Eutanasia Sudah Lama di Indonesia

Saya nggak tahu siapa
yang pertama kali menemukan pipa bantu napas, tapi alat ini tidak hanya
berhasil memperpanjang umur manusia, namun juga membawa banyak masalah untuk
umat manusia.
Manusia perlu bernafas.
Untuk bernafas itu manusia perlu tenggorokan. Persoalan nafas ini jadi repot
kalau tenggorokan mampet sehingga oksigen nggak bisa ngalir. Misalnya infeksi
yang bikin kuman numpuk di dalem tenggorokan sehingga jadi batu. Atau tulang
leher patah dan serpihan tulangnya melintang di tengah tenggorokan. Intinya
yang bikin tenggorokan mampet sehingga penderita nggak bisa nafas. Maka
diciptakanlah pipa kecil dari plastik. Pipa ini akan dimasukin ke dalam
tenggorokan, dan jadi saluran untuk ngalirin oksigen. Sehingga penderita bisa
nafas melalui pipa ini meskipun tenggorokannya mampet.
Ketika penderita dapet
oksigen, maka jantungnya akan bisa berdetak. Detak jantung inilah yang dipahami
orang awam sebagai “umur” atau “nyawa”.
Persoalan jadi rumit
ketika orang cuman memahami urusan nafas separuh-paruh. Karena fungsi oksigen
sebetulnya bukan cuman bikin jantung berdetak, tapi yang lebih penting lagi
harus bisa ngalir ke otak. Jika otak nggak dapet oksigen, maka otak itu mati.
Padahal otak harus hidup, supaya penderita bisa gerakin kaki tangannya, supaya bisa
senyum, supaya bisa kedip. Pernah lihat orang di rumah sakit yang tiduran
terus, tapi matanya melek, dia nggak berespons tapi dia tetap bernafas? Dia
sudah mati otak, tapi dia masih punya pipa bantu nafas. Yang seperti ini bisa
hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Masalahnya, otak yang
mati nggak akan bisa sembuh seperti sedia kala. Karena sel saraf pada otak yang
sudah rusak tidak punya kemampuan untuk sembuh (tidak sama seperti sel tulang
yang kalau patah pun bisa nyambung lagi). Pipa bantu nafas hanya membantu
nafas, bukan menyembuhkan otak. Maka, orang yang sudah pernah koma akan sulit
bisa hidup seperti sedia kala (hidup itu maksudnya bisa berkedip, bisa senyum,
bisa mikir). Pipa itu memperpanjang nyawa, tapi tidak memberi hidup yang
berkualitas.
Pipa-pipaan ini jadi
polemik ketika masuk urusan pembiayaan. Untuk mengoperasikan pipa, butuh mesin
yang cukup rumit. Di beberapa negara maju semacam Amerika Serikat atau Inggris,
asuransi cuman bersedia membayari pipa selama kurun waktu tertentu. Selebihnya,
kalau keluarga penderita ngeyel supaya penggunaan pipa itu diperpanjang,
keluarganya harus bayar sendiri. Di Indonesia, ilustrasi penggunaan pipa bantu
napas selama satu hari adalah sekitar satu juta rupiah.
Selain direpotin urusan
duit, merawat pipa bantu napas juga nggak gampang. Penggunaan pipa bantu napas
lebih dari dua hari bisa bikin radang paru-paru. Sebabnya, memasukkan pipa ke
dalam tenggorokan bisa menciptakan jalan baru bagi kuman baru untuk masuk ke
dalam paru.
Nggak heran, banyak
dokter ngeri pakai pipa bantu napas lama-lama. Maka konsep eutanasia pun
ditawarkan. Konsep ini bertujuan mengakhiri nyawa penderita yang sulit
diselamatkan secara sengaja. Biasanya eutanasia ini ditujukan kepada penderita
yang sudah mati otak. Tujuan konsep ini sebetulnya baik, maksudnya
menghindarkan penderita dari bahaya pnemonia yang tercipta melalui penggunaan
alat bantu napas yang mubazir. Kenapa kok mubazir? Karena menggunakan alat
bantu napas tidak pernah akan bisa menghidupkan otaknya kembali, sehingga tidak
akan mengembalikan kualitas hidupnya. Bukannya membuat penderita menjadi baik,
tapi malah membuat penderita semakin menderita, dan sebetulnya, imbasnya juga
menimpa kualitas hidup keluarganya yang menanggungnya.
Di Belanda, eutanasia
sudah legal. Di Amerika, eutanasia juga sudah disetujui di beberapa negara
bagian. Indonesia masih malu-malu untuk mengakui eutanasia. Eutanasia di negeri
ini masih dianggap sama dengan membunuh orang.
Padahal sebetulnya,
rakyat Indonesia sudah sering melakukan eutanasia tanpa sadar. Pernah lihat
penderita sakit-sakitan tapi ditahan di rumah dan nggak dibawa ke rumah sakit
untuk dicarikan jalan pengobatan yang terbaik? Pernah lihat penderita
disarankan dokter untuk tetap di rumah sakit untuk perbaikan kondisi tapi
dipaksa keluarganya untuk pulang dengan alasan nggak ada yang menjaga? Itu juga
eutanasia. Mengakhiri hidup orang. Meskipun melakukannya dengan pelan-pelan..
Saya nulis ini setelah baca tulisannya Kimi Rizkika di sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

4 comments

  1. Ranger Kimi says:

    Pernah aku baca kasus (lupa yg mana) keluarganya mempertahankan hidup si pasien karena merasa pernah melihat reaksi pasien tersenyum ketika melihat salah satu anggota keluarga masuk ke kamarnya. Padahal si pasien sudah dideclared PVS, bagaimana bisa bereaksi tersenyum kalau begitu kan?

    Mungkin banyak dari kita yang masih belum mengerti kalau otak sudah mati, ya tidak mungkin lagi bisa punya kehidupan. Jika seandainya atas kuasa Tuhan otak pasien dinyatakan mati kemudian bisa berfungsi kembali, yah seperti yang Mbak Vicky tulis "otak yang mati tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala". Definisi mati bagi kebanyakan dari kita masih berhentinya detak jantung, bukan otak yang mati.

    1. Penderita dengan PVS atau Persistent Vegetative State tidak mungkin tersenyum. Menyangka pasien tersenyum sama dengan tidak mempercayai diagnosis.

      Seiring dengan bertambahnya pengetahuan seseorang, maka orang akan mengetahui bahwa otak yang mati adalah akhir dari kehidupan yang berkualitas. Dengan mengetahui ini, maka sikapnya akan menjadi memahami. Orang yang sudah memahami akan lebih mampu menerima kenyataan bahwa penderita ini sudah tidak mungkin ditolong lagi, sehingga ia akan merelakan orang yang dikasihinya ini meninggal.

      Persoalannya kan sebetulnya bukanlah membiarkan orang yang dikasihi itu meninggal, tetapi pada akhirnya kembali kepada pertanyaan, apakah ia sendiri mau menerima kenyataan atau tidak.

  2. Momzhak says:

    Iya dok, makanya definisi mati yg sebenarnya itu mati batang otak, bukan mati jantung atu berhenti nafas. Cuma orang awam belum banyak yg tahu. Kasian juga kalau ada yg orang hidup yg lebih membutuhkan ICU atau 'pipa-pipaan' tadi tapi gak bisa karena kepake sama pasien MBO… -_-"

    Euthanasia yg pakai obat katanya diam-diam ada dok? Bener gak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *