Jazz Gunung, Ketika Jazz dan Etnik Menjadi Satu

Ada jazz. Ada etnik. Dan background hawa dingin gunung yang menyelimut.

Ketika ketiga unsur ini berpadu, maka yang tercipta adalah sebuah festival jazz yang unik dan selalu jadi buah bibir nasional setiap tahunnya. Itulah, Jazz Gunung.

Dihelat setiap tahun semenjak wangsa 2009, Jazz Gunung tidak pernah sepi pengunjung. Festival yang rutin digelar di bulan Juli di kawasan Gunung Bromo ini, secara simultan terus berinovasi memadukan nuansa jazz dengan nuansa tradisional musik Indonesia.


Sigit Pramono, bankir petinggi BCA yang menggagas festival ini, awalnya bersama Djaduk Ferianto dan Butet Kartaredjasa ingin mengangkat perekonomian masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo sembari menularkan semangat kepada rakyat lokal untuk mengapresiasi indahnya jazz. Pada konser perdananya, festival ini hanya digelar selama sehari, ditonton sekitar 300 orang dan hanya menghadirkan dua band. Band pertama adalah C26, sebuah band lokal jazz remaja asal Surabaya, sedangkan band satunya ialah Kua Etnika, yang dimotori oleh Djaduk sendiri dan menampilkan Trie Utami sebagai vokalis.

Festival ini diulang kembali setiap tahun pada bulan Juli, dan penontonnya semakin bertambah. Ketika jumlah penonton mulai menginjak angka 1000 orang pada tahun 2011, panitianya mulai mengevaluasi festival dan memutuskan untuk mengekskalasi durasi festival pada tahun berikutnya. Tahun 2012, Jazz Gunung mulai digelar dua hari dan artis-artis ternama yang tampil pun semakin banyak.

Glenn Fredly dan Tompi, dalam Jazz Gunung 2012.
Gambar diambil dari sini

Unsur etnik merupakan unsur yang tak pernah tertinggal dalam penghelatan Jazz Gunung. Kua Etnika, band yang selalu menjadi pengisi tetap festival ini setiap tahunnya, mengusung kolaborasi antara permainan drum, saksofon, dengan alunan kendang, suling, dan bonang. Pada perhelatan keduanya di tahun 2010, jumlah pendukung festival ini telah berkembang menjadi enam band, dan Balawan menjadi bintang utama dengan alunan musik Bali-nya. Kawasan timur Indonesia pun berhasil unjuk gigi di festival ini, terbukti pada tahun 2011 Glenn Fredly sukses menggelar penampilan a la Ambon-nya dan mengusung lagu-lagu daerah asal Maluku di tanah Tengger itu.

Idang Rasjidi dan Gita Wirjawan, dalam Jazz Gunung 2013.
Gambar diambil dari sini.

Hingga perhelatan terakhirnya di tahun 2013, Jazz Gunung masih konsisten menghelat festivalnya di panggung terbuka. Konsep pentasnya pun masih sederhana, di halaman rumput dengan dekorasi outdoor yang minimalis. Panitianya seolah ingin memberikan citra bahwa musik jazz tidak hanya bisa dinikmati secara indoor, dan ingin indahnya musik jazz dapat dinikmati di alam luas berpadu dengan hawa dinginnya gunung yang menggigit. Hampir penonton yang saya tanyai selalu berkomentar, bahwa feeling “epic” yang ditunggu-tunggu penonton setiap tahunnya ialah ketika malam mulai menjelang dan lampu-lampu dinyalakan di sekitar panggung, seolah semakin menyemarakkan keseksian aura jazz di tempat itu.

Yovie Widianto, dalam Jazz Gunung 2013.
Gambar diambil dari sini.

Tiket Jazz Gunung dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Pada Jazz Gunung 2013, dengan merogoh kocek sekitar Rp 250k sampai 500k, penonton dapat menikmati pertunjukan Balawan, Lea Simanjuntak, Djaduk Ferianto, Rieka Ruslan, hingga Yovie Widianto dan artis-artis lainnya. Pengunjung tidak melulu harus menginap di Java Banana untuk dapat menikmati Jazz Gunung selama dua hari, karena di Bromo terdapat ratusan hotel hingga homestay yang siap menampung kunjungan turis selama perhelatan Jazz Gunung.

Anda ingin menyaksikan Jazz Gunung pada Juli 2014 ini? Mari meluncur ke sini. Semoga nanti kita ketemu di Bromo sana ya.. 🙂

lazada.com

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *