Foto yang Bercerita

Syukurlah sekarang banyak media untuk memajang foto. Nggak cuman sekedar pigura di tembok, tetapi media online macem social media dan website pegang peranan besar untuk jadi ajang pamer foto.

Tapi suka tidak suka, gaya-gayaan digital ini telah menurunkan nilai foto itu sendiri. Membuat foto menjadi begitu gampang, dan sayangnya, pada akhirnya bikin foto menjadi barang gampangan.
Maksudnya, foto mestinya bikin orang yang melihatnya menjadi kagum. Minimal bilang, “Wow..” gitu. Lebih bagus lagi kalau bikin orang jadi mikir. Bahkan lebih bagus lagi kalau bikin orang jadi melakukan sesuatu. Itu namanya fotonya “inspiring”. Dan akhir-akhir ini, jarang bisa bikin foto kayak gitu.

Salah media pajangnya karena itu media online? Hm, nggak juga. Sebetulnya karena memang error-nya di isi fotonya, coz fotonya nggak bikin “cerita”. Orang cuman lihat fotonya sekilas doang, nggak sampek sedetik, bawaannya langsung pindah ke foto lain. Nggak ada proses mencerna, nggak ada proses mikir, nggak ada proses menikmati. Coba kita buka foto-foto di galeri HP kita, berapa foto kita yang “inspiring” buat orang lain?

Mamuk Ismuntoro pernah ngoceh di depan saya tentang gimana caranya bikin foto yang bisa bercerita.

1. Siapkan ide
Sebelum motret, tentukan dulu mau motret apa. Contoh: Kita mau ke pasar. Kita sudah harus tau apa spesifiknya yang ingin kita potret. Proses pedagang membelah daging ayam? Atau bapak-bapak nimbang wortel pake timbangan? Atau proses emak-emak transaksi sama penjual pake duit lecek?
Hampir mirip seperti mau bikin film, ada skenarionya, ada ceritanya. Jadi bukan sekedar nyorongin lensa kamera motret muka orang.

2. Pelihara konsep 5 W + 1 H
Foto sebaiknya bisa bicara tentang Where, When, Who, What, Why, dan How. Kalau kita motret pasar, pastikan yang lihat fotonya tahu itu di pasar, bukan di warung si Iteung di gang sebelah. Fotonya kira-kira diambil pagi-pagi, bukan malem-malem. Itu yang di dalem foto adalah calon pembeli, bukan orang yang lewat doang. Orangnya mau beli daging, bukan mau nagih utang. Ekspresi mukanya penasaran kenapa harga dagingnya naik lagi, bukan ekspresi nahan pup. Gitu lah, kira-kira.

3. Improvisasi
Bikin foto yang niat memang bukan kerjaan spontan karena ada tahap perencanaan. Tetapi bukan berarti pelaksanaannya harus terpatok di rencana. Misalnya kita mau motret pasar tapi nggak nemu adegan orang nawar daging yang gampang dipotret, carilah adegan lain, yang kira-kira sama khasnya menunjukkan suasana di pasar. Contohnya tukang jualan lagi jalan sambil memanggul pisang. Atau pedagang lagi marut kelapa buat bikin santan. Lho kok tau pedagangnya kalau mau bikin santan? Nah, itu tugas pembuat foto untuk mengungkapkannya.

4. Googling
Googling sebetulnya cuman salah satu contoh, tetapi intinya adalah browsing cari wawasan untuk bikin foto kita. Browsing itu bisa dari googling, bisa dari banyak baca buku, bisa dari lihat-lihat foto orang lain, bisa juga dengan ngobrol sama orang lain. Bahkan meskipun isi obrolannya nggak ada hubungannya sama foto-fotoan. Semakin banyak yang kita lihat sebelum memotret, itu akan mempengaruhi isi foto kita. Misalnya, sebelum motret pasar, kita googling dulu foto pasar itu kayak gimana. Baca buku, pasar X itu jualan barang apa aja. Lihat foto-foto teman, mereka sudah motret pasar kayak gimana. Ngobrol sama pedagang di pasar, gimana mereka bangun pagi sampek nata-nata barang kulakan mereka di pasar. Hayoo..ternyata jadi banyak kan ide buat motret?

Iya, ternyata bikin foto yang bagus itu susah. Ah, tapi kalau nggak dicoba, terus kita kapan mau lebih pinter daripada hari ini? 🙂

P.S. Foto yang saya jepret di atas ini jelas-jelas bukan foto tentang pasar. Tapi ada cerita yang tersirat di foto itu. Menurut Anda, apa ceritanya?

http://laurentina.wordpress.com

http://georgetterox.blogspot.com

lazada.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

10 comments

  1. profijo says:

    Kayu di antara perahu, karang dan awan, kombinasi yg keren!

    Aku suka objek pasar tradisional. Tentang interaksi tawar-menawar, lapak sederhana dan beceknya.

    Dari rumah aku sudah membayangkan apa yang akan difoto, hp dalam kondisi kamera on, muter2 Begitu dapet target, pura2 nimbrung dan jepret!

  2. thesalem says:

    Ya betul sekali bikin foto harus bisa bercerita, kalau perlu gak usah dikasih caption juga udah pada manut manut paham. Tapi kan susah ya booo, mana pas kuliah 2 semester diriku madol mulu tiap teori fotografi. Yang ada sekarang asal jepret aja, mumpung si anak lagi diem gak begajulan haha.

    Walaupun mb Vick gak niat motret si perahu tapi aku malah melihatnya foto si perahu tua yang kesepian, kekeringan, kerontang, jadi saksi bisu keria-an di pantai..*kebanyakan baca novel*

    1. Aku masih belajar bikin foto tanpa caption. Susah boo'..

      Tapi apresiasimu terhadap fotoku udah mulai mirip dengan maksudku, Ryn. Memang begitulah kira-kira situasi pantai yang aku potret. Pengunjungnya riang, tapi penduduk aslinya cuman bisa nonton tanpa bisa ambil banyak untung..

  3. masrafa.com says:

    dengan banyaknya media untuk share hasil foto, kita harus makin waspada dengan pencurian foto di dunia maya ini.

    kebetulan pernah menjadi korban pencurian beberapa kali *sigh*

  4. Arman says:

    walaupun banyak media online buat naruh foto, kita termasuk yang masih menganut paham mencetak foto. jadi selalu ada foto yang dipilih buat dicetak dan di frame buat dipajang di rumah. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *