“Sudah Dapet Untung?”

Saya mengangkat telepon
di rumah, sekitar beberapa minggu lalu. Saya nggak pernah ditelepon pakai
telepon rumah, karena orang-orang taunya menghubungi saya ya pakai HP. Saya
ngangkat telepon rumah karena saya nyangka ada orang mau nyariin mertua saya
dan mau menyampaikan pesan penting.
Ternyata itu dari
familinya mertua saya. “Oh, halo Vicky,” sapanya ramah. “Mamamu sudah pulang?”
Waktu itu saya jawab
mertua saya belom pulang. Setelah pembicaraan basa basi biasa beberapa detik,
tahu-tahu keluar pertanyaan itu, “Gimana, Vicky? Sudah dapet untung?”
Heh? Saya terhenyak.
Bisnis suami saya kan baru dibuka beberapa minggu lalu, perasaan kita belom
konferensi pers tapi kok si sanak sudah tahu ya?

“Err..untung apa?” tanya
saya.
“Itu..”dia kedengeran tak
sabar. “Sudah dapet untung? Hamil?”
Saat itu saya langsung nyesel
sudah ngangkat telepon. “Oh, saya nggak hamil, “ jawab saya kalem.
“Ooh..” si sanak
kedengeran speechless. “Jadi mau kapan?”
“Apanya?” tanya saya.
“Dapet untungnya,” lagi,
dia mengucapkan itu.
“Wah, nggak tahu.
Terserah Tuhan saja,” jawab saya tenang.
Si sanak lalu menyudahi
telepon. Saya nutup telepon dan bilang alhamdulillah pembicaraan itu berakhir.
Ide kata “untung” itu
membuat saya jijik, sumpah. Memangnya rahim saya ini modal buat jualan, apa? Terus
apanya yang saya jual?
Perempuan jaman purba
mengira rahim adalah “modal berdagang”. Diharapkan dengan memberikan rahimnya
dengan cara kawin, ia akan mendapatkan “untung” berupa anak. Makanya kalau
belom hamil lantas itu dianggapnya “rugi”.
Persoalannya, saya bukan
perempuan yang seneng jualan rahim. Saya kawin karena saya ingin punya temen
hidup. Masalah saya mau bersedia dihamili atau tidak, itu urusan saya.
Screw up
patrilineal-sight women!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

18 comments

  1. Mungkin didasarkan pada pandangan zaman dulu, banyak anak, banyak rezeki. Dan rezeki=untung *asal

    Kalau aku udah nikah dan mau menghamili istriku, sepertinya aku harus mendiskusikannya dulu dengan dia ya… 😀

    1. Persiapan kehadiran anak memang harus didiskusikan. Tidak bisa istri sekonyong-konyong dihamili begitu saja, hanya mentang-mentang sudah dinikahi. Karena ada istri yang siap untuk hamil sekarang, ada istri yang baru siap untuk hamil 1-2 tahun lagi, ada juga istri yang tidak siap untuk hamil sama sekali.

  2. orang dulu dan orang sekarang sepertinya tidak nyambung ya….beda pemahaman dalam memaknai kata2 dan istilah masing2…..ambil hikmahnya saja…jadikan itu sebagai doa…semoga saja keberuntungan selalu hadir dalam kehidupan…..
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

  3. Hoeda Manis says:

    Kayaknya istilah "untung" untuk menyebut "hamil" tuh memang konsep kuno. Yang kupahami dari sebutan itu sih karena orang-orang biasanya menganggap kehamilan/kelahiran anak sebagai "keuntungan" perkawinan. Karena yang ditanyai "udah untung belum?" itu bukan hanya si istri, tapi juga kadang si suami (di tempatku gitu sih). Orang-orang kuno mungkin menganggap sebuah perkawinan baru bisa dibilang memperoleh hasil atau untung jika telah ada anak. Karena dalam konsep mereka mungkin "banyak anak banyak rejeki".

    Yang jadi pertanyaan (khususnya bagi orang modern), gimana kalau sepasang manusia menikah justru dengan harapan tak punya anak? Bagi mereka, kelahiran anak tentu bukan untung, tapi rugi. Jangan-jangan, di masa depan, setiap lihat anak kecil, kita akan berkata pada orangtuanya, "Duh, udah rugi, ya?" 😀

    1. Dalam kepercayaan agama saya, anak memang rejeki. Karena anak berfungsi untuk mendoakan orangtuanya setelah orangtuanya meninggal, dan doa itulah rejeki yang tidak pernah putus pada manusia setelah ia tidak lagi hidup.

      Tapi rejeki sama sekali bukan untung! Apalagi kalau saya yang picik ini masih mengira bahwa untung adalah laba dari kegiatan jual beli.

      Dulu saya sering punya pasien yang memohon-mohon minta kandungannya digugurkan (dan tentu saja saya menolak permintaan itu). Mereka jelas melihat anak itu sebagai kerugian, bukan keuntungan.

      Anak harusnya dianggap sebagai sumber berkah. Bukan sebagai "untung".

  4. PRofijo says:

    Pertanyaan yang sangat..sangat sensitif…..

    Tapi percayalah….kata "untung" hanya penghalusan "sudah hamil/punya anak" saja, bukan punya arti dalam konteks jual beli.

    1. Meskipun aku sangat meragukan ketulusan si tante untuk menanyakan kesehatan reproduksiku, aku tetap jauh lebih suka ditanyai "Sudah hamil?" daripada "Sudah dapet untung?"

  5. mamipapa.me says:

    Masalah saya mau bersedia dihamili atau tidak, itu urusan saya.==== bikin ngakak pagi2 😀
    berhub yg nelp sanaknya mertua jadinya gak ditanyain balik yah Vic hahaha…

  6. froggy says:

    suka yang ini Masalah saya mau bersedia dihamili atau tidak, itu urusan saya hehehe…..

    btw, coba skyscanner, momondo atau nusatrip lum….. yang paling jitu sih subscribe airlines fav biar dapat email pas promo….. tapi kalau ke eropa musim panas n mo natal tahun baru ya tetep mahal….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *