Menolong Diri dan Masyarakat dari TB

TBC berawal dari batuk yang disepelekan.
Sumber gambar dari sini.
Temukan dan Sembuhkan Pasien TB!

Awalnya cuman batuk. Dikiranya nanti juga sembuh sendiri. Kok tahu-tahu jadi setep dan nggak bisa diajak ngomong?

Sodara-sodara, pernah nggak Anda bayangkan ternyata keluarga Anda ngidap TB?

“Nggak mungkin, keluarga saya bukan orang miskin kok. TB itu kan penyakitnya orang yang nggak punya uang.”
“Nggak mungkin, kata ibu saya, dulu saya udah diimunisasi waktu kecil.
“Nggak mungkin, badan saya gemuk!”

Kira-kira begitu kebanyakan kawan yang iseng-iseng saya tanyain. E-eh, jangan salah ya. Biarpun kebanyakan orang yang sakit TB adalah orang yang susah punya kapal pesiar (saya nggak pingin pake alasan miskin), tapi bukan berarti orang tajir adalah jaminan nggak sakit TB. Kenapa? Karena TB bukan berurusan sama duit, tapi urusannya sama sistem kekebalan badan. Termasuk bisa juga menyerang mereka yang ngakunya sudah diimunisasi atau yang badannya gemuk. Lho kok bisa?

Gini nih..

Karena nggak selalu orang itu sadar bahwa dia ngidap TB, maka banyak sekali yang sebetulnya sakit TB tapi nggak sampai terobati. WHO sendiri bilang di sini bahwa penyebab TB telat diobatin itu macam-macam. Mulai dari orangnya sebetulnya sudah punya gejala batuk-batuk, tapi dia nggak berobat karena merasa sudah biasa batuk. Atau dia sendiri memang sungkan berobat karena nggak punya uang (misalnya berat di ongkos kendaraan, berat bayar berobat ke dokter). Meskipun sedikit juga penyakit TB yang telat diobatin karena memang klinik yang jadi sasaran berobat tidak ngeh bahwa penderita itu sakit TB. Padahal, selama belum dapet obat, penderita TB bebas berkeliaran di mana-mana dan menularkan penyakitnya ke orang-orang yang papasan dengan dia lhoo..

SEBERAPA BANYAK SIH TBC DI SEKITAR KITA?
Kasus TBC alias TB alias tuberkulosis gini banyak lho, Sodara-sodara. Menurut TheGlobalFund di sini, persebaran penyakit TB di Indonesia kira-kira 281 kasus per 100.000 orang. Atau lebih gampang untuk membayangkannya, kalau sebuah acara kondangan pernikahan mengundang sekitar 1.000 orang, berarti kira-kira ada 2,8 orang tamu yang ngidap TB (ih, angkanya kok jelek banget sih?). 2,8 tamu itu kira-kira dua orang dewasa (mungkin sepasang suami-istri) plus satu orang anak kecil. Nah, sekarang bayangin tiga orang pengidap TB ini jalan di antara tamu-tamu lainnya, cipika-cipiki, terus nggak sengaja batuk. Lalu cipratan batuknya itu nyiprat ke tamu lainnya, dan kebetulan di dalem cipratan batuknya itu ada kuman TB-nya, terus kuman cipratannya itu terhirup oleh tamu lainnya. Tentu saja tamu lainnya yang kecipratan itu jadi ketularan dong!

APAKAH KALAU SAYA NGIDAP TB LANTAS SAYA MERASA SAKIT?
Tentu saja nggak selalu kuman TB yang nyiprat itu (di rumah sakit sih saya biasa nyebutnya droplet, tapi kalau di blog ya saya nyebutnya nyiprat!) akan otomatis membikin penyakit di dalem badan seseorang. Kuman-kuman ini paling-paling diam doang, hidup, tapi belum sampek merusak sel badan kita. JoAnn Flynn bahkan bilang di sini bahwa kuman TB bisa nongkrong di dalam badan kita semenjak terhirup sampek empat tahun, tanpa membuat penyakit! Tetapi dalam keadaan kekebalan tubuh kita melemah, kuman TB ini akan berkembang biak banyak sekali sampek jumlahnya cukup untuk merusak sel tubuh. Kapan kekebalan tubuh kita melemah? Contoh ekstrimnya, misalnya kalau ternyata kita kena HIV. Atau yang lebih mungkin terjadi di Indonesia, kalau ternyata kita ini merasa sudah diimunisasi padahal vaksinnya rusak! (Penyebabnya bisa diliat di sini ya). Atau yang sebetulnya lebih sering terjadi pada kita, misalnya kena flu, kecapekan sangat, hamil, atau kelamaan terpapar asap rokok.

 

GIMANA MENGENALI KELUARGA YANG SAKIT TB?
Kuman TB itu senengnya nongkrong di paru. Soalnya kuman ini jenis parasit yang doyan oksigen, dan oksigen kan banyaknya memang di paru. Makanya banyak orang yang kedapetan TB itu hobinya batuk-batuk melulu. Secara tradisional, batuk yang lama sampai lebih dari tiga minggu dipercayai layak untuk dicurigai TBC (ditulis oleh Tuo Hong Zhang di sini). Bisa batuk kering, bisa juga batuk yang nggak ada dahaknya.

Kuman TB ini juga bikin demam. Karena kumannya ngeluarin molekul-molekul yang tabrakan dengan badan kita, sehingga badan kita pun bereaksi dengan naikin suhunya sendiri untuk melawan gempuran si kuman. Dan karena kumannya makan oksigen banyak, padahal badan kita butuh oksigen untuk mengolah zat gizi menjadi pembangun tubuh, akibatnya badan kita pun nggak kebagian oksigen cukup sehingga tubuh kita pun sulit berkembang. Jadi kurus deh.. Makanya itu sebabnya kenapa orang yang kedapetan TBC umumnya sering panas badan dan kurus-kurus. (Meskipun nggak jarang juga orang TB malah gemuk, tapi dos-q tetep kena TB lantaran sistem kekebalan tubuhnya memang sudah drop).

Eh ya, kuman TB nggak melulu di paru lho, coz ternyata Surendra Sharma nulis di sini bahwa kuman TB juga bisa masuk ke darah dan kelenjar getah bening. Dan kalau dia sudah masuk ke darah atau ke saluran kelenjar getah bening, dia bisa berkelana ke mana-mana, mulai dari usus, atau masuk saluran telurnya cewek, atau masuk tulang, atau masuk kulit, dan bahkan bisa juga masuk otak.

Kalau sudah masuk usus, biasanya penderitanya jadi mencret-mencret. Kalau masuk tulang, biasanya penderitanya jadi nyeri di tulang tempat nongkrongnya kuman itu. Kalau masuk kulit, tampangnya ya borok. Yang kasihan kalau masuk saluran telur, maka penderitanya jadi mandul. Paling serem kalau masuk otak, gejalanya mulai dari setep sampek koma.

Dan ini semua, cuman diawali dari kena sakit TB paru.

TB INI BISA BIKIN MATI, NGGAK?
Ya bisa dong. Yang namanya kuman kalo sudah menggerogoti paru, bisa bikin paru jadi busuk (kalau di rumah sakit, saya nyebutnya abses). Paru yang busuk nggak bisa nerima oksigen dari luar, akibatnya fungsi bernapas pun ikutan mandek. Penderita yang punya TB lama-kelamaan akan meninggal karena gagal napas. Yang repotnya lagi kalau TB-nya sudah melesat menyebar ke mana-mana, termasuk ke otak yang saya ceritakan tadi. Kalau sudah koma, ya napasnya tinggal menghitung hari. Satu, dua, tiga..

Bahkan yang tidak sampek batuk pun, kuman TB bisa menghalangi pekerjaan. Di negara-negara maju, negara yang mau nerima calon pegawai atau calon mahasiswa yang berasal dari luar negerinya, hampir selalu minta calon warga negara asingnya itu dites kesehatan dulu. Ya iyalah, kan mereka mau kedatengan warga dari negara lain, jadi mereka nggak mau warga dari negara lain itu bawa kuman berbahaya kan? Nah, kalau sang warga pendatang itu kedapetan punya TB di tes kesehatannya, sang calon warga pendatang mesti diobatin dulu sampek TB-nya ilang. Ternyata repot kan kalau nggak sadar punya kuman TB?

KALAU SAYA MUNGKIN KENA TB, KIRA-KIRA GIMANA SAYA NOLONG DIRI SENDIRI?
Tenang! Ada dokter lho. Dan mendiagnosa kayak gini nggak butuh dokter spesialis, cukup dokter umum sebetulnya bisa. Kalau Anda mau konsul murah-meriah, carilah Pusat Kesehatan Masyarakat alias Puskesmas. Anda tinggal bilang bahwa Anda batuk-batuk sudah lebih dari tiga minggu, maka dokter akan minta Anda tes mengeluarkan dahak.

Dahak itu akan diperiksa di mikroskop, dan bila dahak itu mengandung kuman TB, berarti Anda layak diobati dengan obat TB. (Kalau nggak ada kumannya pada dahak, dokter akan coba tes lain seperti tes tertentu kulit atau darah yang kira-kira cocok untuk nyari kuman TB).


Obat TB harus langsung diminum sesegera mungkin begitu kumannya ditemukan. Obat TB umumnya sama aja isinya, meskipun merknya macam-macam. Penderita juga akan diajarin cara minum obatnya supaya nggak sampek rewel cuman gegara habis minum obat. Termasuk diajarin kelakuan, misalnya kalau batuk, mulutnya harus ditutup. Jangan deket-deket sama orang-orang lain yang kekebalannya lagi jelek (contohnya lihat di atas). Dan minum obatnya harus tiap hari, nggak boleh bolos! Tujuannya apa lagi kalau bukan mencegah supaya orang lain nggak ikutan ketularan.

KALAU DI RUMAH SAYA TERNYATA ADA YANG SAKIT TB, SAYA SENDIRI HARUS GIMANA DONG?
Lindungi diri sendiri, Kawan-kawan. Nggak usah cipika-cipiki dulu sama penderitanya supaya nggak ketularan. Pake handuk sendiri-sendiri, jangan dipake bareng-bareng, mentang-mentang kepingin ngirit deterjen. Nggak usah minum dari satu gelas bareng-bareng. Kalau batuk ya mulutnya ditutup dulu. Penderita TB nggak usah dikucilkan, diperlakukan biasa aja. Dia sama aja kok kayak kita-kita, cuman bedanya dia kudu minum obat segepok, sedangkan kita enggak. Nggak usah parno-parno amat. Tahu nggak, penderita yang sakit TB itu, kalau udah minum obat selama dua minggu, kuman di dalam badannya sudah berhenti berkembang lho, sehingga dia nggak akan nampak sesakit sebelumnya. Tapi, tetep minum obatnya sampek tuntas enam bulan lho ya..

Oke, segini dulu ya dongeng saya soal cara diri sendiri menanggulangi TB. Ada pertanyaan? Ayo ayo tanya, jangan sungkan-sungkan!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

13 comments

  1. Keke Naima says:

    hihihi saya ngikik lihat gambar yang dipantai itu. Apa yang dinikmati dari pantai yang serame itu, ya 😀

    Susahnya kalau kita tertular TB dari tempat-tempat keramaian seperti itu. Padahal merasanya di keluarga dan lingkungan terdekat gak ada yang TB.

    Terus jaga kondisi tubuh dan mendingan langsung ke dokter kalau kemudian ada gejala2 yang kurang baik bagi tubuh kayaknya, ya

    1. Nyatanya di dunia ini memang ada orang yang seneng pergi ke pantai serame itu, Mbak. Di Australia, Bondi Beach selalu serame ini. Pantai di Rio de Janeiro juga. Kalau saya pergi ke Jakarta, entah kenapa saya selalu lihat Ancol kayak gini.

      Malah pernah di tivi ada sebuah keluarga yang kakek-neneknya ngaku bahwa setiap lebaran mereka selalu punya tradisi pergi ke Ancol, mbeber tiker dan cucu-cucunya berenang. Setiap Lebaran! Padahal kita tahu kalau Lebaran pasti kan pantainya Ancol serame itu ya.

  2. Batuk selama 3 minggu… serem banget… Kalau udah kayak gitu pastinya langsung periksa, minimal ke puskesmas. Kayaknya keterlaluan kalau dibiarkan gitu aja, soalnya kan ganggu banget…. Mau nyari duit juga jadi susah….

  3. Asep Haryono says:

    Khusus soal Handuk memang agak sensitif di keluarga kami. Masing masing anggota keluarga harus dan memang harus punya handuk sendiri. Tidak boleh saling pinjam meminjam antara kakak dan adik. Antara handuk Ayah dan Handuk Bundanya, Semuanya harus mandiri dengan handuknya masing masing. Selian eh salah selain untuk menghindari terjangkitnya penyakit juga untuk membiasakan diri- berdisiplin- agar menjadi bagian dalam diri

    1. Hai Mbak Lidya, aku senang sekali Mbak nanyain isu ini. Ini merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan para orang tua kepada saya.
      Ya, anak-anak bisa tertular dari minum minumannya teman. Misalnya temannya diam-diam sakit TBC, lalu mereka minum dari botol minum mereka sendiri. Lalu anak kita minum dari botol minumannya teman mereka yang sakit itu, maka bekas ludah yang ada di mulut botol minumannya bisa terhirup oleh mulut anak kita. Dan di situlah jalur masuk penularan kumannya 🙂

      Bagaimana dengan handuk? Oke, handuk kan dipake untuk menyeka macam-macam kulit di bagian tubuh kulit. Kalau di bagian tubuh yang terseka tersebut ada bekas cipratan bersinnya/batuknya, maka bekas cipratan akan pindah ke handuk yang dipakai menyeka. Jika handuk ini dipakai orang lain, tentu bekas cipratannya (yang mungkin mengandung kuman) juga pindah ke orang lain dong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *