ribu orang. Ih, kayak Agnes Monica aja.

Padahal, belom tentu
punya banyak follower itu keren. Cara me-reply mention-an orang juga
berpengaruh terhadap penilaian orang pada pemilik sebuah account. Saya aja,
baru-baru ini mutusin buat unfollow seorang pesohor gara-gara saya merasa
mention-an saya dibales dengan nada ketus.
(Lha, berarti saya kudu
siap di-unfollow dong? Hahaaa..)

Tapi saya sendiri lebih
kesian terhadap para caleg nggak tau apa-apa yang mendadak dibikinin account Twitter
oleh public relation-nya yang serakah. Apalagi kalau sang public relation
bertindak selaku buzzer dengan cara bikin account Twitter ber-follower bejibun
yang kerjaannya menjilat-jilat sang caleg. Lebih parah lagi bahwa ternyata
follower yang bejibun itu palsu alias cuman bot doang..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. quinie says:

    iya tawaran jual follower itu emang awalnya untuk para owner onlen sop supaya terkesan OSnya itu reliable dan trusted.
    kayanya hal ini juga dimanfaatkan oleh para caleg demi reputasi.
    tp kalo semuanya robot ya buat apa toh? kok mau ya difollow sama robot, emangnya mereka mau jadi caleg/capres/cawapres negri robot? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *